Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Canggung


__ADS_3

Sekolah Misha sedang mengadakan acara pentas seni. Gadis itu berharap saat ia tampil nanti ia bisa melihat Ayahnya untuk menyaksikan dirinya bernyanyi dan menari di atas panggung.


Sebab yang ada saat ini bersamanya adalah Delia sebagai wali dari Misha, Oma tidak bisa hadir sebab mendadak sakit, sementara Dika sedang ada perjalan keluar kota sejak dua hari yang lalu. Dika sudah berjanji akan datang tepat di acara pentas seni yang di adakan di sekolah Misha. Namun sampai saat itu tiba rupanya Dika juga tak kunjung hadir.


" Misha, kamu nggak boleh murung dong, kan Kakak udah ada di sini " Delia mencoba menghibur Misha yang sejak pagi tidak bersemangat mengikuti pentas seni.


" Gimana kak, apa Ayah sudah bisa di hubungi ? "


Delia menghela nafas panjang. Sejak pagi ia mencoba menghubungi Om Dika, namun ponsel Ayah muda Misha itu sedang berada diluar jangkauan. Entah apa yang terjadi, Delia juga sebenarnya merasa cemas, sebab semalam ia masih sempat bertukar panggilan video call bersama Misha. Dan Dika juga sudah berjanji akan tiba besok pagi meski akan sedikit terlambat.


Tapi ini sudah pertengahan acara, dan Dika masih susah di hubungi. Delia mencoba bersikap tenang agar bisa memberi semangat pada Misha.


" Ayah kok nggak bisa menepati janji ke Misha Kak ? " mata gadis kecil itu sudah berkaca-kaca. Delia langsung memeluk putri kecil itu dengan sayang.


" Misha, Ayah pasti sedang ada halangan sehingga tidak bisa hadir. sebaiknya Misha tetap tenang dan fokus pada acara dan pentas kamu sebentar lagi yah,, kalau Ayah nggak bisa hadir saat ini, kan Ayah masih bisa liat rekaman kamu nanti di rumah. Kakak yakin pasti Ayah bakalan bangga sama kamu "


Penjelasan Delia sedikit membuat Misha bisa lebih tenang. Gadis kecil itu sudah bisa tersenyum meski hanya di paksakan.


Sementara di tempat lain. Dika sedang frustasi, di tengah macetnya jalan raya, ia terus memikirkan bagaimana bisa sampai di sekolah Misha tepat waktu. Semalam ia sudah berjanji akan hadir di acara pentas Misha. Ia juga ingin sekali menyaksikan putri kecil nya yang memukau itu di atas panggung. Bahkan ia sudah sepagi mungkin berangkat dari penginapan, agar bisa menembus macetnya jalan raya. Namun tidak sesuai prediksi. Sebab, tepat di jalan tol, ada sebuah kecelakaan. Dan Dika sudah terjebak di sana sejak 3 jam lalu.


Saat ia ingin mencoba menghubungi Delia, rupanya hpnya juga dalam keadaan kehabisan daya. Rasanya Dika saat itu sedang ikut dalam musibah. Terjebak macet dan ia tak bisa sama sekali menghubungi putrinya untuk menjelaskan keterlambatan nya.


" Maaf kan Ayah Nak " desa Dika, ia putus asa, ia tak punya cara lain selain menunggu jalan kembali normal. Ia hanya berharap bahwa Misha akan memaklumi nya nanti.


Dari arah berlawanan, Dika melihat banyak motor yang melintas, dari situ ia memiliki sebuah ide, bagaiman ia bisa keluar dari situasi ini. Dika menepikan mobilnya. Lalu keluar dari sana. Ia menghampiri salah satu pengguna jalan bermotor.


" Pak, bisa saya tolong saya ? "


Bapak yang di sapa itu tidak menjawab, ia sibuk meneliti penampilan Dika dari atas sampai bawah. Dika tahu, mungkin Bapak itu sedang waspada,takut jika ia sedang bertemu seorang penipu. Sebab jaman sekarang memang banyak sekali penipu yang bertebaran dimana-mana.


