Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Ketahuan


__ADS_3

Tari sedang duduk termenung di bangku taman belakang rumah Dika, ia baru saja berbicara dengan Bunda. Sama seperti Delia, Bunda juga bersikap ramah hari terhadap Tari. Saat Tari mengucapkan banyak permintaan maaf sebab kehadirannya sudah mengganggu ketenangan semua orang, Bunda rupanya juga meminta maaf atas segala sikapnya selama beberapa hari ini dalam memperlakukan Tari sebagai tamu di rumahnya.


Yah, bisa dibilang bahwa hari ini adalah hari bahagia yang penuh haru, banyak hikmah dan pelajaran berharga dibalik kehadiran seorang Tari. Bunda juga bersyukur, sebab kehadiran Tari berdampak positif bagi kehidupan Dika kedepannya. Bahkan Bunda yakin bahwa suatu saat nanti Dika akan memberikannya seorang menantu, dan karena drama rumah tangga itu, Bunda percaya bahwa putra satu-satunya merupakan pria tulen, hanya saja putranya itu belum menemukan orang yang tepat saja.


Dika menarik nafas panjang sebelum bertemu Tari, bukannya ia takut, namun ini kali pertama ia mencoba untuk berbicara dengan orang yang bisa dibilang sangat buruk di masa lalunya.


Dika sudah bisa mengontrol rasa takutnya terhadap wanita, bahkan ia sudah bisa berbicara dan beradaptasi dengan makhluk bernama wanita. Bisa dibilang saat ini ia sudah sembuh dari segala rasa takutnya.


" Ehem,, kamu akan pulang hari ini? " meski ia sudah tahu, namun Dika merasa bahwa kalimat itu adalah kalimat yang paling tepat untuk memulai obrolan


Tari berbalik, matanya berbinar melihat kehadiran sosok lelaki yang sekian lama ia nantikan dan kini laki-laki itu telah duduk disamping nya.


" Dika,,, aku senang kamu mau menemuiku disaat terakhir ku disini " kata Tari girang


" Hem,, ini permintaan istriku " balas Dika jujur, tentu saja ia ada disini karena Delia yang memintanya dan itupun ada sesuatu di balik itu semua.


" Yah, aku tahu,, istrimu memang wanita yang baik,, kamu sangat beruntung " kata Tari tulus memuji Delia


Yah, Dika memamg seberuntung itu karena memiliki Delia disisinya, meski hanya menjadi istri Pura-puranya paling tidak Dika bisa merasakan menjadi seorang suami, dan mungkin itu akan berlanjut.


" Ada yang ingin kamu sampaikan? " tanya Dika


.


Tari mengangguk dan tersenyum


" Iya,,, aku ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya padamu Dika, yang pertama maaf karena perbuatanku dimasa lalu, dan yang kedua maaf untuk semua yang terjadi beberapa minggu ini,, aku sadar bahwa aku sudah mengganggu ketenanganmu semenjak kehadiranku, aku memang tidak waras,, aku menyesal akan hal itu,, maafkan aku yah Dika "


Terlihat jelas bahwa Tari saat ini benar-benar menyesali perbuatannya. Tari bahkan sudah menitikan air mata. Padahal saat bicara dan meminta maaf kepada Delia dan Bunda tadi, ia mampu mengendalikan perasaan emosi nya. Tapi kepada Dika, ia mendadak menjadi cengeng.


Dika ikut tersenyum, ia senang wanita yang menjadi masalahnya selama ini, akhirnya menyadari segalanya


" Aku sudah memaafkanmu Tari,, semuanya sudah lewat, dan aku harap kamu juga bisa hidup dengan baik dan bahagia setelah ini " ucap Dika

__ADS_1


" Iya, kamu benar Dika,, setelah aku kembali ke tempat asal ku,, aku jadi berpikir untuk memiliki keluarga sepertimu,, pasti sangat menyenangkan " kata Tari, ia memang berniat untuk mencari pendamping setelah ini.


" Tentu saja menyenangkan, keluarga itu adalah tempat kita pulang, dan seseorang akan selalu merindukan rumah jika ada keluarga yang menantikan nya " balas Dika


" Hem, aku berharap bisa bertemu dengan Ibu sebaik Bunda dan pasangan yang baik, yang mau menerimaku apa adanya " Tari berucap penuh harapan


" Semoga beruntung " kata Dika


*


Dimalam hari. Delia menunggu dengan harap-harap cemas dikamar nya. Tari sudah pamit sore tadi, dan pastinya semua akan kembali ke keadaan semula, begitu juga malam ini, Delia sudah menempati kamar tidurnya


Tapi apa yang membuat Delia harap harap cemas? Bahkan sedari tadi ia sibuk mondar-mandir tak menentu. Padahal ini sudah jam sepuluh malam, sudah waktunya ia beristirahat. Namun ia cemas sebab menunggu sesuatu.


