Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Hilang


__ADS_3

Seminggu berlalu.


Setelah Delia pergi ke tempat KKN untuk melaksanakan tugas lapangan, suasana rumah terasa begitu sepi dan senyap. Semua orang serasa merindukan tawa dan canda Delia selama beberapa hari, yang terutama rasa dan istimewa nya masakan Delia yang membuat semua orang merindukan kelezatan nya.


Beruntung Misha bisa mengerti, meski setiap malam yang ia tanyakan kepada Ayahnya adalah kapan Delia pulang dan Dika selalu mwnjawab.


" Tunggu saja yah Sayang,, Mama sedang ada tugas kuliah, sebentar lagi Mama pasti pulang " hanya itu yang dapat Dika sampaikan kepada putri kecilnya.


Entah mengapa seisi rumah semakin bergantung kepada gadis itu termasuk juga dirinya, sehingga jika Delia tidak dirumah, maka kesunyian akan semakin terasa. Mungkin karena Delia adalah wanita yang baik dan tulus.


Sesungguhnya Ayah juga sangat merindukan Delia nak, hanya saja kamu tidak akan bisa melihat nya..


Dika membatin, sambil mengelus rambut panjang putri kecilnya, hingga tanpa sadar putri kecilnya itu telah tertidur dipangkuan nya.


Dengan perlahan Dika mengangkat tubuh mungil itu dan memindahkannya ke kamar tidur. Setelah membaringkan Misha di tempat yang nyaman, Dika tak lupa menutupi tubuh anak gadis kecilnya itu dengan selimut tebal, lalu setelah itu Dika mencium puncak kepala Misha dengan sayang.


" Anak Ayah yang manis "


Dika begitu sayang terhadap anak gadis yang ia adopsi beberapa tahun yang lalu. Entah mengapa ia merasa bahwa Tuhan menghadirkan Misha memang khusus untuknya. Meski tidak ada darah Dika yang mengalir dalam tubuh gadis itu, namun Dika merasa sudah memiliki ikatan batin. Yang jika Misha sedang tidak baik-baik saja, maka Dika akan bisa merasakannya.


Setelah keluar dari kamar Misha Dika kembali ke kabarnya, ia juga sepertinya harus beristirahat dan tidur. Namun sebelum itu, ia ingin menghubungi Delia lebih dulu, ia berharap kali ini ponsel gadis itu sudah dapat jaringan. Yah, hari ini entah beberapa kali sejak pagi hingga sore hari Dika tak dapat menghubungi nomor Delia. Meski dari awal Delia sudah mengatakan padanya bahwa desa yang Delia kunjungi nanti untu di jadikan tempat kerja lapangan merupakan sebuah desa terpencil yang sangat jauh dari kota. Dan mungkin selama masa KKN ponsel Delia akan susah di hubungi.


Dan beginilah Dika sekarang, merasa nelangsa sebab Delia seharian hilang kabar. Jika kemarin gadis itu masih sempat menghubunginya, sebab rupanya Delia saat itu sedang ada jadwal tugas untuk berbelanja ke pasar untuk keperluan makan para mahasiswa, dan ketika di pasar, ponsel Delia bisa mendapat sedikit jaringan telpon. Dan sekarang Dika harus pasrah dan menunggu kabar Delia yang entah kapan.


Aku harap kamu disana baik baik saja Bi... Misha sejak kemarin meanyakanmu, ia juga begitu rindu, sepertinya seisi rumah merasa kehilangan dirimu, termasuk juga aku... Aku sangat merindukan mu Bi...


Dika mengirim kan pesan singkat kepada Delia, berharap pesan itu segera tersampaikan, meski entah itu kapan.


Sedangkan di belahan bumi yang lain.


Delia sedang berkutat di dapur bersama tiga orang teman wanita dan dua orang teman prianya. Saat ini adalah giliran nya untuk memasak makan malam untuk semua temannya.


