Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Meleleh


__ADS_3

Aku tidak butuh kata rindumu,, aku hanya butuh bahwa dirimu akan baik baik saja disana.. Dan bagaiamana bisa kamu tidak makan dengan baik.. Disana ada banyak restoran yang menyediakan makanan enak,, kamu hanya perlu masuk dan memesannya saja..


 Dika tersenyum simpul, hatinya begitu berbunga-bunga membaca pesan yang Delia kirimkan untuknya. Pesan panjang lebar dari calon istrinya itu ibarat sebuah puisi cinta yang ia baca berulang-ulang.


Hon,, apakah kamu masih disana? kenapa tidak membalas chat ku.. Atau kamu sudah tidur?


Delia kembali mengirimkan chat padanya, sebab Dika masih sibuk dengan hatinya yang berbunga-bunga karena Delia ternyata sudah luluh dan tidak marah lagi.


Tidak sayang,, aku belum tidur... Aku dari kamar mandi tadi...


Dika membalas memberi alasan, ia tak mau jujur jika dirinya sedari tadi hanya termenung menatap ponselnya sambil tersenyum penuh kasmaran. Bisa-bisa gadis cantiknya itu mengira kalau dirinya sedang gila.


Oh,, Sudah makan? aku tidak mau kalau sampai kamu telat makan,, ingat Hon kamu itu paling nggak bisa kelaparan...


Senyum Dika tambah mereka saat membaca chat balasan dari Delia. Gadis itu makin peduli dan perhatian padanya.


Aku baru memesan makanan di go*food.. mungkin sedang dalam perjalanan kesini Hon, kamu tidak usah khawatir...


Balas Dika tak bohong, ia memang sedang memesan makanan di aplikasi, tadi ia sedang malas makan di luar, jadi ia memilih untuk makan di rumah saja.


Syukur lah.... Sekarang kamu sedang apa?


Tanya Delia di balik chatnya. Seperti nya memang gadis itu sudah tidak marah lagi.


Tidak sedang berbuat apa apa Bi,, dan kebetulan makanan yang ku pesan sudah sampai...


Dika mengirimkan foto makanan yang baru saja Terima dari kurir. Hanya makanan sederhana ala rumahan saja. Nasi putih, cah kangkung, tempe goreng dan Ayam goreng lengkap dengan sambel lalapannya. Dari gambar yang Dika kirim seperti nya makanan itu enak.


Yaudah makan dulu saja,, habiskan jangan sampai disisakan... Nanti di kita sambung lagi...


Kata Delia dalam chatnya.


Oke, tunggu aku 10 menit yah...setelah makan aku akan langsung menelfonmu, aku ingin vidio call, rasanya aku sangat merindukan Misha...


Dika langsung menyantap makanan yang ia pesan setelah Delia mengatakan bahwa ia akan menunggu setelah dirinya selesai makan malam.


Dibelahan kota yang lain. Seorang gadis sedari tadi sibuk tersenyum sendiri. Hingga ia tak menyadari bahwa sedari tadi ada seseorang yang sedang memperhatikan nya.


" Sepertinya ada yang sedang bahagia "


Suara itu langsung mengejutkan Delia


" Bunda,, kapan bunda di sana? " tanya Delia


" Emmmm,, sejak kamu melamun sambil tersenyum " jawab Bunda dengan mata yang berkedip menggoda

__ADS_1


" Ah Bunda ini bicara apa " Delia tersipu malu, wajah nya sudah memerah.


Bunda ikut tersenyum melihat calon menantu nya bahagia, sepertinya keputusan untuk menikahkan Dika dan Delia memang sesuatu yang tepat.


" Misha sedang apa Bund,, dan dia dimana? " tanya Delia


" Ada di kamarnya, dia sedang menggambar,, ada apa? "


" Dika mencarinya, katanya dia ingin bicara dengan Misha "


" Oh,, dia hanya merindukan Misha ? " sebuah pertanyaan dari Bunda itu seperti nya lebih tepat di katakan jebakan, sebab Bunda bertanya dengan senyuman yang penuh arti. Dan Delia kembali dibuat tetunduk malu.


" Dika tidak merindukan Bunda? atau dia juga tidak merindukan calon istrinya? "


Senyum jail di wajah wanita paruh baya itu semakin jelas saja. Sehingga yang di tanya tak mampu untuk menjawab.


" Bunda,... jangan menggoda ku seperti itu "


Delia langsung melipir lari ke kamar Misha. Ia tak mau berlama-lama dengan calon ibu mertuanya itu. Bisa bisa wajahnya bukan merah lagi karena menahan malu melainkan berubah menjadi biru lebam karena tak kuasa menahan godaan calon ibu mertuanya.


Hingga dua puluh lima menit berlalu. Akhirnya Dika menepati janjinya untuk menghubungi Delia. Pria tampan itu sedang melakukan panggilan vidio call. Dan yang pertama ia ajak bicara ada gadis kecil.


Awalnya Misha tak mau, sebab ia masih merajuk katanya. Namun setelah Delia membujuk dan di janjikan akan di belikan alat melukis baru, akhirnya gadis kecil itu luluh juga.


Delia membiarkan Misha dan Dika saling bertukar suara. Ia memilih tidak ikut serta dalam obrolan ayah anak itu. Delia memilih untuk berbarin di atas tempat tidur Misha.