Delia semakin gugup saat seseorang masuk ke kamarnya dan langsung menguncinya.


Ternyata, Dika meminta untuk menunggunya dikamarnya, maka dari itu Delia gelisah sejak tadi.


Saat Tari berpamitan dan resmi meninggalkan rumah itu, Delia langsung bertanya pada Dika bahwa apa yang ia inginkan, dan saat itu Dika tak memberinya jawaban apa-apa, melainkan hanya meminta Delia untuk menunggunya saja nanti malam dikamarnya. Dan disini lah mereka sekarang, berdua didalam kamar Delia.


" jadi, kamu maunya di kamar Om begitu? " Om Dika mulai kejahilan nya lagi


" Ish, bukan gitu, maksud Delia, Om mau minta apa ke Della, sampai harus kekamar segala? " tanya Delia gemas


" Mau minta cium " jawab Dika blak-blakan


" Hah, cuma cium doang, kan bisa tadi, nggak perlu suruh Delia menunggu sampai selama ini kali Om " balas Delia kesal


" Tapi yang ini ciumannya beda " kata Om Dika


" Bedanya? "


" Bedanya ...." Om Dika memajukan kepalanya dan sukses mendarat di pipi Delia " Ini ciumannya berbeda " sambung Dika lagi, nada suaranya sudah berbeda dan terdengar serak.

__ADS_1


" Lebih spesial ... " Om Dika kembali mendaratkan kecupan di pipi sebelah nya lagi " dan lebih istimewa " Sambung Dika lagi, setelah itu naik ke atas tepat di dahi Delia dan juga mendaratkan kecupan sayang disana.


" Kamu tahu, kenapa Ciuman ini istimewa dan spesial? " tanya Om Dika, Delia memggeleng pelan, ia tak dapat membalas ucapan Om Dika lagi, sebab seluruh tubuhnya seakan disengat listrik sehingga ia mendadak diam dan beku


" kita akan mulai disini " Dika menyentuh bibir ranum Delia dengan jari jemari nya, matanya lama lama menatap di sana. Bibir itu seakan tak cukup untuk sekedar ditatap saja. Dan pada akhirnya ia memajukan kepalanya dan sukses mendaratkan satu kecupan di sana, cukup singkat namun sukses menambah aliran listrik di tubuh Delia.


" Om, sudah kan? " tanya Delia lemas, meski bibirnya meminta sudah, namun tubuhnya merespon lain, ia seolah meminta lebih dari itu.


" Yakin sudah? tapi sepertinya kamu menginginkan lebih " kata Dika menggoda, ia tahu sebab tangan mungil Delia sudah melingkar di leher nya yang entah sejak kapan tangan itu ada di sana.


Delia menunduk, ia tahu bahwa apa yang dikatakan Dika itu benar, hasratnya ingin Dika melakukan lebih lama dari itu.


Dika sekali lagi memajukan kepalanya, kali ini ia ingin berlama-lama di sana, menikmati stiap decapan bibirnya yang akan saling menyatu.


Saat ingin melakukan aksinya tiba-tiba suara ketukan pintu yang sangat keras menghentikan aktivitas mereka.


" Delia, Dika... Buka pintunya " Itu suara teriakam Bunda


Delia dan Dika saling pandang, dan mereka berdua cukup terkejut


" Bunda... " kata mereka bersamaan


" Dika, Delia,, Bunda tahu yah kalian ada didalam, buka pintu nya cepat " Suara Bunda semakin nyaring.


Delia bersembunyi dibalik punggung Om Dika, ia merasa begitu takut, sebab ia ketahuan sedang berdua-duaan didalam kamar dimalam seperti ini.


" Kita ketahuan Om,, Bunda pasti marah besar " kata Delia


" Udah, tenang aja,, kita keluar sama-sama saja, nanti Om jelaskan sama Bunda " Dika mencoba menenangkan Delia yang sudah ketakutan.


" Tapi Om, "


" Sudah, kamu percaya kan sama Om,, nggak bakalan ada masalah apa-apa kok " balas Dika.

__ADS_1


Akhirnya Delia pasrah, ia berharap bisa diberikan kekuatan untuk bisa menghadapi kemurkaan sang Bunda.


_


__ADS_2