Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Pengertian


__ADS_3

Dewi sedang termenung didalam kamarnya,, sudah tiga hari ia izin masuk kuliah. Entahlah, padahal keadaan fisiknya baik baik saja. Namun satu hal yang ia tahu, bahwa ia belum bisa bertemu dengan orang lain, termasuk para sahabatnya khususnya Delia.


Semenjak berita yang membuatnya sangat terkejut dan susah bernafas, sejak saat itu Dewi tidak menghubungi bahkan tidak merespon pesan atau panggilan telfon dari para sahabatnya. Padahal ketiga sahabatnya sangat memperhatikan dan sangat khawatir padanya.


" Dewi,, ayo turun sarapan sayang " wanita itu adalah Ibu dari Dewi, ini yang kedua kali wanita itu memanggil putrinya untuk sarapan


" Bentar Bu,, Dewi belum lapar " jawab Dewi yang selalu sama


Ibu Dewi juga bingung sudah tiga hari putrinya itu seperti tak berselera. Wanita paruh baya itu bahkan sering menanyakan tentang perubahan sikap Dewi, namun Dewi selalu mengatakan bahwa semua baik baik saja, dia hanya tak berselera saja akhir akhir ini.


" Tapi,, nanti kamu turun sarapan yah,,, Ibu khawatir nanti kamu sakit nak " ujar Ibu Dewi


Dewi mengangguk dengan memaksakan senyumnya


" Iya Bu. " katanya


Setelah kepergian sang Ibu, Dewi kembali pada lamunannya, Ia membayangkan sosok Dika yang selama ini ia kagumi. Yah, meskipun sebenarnya usahanya tidak begitu maksimal dalam mendekati pria dewasa itu, namun ia sudah secara terang-terangan menunjukkan bahwa ia sangat menyukai pria itu.


Kemudian ia kembali mengingat Delia, sahabatnya yang sangat baik dan pengertian. Ia tak menyangka bahwa Delia akan menempati posisi dimana posisi itu adalah yang sangat ia inginkan yaitu bersanding dengan Om Dika.


" Kenapa harus Delia? " Dewi bergumam.


Mungkin jika wanita lain yang terpilih sebagai calon Istri Om tampan itu, Dewi bisa sedikit menerima kenyataan, Namun faktanya Ia harus menelan pil pahit bahwa yang harus berada di posisi itu tak lain adalah sahabat nya sendiri, sahabat yang selalu ia beritahu tentang bagaimana suka nya ia terhadap Om tampan itu. Dan jujur saja hal itu sangat sulit di terima oleh Dewi. Hatinya begitu sakit.


Tok... tok.. tok....


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Dewi, ia menghela nafas panjang, Ia belum mau turun ke bawah, tapi sepertinya Ibunya tak memberi ia untuk Menyendiri.


" Bu,,, aku sudah bilang kalau aku belum lapar " kata Dewi


" Ini kita Wi "


Dewi langsung berbalik saat mendet suara yang sangat ia kenal itu.


" Dinda,, Devi " kata Dewi kaget


Dinda dan Devi langsung masuk ke kamar Dewi setelah menutup pintu dengan rapat

__ADS_1


" Kalian hanya berdua? " tanya Dewi


" Memangnya kamu mengharap ada yang lain selain kita? " Devi balik bertanya


Dewi menghembuskan nafasnya dengan kasar


" Bukan begitu,,, mau apa kalian ke sini? " tanya Dewi lagi


" Yah,, untuk melihat keadaan kamu lah Wi " jawab Dinda sedikit sewot


" Aku nggak apa apa,, aku sangat baik " balas Dewi terdengar acuh


" Kalau memang kamu baik baik aja,, kenapa selama tiga hari ini kamu susah di hubungi Wi? kamu tuh bikin kita khawatir " ujar Devi


" Dan Ibu kamu bilang, kalau beberapa hari ini kamu tak berselera makan, selalu mengurung diri di kamar,, itu yang kamu bilang baik baik saja? " saut Dinda


" Tapi faktanya aku memang baik baik saja,, buktinya aku sehat kok " kata Dewi


" Iya,, fisik kamu memang sehat,, tapi hati kamu nggak " kata Dinda


Dinda dan Devi memilih untuk duduk di hadapan Dewi, dua gadis itu menatap Dewi dengan tatapan tajam.


