Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Setia


__ADS_3

Dika sendiri mencoba untuk selalu berpikiran jernih tentang hubungannya dengan Delia. Seminggu ia tak pernah mendengar kabar calon istrinya itu, membuat batinnya selalu meronta untuk segera kesana menemui sang kekasih. Namun apalah daya, ia juga memiliki kesibukan yang tak bisa di tinggalkan.


Meski ia terus mencoba untuk berpikiran positif kepada Delia, namun kadang tetap saja ada sedikit bisikan yang menggerogoti sisi hatinya untuk berpikir yang aneh-aneh. Salah satunya adalah apakah mungkin sang calon istri bisa setia disana? Apakah ada pemuda-pemuda yang mencoba mendekatinya? Dan entah mengapa jika Dika memikirkan hal itu, sontak membuat dadanya sesak dan sedikit terbakar api cemburu. Padahal hal itu belum tentu terjadi kan?


Tapi, bukan tanpa alasan Dika seketika dan selalu berpikiran demikian, bukankah ia juga dulu adalah mahasiswa, dan pastinya ia sempat menjalani masa KKN, yang dimana masa-masa itu bukan hanya masa masa menjalani tugas lapangan, tapi terkadang ada beberapa pelajar yang menjadikan masa itu sebagai ajang mencari gebetan atau pacar. Dan Dika sangat ingat bahwa salah satu sahabatnya ada yang menemukan kekasih di tempat KKN.


Dika membanting map yang ada di atas mejanya. Bukan, bukan masalah pabrik atau kerjaan yang ia kesalkan dan keluhkan, seperti hari-hari kemarin ia kesal sebab hari ini ia belum bisa menghubungi Delia sama sekali.


Dika memijit keningnya yang mendadak ngilu, jujur saja jauh dari Delia membuatnya hilang semangat meski ia tak memperlihatkan itu kepada dunia.


Tok,, tok,, tok...


Suara ketukan pintu sontak membuat Dika memperbaiki letak duduk dan ekspresi wajahnya. Ia harus terlihat biasa saja di hadapan orang-orang terutama para karyawannya.


" Kusut saja muka nya dari tadi Bos " rupanya yang datang adalah Anto, asisten sekaligus teman baik Dika. Anto adalah satu-satunya orang yang tahu betapa galaunya perasaan bosnya itu.


Dika hanya berdecak malas, ia tak berniat membalas ucapan asistennya itu.


" Belum ada kabar juga? " tanya Anto


" Hem,, dia mungkin belum keluar dari desa itu " gumam Dika tak bersemangat.


" Sabar saja Bos,, hitung-hitung menabung rindu " ujar Anto, sepertinya asistennya itu senang mengolok-olok bosnya yang sedang galau.


Lagi-lagi Dika berdecak kesal " ini bukan hanya masalah rindu To,, tapi ada hal yang membuat saya resah selama seminggu ini " katanya


" Apa itu?" tanya Anto


Sebelum menjawab Dika mengusap wajahnya gusar, sebenarnya ia tak ingin menyampaikan keraguannya pada siapapun, ia ingin menyimpan sendiri keraguan nya terhadap Delia yang tengah berasa jauh disana. Namun karena Anto terbilang orang yang sangat tahu bagaimana dirinya, jadi mau tak mau ia harus menjelaskan apa yang ada dalam hatinya kepada sang asisten.


" Kamu pernah dengar tentang Mahasiswa yang cinlok saat menjalankan masa KKN? " tanya Dika.

__ADS_1


Anto berpikir sejenak, ia juga adalah mantan Mahasiswa, dan ia tahu hal itu, bahkan cinlok saat di lokasi KKN itu adalah suatu hal yang wajar. Terkadang para pelajar akan menemukan gebetan disana.


Dan seketika hal itu membuat Anto tersenyum ol


penuh arti. Rupanya kegalauan bos nya itu tidak beralasan.


