
Sejak kemunculan Tari, hari-hari Dika seperti berasa di teror. Gadis gila itu bahkan muncul dimana saja dimana pun Dika berada.
Terganggu? Sudah pasti, Tari sekrang seperti parasit di kehidupan Dika. Beruntung jika Dika di tempat keramaian dan bertemu banyak orang, Tari tak berani mendekat, namun sialnya jika Dika sedang sendiri dan dalam keadaan sedang menunggu seseorang, Tari akan begitu agresif mendekati nya.
" Dika,, aku mohon waktu kamu sebentar saja " Tari dengan tiba-tiba saja datang memaksa Dika untuk bicara dengan cara menggenggam tangan Dika dengan begitu erat.
" Tari, jangan seperti ini,, malu di lihat banyak orang " Dika berusaha lepas dari genggaman wanita menakutkan itu.
" Tolong Dika, hanya sebentar " Tari semakin memaksa
" Lepaskan tangan Anda Nona "
Dewi datang di saat yang tepat, dengan berani ia melepaskan tanga Dika dari jeratan Tari.
" Kamu siapa, beraninya kamu ikut campur urusanku " Tari berucap begitu geram
" Siapa aku, buka urusanmu,, tapi jika menyangkut Om Dika itu akan menjadi urusanku " Dewi pun berucap dengan begitu sombong.
Sejujurnya Dika sangat tidak begitu nyaman berada di antara dua wanita agresif ini, namun bukannya berada disamping Dewi akan lebih membuatnya merasa aman, paling tidak ia bisa lepas dari cengkraman Tari untuk hari ini.
" Heh, siapa kamu, jangan lancang yah.. kamu itu bukan istrinya " Tari memaki
" Sekarang memang bukan, tapi nanti aku akan jadi istri Om Dika " Dewi sendiri dengan percaya dirinya mengatakan hal yang membuat Dika semakin pusing.
Oh Tuhan,, kenapa masalahnya jadi semakin rumit.
"Hahahahha,, jangan asal bicara kamu, bahkan aku tahu siapa istri Dika,, kamu mau jadi pelakor yah? "
Dewi langsung syok mendengar ucapan Tari. Istri Om Dika? tidak mungkin, bahkan ia tahu siapa yang tinggal bersama Om Dika.
" Apa istiri Om Dika? " Dewi melihat Om Dika, tatapan matanya meminta penjelasan
" Kenapa? kamu kaget? bahkan dia hari yang lalu aku bertemu dengan istri dan anak Dika, jadi mustahil jika kamu adalah calon istrinya " Tari tertawa mengejek.
" Om Dika " Dewi ingin penjelasan sekarang. Meski perasaannya tidak mendapat kan respon dari Dika, Namun ia terus berusaha untuk menjadi yg spesial untuk Dika.
Dika tak bisa berkata apa- apa, pandangannya sekarang menjadi berkunang-kunang perlahan jadi gelap, dan ia tak bisa mendengar apa-apa lagi, setelah itu ia tak sadarkan diri.
Delia yang saat itu sedang berada di perpustakaan, Tiba-tiba mendapat panggilan telepon dari Dewi.
Delia begitu panik dan segera meninggalkan perpustakaan saat itu juga, sebab mendapat kabar yang mengejutkan.
" Ya Tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa pada Om Dika " do'a nya ketika berada di dalam taksi menunu rumah sakit sesuai yang diarahkan oleh Dewi.
Setibanya dirumah sakit Delia langsung memborbardir Dewi dengan berbagai macam pertanyaan,yang saat itu sedang menunggu di depan ruang perawatan.
__ADS_1
" Ada ala Wi, kenapa Om Dika bisa pingsan? "
" Aku nggak tahu Del, saat itu aku liat Om Dika sedang bersama seorang wanita, tapi seperti nya Om Dika tidak menyukai wanita itu, jadi aku menghampiri Om Dika "
Kemudian Dewi menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana wanita itu begitu agresif nya terhadap Dika, dan Dewi juga menceritakan tentang wanita lain yang katanya sebagai istri Dika.
