
Memainkan sebuah peran selama 24 jam dan itu dilakukan beberapa hari adalah sebuah hal yang paling konyol dalam hidup Delia.
Bagaimana tidak, setelah kemarin ada wanita cantik namun sayang kewarasan nya masih di pertanyakan, dan pagi ini wanita itu dengan riang membawa kopernya untuk menginap selama tiga hari du rumah Dika.
Dan saat ini Delia sendiri yang menyambut kedatangannya serta menunjukkan kamar tamu untuk Tari. Meski dalam suasana hati dongkol dan rasa ingin mengamuk Delia harus bisa mengontrol semua rasa itu, demi untuk membuktikan bahwa semua drama itu adalah benar, dan ia berharap tiga hari cepat berlalu, kemudian wanita pembawa petaka itu pergi untuk selamanya.
" Terimakasih karena sudah mau menerima kedatanganku dengan baik " Tari berucap ramah setelah ia sudah berada di kamar tamu.
" Sama-sama " balas Delia datar
" Aku harap keberadaanku disini sama sekali tidak mengganggu ketenangan keluarga ini "
Mendengar ucapan Tari yang begitu ringan tanpa beban entah mengapa Delia ingin sekali mencakar wajah wanita itu hingga mata bibir dan hidungnya tak berbentuk lagi.
Bagaimana bisa ada manusia yang masih tetap santai setelah mengusik ketenangan orang lain seperti ini?
" Cih, anda ini seolah-olah sangat diterima di rumah ini " Delia berucap dingin. Tari hanya tersenyum manis tanpa dosa
" Oh yah, dimana kamar Dika,, emm maksudku kamar kalian berdua ? "
Sekali lagi Delia ingin berteriak ditelinga Tari bahwa ia sangat terganggu dengan kehadiran wanita itu.
Delia menarik nafas dalam-dalam kemudia menghembuskan nya secara perlahan,, emosinya tidak boleh terkuras selama beberapa hari.
" Kamarku ada di dekat kamar Bunda dan Misha,, Etss tapi ingat batasmu sebagai tamu di rumah ini, hanya sampai di kamar ini saja,, terserah dirimu ingin berkeliling sesuka hati, tapi jangan sampai kamu melewati batas atau masuk ke kamar siapapun tanpa seizin ku atau Dika,,, Sekali lagi, kamu adalah tamu maka jadilah tamu yang baik "
Setelah mengucapkan kata yang begitu panjang dan lebar, Delia langsung meninggalkan kamar tamu beserta Tari yang hanya diam dan tak berkutik mendengar kalimat pedas yang diutarakan untuknya.
Delia langsung meneguk segelas air dingin setelah mengantar Tari ke kamarnya. Rasanya ia benar-benar kepanasan dan selalu akan merasa panas jika berhadapan dengan wanita yang bernama Tari itu.
" Huufffttt,, untuk beberapa hari kedepan aku harus bisa mengntrol emosi,, mungkin aku akan lebih membutuhkan air dingin lebih banyak lagi "
Bunda yang juga ingin mengambil air dingin di dapur terheran melihat Delia yang seperti kehabisan nafas.
" Kamu habis olahraga Del,, kok nggak berkeringat? " tanya Bunda
" Iya Bunda, olahraga jantung dan hati " jawab Delia asal
Bunda kebingungan, namun tetap meneguk air yang sudah ia tuang didalam gelas kaca.
" Maksudnya? " tanya Bunda lagi
" Bunda,,, Tari sudah datang dan dia sudah duduk manis dikamar tamu,, oleh sebab itu aku selalu merasa selalu senam jantung jika berhadapan dengan perempuan gila itu" balas Delia
Bunda tersenyum, sebenarnya ia juga merasa terganggu dengan kehadiran Tari dirumah. Namun karena wanita itu juga, ia bisa melihat putranya berperan sebagai suami, yah, meski itu hanya sandiwara. Tapi setidaknya ia bisa melihat sisi lain dari putra satu-satunya.