" Yah,, Mama sudah tidur... " ujar Misha sambil mengarahkan kamera ponsel ke arah Delia yang memang sudah tertidur pulas


Dibalik ponsel nampak Dika sedang menatap sendu wajah Delia yang begitu lelap dalam tidur. Mungkin gadis itu kelelahan, sebab tidak biasanya gadis itu akan tidur secepat ini.


" Biarkan Mama tidur Misha,, jangan membangunkannya " kata Dika.


" Baik Ayah " balas Misha patuh


" Oh, yah,, sejak pagi Mama melakukan Apa? sepertinya Mama kamu kelelahan? " tanya Dika


" Mama, memang beberapa hari ini sering pulang hampir maghrib Yah,, mungkin tugas sekolahnya banyak, kata Eyang begitu " jawab Misha polos


Dika paham kesibukan Delia yang menjadi mahasiswi tingkat akhir. Apa lagi ia akan menjalankan masa KKN selama tiga bulan dan pastinya Delia akan sangat sibuk nantinya.


" Oh, yaudah besok kita bicara lagi yah,, Misha jangan berisik atau membangun kan Mama, biarkan Mama istrahat " kata Dika.


Misha mengangguk patuh. Setelah saling mengucapkan salam perpisahan kepada sang Ayah. Misha lalu meletakkan benda pipih itu di atas nakas dengan hati-hati. Gadis kecil itu tidak ingin menimbulkan suara sedikit pun yang akan menggangu kenyamanan Delia yang sedang tertidur pulas.


Dengan lucunya, Misha menarik selimut dan menutupi setengah tubuh dari Delia. Seperti yang selalu Delia lakukan begitu pun Ayah Dika dan Eyang. Maka Misha juga melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Pagipun menyambut.


Seperti biasa, Delia akan sigap ke dapur untuk membuat sarapan. Meski ada asisten yang sudah di percayakan untuk melakukan tugas itu. Tetap saja Delia akan melakukannya sendiri jika ia ada kesempatan.


Pagi pagi sekali gadis cantik itu sudah berkutat di dapur. Bahkan sarapan yang ia buat sudah tertata rapi di atas meja makan. Asisten yang melihat kecekatan Delia sampai terkagum-kagum melihat kelincahan gadis itu dalam mengurus keluarga.


" Non Delia ini sudah cantik masih muda tapi sudah bisa mengurus keluarga dengan baik,, saya yakin pasti Pak Dika sangat betah di rumah nanti, dan akan sangat bahagia memiliki istri seperti non Delia "


Delia tersipu malu, masih pagi ia sudah mendapat pujian dari Bibi yang bekerja di rumah Dika.


" Ah, Ibu berlebihan,, Ak_"


" Tentu dong Bu,, Dan saya adalah pria yang paling beruntung bisa mempersunting nya "


Ucapan Delia tertahan saat suara khas yang ia sangat hapal itu tiba-tiba menyahuti obrolanya dengan sang asisten rumah tangga.


" Ayah... " Misha yang sudah tapi dengan pakaian pramuka nya langsung berlari ketika melihat Ayahnya tiba-tiba pulang.


Dan Dika langsung menyambut hangat pelukan putri kecil nya itu. Ia menggendong Misha dan memberikan banyak ciuman hingga gadis kecil itu merasa kegelian.


" Dika,, kamu sudah pulang? Bunda pikir kamu akan balik lusa,, bukanya kerjaan kamu seminggu baru bisa di tinggal? " tanya Bunda merasa heran


Sebelum menjawab Dika meletakkan Misha ke meja makan lebih dulu dan ia ikut duduk di sana.


" Ada Anto yang sudah ke beri tanggungjawab untuk pembangunan pabrik di sana Bu, dan semua nya sudah ku selesaikan, jadi aku pulang saja " jawab Dika


" Lalu, kamu berangkat disana jam berapa? kok pagi pagi sudah tiba? "


Pertanyaan Bunda sama yang ada di benak Delia. Dari tadi ia hanya sibuk memandang kepulangan calon suaminya. Ia merasa di berikan kejutan. Padahal pagi tadi ia masih sempat berkirim pesan, namun lelaki yang tiba-tiba datang itu tidak memberitahu kan jika dia ingin pulang.


" Aku naik kereta cepat Bu,, sungguh aku merasa sangat bosan disana, jadi aku menyelesaikan semua pekerjaan ku kemarin, dan sisanya aku berikan pada Anto,, Aku merasa kesepian dan sangat merindukan gadis kecilku ini, " Dika mengacak gemas rambut Misha yang membuat gadis itu kesal sebab Ayahnya sudah merusak tatanan rambutnya yang sudah rapi.


" Ah, Ayah.. rambut Misha jadi berantakan lagi "


Dika hanya tertawa melihat putri kecilnya menggerutu kesal.


" Hanya merindukan Misha? " tanya Bunda, lagi lagi wanita tua yang masih terlihat cantik itu tersenyum jail sambil melirik Delia yang ternyata sudah bergabung di meja makan bersama mereka.


" Rindu sama Bunda juga dong " balas Dika


" Masa? " tanya Bunda tak percaya.


" Yupsss,, dan yang paling Ayah rindukan adalah Masakan Delia yang tak pernah ku rasakan selama disana, Ah, sepertinya lidahku sudah terbiasa dengan hasil tangan calon istriku " ujar Dika sambil melirik Delia penuh damba.


Hal itu membuat Delia bahagia dan meleleh. Jika masakannya saja mampu membuat Dika rindu, lalu, bagaimana dengan yang lain?

__ADS_1


_


__ADS_2