
Beberapa bulan berlalu, akhirnya tiba dimana Delia akan melaksanakan tugas KKN nya di sebuah desa yang cukup jauh dari kota. Sebuah desa terpencil dimana tidak ada lampu dimalam hari dan jaringan internet.
Tiga bulan masa KKN itu akan Delia lewati bersama dengan para mahasiswa lain dari berbagai fakultas. Dan untuk kali ini ke empat sahabat itu tidak bisa KKN bersama di satu tempat. Meski sebenarnya mereka enggan untuk berpisah, namun mereka harus tetap menerima keputusan kampus, sebab kampus lah yang memilih siapa yang akan bertugas di tempat-tempat yang telah di tentukan.
Dan kali ini Delia bersama Dewi disatu desa yang sama, begitu juga Dinda dan Devi didesa yg sama.
" Yah,, kita akhirnya pisah deh " kata Delia dengan wajah yang sedih
" Heemm... padahal aku harapnya kita bisa menjalani masa masa KKN sama sama... tapi malah di pisah " kata Dinda tak kalah sedihnya
" Huft,, lagian ini yg ngatur daftar nama siapa sih? pengen ku protes rasanya " Dewi malah menggerutu dengan wajah yg kesal
" Bu Rahma yang tentukan, silahkan ketemu sama beliau,,jangan lupa kuat kuatin mental " balas Devi.
Pasalnya semua orang tahu bagaimana berpengaruh nya Bu Rahma di Fakultas Tata boga, ia merupakan kepala staf dan kata-katanya suka pedas kalah di ajak bicara, dan terkesan selalu menampakkan wajah yang tidak ramah. Mungkin faktor ia terlalu lama sendiri, di umurnya yang sudah kepala empat statusnya masih lajang. Faktor kurang belaian katanya menurut para mahasiswa yang kurang srek dengan Bu Rahma ini.
" Ish, dasar gadis tua" Dewi berdesis penuh tekanan, ia memang salah satu hater nya Bu Rahma.
" Jangan gitu Wi, nggak baik ah " Delia mengingatkan.
Dewi memegang dadanya, berusaha meredam emosinya yang sempat naik.
" Sabar,, sabar... " katanya.
Karena memang pada kenyataannya, mereka harus menerima semua keputusan kampus meski begitu berat. Sebab semua sudah di atur dan sebagai pelajar tentunya harus mematuhi aturan. Apa lagi saat ini mereka adalah mahasiswa semester akhir, pasti begitu banyak aturan aturan yang harus mereka patuhi, bukan hanya saat pergi ke tempat KKN, tapi juga mematuhi aturan aturan saat memulai membuat proposal dan skripsi.
Keesokan harinya.
__ADS_1
Dika menyempatkan diri untuk mengantar Delia ke kampusnya. Karena hari ini adalah hari perpisahan, dan mereka akan bertemu setelah tiga bulan lagi. Rasanya berat sekali, namun mau apa lagi, Dika juga sempat menjalani masa masa seperti Delia. Dan jika Dika mengingat nya kembali, masa itu sangat menyenangkan baginya, meski teman yang dekat dengannya hanya dua orang wanita saja, sebab masa itu Dika benar-benar di kenal sebagai pria kemayu. Namun selama dirinya kuliah, beruntung nya tak ada yang membully atau orang yang ingin berbuat jahat padanya.
" Sudah tidak ada yang ketinggalan? " tanya Dika saat Delia sudah memasukkan kopernya kedalam bagasi mobil.
" Sepertinya tidak ada lagi " jawab Delia
Gadis cantik itu lalu mendekati Misha, meski Misha agak sedikit murung, namun anak itu ternyata bisa mengerti jika calon Mamanya akan sangat sibuk beberapa bulan nanti.
" Misha sayang,, Mama pergi dulu yah,, Selama Mama nggak ada kamu harus belajar mandiri yah,, jangan menyusahkan Eyang ataupun Ayah,, makan tepat waktu, tidur tepat waktu, dan kerjakan PR tepat waktu " Entah ini sudah yang keberapa kali Delia mengeluarkan ucapan berupa nasehat seperti itu. Seingat Misha ia sudah mendengarnya beberapa kali tadi malam.
