Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Membalas


__ADS_3

" Pulanglah Bu,, perusahaan sedang membutuhkan Ibu " seseorang sedang membujuk Tari dibalik telfon, entah sudah berapa lama mereka berbicara, dan ini kali ketiga orang itu mengucapkan hal yg sama.


" Aku akan pulang, tapi tidak sekarang,, perusahaan aku serahkan sepenuhnya sama kamu Lia " kata Tari


" Tapi aku kewalahan, banyak tender yang harus kita tangani " ujar Lia, wanita itu seperti menahan geram dibalik sana.


" Kan ada Doni, dia bisa membantumu " kata Tari


terdengar Lia sedang menarik nafas kesal di seberang sana.


" Lagipula apa yang kamu tunggu disana,, bukankah orang yang kamu kejar memang sudah berkeluarga,, usaha kamu akan sia sia Tari "


Lia sudah menyebut nama Tari, artinya saat ini ia benar-benar kesal. Sebagai sahabat sekaligus asisten pribadi, Lia sangat mengenal Tari luar dan dalam, apa masalah dan keinginan Tari Lia adalah orang yang sangat paham. Dan sekarang ia berusaha membujuk sahabat sekaligus bosnya itu untuk pulang dan fokus pada perusahaan.


" Tidak Lia, aku masih merasa bahwa mereka bukan suami istri " Tari membantah begitu keras kepala


" Oke,, anggap saja perasaan mu benar,, lalu apa yang akan kamu lakukan? " tanya Lia


" Aku akan berusaha membuat Dika bersamaku,, aku sudah berubah, dan aku akan membuatnya bahagia " jawab Tari


" Tapi dia tidak menginginkan kamu Tari,, masa kecil kalian membuat dia trauma sama kamu " balas Lia


" Maka dari itu aku sekarang sedang berusaha untuk menebus trauma itu Lia,, dan aku tidak akan menyerah sebelum aku yakin bahwa Dika memang belum berkeluarga " kata Tari


" Apakah kamu mencintai Dika? " tanya Lia yang membuat Tari terdiam. Bahkan wanita itu tak tahu harus berkata iya atau tidak.


" Jawab Tari, apakah kamu mencintai pria itu? " tanya Lia lagi


" Aku.... " Tari kebingungan


" Tari, kamu tidak mencintai dia,, kamu hanya terobsesi dan merasa bersalah dengan masa lalu kamu,, bahkan sekarang kamu tidak sadar bahwa tindakan mu itu pasti membuatnya merasa tidak nyaman " Lia mencoba menasihati


" Sudahlah Lia,, nanti kita bicara lagi "


Tari langsung memutus sambungan secara sepihak.


Tari melihat kejendela, ia bisa melihat bagaimana Dika Delia dan Misha sedang tertawa bersama, Delia sedang melambaikan tangan saat mobil Dika meninggalkan halaman rumah.


" Apakah mungkin mereka adalah pasangan? Tapi kenapa aku merasa kurang yakin? " Tari bergumam sendiri, setelah itu ia memutuskan keluar kamar untuk sarapan, sebab tadi ia tak sempat sarapan bersama keluarga itu karena asisten pribadinya menelfon nya.


" Pagi Delia " sapa Tari saat ia berpapasan keluar dari kamar dan Delia ingin kembali ke kamar


" Pagi, bagaimana tidurmu Tari,, nyenyak? aku harap kamu tidak ketiduran di ruang TV " balas Delia


" Cukup nyenyak, dan meski aku sempat ketiduran di ruang TV, tapi aku sempat kembali kekamar dan melanjutkan tidur " jelas Tari


" Oh, baguslah "


Delia ingin segera beranjak, namun sekali lagi Tari menahannya.