" Tidak masalah Delia, hanya tiga hari kok " kata Bunda enteng
" Tapi Bunda,, Delia nggak nyaman loh "
" Nggak nyaman sama apa? nggak nyaman sama Tarinya atau nggak nyaman sama drama suami istrinya? " dari kata-kata Bunda ini, seperti mengandung ejekan
" Ah, Bunda nggak ngerti deh"
Karena paham situasi Delia memilih untuk kembali ke kamarnya saja.
Malampun tiba. Dika juga baru tiba dirumah pada saat makan malam.
Delia sendiri langsung menghampiri Dika dan memberikan pelukan kepada sang suami Pura-puranya.
__ADS_1
" Sayang,, kok pulangnya lama? " kata Delia sengaja dibuat manja
" Iya Sayang,, tadi ada pertemuan mendadak " balas Dika tak kalah lembut nya.
Bunda dan Misha tersenyum bahagia melihat adegan rumah tangga yang dilakukan oleh pasangan Pura-pura itu. Sementara Tari hanya menyaksikan kemesraan itu dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
" Mau makan dulu nggak Dik? " tanya Bunda
" Aku mau mandi dulu Bund, kalian makan duluan saja " jawab Dika
" Yaudah,, sini sayang aku siapin air mandi yah,, nanti kita makan sama-sama,, Misha sayang kamu makan duluan yah, sama Eyang sama Tante Tari juga,, bisa kan? " tanya Delia pada anak pura-puranya
" Bisa dong Mah " kata Misha semangat
Setelah tiba di kamar Dika, Delia hanya terdiam, sementara Dika begitu santai melepas dasi kemeja dan celana kain, hingga menyisakan pakaian dalam siglet dan kolor dibadannya.
" Kamu kok cuma diam, katanya mau siapin air mandi buat suami " kata Dika tersenyum mengejek
Delia membulatkan matanya, tak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut pria yang tak pernah melirik wanita manapun.
" Om,, kita ini cuma pura-pura yah " kata Delia
Dika tertawa lepas, sepertinya ia tahu bahwa Delia saat ini sedikit salting.
" Lah, kan bisa pura-pura ke kamar mandi siapin air mandi " Dika semakin menggoda
" Om, jangan asal deh, disini nggak ada Tari, jadi aku nggak usah pura-pura lagi " kata Delia
Dika akhirnya masuk ke kamar mandi, sebelum itu ia berbalik lagi.
" Jadi nggak disiapin air mandi nih? "
Wajah Delia tiba-tiba memanas, entah apa sebabnya. Aura Dika hari ini juga beda, entah apa yang terjadi pada pria itu. Padahal pria itu dulu sangat susah bercanda, ia akan bicara seperlunya saja. Tapi kenapa sekarang pria itu seperti kehilangan roh aslinya. Apa yang pulang ke rumah itu bukan Om Dika?
Delia mulai berpikiran diluar nalar.
Tari sedang duduk santai di ruang keluarga menonton TV. Wanita itu tidak banyak tingkah, untuk menjadi tamu, dia sudah menunjukkan bahwa ia adalah tamu yang baik, bahkan ia tak mendekati Dika saat Dika sudah keluar kamar dan makan bersama Delia. Tari memang hanya mengamati tingkah laku pasangan pura-pura itu yang terlibat bahagia sekali di hadapannya.
" Tari apakah kamu tidak tidur? " tanya Delia, sebab Tari masih betah di ruang tv.
" Sebentar lagi, kalian sudah mau tidur? " tanya Tari balik
" Iya,, suamiku lelah, dan aku harus ada disampingnya " Delia berusaha mempertegas dengan ucapannya bahwa mereka adalah suami istri.
" Oh baiklah " hanya itu yang dikatakan Tari
Tari mengamati Delia, namun Delia ternyata tidak masuk kekamar Dika, melainkan kamar yang disebelahnya.
" Bukannya kamar kalian ada disitu? " Tari menunjuk kamar yang letaknya paling ujung
Delia berbalik
" Benar, kamar kami ada disitu, tapi aku harus memastikan putriku dulu " jawab Delia
Dan ternyata pada saat yang sama Misha keluar dari kamar dengan membawa boneka beruang pink dipelukannya.