" Iya Mah, Misha akan selalu ingat nasehat Mama " balas Misha
" Uhh,, pinter anak Ayah Dika " Delia langsung memeluk gadis kecil itu dan memberi banyak ciuman di puncak kepala dan wajah gadis itu.
Harus ia akui bahwa ia pun enggan meninggalkan Misha Bunda terutama Dika, andaikan tempat dan waktu KKN bisa di tentukan sendiri, maka Delia akan memilih untuk ber KKN di kota ini saja. Tak terbayang rasanya bagaimana ia tidak bertemu dengan Misha Eyang dan juga Dika selama tiga bulan, apakah ia sanggup? Yang Delia yakini bahwa ia pasti akan sengat menahan rindu.
Dalam perjalanan Dika dan Delia saling bicara, mereka banyak membahas hal-hal yang tak penting. Entah, mereka berdua sepertinya menyadari bahwa mungkin setelah ini kita akan hanya bicara lewat jaringan saja, tanpa bertatap muka dan itupun jika di sana Delia bisa mendapatkan akses internet. Dan pastinya Dika pasti akan merasa kehilangan Delia dalam beberapa bulan.
Karena saking asiknya mengobrol, mereka sampai tidak sadar jika ternyata mereka sudah sampai di halaman kampus. Entahlah, Dika merasa perjalanan dari rumah ke kampus Delia pagi ini sepertinya sangat singkat. Padahal dulunya, harus memakan waktu setengah jam bahkan sampai satu jam.
" Sudah sampai Bi " ujar Dika
" Iya,, mungkin Dewi Devi dan Dinda sudah menungguku dari tadi " kata Delia.
Dika menatap Delia lekat-lekat. Ia pandangan setiap jengkal wajah gadis cantik itu. Ia pasti akan sangat merindukan gadisnya itu.
" Aku pasti akan sangat merindukan kamu Bi " ujar Dika parau
__ADS_1
" Aku juga Hon, tiga bulan aku akan sangat kesepian tanpa kamu " balas Delia, ia pun merasakan apa yang di rasakan oleh Dika.
Dika menangkup wajah Delia dengan kedua tangannya, kemudian ia menyapu pipi mulus Delia dengan ibu jarinya. Tak lama setelah itu Dika membenamkan kecupan singkat di kedua pipi Delia.
" Kamu jaga diri yah disana " kata Dika, dan Delia mengangguk kan kepala.
Tak lama setelah itu, Delia bisa merasakan ada sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya. Delia pasrah, ia pun menikmati apa yang di lakukan Dika padanya. Walau bagaimanapun ia juga akan merasa rindu dengan perlakuan Dika yang begini.
Cukup lama mereka saling meamanggut dan menyalurkan hasrat masing-masing. Meski tidak melewati batas, namun ciuman itu lebih dalam dan lebih menuntun. Seolah tidak akan ada hari esok untuk melakukan nya lagi.
Ciuman mereka pun lepas ketika mereka sama- sama kehabisan oksigen.
" Aku pasti akan sangat merindukanmu Bi " lagi lagi Dika berkata lembut
" Aku juga begitu Hon,, selama aku tidak ada tolong jaga diri kamu yah, makan lah tepat waktu dan jangan begadang " kata Delia. Sebenarnya ia ingin menangis, namun ia berusaha untuk menahannya.
" Iya Syanag,, kamu juga yah.. tolong jaga diri baik-baik dan jangan terlalu lelah " kata Dika.
Dan setelah itu mereka kembali saling memeluk dengan erat, menyalurkan hasrat masing-masing untuk sebuah rindu yang akan tiba di hari hari berikutnya.
Hingga mereka harus terpaksa melepaskan pelukan itu, ketika suara ketukan dari balik kaca mobil. Dia adalah Dewi, gadis itu memberitahu bahwa semua mahasiswa KKN di suruh berkumpul di lapangan.
Dan untuk pertama kalianya Delia memberanikan diri untuk mengecup singkat bibir manis Om tampannya itu.
Meski malu, sebab di tatap Dika dengan pandangan yang heran, Namun Delia bisa menahannya.
" Aku berangkat Bi "
__ADS_1
_