
Sebulan berlalu.
Akhirnya masalah tentang pernikahan antara Delia dan Dika sudah di anggap beres tentunya dari pihak Dika saja. Karena Delia tak memiliki siapapun kecuali Om Dika, dan tentunya keluarga Om Ryan yang tinggal di kota Delia berasal. Om Ryan pasti akan menjadi orang paling penting dalam hal ini. Sebab Delia sudah menganggap keluarga itu adalah keluarga yang paling dekat setelah kepergian kedua orang tuanya.
Oleh sebab itu, Bunda dan Dika sepakat untuk mengadakan acara lamaran di rumah Om Ryan. Mereka menganggap bahwa acara lamaran itu penting, dan Om Ryan harus terlibat karena hanya keluarga itu yang Delia punya saat ini. Dan Om Ryan sendiri yang akan memutuskan untuk menerima dan menyerahkan Delia kepada Dika nantinya.
" Kamu jadi pulang kampung Del? " tanya Dewi
Saat ini mereka semua sedang menikmati makan siang dikantin kampus.
" Hemmmm... Liburan semester besok " jawab Delia di sela sela kunyaannya
" Yah,, kita kurang personil deh,, padahal rencananya aku mau ajak kalian liburan di puncak,, pasti seru banget " kata Dinda
" Kalian bertiga aja,, aku nggak ikut dulu " balas Delia
" Memang acara lamaran di rumah Om Ryan kamu itu nggak bisa ditunda Del? kenapa acara lamarannya nggak di rumah Om Dika aja ? tanya Devi
Pasalnya Delia sudah menceritakan tentang rencana acara lamaran di tempat tinggal Delia dulu. Dan keluarga Om Ryan yang akan menjadi wali nya nanti.
" Ya kali Dev ada orang lamaran di rumah calon suaminya sendiri " Saut Dewi
" Tapi, aku satu pemikiran tuh sama Devi, kenapa coba Delia harus pulang kampung segala " Dinda berkomentar
" Yah, karena Om Ryan itu adalah keluarga yang aku punya satu satunya,, dan Om Ryan yangengurus segalanya selama Ayah dan Ibu ku meninggal, bahkan Restoran peninggalan Ayahku masih di urus Om Ryan,, padahal Om Ryan sendiri punya pekerjaan, tapi dia mau saja di sibukkan dengan urusan yang seharusnya sudah jadi tanggu jawabku,, Om Ryan dan keluarganya sangat baik, maka dari itu Aku menganggap bahwa hal sepenting ini harus ada persetujuan dari Om Ryan. " jelas Delia.
Katiga sahabatnya ber Oh, mereka mengerti bagaimana posisi Delia, meski kadang mereka begitu kasihan, sebab sahabatnya itu harus mengalami hidup tanpa Ayah Ibu di usianya sekarang. Namun mereka juga bersyukur, sebab Delia datang kepada mereka dan juga Delia mendapat kasih sayang dan rasa perduli dari orang-orang di sekitarnya.
" Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu Del " ujar Dewi
" Iya,, aku juga bakalan sangat merindukan kalian " kata Delia.
Mereka bertiga lalu melanjutkan makannya.
Hingga beberapa saat kemudian, seseorang datang menghampiri meja mereka. Seorang pria yang lumayan tampan.
Ke empat gadis itu tertegun dengan kedatangan pria itu. Pria muda yang mungkin dia tahun lebih tua dari mereka.
" Hai,, maaf mengganggu " ujar Pria itu
" Kak Ryo " Delia terpekik, tak menyangka jika Ryo akan datang ke kampusnya
" Oh,, Hai.. " sapa gadis gadis itu ramah "
" Aku bisa pinjam Delia sebentar? " pinta Pria itu
__ADS_1
Gadis gadis itu tak menjawab, mereka sibuk memperhatikan Delia
" Tentu saja bisa,, silahkan Kak,,pinjam lama juga nggak apa apa " ujar Dinda
" Pinjam selamanya juga bisa kok " Saut Devi
" Ish,, kalian ini ngomong apa sih " Delia mendelik, para sahabatnya itu memang cerewet sekali.
Setelah mendapat persetujuan dari para sahabatnya, Ryo dan Delia pamit menjauh sebentar.
Ketiga gadis itu kompak melihat ke arah perginya Delia dan Ryo.
