
Ruang rawat inap Misha seketika ramai sejak kepulangan Delia. Bagaimana tidak, hari ini Dinda Dewi dan Devi datang menjenguk anak manis itu.
Sebenarnya Delia tak ingin memberitahu teman-temannya tentang keadaan Misha, namun karena ketiga temannya selalu memaksa untuk bertemu dengan Delia, akhirnya Delia terpaksa memberitahukan tentang keadaan Misha saat ini sebagai alasan untuk menolak setiap ajakan dari para sahabatnya.
Dan di sinilah para gadis itu. Ruang rawat inap seketika seperti pertemuan ibu-ibu arisan. Beruntung kamar rawa yang ditempati oleh Misha adalah VVIP, jadi kehebohan mereka tidak akan menggangu pasien lain.
Misha pun terlihat begitu bahagia. Wajahnya sudah ceria dan tak pucat lagi. Anak manis itu juga sudah tak memilih soal makanan lagi, sebab apapun menu makanan yang di sediakan oleh rumah sakit atau makanan yang sengaja di beli di luar Misha akan dengan senang hati ma makannya.
" Misha mau buah? " Dewi menawarkan, diantara yang lainnya Dewi memang sangat sering memberikan perhatian kecil pada Misha, bahkan Dewi lah yang paling heboh memeluk Misha saat baru datang tadi.
" nggak usah Kak, Misha udah kenyang kok " tolak Misha
" Oh yaudah, nanti kalau Misha pengen sesuatu bilang sama Kak Dewi yah? " kata Dewi
Dinda yang dari tadi memang sangat memperhatikan sikap Dewi yang tidak seperti biasanya merasa begitu aneh, bahkan semuanya tahu, Jika makhluk yang bernama Dewi ini tidak begitu suka dengan anak kecil. Meski Dewi juga memiliki seorang Adik seperti Misha, Dewi malah sering berkelahi dengan adiknya itu.
Dan sekarang Dewi terlihat seperti kerasukan setan Ibu kandung yang perhatian nya melebihi segala nya.
" Tumben bisa deket sama anak Wi, biasanya cuek aja " ini Devi yang berkomentar
" Iya, aku juga dari tadi perhatiin loh " kata Dinda
" Memang nya kenapa? Nggak boleh yah mulai sekarang aku coba mendekatkan diri sama anak kecil? " tanya Dewi
" Memang dulu kamu nggak suka anak-anak yah Wi? " ini Delia yang bertanya
" Beh, jangan bilang Del, bahkan kalau kita lagi makan di pinggir jalan tuh, biasanya kan ada anak-anak ngamen, biasanya Dewi kayak gini ' Hus sana sana jangan deket deket sama aku ' ish kayak alergi gitu " Devi yang menjawab sambil mempraktekkan gaya Dewi
" Bahkan, sama adiknya sendiri Dewi itu nggak pernah akir loh Del "Dinda menambahkan
" Emang iya Wi? " Delia seakan tak percaya
Dewi menggaruk kepala nya yang tak gatal
" Hehehehhe,, itu kan dulu, kalau sekarang aku udah berubah, aku sudah mulai terbiasa dengan anak kecil " kata Dewi, tentunya hal ini adalah bualan belaka, sebab sampai saat ini Dewi masih tak bisa berdekatan dengan makhluk yang bernama anak kecil
" Masa sih? " Dinda dan Devi seakan tak percaya
" Iyalah, apa lagi kalau sama Misha, bawaannya aku tuh pengen sama sama terus " Dewi melirik Misha yang sedari tadi memang memperhatkan obrolan orang dewasa di sekitanya. Bahkan Dewi saat ini memasang senyum yang ia buat semanis mingkin.
" Perasaan ku nggak enak nih " kata Dinda
__ADS_1
Dan Tiba-tiba seseorang datang. Ia adalah Om Dika, Pria dewasa nan tampan itu datang dengan masih memakai pakaian kerjanya. artinya saat pulang kerja ia langsung ke rumah sakit.
Tentunya Dewi lah yang paling berbinar saat kedatangan Om Dika.
" Om Dika udah pulang kerja? " tanya Dewi yang merasa paling akrab. Dika hanya menjawab dengan anggukan.
Dika lalu menghampiri Misha yang saat ini rambutnya sedang di sisir oleh Delia.
" Bagaimana keadaan anak Ayah yang cantik ini, udah sembuh? " tanya Dika
" Udah dong Yah, kan ada Kakak Delia yang rawat aku " Jawab Misha bersemangat
" Iya Om, Alhamdulillah Misha sudah sehat kok, tadi dia makan lahap banget, tadi aku juga sempat mau kasi Buah, tapi Misha nya nggak mau katanya udah kenyang " Dewi tak kuasa untuk tidak berbicara.