" Jadi Bos kepikiran kalau calon Istri Bos cinlok denga teman KKNnya? begitu? "tebak Anto


" Hah,,, entahlah Anto,, saya juga mencoba meyakinkan diri bahwa Delia tidak akan seperti itu,, tapi hati kecil saya juga ragu " jawab Dika


Anto tertawa tanpa suara, entah mengapa ia merasa bahwa bosnya ini sangat lucu.


" Jangan pikirkan yang tidak-tidak, jodoh itu cerminan diri Bos,, jika Bos merasa bisa menjaga hati di saat jauh dari pasangan artinya pasangan bos juga sama.. dan begitu juga sebaliknya " jelas Anto bijak


" Aku jelas Setia lah Anto, bahkan saya tidak bisa melihat gadis lain selain Delia " kata Dika menggebu-gebu.


" Oh yah? " Anto berucap tak percaya


" Ya iyalah " Dika berucap yakin


" Secantik apa? Bukan kah cantik krj relatif,, dan menurutku Delia adalah kriteria cantik yang komplit dimata saya " kata Dika.


" Lalu, bagaimana jika dalam beberapa bulan ini Pak Bos di pertemukan dengan seseorang yang bisa menarik perhatian Bos dari Delia? " tanya Anto lagi


" Gadis yang mana? jangan mengada-ada deh Nto,, aku bahkan tidak bisa menaruh minat pada gadis manapun selain Delia, Entah lah, mungkin karena setiap hari aku selalu bertemu dengannya dan mungkin karena dia aku berusaha untuk sembuh dari trauma ku " jelas Dika


Anto Manggut-manggut. Ia juga adalah saksi bagaimana kerasanya usaha Bosnya untuk bisa sembuh dari rasa trauma nya. Ia juga saksi bagaimana semangat nya Dika menjalani proses penyembuhan, meski terkadang pria itu gemetar dan berkeringat dingin jika berhadapan dengan wanita. Hingga bos nya itu sembuh dan menjadi pria yang normal sekrang.


" Jangan terlalu bucin lah Bos, nanti sakit hati " ujar Anto


" Bukan Bucin Nto,, tapi saya ini adalah lelaki yang setia, yang susah ditemukan di belahan dunia manapun " ucap Dika dengan penuh bangga

__ADS_1


" iya iya,, yang paling setia. .. Semoga calon istrinya yang ada di sisi bumi yang lain juga setia yah, meski mungkin disana dia sedang dihadapkan dengan banyak buaya rawa heheheh " kata Anto dan itu membuatnya mendapat lemparan pena dari sang bos.


" Sembarangan kamu " sembur Dika


Anto mengaduh kesakitan, pulpen itu mendarat di kepalanya dengan lumayan keras.


" Itu hanya opini Bos,, tapi biasanya memang seperti itu sih,, apa lagi calon istri Bos kan cantik " kata Anto jujur.


Perkataan Anto itu membuat Dika meradang, ia bukan hanya ingin melemparkan pulpen, melainkan meja kerjanya ia ingin lemparkan ke wajah Anto, berani-beraninya asistennya itu memuji kecantikan calon istrinya di hadapan nya.


" jangan sebut Delia cantik dj hadapanku,, atau mulutmu ku robek " ancam Dika.


" Dih, posesif sekali Pak Bos ini " ujar Anto.


Belum sempat Dika membalas ucapan Anto, Tiba-tiba ponselnya berdering.


Dika menatap lama-lama ponsel nya, ada nomor baru yang tertera disana. Jika dilihat dari beberapa angkanya yang tidak banyak, bisa di pastikan bahwa yang menelfon mengguy nomor telepon rumah atau kantor.


Tak ingin berpikir lama,, Dika akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan itu.


" Halo, selamat siang " kata Om Dika


" Halo,, Ho.... "


Tut... tut... tut.....


Sambungan telepon itu terputus.


Dika termenung, seperti nya ia mengen suara di balik telepon tadi meski samar-samar.


Dika msncoba menghubungi nomor telepon itu lagu, namun soalnya tak bisa terhubung lagi.

__ADS_1


Lagi-lagi Dika berdecak kesal " Itu pasti Delia " katanya dengan yakin


_


__ADS_2