Meski dirinya begitu sibuk, namun tak dapat dipungkiri bahwa pikirannya juga sedang melayang entah kemana. Seminggu ia berada di tempat yang asing ini, tanpa listrik di pagi hari, dan malam hari warga akan menggunakan genset untuk menerangi seluruh Desa yang tidak terlalu besar itu. Dan lebih memprihatinkan lagi tidak adanya jaringan seluler. Jika ingin mendapatkan jaringan maka seseorang harus keluar dari dase atau kepasar, bahkan di era yang serba digital ini, masih ada Wartel yang letaknya di desa seberang yang letaknya lumayan jauh dari desa yang ia tempati sekarang. Sungguh Delia merasa seperti kembali ke jaman orang tuanya dulu.


" Huffttt... aku rindu pacar ku,, sejak seminggu aku tidak mengabarinya,," salah satu teman Delia dari fakultas hukum tiba-tiba menggerutu.

__ADS_1


" Hem,,, disini tidak ada jaringan Mila,, jadi sabar saja " Dewi mengomentari, kebetulan ia juga bertugas untuk memasak makan malam bersama Delia dan juga yang lainnya.


" Tapi aku sudah seminggu tidak mengabarinya,, bagaimana jika dia berpikir aku sedang selingkuh,, atau dia yg selingkuh? " Mila yang sedang sebuk memetik cabe dari batangannya tak hentinya menggerutu tepatnya curhat.


" Berarti pacarmu itu tidak setia dong " Salah satu dari mereka ikut bicara


" Tidak,, tidak mungkin,, aku yakin pacar ku itu setia " gadis bernama Mila itu berucap yakin


" Gampang sih,, kalau pacar kamu selingkuh,, kamu juga selingkuh sama aku " nah, ini komentar para pria buaya yang selalu mencari kesempatan.


" Ish, ogah,, pacar aku lebih ganteng kemana-mana di banding sama kamu Bang " ujar Mila


Pria yang bernama Bambang merasa tidak terima mendengar ungkapan Mila " Enak saja,, mana ada yang lebih tampan dari aku " ujarnya bangga


" Banyak kok,, kamu aja yang kepedean " Dewi ikut bicara.


" Sudah - sudah,, nih makanannya sudah siap,, yukk kita sajikan biar kita makan malam sama sama " Delia melerai perdebatan itu, karena memang semua masakan sudah matang. Dan yang bertugas pun menuruti kata kata Delia. Mereka semua menggelar tikar di ruang tengah yang memang sangat luas untuk semua org sebab ruang itu memang mereka jadikan tempat untuk makan. Para mahasiswa ini memang di beri rumah khusus untuk mereka tempati selama mereka melakukan kerja lapangan di desa itu,


" Kenapa dari kamu liatin Delia Bang? " Tarjo dengan logat khas daerah jawanya menegur Bambang yang memang sejak tadi memandangi Delia.


" Heran kenapa? " tanya Tarjo


" Heran aja, kenapa ada bidadari nyasar di kampus kita " jawab Bambang


Tarjo menarik nafas dengan kesal, begitu lah sikap tan satu fakultasnya, semua wanita dia bilang bidadari, jangan kan Delia yang memang dasarnya cantik, kucing betina di kask alis sama maskara pasti akan cantik di mata Bambang.


" Au' Ah.. aku mau makan " Tarjo langsung melipir ke ruang tengah dengan sisa beberapa piring yang belum di angkat tadi. Tarjo tak memperdulikan suara Bambang yang meneriaki nya, baginya Bambang akan terlihat sangat menjengkelkan ketika terkagum dengan seorang wanita.


Selesai makan malam. Delia tak langsung tidur seperti Teman-teman nya yang lain. Ia memilih untuk duduk di tepi teras menatap bulan sabit di atas sana. Meski sesekali ia memandangi ponselnya yang kehilangan jaringan.


