Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Cemburu


__ADS_3

Ryo dan Delia sedang beristirahat di sebuah warung kecil di pinggir jalan. Sudah dua jam lebih mereka menunggu montir paggilan, namun montir itu tak kunjung datang.


Raut wajah Delia semakin cemas saat ia melihat ponsel miliknya dalam keadaan lowbat padahal ia harus mengabari Dika jika mungkin ia akan tiba tengah malam. Ia juga harus memberitahukan kalau mobil mereka mogok, dan tidak tentu akan tiba di rumah tepat waktu. Yang pasti perjalanan yang akan Delia tempu masih kurang lebih dua atau tiga jam lagi.


Delia tergesa-gesa ke mobil untuk mengambil charger miliknya. Ia harus segera mengisi daya ponselnya sebab ia yakin bahwa mungkin saat ini Dika pasti sedang mengabari nya dan pasti saat ini pria itu sedang menunggu nya dalam keadaan cemas.


" Kamu terlihat cemas sekali? sudah jangan khawatir baru saja montir menelfon ku kalau dia akan tiba sebentar lagi" ujar Ryo, lelaki muda itu seperti nya tahu jika Delia sedang mencemaskan sesuatu.


" Aku lupa mengabari orang rumah, pasti mereka sedang menunggu ku,, mana ponsel ku mati,, aku harus segera mengisi dayanya " kata Delia.


Ryo hanya mengangguk sebagai tanda ia paham dan tidak menanggapi lagi.


Tak lama setelah itu dua orang pria bersepeda motor datang menghampiri mereka. Di lihat dari pakaian dan alat- alat yang mereka bawa di tangannya seperti nya mereka adalah montir yang di panggil oleh Ryo.


Lalu, tanpa banyak basa basi Ryo menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dan dua orang pria itu langsung melakukan tugasnya.


Delia sendiri sudah harap- harap cemas saat mengisi daya ponsel nya. Ia sudah meminta ijin kepada pemilik warung untuk menumpang charger sebentar.


Setelah ponsel nya sudah terisi oleh sedikit daya, Delia langsung mengaktifkan ponsel nya. Dan benar saja sesuai dugaannya. Bahwa panggilan dan juga pesan yang datang begitu banyak dari orang yang sama.


Delia langsung terburu-buru menelfon Dika sebab ia juga takut jika Dika berpikiran macam-macam tentang dirinya. Apa lagi calon suaminya itu tak tahu jika mereka sedang dalam masalah..


Tutt... tut... tutt....


Delia bernafas kegah sebab rupanya Dika yang ia hubungi cepat menjawab telfonnya.


" Halo, Delia Sayang kamu dimana? "


Suara khas milik Dika itu langsung menyerang Delia dengan pertanyaan. Delia tahu jika Dika begitu mengkhawatirkan nya saat ini.


" Aku ada di sebuah warung kecil Om, tepatnya di perbatasan kecamatan" Delia menyebutkan nama perbatasan kecamatan itu. Dan ia bisa mendengar bahwa seseorang di balik sana sedang bernafas legah.


" Aku cemas sekali Delia, aku kira terjadi sesuatu sama kamu " kata Dika


" Maaf Hon,,, batrai HP ku low,, beruntung mobilnya mogok tepat depan warung ini,, jadi aku bisa numpang charger " ujar Delia.


" Syukur lah kalau kamu tidak apa apa.... Lalu dimana Ryo? bukannya kalian berangkat bersama? " tanya Dika


" Dia ada kok,, dia sedang berbicara dan mengawasi montir yang sedang memperbaiki mobil " jawab Delia


" Aku jemput yah,, aku khawatir kalau kamu disana lama lama " kata Dika

__ADS_1


" Tidak usah Hon,, mobilnya sudah di perbaiki,, mungkin sebentar lagi akan selesai,, Kamu tunggu saja di rumah,, dan lebih baik kamu tidur,, jangan begadang,, InsyaAllah aku akan sampai rumah dalam dua jam lagi "


Delia menolak, ia tak mau merepotkan calon suaminya. Lagi pula mobil nya sudah di tangani, mungkin tidak lama lagi mereka akan melanjutkan perjalanan.


" Aku khawatir sama kamu Delia "


"Tidak perlu khawatir Hon,, lagi pula aku bersama Ryo, jadi aku akan baik baik saja "


Delia berusaha keras untuk membuat Dika mengerti, ia juga menjelaskan bahwa disini ia tak sendiri, ada Ryo dan dua montir serta beberapa penjaga warung yang memang khusus buka 24 jam. Jalanan itu pun juga tidak begitu sepi, banyak rumah rumah warga di pinggir jalan raya, sehingga menurut Delia ia berada di tempat yang aman.


Dan Akhirnya Dika pasrah dan mengalah meski ia ingin sekali menyusul dan menjemput Delia.


Dan setelah lama saling bertukar kabar, dan Dika pun sudah merasa tenang, akhirnya mereka mengakhiri sambungan telepon itu.


Di tempat lain.


Dika begitu frustasi, tadi sebelum Delia menelfon nya ia merasakan kantuk yang luar biasa, namun ia menahan diri untuk tidak tidur. Namun setelah Delia mengabari nya, Kantuk nya mendadak hilang. Ia merasa legah sebab Delia ternyata baik baik saja. Namun harus ia akui ada sisi hatinya yang bergejolak tak tenang, seperti sedang menahan sesuatu.