" Mobil saya ada di sana Pak, saya terjebak macet, dan sudah berjam-jam di sini. Ada hal penting yang harus saya hadiri hari ini. Dan ini sudah terlambat, jadi saya mau minta tolong sama Bapak "


Dika menjelaskan. Raut wajah Bapak itu sudah terlihat ramah.


" Minta tolong apa Mas ? " tanyanya


" Bisa kah Bapak mengantar saya mencari taksi? saya akan bayar kok Pak " kata Dika


" Oh, bisa Mas, mas ini mau ke arah mana ? "


Dika menyebutkan arah yang ia tuju. Dan Bapak itu mempersilahkan Dika agar naik di belakang tempat duduknya.


Di sisi lain.


Misha sudah berada di atas panggung bersama satu timnya. Delia bersorak dan bertepuk tangan memberi semangat untuk Misha.


" Semangat sayang,, kamu pasti bisa " Delia berucap, meski tak di dengar oleh Misha, namun gadis kecil itu terlihat paham, sebab ia membalas dengan mengangguk-anggukan kepalanya.


Musik sudah mengalun, saat nya Misha dan timnya sudah di beraksi di atas panggung. Delia sudah menyiapkan ponsel nya untuk merekam penampilan Misha.

__ADS_1


" Maaf, Om terlambat Del "


Delia tergugu sebab Om Dika sudah duduk di samping nya.


" Om Dika ! "


Dika melambaikan tangan ke arah Misha, meski terlambat, namun ia bersyukur sebab ia masih sempat melihat putri kecilnya tampil di atas panggung. Misha sendiri jangan ditanya, gadis itu sedang tersenyum lebar di atas sana. Bahkan ia lebih semangat dari yang lainnya.


" Om kok bisa di sini,, eh maksudku, kenapa Om susah di hubungin ? apa terjadi sesuatu? " tanya Delia


" Ceritanya nanti aja yah Del, di rumah "


Delia paham, Om Dika mungkin ingin fokus pada penampilan putri kecilnya di atas panggung.


Namun, ada hal yang Delia sendiri tak ketahui. Mendadak Ia tak bisa konsen pada acara dan persembahan Misha. Ia sibuk dengan pikiran nya. Ia bahkan sempat mencuri pandang ke arah Om Dika. Ia sedang mencari sesuatu, mungkin kah Om Dika sedang mengalami hal buruk. Tapi dari penampilan nya, seperti nya tidak ada yang kurang sedikit pun. Tetap rapi dan tampan. Pikir Delia.


Sisi hati Delia yang lain sempat mengagumi sosok Om Dika. Sebab ia sebagai Ayah tunggal yang sangat bertanggung jawab. Mungkin jika ia menjadi seorang suami, ia akan menjadi pasangan yang ideal bagi wanita yang beruntung memiliki nya .


" Kenapa ? "


Delia tertangkap basah sedang menatap Om Dika.


" Eh tidak " Delia gugup. Ia menunduk dan menggigit bibirnya, sedikit menahan rasa malu, sebab Om Dika menangkap gelagat anehnya lagi.


Dika hanya tersenyum. Delia kembali aneh seperti kemarin-kemarin. Ia jadi berpikir akan menanyakannya nanti.


Pertunjukan Misha sudah selesai. Gadis kecil itu langsung berlari memeluk Dika dengan erat.


" Maaf yah sayang, Ayah ada halangan tadi " balas Dika, dengan memberi kecupan di kepala Misha


" Iya Ayah, nggak apa-apa, untung ada Kakak Delia " kata Misha, Dika sekali lagi melihat Delia yang memang gadis itu sedang memperhatikan interaksi Ayah dan anak itu.


" Makasih yah Del, kamu udah mau menyempatkan diri untuk menemani Misha " kata Dika tulus


" Bukan apa-apa Kok Om, lagian aku juga senang bisa menemani Delia ke acara seperti ini " balas Delia.