" Apa? jadi Tari datang lagi " gumam Delia
" Kamu kenal sama wanita itu Del? "
Delia mengangguk
" Iya Wi,, beberapa hari ini memang wanita itu sangat mengganggu ketenangan Om Dika"
" Memangnya dia siapa Del? apa dia adalah mantan istri Om Dika? " tebak Dewi
" Bukan Wi,, hufttt panjang lah ceritanya " kata Delia
" Lalu siapa istri Om Dika yang dimaksud wanita itu? " tanya Dewi penasaran
" Itu juga panjang ceritanya Wi, nanti kapan-kapan aku cerita deh "
Dewi hanya mengangguk, ia tidak bisa memaksa Delia untuk menceritakan yang sebenarnya.
Setelah bercerita sedikit, Dewi pamit pulang sebab ada hal penting yang harus ia urus, seandainya bukan hal mendesak, bisa saja ia akan menemani Om Dika sampai pria pujaan nya itu benar-benar baikan. Begitu harapan nya.
Tak lama raga yang terlihat kekar dan gagah itu bergerak, artinya pria itu telah sadar dari pingsannya.
" Delia, kenapa kamu bisa disini? " tanya Dika lemas
" Om, bagaimana keadaan Om sekarang? " Delia malah balik bertanya
" Sudah mendingan,, tapi kamu kenapa bisa ada disini? " Dika menulangi pertanyaannya
" Dewi yang mengabari aku Om "
" Lalu dimana Dewi sekarang? Om mau ucapkan terimakasih, kalau saja dia tidak ada disana, mungkin Tari akan berbuat lebih kejam lagi sama Om "
" Om,, Tari ini sudah sangat mengganggu, mungkin sebaiknya kita harus melaporkan dia ke polisi " saran Delia
" Kenapa kamu mau melaporkan aku ke polisi, aku tidak akan berbuat jahat pada Dika " suara lantang itu tiba-tiba saja bergema di seluruh sudut ruangan.
Rupanya Tari baru saja tiba dan langsung memasuki ruang rawat tanpa permisi.
" Hei, menganggu ketenangan orang setiap hari itu bisa masuk dalam bentuk kejahatan,, Anda sudah membuat suami saya seperti ini, itu artinya Anda berbahaya,, apakah anda tidak sadar akan hal itu? " tak kalah kesalnya, Delia juga membalas perkataan Tari dengan nada lebih tinggi
__ADS_1
" Tapi aku tidak akan menyakiti Dika" sangkal Tari
" Pergi dari sini, atau aku telfon polisi sekarang juga " ancam Dekia geram.
Tari tertegun mendengar ancaman Delia, bagaimanapun ia tak mau lagi berurusan dengan polisi.
" Baik,, aku pergi "
Tari langsung melangkah meninggalkan ruang rawat itu dengan segera.
" Om, tidak apa apa kan? " tanya Delia khawatir
" Tidak Delia, makasih karena kamu sudah mau membantu Om, dan masih mau mengaku kalau kita suami istri di hadapan wanita itu " kata Dika tulus
Entah mengapa Delia juga baru menyadari jika ia baru saja dengan spontan mengakui Om Dika sebagai suaminya. Padahal tidak ada rencana sebelum itu.
" Tidak masalah Om,, yang penting perempuan itu tidak menganggu Om Dika lagi " ucap Delia
Mereka berdua sama sama saling tatap dan saling melempar senyuman. Delia sendiri merasa ada yang berbeda dari hatinya. Desirannya tak lagi sama, bahkan detakan jantungnya berbeda dari sebelumnya. Ah ada apa ini?
" Delia! "
Untuk ke tiga kalinya Om Dika memanggilnya
" Eh, iya Om ada apa? " Delia gugup sendiri
" Kamu melamun? "
Delia malu, seperti telah tertangkap basah telah melakukan sesuatu.
" Ti, tidak Om "
" Bisa kita pulang sekarang? Om sudah merasa baikan " kata Om Dika
" Oh, iya... kalau begitu ayo kita pulang "
Deli menarik lengan Om Dika dan meletakkannya di pundanya, bermaksud ia ingin memapah tubuh pria tampan itu.
" Delia, Om tadi cuma pingsan,, bukan kecelakaan patah tulang,, Om bisa jalan sendiri kok "
" Eh .. "
Bukan main malunya Delia saat ini. kenapa dia bisa terlihat begitu bodoh sekarang. Bahkan ia sempat melihat Om Dika tersenyum geli.
Ya ampun malunya.....
__ADS_1
_