Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Nyaman


__ADS_3

Delia pulang dengan wajah yang murung, gadis itu sama sekali tak bersemangat. Bahkan tak ada senyum di wajahnya.


Misha dan juga Bunda sangat heran melihatnya. Biasanya, Delia akan sangat semangat jika pulang ke rumah apalagi jika mendapati Misha ruang tamu bermain.


" Assalamu'alaikum,, Delia pulang " ucapnya dengan suara yang lemas


" Waalaikumsalam salam " balas Bunda dan Misha bersamaan


" Mama,,, Ayo kita main? " ajak Misha semangat


" Nanti saja yah sayang,, Mama lelah mau istrahat dulu " tolak Delia, seketika raut wajah Misha berubah sedih


" Misha,, Mama kamu sedang capek,, mainnya sama Eyang dulu yah " Bunda memberi pengertian pada Misha. Dan untung saja Misha adalah gadis yang penurut sehingga tak susah untuk membujuknya.


Bunda begitu khawatir melihat perubahan Delia, ia takut rencana pernikahannya yang membuat gadis itu tak bersemangat. Namun satu hal yang Bunda syukuri, rupanya panggilan Mama kepada Delia tidak berubah, bahkan gadis itu sudah terlihat tidak keberatan. Suatu tanda jika mungkin Delia akan menerima hubungan ini dengan baik nantinya.


Delia langusng merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya. Tatapan nya begitu hampa, ia sadar bahwa ini isi kepalanya hanya tentang Dewi. Delia yakin bahwa pasti sekarang sahabatnya itu sedang tidak baik baik saja. Sahabatnya itu pasti sangat terluka karenanya.


" Haaaaahhhhhh,, kenapa aku harus terjebak dalam situasi seperti ini sih.. " Delia bergumam sendiri


Tak lama ponselnya berdering, ia langsung mengambil benda pipih itu dan melihat siapa yang sedang mengirimkan nya pesan.


Sudah bicara sama Dewi?


Delia menghela nafas panjang saat membaca pesan dari Om Dika.


Tapi Delia tak berniat membalasnya, ia begitu tak berselera, mungkin ia akan menjawab langsung jika Om Dika menanyakan nya nanti.


" Aku harus apa?? Bahkan aku sangat takut jika sampai nanti Dewi akan membenci ku " ujar Delia pada dirinya sendiri.


Akhirnta Delia memutuskan untuk mengirim pesan pada Dewi, ia tak berani untuk menelfon.


Wi,, kamu oke kan?


Aku mau ngomong sama kamu..


Delia harap harap cemas saat pesannya sudah terkirim dan centang dua. Namun Delia berubah murung saat pesan itu sudah terbaca tapi tidak ada tanda tanda bahwa Dewi akan membalasnya.


Meski sudah Delia duga bahwa hal ini akan terjadi, tapi tidak ada salah nya ia mencoba. Dan sekali lagi Delia mencoba mengirimkan pesan pada sahabatnya itu.


Dewi,, aku tahu kamu marah,,, aku bisa jelaskan,, bahkan aku akan mencari solusinya jika kamu sakit hati dengan kabar ini,, tapi jujur Wi,, kamu dalam hidup aku itu penting,, dan aku tidak mau kehilangannya sahabat sebaik kamu 🥺🥺


Delia harap Dewi bisa tersentuh dengan isi pesannya, sesuatu yang ia utarakan dengan jujur.

__ADS_1


Namun sekali lagi pesan itu hanya terbaca dan tidak berbalas.


Delia kecewa, entah harus bagaimana ia bisa dimaafkan kali ini. Jika boleh jujur,, ia tak ingin ada pernikahan ini jika harus kehilangan sahabat.


Tapi, apakah ia juga yakin? Disaat separuh hatinya sudah berhasil di rebut oleh Om Dika.


Malam hari di meja makan, semua makan dalam keadaan hening, bahkan Misha yang biasanya akan bercerita banyak hal mendadak diam. Gadis kecil itu seolah tahu jika wanita yang sebentar lagi akan menjadi Ibunya sedang dalam keadaan tidak baik.


Dan Misha pun enggan untuk menanyakan.


" Ayah,, Mama kenapa sih? " akhirnya Misha hanya bertanya pada sang Ayah dengan sedikit berbisik


Dika langsung melirik Delia yang hanya menyantap makanannya dengan tak berselera.


" Mama nggak apa apa Sayang,, Mama cuma lelah " jawab Dika, dan Misha pun tak banyak bertanya lagi. Mungkin memang Mamanya itu sedang lelah.


Delia menyelesaikan makannya dengan cepat. Dan ia segera pamit dari meja makan.


" Aku sudah selesai,, aku langsung istrahat yah, Misha Mama tidur dulu " ucap Delia, meski dalam keadaan mood yang kurang baik, ia tetap ingat pada Misha


" Iya Mah " jawab Misha


Bahkan beberapa jam berlalu, Delia sama sekali tak bisa memejamkan mata, pikirannya berlari entah kemana, bayangan Dewi yang sedang marah kini menari-nari di ingatannya. Dengan begitu, ia menjadi frustasi sendiri.