Acara sekolah Misha sudah selesai. Dika Delia dan Misha sedang menunggu jemputan. Saat mereka sibuk bercerita, ada seorang wanita yang seumuran dengan Dika yang menghampiri mereka.


" Hai Pak Dika " sapa wanita itu


" Hai Bu Ria " sapa Dika


" Tadi saya sempat mencari Pak Dika loh, tapi yang datang bersama Dika ternyata seorang gadis " Bu Ria sedang melirik Delia, ia berpikir bahwa kedekatan Misha dan Delia begitu istimewa.


" Oh, ini Delia, dia Kakak Misha " kata Dika


" Kakak Misha ? " ulang Bu Ria


" Delia ini anak angkat saya Bu Ria "

__ADS_1


Bu Ria membulat kan bibirnya.


" Tadi saya pikir gadis cantik ini calon Ibunya Misha Pak, habis nya kedekatan Misha sama Nak Delia ini begitu beda,, " jelas Bu Ria


Delia yang mendengar itu merasa bingung.


Kedekatan apa yang ibu itu maksud? perasaan Delia ia menyayangi Misha dengan caranya sendiri, tidak ada yang di lebih-lebih kan. Spontan Delia meraba wajahnya.


Apa aku setua itu, sampai di kira calon Ibu Misha ?


Bu Ria paham arti kebingungan Delia.


" Hahaha.. maaf Yah Nak Delia, Ibu tidak bermaksud begitu .. Maksud saya, kamu memang terlihat sangat muda, tapi kamu punya sisi keibuan bagi orang yang jeli melihatnya seperti saya ini, sekali lagi maaf yah Nak Delia " ujar Bu Ria tak enak


" Ah, tidak apa-apa Bu " hanya itu yang bisa di katakan Delia.


Dika sendiri, bingung harus menanggapi apa. Sebab selama ini ia tak begitu memperhatikan sikap Delia kepada Misha. Yang ia tahu, hanya Delia dan Misha memang sudah sangat dekat. Dan ia menyimpulkan itu sebagai bentuk persaudaraan di antara mereka.


Dan akhirnya mobil jemputan mereka tiba. Dika pun pamit kepada Bu Ria.


" Kamu, jangan ambil hati apa yang di ucapkan Bu Ria yah Del " Dika seperti nya Paham, bahwa Delia masih memikirkan ucapan wanita yang merupakan wali kelas putrinya .


" Ah, tidak kok Om " untuk yang satu ini, Delia terpaksa berbohong, sebab nyatanya ia sangat memikirkan ucapan Bu Ria.


" Ayah, memang nya Kakak Delia bisa jadi Ibu ? " ini Misha yang bertanya. Rupanya anak kecil itu sedang menyimak dari tadi


" Eh, bukan begitu nak " Dika sendiri bingung harus menjelaskan apa


" Emmmm, Delia dengerin Kakak yah,, Kakak mungkin bisa jadi Ibu, tapi setelah Kakak menikah "


" Apa itu artinya Kakak akan menikah dengan Ayah ? "


Delia semakin bingung mendengar ucapan Misha. iya belum selesai menjelaskan, namun Misha sudah menimbulkan pertanyaan baru.


" Misha, Bukan begitu sayang " ini kata Om Dika


sejenak Delia dan Dika saling pandang. Lalu beralih ke arah Misha yang sedang menunggu penjelasan.


" Lalu ? "


" Misha, semua perempuan akan menjadi Ibu Jiak sudah menikah nanti. Tapi bukan berarti Kakak mau menikah dengan Ayah Misha, Kakak ini kan kakak kamu, berarti Kakak ini sama halnya anak Ayah Dika juga kan ? "


Delia mencoba menjelaskan dengan cara paling sederhana agar bisa di di pahami oleh anak seusia Misha.


" Yah, Misha kira Kakak bakalan jadi Mama Misha " mendadak wajah gadis kecil itu murung.


Dan sekali lagi, Dika dan Delia saling pandang . hingga akhirnya situasi dalam mobil mendadak canggung.


_

__ADS_1


jangan lupa like and komen yang gesss....


__ADS_2