" Apa hari ini kamu tak ke kampus? " tanya Tari


" Aku sedang mengambil kuliah online selama tiga, sebenarnya aku ingin libur tapi aku tak ingin ketinggalan, jadi aku kuliah online saja " jawab Delia


" Kenapa tidak ke kampus saja? maksud ku kampus mu lumayan dekat dari sini, bukan kah itu lebih baik dari pada mengambil kuliah online? " kata Tari


Delia tersenyum sambil melipat kedua tangannya didepan dada.


" Mana mungkin aku bisa tenang di luar sana, sementara ada tamu di rumah ku " kata Delia

__ADS_1


" Ah,, aku tidak apa-apa, aku bisa mengurus diriku sendiri " Tari sedikit tak enak, sebab karena dirinya sang empunya rumah tidak menjalankan aktivitasnya


" Bukan soal dirimu,, ini soal suamiku " kata Delia dengan sedikit penekanan


" Maksudnya? "


Delia tertawa sinis


" Bagaimana bisa aku tenang di luar sana, sementara di rumahku ada yang sedang berusaha merebut milikku,, tentunya Aku harus menjaga milikku termasuk suamiku " jelas Delia


Tari juga tersenyum kecil


" Tenang saja Delia, bahkan meski aku berusaha mendekati Dika, tapi Dika sendiri terlalu jauh, selama aku disini, Dika bahkan pergi sangat pagi dan pulang malam hari, jadi kamu sangat bisa menjaga milikmu " kata Tari tenang. Delia bahkan susah menilai manusia apa yang ada dihadapannya saat ini. Ia beranggapan bahwa Tari adalah manusia yang jahat dan berbahaya, tapi setiap Delia berucap sinis, Tari sama sekali tak membalasnya, bahkan berbicara pun wanita itu selalu tenang.


" Sama seperti kamu yang mengawasi aku dan Suamiku,, aku juga harus mengawasimu,, anggap saja aku sedang waspada " kata Delia


Tari ingin membalas ucapan Delia namun buru-buru Delia berucap


" Jangan lewatkan sarapan pagimu,, nanti kita bicara lagi "


Setelah mengucapkan itu Delia langsung kembali ke kamarnya. Tari yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Kenapa ia merasa saat berbicara Dengan Delia ia selalu kalah telak. Padahal ia bahkan bisa mendebat sepuluh orang sekaligus.


*


Seperti malam kemarin. Dika pulang lambat bahkan lebih lambat dari malam kemarin. Dika bahkan mengatakan bahwa ia sudah makan malam bersama karyawan di kantornya saat ia ditawari makan oleh Delia. Dan seperti biasa ia sama sekali tak melihat ke arah Tari, bahkan saat Tari berusaha ingin mengajaknya bicara Dika berusaha untuk menghindar.


Malam ini Delia akan mengatur bagaimana agar ia bisa tidur bersama Misha. Maka dari itu sebelum Misha keluar kamar, Delia langsung buru-buru ke kamar Misha.


Namun sayang, saat ia masuk kekamar Misha tak ada siapapun disana.


" Misha, kamu dimana sayang? " panggil Delia namun tidak ada yang menjawab


" Kamu mencari Misha? " tanya Tari


Delia mengangguk


" Tadi aku melihat Misha ke kamar Bunda, mungkin malam ini putri mu akan tidur bersama Eyangnya " lanjut Tari


Delia memijit keningnga yang mendadak pening, bahkan malam ini ia kalah cepat dalam bergerak


" Misha " Delia berdesis


" Kenapa? " tanya Tari


" Oh, tidak... apakah kamu akan menghabiskan malammu di ruang TV lagi? " tanya Delia


" Mungkin, aku ingin menonton film " jawab Tari


" Hem,, lakukan sesukamu,, selamat malam "


Delia langsung beranjak, dengan langkah lebar ia menunju kamar Dika, ia sudah menduga bahwa hilangnya Misha dari kamarnya adalah perbuatan Om Dika.


Delia masuk ke kamar dengan tatapan tak ramah. Dika yang baru saja berganti baju bingung melihat perubahan wajah gadis itu.