" Kenapa? " tanya Dewi


" Wi,, kita tahu kamu nggak baik baik saja,, tapi apa harus seperti ini? kamu menghindari kami sahabat sahabat kamu " jelas Dinda


" Kamu boleh marah kok Wi, itu hak kamu, tapi masa kamu melampiaskan segala amarah sama kami yang tida tau apa apa " Devi menyaut


" Lagi pula, Om Dika itu bukan milik siapapun Wi,, dan dia berhak memilih siapa yang akan menjadi istrinya " lanjut Dinda


" Tapi nggak harus Delia juga Kan " Dewi masih tak bisa menerima kenyataan


" Lalu siapa? kamu? ,, Bahkan Om Dika sama sekali tak melihat ke arah kamu Wi " sambung Devi


" Dan pastinya Delia juga nggak mau ada posisi itu Wi,, bahkan sekarang dia juga khawatir sama kamu " kata Dinda


" Kalau memang dia khawatir, dia pasti menolak untuk di nikahkan sama Om Dika " kata Dewi terdengar begitu egois.

__ADS_1


" Kamu pikir Delia tidak akan melakukan itu? bahkan sejak kamu marah Delia selalu mengatakan kalau dia akan menolak rancana pernikahan itu. Dan itu semua demi kamu Wi " kata Devi


" Dan anggaplah jika semua itu benar terjadi, Delia dan Om Dika tidak jadi menikah,, apa kamu puas ? apa kamu merasa bisa menggantikan posisi Delia di hati Om Dika? tidak akan bisa Wi " kata Dinda


" Yang ada nantinya semua akan sakit hati, terutama Misha dan Bunda dari Om Dika,, kamu pikir pernikahan itu kemauan Om Dika dan Delia? kamu salah Wi,, bahkan Misha dan Bunda dari Om Dika jauh lebih menginginkan Delia menjadi istri Om Dika. Dan jika sampai rencana itu gagal, maka yang paling tersakiti di sini adalah orang tua dari Om Dika dan anak dari Om Dika sendiri " Devi menjelaskan sebuah kenyataan berharap agar Dewi lebih bisa mengerti


" Dari sini kita harus nya sadar Wi,, bahwa jauh sebelum kita mengenal Delia, Om Dika dan keluarganya sudah menempatkan Delia di tempat yang istimewa di dalam rumah dan hati mereka. Dan jika sudah seperti itu, apakah kamu tega melihat kehancuran harapan mereka? terutama Misha,, gadis kecil itu akan merasa sangat terpuruk jika Delia tak jadi Ibunya nanti " Dinda pun menjelaskan dengan hati hati. Ia juga berharap bahwa Dewi akan sedikit mengerti dan menerima segalanya.


Bagaimanapun, baik Delia ataupun Dewi mereka berdua sangat berarti, dan mereka sangat ingin berkumpul bersama lagi.


" Aku lelah,, aku ingin sendiri ,, sebaiknya kalian pulang " Dewi sepertinya mengabaikan segala apa yang sudah di ucapkan dia sahabatnya


" Wi.. "


" Sudah,, aku sudah cukup tahu,, bahwa kedatangan kalian berdua kesini hanya untuk membenarkan sikap Delia,, kalian tidak ada yang mendukung ku " ujar Dewi salah paham.


Rupaanya hati Dewi masih begitu keras untuk menerima kenyataan, sehingga ia masih belum bisa melihat ketulusan dari kedua sahabatnya.


" Bukan begitu Wi,, kami kesini datang karena khawatir sama kamu,, bukan berpihak pada siapapun "


" Cukup Dev,, aku capek,, kalian sebaiknya pulang " kata Dewi, ia mengusir sahabtanya


" Sudah lah Dev,, lebih baik kita pulang,, kedatangan kita kesini hanya sia sia,, sebab sulit meyakinkan orang yang hatinya telah buta " ujar Dinda


Dengan berat hati Devi bangkit dari duduknya, sebenarnya ia masih ingin di sini menemani Dewi,, namun Dinda menarik nya untuk segera keluar.


Tapi sebelum Devi pergi, gadis itu kembali berbalik. Ia harus menyampaikan sesuatu sebelum pergi, ia berharap setelah itu Dewi bisa berpikir dengan jernih.


" Dewi,, aku harap kamu bisa lebih bijaksana,, jangan sampai amarah, sakit hati dan ego mu itu menghancurkan persahabatan kita. Ingat, Delia bahkan bisa melakukan apapun demi persahabatan ini,,dan jangan sampai hanya demi kamu, Delia melakukan sesuatu yang nantinya akan membuat semua orang terluka. Aku harap kamu bisa memikirkan semua ini "


Devi melangkah dan benar benar meninggal kan kamar Dewi. Meninggalkan Dewi yang merenungi semua ucapan sahabtanya. Tanpa ia sadari bahwa air matanya sudah jatuh dan menganak sungai.


" Ya.. Tuhan... apa aku se egois itu? "


Dewi tergugu dalam tangis, sepertinya hatinya yang tadinya keras mulai melunak. Ia menyadari bahwa ia memiliki sahabat sahabat yang sangat baik, sehingga ia di beri banyak pengertian.


-

__ADS_1


__ADS_2