" Sepertinya, akan ada masalah yang serius Deh " ujar Devi
" Itu Bukannya cowok anaknya Om Ryan kan? Perasaan kita pernah ketemu sama dia deh sekali atau dua kali,, em aku nggak ingat,, tapi sepertinya kita kenal " kata Dewi
" Iya,, kamu benar Wi, itu Ryo anak nya Om Ryan,, teman kecil Delia sebelum Delia pindah ke sini " Dinda menimpali.
" Ada hal apa yah? Kok aku ngerasa ada yang beda " tanya Devi
" Entah lah,, aku juga nggak ngerti,,, " balas Dewi
" Udahlah, nggak usah mikirin urusan orang,, kalau mau ngurusin orang sekalian bayarin tagihan listrik sama cicilannya " kata Dinda, dan mendapat lemparan tisu bekas lap keringat dari Dewi dan Dewi
" Uuuuu,, perkataan mu Din " ujar Devi
" Namanya juga penasaran " Saut Dewi
Di tempat lain.
Delia sudah duduk berdampingan dengan Ryo. Untuk beberapa saat mereka saling diam. Delia menunggu hal apa yang akan di katakan pria di samping nya itu. Meskipun sebenarnya Delia sudah tahu, bahwa kedatangan Ryo ke kampusnya secara tiba-tiba adalah untuk memperjelas rencana pernikahan Delia.
" Huffft,,, jujur aku kaget banget Del,, aku sebenarnya nggak percaya " akhirnya bersuara juga
" Maaf, karena tidak memberitahukan hal sebesar ini kepada Kak Ryo " kata Delia merasa bersalah.
Memang hubungan antara Delia dan Ryo ini di bilang dekat, hanya saja mereka ini jarang sekali berkomunikasi. Ryo sibuk dengan kuliah nya dan sekarang Ryo menjabat sebagai ketua Organisasi ekstrakurikuler yang ada di kampusnya. Belum lagi Ryo akhir-akhir ini sibuk dengan bimbingan sebab ia harus melaksanakan Ujian proposal setelah libur semester nanti. Jadi waktunya untuk menemui Delia tidak banyak meski sebenarnya mereka berada di kota yang sama, dan jarak kampus mereka hanya sepuluh kilometer saja.
Delia sendiri juga selalu disibukkan dengan berbagai tugas kuliah. Jurusan Tata boga yang ia ambil membuat nya selalu mendapat tugas bereksperimen bersama para sahabatnya. Belum lagi waktunya terbagi dengan adanya Misha yang sudah ia anggap sebagai prioritas, Meski itu dia lakukan jauh sebelum insiden drama rumah tangga yang ia terpaksa lakukan dulu. Namun, Delia merasa sudah menjadi bagian dari keluarga Om Dika, dan dia pantas dan harus memikirkan keluarga itu juga.
" Apa kamu yakin dengan keputusan kamu itu? " tanya Ryo.
Delia terdiam,, sebenarnya kalau di tanya yakin, di sudah yakin seratus persen. Bahkan ia tak memiliki lagi keraguan dalam dirinya untuk menerima pernikahan itu.
" Maksudku,,, apakah kamu tidak punya cita-cita? Kamu masih terlalu muda Delia untuk menikah,, kamu punya impian dan harapan yang kamu harus raih " sambung Ryo lagi
__ADS_1
" Dulu,, aku punya impian menjadi seorang koki yang handal dan terkenal,, aku ingin membuat bangga Ayah dan Ibuku,, tapi setelah mereka pergi,, aku merasa hal yang paling aku butuhkan adalah kekuatan dan dukungan, sebab Ayah meninggalkan restorannya untuk aku kelola nanti. Dan itu yang menjadi prioritas ku sekarang " jawab Delia
" Lalu, kenapa kamu memilih untuk menikah di usia dini jika kamu punya harapan lain? Bukankah jika kamu menjadi seorang Istri maka perhatianmu akan terbagi? "
Perkataan Ryo memang ada benarnya. Delia terdiam sejenak, bukankah ia akan sulit membagi waktunya nanti jika ia menjadi seorang istri sekaligus Ibu bagi Misha, dan meluangkan waktunya juga untuk memikirkan restoran yang nantinya akan beralih kepadanya. Ah, kenapa Delia tak berpikiran kesana.