Hal itu membuat Dinda dan Devi merasa malu sendiri, bahkan posisi mereka saat ini adalah tamu yang sedang datang menengok Misha, dan Dewi seolah-olah merasa sudah sangat dekat dengan keluarga ini.
" Wi, plis deh, jangan sok akrab deh sama Om Dika, bikin malu tahu " Dinda berbisik di telinga Dewi
" Iya Wi, jangan sampai sikap kamu yang sok akrab itu, bukannya bikin Om Dika tersanjung. Malah dia nanti ilfeel" Devi juga ikut berbisik di telinga Dewi
" Ish, kalian ini sirik aja deh " Dewi tak perduli. Ia bahkan memikirkan bagaimana cara nya agar dekat dan menarik simpatik dari Dika.
" Om kok langsung kesini? kenapa nggak pulang dulu ganti baju? " Delia bertanya
" Ah, Ayah sakit tau " kata Misha bercanda
" Om sudah makan? " tanya Delia lagi
" Om Dika mau makan apa? biar Dewi yang ambilkan, kebetulan kita tadi bawa makanan banyak kok " Dewi lagi-lagi ikut bicara.
Sementara Dinda dan Devi memilih menunduk malu karena sikap Dewi.
" Makasih, tapi Om sudah makan sebelum kesini tadi "tolak Om Dika
Dewi memaksakan senyumannya, merasa sedikit kecewa sebab mendapat penolakan lagi dari pria yang sangat ia kagumi.
" Kalau gitu, Ayah mau ganti baju dulu Yah " Dika beranjak dan pergi begitu saja tanpa memerhatikan gadis-gadis di sekitarnya.
Delia merasa kasihan pada Dewi, entah bagaimana ia harus menjelaskan pada sahabatnya itu, jika perasaan nya akan terbuang sia-sia. Dan hanya keajaiban Tuhan yang mampu membuat Om Dika bisa memandang seorang wanita.
Setelah Om Dika menutup pintu kamar mandi, Dewi segera duduk di samping Delia.
__ADS_1
" Del, apa Om Kamu itu sudah punya pacar? " tanya Dewi
" nggak tau Wi, tapi setahu aku sih Om Dika nggak punya pacar Kok, kenapa Memangnya? "
" Heran aja sih, kok dia cuek banget sama aku, padahal aku sudah berusaha untuk mengkrabkan diri " keluh Dewi
Beruntung saat ini Misha sudah tertidur, jadi anak itu tak mendengar apa yang orang dewasa itu obrolkan.
" Om Dika memang begitu Wi, bukan cuma sama kamu, bahkan sama semua orang. Di rumah juga begitu, Om Dika itu hanya dekat sama Misha " Tutur Delia
Dewi menatap wajah polos Misha yang sedang tertidur lelap.
Apa aku harus dekat dulu sama Anaknya, dan setelah hati anaknya sudah aku ambil, maka akan gampang untuk mengambil hati Ayahnya kan?
Dewi membatin, bahkan sudah banyak ide-ide briliant yang sudah bermunculan di kepalanya.
" Udah lah Wi, kayaknya Om Dika memang nggak tertarik sama kamu " Dinda berkata jujur, dan tanpa memoerdukikan perasaan Dewi yang mulai jengkel
" Aku sependapat sama Dinda " Devi memberikan suara yang sama, membuat Dewi makin kebakaran jenggot
" Ah, bilang aja kalian sirik " Dewi tetap berusaha tak perduli, meski ucapan Dinda dan Devi sudah mulai merasuk ke hatinya.
Delia tersenyum. Rasanya ia tak bisa memberi solusi apa-apa. Ingin rasanya ia berkata bahwa sebaiknya Dewi mundur saja. Namun ia bingung harus memberi kan alasan apa nantinya?
" Del, bantuin kek " Dewi mulai merengek
" Bantuin apa? " tanay Dinda
" Bantuin aku, gimana caranya biar bisa dekat dengan Om Dika " jawab Dewi. yang membuat semuanya melongo
" Dih, nggak ada malunya nih perempuan " ucap Devi merasa ilfeel
" Iyah, kamu tuh kayak nggak ada harga dirinya sih, masa suka sama laki-laki sampai merengek begitu " Dinda ikut bicara
" Biarin, namanya juga berjuang " balas Dewi tak perduli
Delia bingung harus menjawab apa. Membantu Dewi dengan cara apa? bahkan Om Dika saja secara Terang-terangan menunjukkan sikap dingin nya. Dan Delia tidak ingin ikut campur dengan kehidupan pribadi Om Dika lebih jauh, meski dalam lubuk hatinya, ia sangat ingin bahwa kelak Om Dika bisa menjadi pria yang normal.
*Maaf Wi,,, aku nggak bisa bantu apa-apa... Aku bahkan takut kalau sampai perasaan kamu itu akan melukai diri kamu sendiri......
_
__ADS_1
Ayo dong dukung Author dengan terus memberilan semangat berupa like and komen setiap selesai baca yah*.....