" Kenapa? " tanya Om Dika


" Ini pasti perbuatan Om Dika kan? " bukan nya menjawab Delia malah balik bertanya


" Perbuatan apa? " nah, sekarang mereka saling menyerang pertanyaan

__ADS_1


" Nggak usah pura-pura nggak tahu deh Om,, Om kan yang suruh Misha tidur di kamar Bunda lagi " jelas Delia merasa jengkel


Dika malah tertawa


" Om malah belum menyuruhnya, ternyata Misha sudah bergerak duluan,, anak pintar " kata Dika


" Apa,, jadi.. "


" Hem,,, mungkin Misha mengerti, kalau Mama Papa nya harus tidur bersama kan? " Dika berulah lagi


Delia merasa geram, dan rasanya ingin membalas semua kekonyolan yang dilakukan Om Dika terhadapnya.


Tiba-tiba ia memikirkan sesuatu yang brilian, Delia tersenyum sinis, mungkin ide itu bisa membalas Dika.


Baiklah Om,, kamu mulai menindas ku dengan kekonyolan mu kan,, maka lihat bagaimana kamu bisa berkutik dengan kekonyolan ku.


" Rasanya aku gerah,, aku ingin mandi "


Delia berucap sambil berjalan ke lemari dan mengambil handuk disana.


" Mandi saja,, di kamar ini ada kamar mandi " balas Om Dika, pria itu sudah duduk di atas tempat tidur dengan posisi nyaman.


" Aku memang mau mandi kok "


Setelah itu pergerakan Delia membuat Om Dika tak berkutik. Bagaimana tidak gadis itu dengan tidak malunya melucuti pakaiannya di hadapan Om Dika.


" Heh,, apa kamu sudah gila,, kamu bisa membuka baju mu didalam kan " Suara Dika mendadak serak dan kedengar sedikit gagu


Delia berbalik, bahkan ia tak malu memperlihatkan dadanya yang terbungkus oleh bra berwarna hitam.


" Kenapa? aku rasa ini tidak masalah " balas Delia enteng. Lalu dengan sengaja ia melucuti celana kainnya dan menyisakan pakaian dalam di sana.


Dika semakin frustasi sebab di suguhkan pemandangan yang tak pernah ia lihat sebelum nya.


" Delia, apa kamu sadar, kamu sedang setengah telanjang di hadapan pria yang bukan suami kamu,, apa kami tidak takut? " Dika ingin marah, tapi ia tak sanggung, menutup mata juga tak sanggup


" Pria yang mana? Om Dika? Hem,, bahkan jika aku tak memakai sehelai kain pun aku rasa aku tetap aman " Delia berucap penuh percaya diri


Dika tak lagi berucap apa apa, bahkan ia turun dari tempat tidur dan perlahan ia menghampiri Delia.


Delia sendiri tidak takut, bahkan ia menantang pria yang ia ketahui tidak memiliki hasrat terhadap wanita, bahkan ia tersenyum dengan gaya berkacak pinggang.


" Jangan terlalu yakin Delia "


Dika sudah berada tepat di hadapan gadis yang hanya memakai pakaian dalam itu. Tangan Dika perlahan meraih pinggang ramping Delia dan merapatkannya ke tubuhnya.


Delia sendiri mendadak syok dengan tindakan Om Dika, namun ia masih menunjukkan bahwa ia masih menantang si pemilik kamar untuk bertindak lebih jauh.


" Om Dika tidak akan bisa melakukan apapun apadaku " Delia berucap bahkan tatapan matanya begitu tajam dan lebih menantang.


Dika tersenyum sinis namun terlihat begitu menawan.


" All right, we'll see "


Om Dika semakin merapatkan tubuhnya, bahkan jarak di antara Delia dan Dika semakin terkikis.


Dan entah bagaimana, dan keberanian dari mana Delia merasa ada sesuatu yang hangat sedang mnyentuh bibirnya. Dan bodohnya ia terbuai dan menikmati nya dengan memejamkan mata.


_

__ADS_1


__ADS_2