" Aku kesini tidak datang untuk merusak rencana yang sudah kalian buat,,, aku kesini hanya ingin tahu keyakinan kamu Del,, jangan sampai keputusan kamu itu hanya untuk membuat orang lain bahagia, sementara kamu lupa dengan tujuan hidup kamu sendiri " sambung Ryo lagi.
Delia menarik nafasnya. Ia sadar apa yang dikatakan oleh Ryo semuanya benar, saat ini ia terfokus pada kepentingan semua orang sampai ia lupa bahwa ia juga memiliki tujuan hidup yang harus ia raih. Dan karena sibuk membahagiakan orang lain, ia lupa pada tujuan hidupnya sendiri.
" Kak Ryo,, pernikahan itu juga tidak akan terjadi dalam waktu dekat kok,, semua juga masih ada pertimbanga dan butuh proses,, ini juga masih dalam rencana saja "
Hanya itu yang dapat Delia katakan untuk menutupi bahwa sebenarnya dirinya sudah merasa dilema saat ini.
Ryo terdengar menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ada hal yang ingin ia ungkapkan namun tertahan.
" Bukan hanya itu Delia " kata Ryo lirih
" Lalu apa lagi? " tanya Delia
" Sekali pun pernikahan itu akan di lakukan tahun depan atau dua tahun kedepan,, Apakah yang akan menjadi pendamping mu itu adalah orang yang sama? Apakah kamu hanya menginginkan dia saja? " tanya Ryo, yang justru susah di artikan oleh Delia.
" Maksudnya? " tanya Delia
" Delia,,, apakah kamu sudah yakin bahwa kamu menginginkan Om Dika menjadi suami kamu? Apakah kamu tidak memberikan kesempatan untuk hatimu untuk memilih orang lain ? " jawab Ryo, yang sesungguhnya ia juga memiliki pertanyaan lain.
Delia terdiam, jika mungkin hari harinya tak di penuhi Oleh Om Dika, jika saja ia tak pernah berpura pura menjadi Ibu Misha, jika saja ia tak sedekat sekarang dengan Om Dika, dan jika saja takdir tak memisahkan ia dengan Ayah Ibunya. Mungkin Delia mempunyai impian lain. Mungkin ia akan mempertahankan hatinya yang sudah lama terpaut pada sosok yang selalu ia tatap di layar ponselnya tiap malam. Mungkin Delia sampai sekarang masih terus meminta kepada Sang Pemberi takdir untuk dib takdir kan bersama sosok yang berusaha ia hadirkan dalam mimpi ketika ia akan tidur. Namun itu dulu,, sebelum Dika datang dalam kehidupan nya, dan entah kapan Pria yang lebih dewasa darinya itu menghapus segala harapannya, Menghapus sosok yang selalu Delia bayangkan dalam tidurnya. Dan menghapus nama itu dalam setiap Do'a yang Delia panjatkan.
Delia tak tahu kapan, Namun yang ia yakini bahwa sudah lama sekali Delia tak pernah lagi memandangi wajah itu digaleri ponselnya, wajah yang dulu selalu membuatnya berdebar.
" Maaf Kak,, aku tak punya banyak kata untuk menjawab pertanyaan itu "
Delia kembali menunduk dalam, ia benar-benar tak tahu harus berkata apa.
" Baiklah,, Mungkin itu sudah menjadi pilihan kamu Delia,,, Oh yah.. Minggu depan kamu pulang sama Aku,, Ayah dan Ibu sudah berpesan itu kepadaku, dan aku harus membawamu pulang dengan selamat "
" Iya Kak "
Ryo bangkit dari duduknya.
" Aku pergi dulu yah,, ingat kabari aku jika kamu butuh apa apa " kata Ryo,, perhatian pria itu masih saja sama. Hanya saja memang waktu yang membuat mereka berjarak.
Delia menatap punggung lelaki gagah yang semakin menjauh. Dulu Ryo lah yang selalu menemani dan menjaganya. Ryo adalah sosok yang ia kagumi dalam diam.
Dulu, Ryo adalah sosok yang selalu ia panjatkan namanya dalam do'a,, harapan Delia tertaut pada nama Ryo. Dan Ryo juga lah yang berusaha ia hadirkan dalam mimpi sebelum tidurnya.
__ADS_1
Tapi sekarang, hatinya itu tak bergetar sehebat dulu saat melihat Ryo. Meski ia merasa biasa saja, namun ada dilema yang sulit Delia jelaskan yang entah itu apa.
_