Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Mentari


__ADS_3

Delia tak habis pikir jika ada manusia bersifat seperti setan, apa lagi dia adalah seorang perempuan, sungguh sangat tidak masuk akal.


Menurut Delia, wanita itu diciptakan menjadi manusia yang paling lembut hatinya, lembut perilakunya dan serta berbudi pekerti yang baik. Dan jika ada wanita yang tidak seperti itu,maka ada yang salah pada dirinya.


Seperti halnya wanita yang berasal dari masalalu Om Dika, wanita yang bernama Tari rupanya akar sebuah masalah dari masa depan Om Dika. Dan jujur saja, Delia begitu kasihan saat Om Dika menangis saat menceritakan kisah pilunya saat masih mengenal Tari dulu. Bahkan nampak jelas dari wajah Om Dika bahwa trauma itu masih ada.


Bermulai saat Tari di kucilkan oleh semua temannya di sekolah, entah apa sebabnya dan Dika saat itu sangat iba melihat Tari yang selalu saja sendiri.


Lalu Dika yang polos mendekatinya, ia rasa Tari pasti butuh teman, dan ia berinisiatif menjadi teman Tari saat itu.


Tentu saja Tari sangat menyambut baik kedatangan Dika, dan sejak saat itu Dika dan Tari menjadi teman baik. Mereka selalu bersama, dan tak Jarang saat Tari di ganggu oleh Teman-teman nya di sekolah Dika lah yang selalu berdiri di depannya untuk menolong Tari.


Namun, Tak jarang banyak Teman-teman Dika yang menasehati Dika agar tidak terlalu dekat dengan Tari.


" Hati-hati dengan Tari Dik, dia itu bahaya " kata teman sekelasnua memperingati. Dan bukan hanya satu atau dua orang saja yang berkata seperti itu, bahkan hampir semua temannya berkata demikian. Namun, Dika tetap tidak perduli.


Baginya, Tari adalah anak yang cantik dan lembut, dia juga termasuk teman yang baik selama ini. Dan tak sekalipun Tari menunjukkan gelagat aneh.


Hingga pada suatu hari, ucapan teman-temannya itu terbukti. Saat Tari mengajak Dika bermain di rumahnya, di saat itu Tari tidak seperti biasnaya, gadis itu sangat aktif, dia bahkan terlalu aktif saat bermain. Anehnya gadis itu sangat bahagia saat melihat Dika jatuh kesakitan saat bermain kejar-kejaran di halaman rumah Tari. Sampai lutut Dika berdarah pun Tari masih tertawa.


Awalnya Dika hanya mengira bahwa Tari sedang bahagia hari itu, hingga dia masih berpikiran positif tentang Tari. Bahkan ia tidak menceritakan pada siapapun apa yang dialaminya saat bermain di rumah Tari.


Sampai pada saat awal mula Dika mengalami trauma lagi. Waktu itu Dika kembali menerima ajakan Tari untuk bermain bersama. Kali ini bukan di rumah Tari tapi di lingkungan luar, Tari mengajal Dika bermain sepeda dan berkeliling komplek, saat Tari melihat ada sebuah bukit, di situ pun ia mengalami Dika untuk ke bukit itu. Dika yang terlalu baik dan polos tidak merasa curiga, ia hanya menurut apa kata Tari.


Hingga pada saat sampai di atas bukit yang memang tidak terlalu tinggi, dan masih ada beberapa orang berlalu lalang di daerah itu. Tari kembali memperlihatkan gelagat aneh, bahkan kali ini lebih menyeramkan.


" Dika ayo buka baju kamu? " kata Tari saat itu bahkan wajah gadis itu sudah seperti iblis kecil dengan senyum licik di wajahnya


" Untuk apa kamu menyusurhku membuka baju " Dika mulai panik, ia mulai percaya pada ucapan teman-temannya bahwa gadis remaja ini sangat berbahaya.


" Ayo dong Dik, buka baju mu, kita akan bermain dan pastinya akan sangat menyenangkan " kata Tari.


" Tidak, aku tidak mau " Dika berjalan mundur, dan Tari berjalan maju ingin mendekatinya


" Ayolah Dika, kamu jangan membantah, kita hanya bermain sebentar " Tari semakin gila dengan wajah yang menyeramkan di mata Dika


" Tidak Tari, aku tidak mau,, apa kamu sudah gila " Dika mulai marah, dia ingin sekali mendorong Tari, tapi ia tak ingin melukai perempuan


" Aku tidak gila, aku hanya mengajakmu bermain saja, apa itu salah? " Tari semakin mendekat

__ADS_1


" Tari, jangan mendekat,, tolong jangan seperti ini, kita kan teman " kata Dika mencoba bernegosiasi, berharap Tari mau mengerti dan sadar.