Bahkan saat seseorang masuk kedalam kamarnya tak juga menyadari. Saking frustasinya, hingga orang itu sudah naik diatas tempat tidur nya ia baru tersadar karena merasakan getaran di atas tempat tidur nya.


" Bisalah, pintunya nggak dikunci " jawab Om Dika enteng, pria itu langsung merebahkan dirinya diatas kasur


" Nggak sopan banget sih,, masuk kamar orang nggak permisi " Delia mengomel


" Hey, Nyonya Delia Ariawan,, dari tadi Om ketuk ketuk itu pintu kamar, smpai pintunya kesakitan tapi nggak ada jawaban,, yaudah Om masuk saja "


Memang benar, bahwa tadi sebelum masuk, Om Dika sempat menegetuk pintu beberapa kali, oleh karena tidak ada respon dari yang punya kamar, akhirnya ia memutuskan untuk masuk saja.


" Masa sih.. " Delia bergumam, apa sampai sebegitu kepikirannya terhadap Dewi sampai ia menjadi tuli.


" Kamu mikirin apa sih,, hem? " tanya Om Dika, pria tampan itu bangun dan duduk tepat di samping Delia.


" Pasti tentang Dewi kan? " tebak Om Dika


Delia mengangguk lemah


" Kenapa,, Dewi marah kah? " tanya Om Dika lagi

__ADS_1


Delia menatap Om Dika dengan tatapan sendu


" Om,, apa sebaiknya pernikahan kita di pikiran ulang,, ini terlalu cepat " kata Delia


" Terlalu cepat, atau karena rasa tak enak mu terhadap sahabatmu? "


lagi-lagi Delia menunduk, tebakan Om Dika bahkan sangat tepat sasaran.


" Delia,, kita bisa mengundur pernikahan itu,, seberapa lama pun Om akan tunggu " ujar Om Dika


" Tapi,, bagaimana dengan Dewi Om,, dia pasti sangat sulit menerima ini semua " balas Delia


Dika menarik nafasnya lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia baru saja menyukai dan tertarik kepada seoarang wanita, dan ia harus menerima ujian di awal.


" Baiklah,,, Om tahu jika Dewi menyukai Om sejak dulu, dan Om sangat berterimakasih,, tapi maaf Delia meskipun bukan kamu yang ditakdirkan untuk Om,, Om tidak akan melirik Dewi, karena dari awal Om tidak merasakan apa apa terhadap sahabat kam itu " jelas Dika


" Dewi itu gadis yang baik dan terpelajar Om, dan dia juga sangat cantik,, aku yakin Om Dika bisa membuka hati untuknya jika Om mau mencoba " kata Delia


Dika menaikkan sebelah alisnya, ia bisa menangkap bahwa ucapan gadis di hadapan nya ini tidak searah dengan hatinya.


" Kamu mau Om buka hati untuk Dewi,,, apa kamu yakin? " tanya Om Dika memastikan


Delia tak menjawab, ia hanya menunduk sambil memainkan jari jemarinya. Hal yang memang sulit ia jawab, bahkan hatinya juga menolak untuk mengatakan hal itu.


" memangnya bagaimana perasaanmu sekarang? Apakah Om tidak ada dalam hatimu? " tanya Om Dika lagi.


Dan lagi lagi Delia memilih bungkam. Jujur saja saat ini hatinyapun sudah terpaut oleh pria yang sudah sangat dewasa itu. Entah sejak kapan, namun ia bisa meyakini bahwa menerima Om Dika dalam hidup nya bukanlah hal yang sulit, ia pun sudah terbiasa dan merasa nyaman.


Lalu, sanggupkah ia membagi Om Dika dengan wanita lain?


Om Dika tertawa kecil. Bungkamnya Delia sudah menandakan bahwa gadis itu tak akan bisa menerima jika nanti Om Dika bersama gadis lain, meskipun itu bukan Dewi.


" Delia,,, diammu itu bahkan sudah menjawab pertanyaan Om "


Delia mengangkat wajahnya, ia memberanikan diri untuk menatap pria tampan dihadapannya.


" Apa? " tanya nya


" Sini mendekat " Om Dika menarik Delia agar lebih dekat dengannya, dan gadis itu menurut saja, saat tubuh nya di bawa lebih jauh kedalam pelukan hangat.


" Deliaa,,, semua akan baik baik saja " kata Om Dika.


ia memeluk erat gadis mungil itu, dan menicum puncak kepalanya, seolah menyalurkan kekuatan kepada gadis itu.

__ADS_1


Delia sendiri menikmati setiap sentuh hangat dengan memejam mata, seolah tak ingin jika momen ini berlalu, tanpa sadar ia melingkarkan tangannya ke tubuh kekar itu dan menghirup wangi tubuh yang selalu membuatnya nyaman.


_


__ADS_2