Untuk sekarang ia malah berpikir jika ponsel nya tidak ada artinya sama sekali meski harga nya sangat mahal, tetap saja barang semahal apapun tidak akan bisa digunakan di tempat seperti ini.


Delia menyentakkan nafasnya dengan berat. Entah mengapa beberapa hari disini ia seperti orang hilang.


" Panjang banget lamunan nya? " Dewi datang dengan dua gelas coklat panas di tangannya.

__ADS_1


Delia menerima cangkir yang diberikan oleh Dewi kepadanya dan tak lupa mengucapkan terimakasih.


" Heeemmm,, aku kangen sama Misha " ucap Delia pelan, namun masih bisa di dengar oleh Dewi


" Sama Misha atau sama Ayahnya Misha? " tanya Dewi menggoda


Delia tersenyum simpul, tentu saja ia juga merindukan Ayahnya.


" Yah, sepaket lah sama Ayah nya " jawab Delia jujur.


" Cieee,, yang lagi kangen " kata Dewi.


Delia meminum coklat panas dari Dewi " Hem, begitulah Wi,, beberapa hari di sini aku merasa sepi sekali,, mana tidak bisa memberi kabar orang rumah,, bagaimana yah kabar mereka? " ujarnya


" Aku juga heran nih,, kok masih ada yah daerah yang tidak terjamah oleh pemerintah,, padahal jalannya oke loh, nggak berbatu dan berjurang " kata Dewi.


Dan memang benar, untuk ukuran jalanan ke desa itu tidak ada yang perlu di khawatirkan sebab jalannya mulus, bahkan saat masuk ke pelosok pun jalannya ber aspal ada juga yang menggunakan jalan beton.


" Dengar-dengar sih, warga sink nggak mau kalau jaringan internet masuk ke desa mereka " kata Delia, begitu lah yang ia dengar dari orang-orang, entah itu benar atau tidak.


" Alasannya? " tanya Dewi


" Entah,, yang aku dengar sih warga sini terutama para orang yang sudah tua, mereka tidak mau kalau sampai generasi mereka terjerumus ke hal-hal yang tidak baik, sebab menurut mereka dunia luar yang akan masuk melalui jaringan internet nanti akan merubah generasi mereka menjadi generasi yang buruk, banyak pengaruh orang asing yang akan mempengaruhi anak anak mereka, dan mereka tidak mau hal itu terjadi, benar atau tidak, yang aku dengar ketika berbelanja di pasar sih begitu "


Delia memang pernah menanyakan itu kepada penjual yang ada di pasar, dan seorang bapak pedagang sayur, yang memang berasal dari desa itu, tapi bapak itu memilih untuk pindah domisili sebab sang bapak punya usaha toko sayur di pasar.


" Padahal kalau warga desa tau manfaat jaringan internet, pasti desa ini akan lebih maju.. Kan tidak semua hal buruk ada di internet tergantung kita yang memilah-milah " kata Dewi


" Nah,, itu tugas kita selama di sini,, salah satu program kerja kita kan mengenalkan dunia luar melalui jaringan internet ke warga desa "


Dewi manggu-manggut, sambil meminum coklat panas miliknya. " Haaa,, andaikan ada yang jual jaringan di sini,, aku pasti sudah menghabiskan uang jajan ku hanya untuk beli jaringan,, aku sudah rindu untuk berinteraksi dengan orang di dunia maya, pasti para penggemar ku merasa kehilangan sebab aku sudah seminggu tidak aktif " keluh Dewi penuh drama.


Delia hanya tersenyum, Dewi memang seperti itu, tapi memang fakta bahwa temannya itu memiliki banyak fans di sosial media, dan fansnya semua dari kalangan pria.


" aku pun seperti orang yang hilang di sini, bahkan aku kehilangan kabar tentang Misha, Bunda dan Om Dika,, sedang apa yah mereka? "

__ADS_1


_


__ADS_2