Delia memang baik baik saja, Namun yang membuat Dika tak tenang adalah saat ini Delia bersama seseorang, dan seseorang itu Dika yakini telah menaruh hati pada calon istrinya itu. Dan jujur saja Dika merasa tak tenang jika semalaman Delia bersama seseorang yang ia tahu bernama Ryo.


Bagaimana jika pemuda itu berusaha mencoba mencari cela untuk mendekati Delia? Bisa saja pria itu menghasut Delia untuk memikirkan ulang tentang pernikahan mereka. Sebab Dika sangat tahu jika Ryo adalah orang yang tidak setuju dengan pernikahannya dengan Delia, meski pemuda itu tak pernah mengatakan nya, Namun dari cara pemuda itu bicara dan menatap Dika sangat jelas bahwa Ryo tidak menyukai nya.


Andai saja Delia mengizinkannya untuk menjemput, pasti sejak beberapa menit lalu Dika sudah membela jalan kota untuk menemui dan membawa Delia pulang bersamanya. Sayangnya Delia menolak dan ia juga tak ingin memaksakan diri.


Tiga jam berlalu, waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Dika sempat tertidur. Namun ia gegas terbangun saat mendengar samar-samar suara mobil yang berhenti tepat di depan halaman rumahnya.


Dengan cepat Dika bangkit dari tidur nya dan berlari membuka pintu. Dan sesuai harapannya, Delia sudah tiba dengan selamat.


Gadis itu turun dari mobil dengan di temani Ryo di sampingnya.


Entah mengapa Dika begitu tak menyukai kedekatan Delia dengan pemuda itu. Apa lagi Ryo secara Terang-terangan menunjukkan sikap peduli nya kepada Delia, Ryo dengan setia mengantarkan Delia hingga ke pintu depan dan pemuda itu juga membawa koper Delia.


" Akhirnya kamu pulang " Ujar Dika langsung meraih Delia dalam dekapannya.


Delia nampak pasrah saja menerima perlakuan Dika, meski ia merasa tak enak sebab Ryo sedang memperhatikannya.


" Iya,, maaf sudah membuat mu menunggu lama " kata Delia, ia melepaskan tubuhnya dari dekapan tubuh kekar calon suaminya.


Delia menatap Ryo, dan meraih kopernya kembali dari genggaman pemuda itu.


"Terimakasih Ryo, apa kamu mau menginap di sini, ini sudah hampir subuh " tawar Delia.

__ADS_1


Dika mwngerutkan keningnya merasa tak setuju dengan ttawaran Delia kepada Ryo.


" Hon,, apakah boleh Ryo menginap di sini? kasihan jika ia harus berkendara lagi, kost an nya masih jauh " Delia beralih menatap calon suaminya.


" Ah, tentu boleh... " Dika terpaksa menyetujui permintaan Delia.


Tapi Ryo bisa merasakan bahwa apa yang keluar dari bibir pria dewasa dihadapan nya itu sangat berbeda dengan hatinya.


" Tidak perlu Delia,,, lagi pula aku hanya tinggal berkendara sekita 25 menit lagi,, terimakasih tawaran nya "


Ryo rupanya orang yang sangat pengertian, ia tahu bahwa ada hati yang akan cemburu jika ia menerima tawaran Delia.


" Yah, baik lah... Terimakasih sudah mengantarkan aku pulang " balas Delia merasa tak enak sebenarnya.


Dika juga mengucap kan terimakasih kepada Ryo, dan akhirnya pemuda itu pamit.


Setelah Ryo sudah hilang dari pandangan, Dika lalu meraih pergelangan tangan Delia.


" Kenapa Hon? " tanya Delia


" Sepertinya kamu sangat perhatian sama Ryo? " tanya Dika


Delia menaikkan sebelah alisnya " Jelas aku khawatir Hon, dia berkendara sejak tadi,, lagi pula itu hal wajar " kata Delia


" Oh,, jadi hal yang wajar jika perhatian terhadap pria lain? "


Dika sudah menunjukkan bahwa dirinya tidak suka dengan tindakan Delia.


Delia menatap dalam dalam manik mata Dika, akhirnya ia mengerti bahwa saat ini pria dewasa itu sedang cemburu. Dan itu membuat Delia bersorak dalam hati, artinya Dika sudah benar-benar mencintainya.


" Apa Hon ku ini sedang cemburu, Hem? " tanya Delia dengan wajah yang jahil.


Dika merasa salah tingkah di tatap Delia dengan ekspresi seperti itu


" Cemburu,,, ? Tidak! " Sangkal Dika


" Benarkah? " Delia semakin ingin menggoda calon suaminya itu. Entah mengapa rasa lelahnya dalam perjalanan hilang seketika.


" Hem,, lebih baik kamu istrahat,, ini sudah hampir subuh,, Ayo "


Dika memilih menghindar dan mengantar Delia hingga ke kamarnya. Sungguh ia begitu malu jika Delia mengetahui jika saat ini ia sedang cemburu.

__ADS_1


_


__ADS_2