Dika tak habis pikir, bagaimana bisa ada gadis remaja yang berpikir untuk melecehkan anak seusianya.


" Ayo Dika,, kamu harus menurut "


Dan Tari sudah menarik baju Dika untuk ia buka. Sekuat tenaga Dika untuk menahan nya, bahkan kekuatan Tari juga tak sebanding, gadis itu terlalu kuat untuk ukuran anak perempuan.


" Ayo, Dika kita main sebentar "


" Tidak,, aku tidak mau "


Dan saat baju Dika berhasil di robek oleh Tari, Dika melarikan Diri dan terpeleset hingga jatuh dan terguling-guling menuruni bukit dan akhirnya Dika pingsan.


Hingga pada saat Dika sadar, ia sudah berada di ruang rawat inap di temani oleh Ayah dan bunda nya.


Sejak saat itu Dika jadi sangat pendiam, dan sulit bersosialisasi dengan teman sebayanya.


Bahkan saat sembuh, Dika meminta untuk sekolah di rumah saja. Dika enggan untuk menceritakan apa yang ia hadapi waktu itu, sebab ia begitu trauma, bahkan untuk mengingat kejadian buruk itu saja Dika tak sanggup.


Orang tua Dika pun menuruti keinginan Dika. Bahkan Teman-teman Dika yang datang berkunjung tidak di perbolehkan oleh Dika, apalgi perempuan, Dika sangat anti bertemu dengan anak perempuan.


Hingga waktu terus berlalu, trauma itu rupanya membentuk kepribadian Dika yang berbeda. Perlahan ia jadi lebih nyaman berdampingan dengan para pria, dan parahnya ia mulai terlihat lebih kemayu.


*


Misha sedang menunggu jemputan. Gadis mungil itu sedang duduk sendiri di halte.


Tiba-tiba ia di hampiri oleh wanita cantik, wanita itu ramah dan langsung menyapanya.


" Hai, Misha yah? " kata wanita itu


Misha bergeser dari duduknya, ia terlihat begitu waspada, sebab ia selalu di nasehati oleh Ayah dan Eyang nya agar tidak begitu percaya dengan orang asing.


" Tante siapa? " tanya Misha


" Kenalkan, Tante adalah teman Ayah kamu, nama Tante Tari " wanita itu mengulurkan tangannya


Misha tidak membalas ukuran tangan itu, ia merasa ada yang aneh dengan wanita itu. Meski ia ingat bahwa ia memang pernah melihat wanita itu beberapa hari bersama Ayahnya di pusat perbelanjaan.

__ADS_1


" Maaf, Misha tidak boleh terlalu berinteraksi dengan orang yang tidak di kenal " tolak Misha halus.


Tari tersenyum maklum.


" Tidak masalah sayang,, Tante maklum, oh yah kamu tinggal dimana? Biar tante antar " Tari menawarkan, bahkan tangan Tari dengan bar-bar nya memegang tangan Misha meski sudah di tepis oleh Misha.


" Tidak Tante, Misha ada yang jemput kok "


" Tante orang baik kok? "


" Hei,, Anda siapa,, kenapa menarik tangan anak saya seperti ini "


Untung saja Delia datang tepat waktu. Misha ketakutan dan bersembunyi di belakang Delia.


" Maaf, saya tidak bermaksud... "


" Mama, Tante ini memaksa ingin mengantar Misha pulang " adu Misha


" Anda ingin berbuat jahat dengan anak saya? " Tuduh Delia, ia memicingkan mata sebab merasa familiar dengan sosok yang ada di hadapannya ini.


" Tidak seperti itu Bu, saya murni ingin menolong " sangk Tari


" Tidak perlu, sebab Saya sangat rutin mengantar jemput Anak saya, dan jika saya tidak sempat ada supir yang akan menjemput nya " kata Delia tegas


" Tapi betul Bu, saya tidak punya niat buruk, lagi pula saya mengenal Suami Ibu kok " kata Tari


Delia langsung ingat siapa wanita di hadapan nya ini. Dia adalah Tari, gadis yang berbahaya di kehidupan Om Dika dulu.


" Oh, jadi Anda adalah teman suami saya? "


" Iya,, Dan saya... "


" Maaf, jika Anda masih punya masalah yang belum di selesai kan silahkan berhubungan dengan Suami Saya, jangan melibatkan anak saya, apa lagi menganggu nya,, Saya tidak akan tinggal diam jika ada yang berani mengusik anak saya " Delia kali ini berkata lebih tegas, hingga membuat Tari kehilangan kata-kata.


" Tapi... "


" Ayo, Sayang kita pulang "


Delia menarik tangan Misha, meninggalkan Tari yang diam mematung di tempatnya.

__ADS_1


_


__ADS_2