" Mau kemana sayang? " tanya Delia
" Mamah, Misha mau tidur dikamar Eyang " jawab Misha
__ADS_1
" Oh, yaudah sini mama antar ke kamar Eyang " Delia menggandeng tangan mungil Misha ke mamar Bunda.
Setelah mengantar Misha, Delia kembali melirik Tari yang rupanya belum bergeser dari ruang TV.
" Kami tidur duluan yah Tari,, ingat kamu jangan begadang tak baik untuk kesehatan " ucap Delia
Tari hanya mengangguk dan tersenyum
Delia membuka pintu kamar Dika secara perlahan. Ia memasukkan kepalanya dulu lalu mengintip kesemua sisi kamar. Setelah menemukan tak ada siapapun disana, Delia akhirnya masuk. Namun dadanya tiba-tiba berdegub kencang. Ia membayangkan Om Dika beberapa jam lalu. Apakah Om Dika masih sama?
" Kenapa hanya diam disitu? "
Ternyata Dika sedari tadi berada dikamar mandi. Pria itu sudah siap tidur dilihat dari penampilan nya terlihat begitu seksi.
Sebenarnya Delia ingin tidur dikamarnya namun, melihat Tari yang selalu mengawasinya, ia jadi tak bisa memasuki kamarnya sendiri. Tadi pun ia kemar Misha, ia berencana ingin bekerja sama dengan Misha agar Misha memintanya untuk tidur bersama, namun ternyata gadis kecil itu lebih memilih untuk tidur bersama Bunda. Dan akhirnya ia harus berakhir sekamar dengan Om Dika.
" Ehem,, tadi itu aku mau kemar Misha Tapi_ "
" Tapi Misha ada sama Bunda kan? " potong Dika, dan Delia mengangguk
" Itu Om yang suruh " sambung Dika enteng
" Apa? " Delia begitu kaget mendengar ucapa Om Dika
" Tapi kenapa Om? " tanya Delia bingung
" Yah, biar kamu tidur disini lah " balas Dika enteng
" Ta,, tapi kan kita cuma pura-pura Om, masa harus tidur sekamar sih? " Delia protes
" Untuk meyakinkan Tari lah,, coba kamu intip kedepan, pasti Tari masih ada di ruang TV kan? dan Om yakin dia akan tertidur di situ " jawab Om Dika
Delia membuka sedikit pintu dan mengintip, ternyata apa yang dikatakan Om Dima benar, Tari masih ada di ruang TV dengan mata yang masih bersinar.
Delia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
" Sudah, ayo tidur,, kamu mau di tempat tidur atau di sofa? " Om Dika memberi pilihan
Delia melirik sofa yang ukurannya lebih kecil dari sofa yang ada diruang tamu dan ruang TV, dan jika ia tidur disana, maka ia tak bisa bergerak, dan bisa-bisa tidurnya pun tak nyenyak.
Delia kembali melirik tempat tidur, yang ternyata sudah ada Om Dika sedang asik bermain ponsel disana, Delia kembali berpikir apakah tidurnya akan nyenyak jika tidur disamping Om Dika?
" Apa mau tidur didepan pintu? " kata Om Dika dengan masih fokus ke layar ponsel
" Lagipula kamu nggak bakalan kenapa-kenapa kok, kalau tidur disini " sambungnya lagi
" Iya iya Delia tahu,, Om nggak bakalan tertarik sama aku " akhirnya dengan kesal Delia naik keatas tempat tidur.
" Tapi, Om jangan marah kalau tengah malam aku tiba-tiba nendang " sambung Delia lagi
" Kenapa harus nendang? " tanya Dika
" Soalnya kalau tidur aku suka kesurupan " jawab Delia
" It's okay,, no problem,, selamat malam istri " kata Dika sambil langsung mematikan lampu disamping nya
Delia yang dongkol tambah dibikin kesal oleh ucapan Dika. Dan ia pun mematikan lampu disamping nya.
" Selamat malam SUAMIKU " sengaja Delia mempertegas kata di akhir kalimat, ia ingin Om Dika terganggu seperti dirinya terganggu sebab Om Dika mulai menggodanya sejak tadi.
__ADS_1
_