Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Jahil


__ADS_3

Pagi ini begitu berbeda, di saat semua orang sedang sibuk memulai pagi dan beraktivitas. Sepasang anak manusia malah masih terlelap dalam tidur. Mereka saling merangkul seolah malam belum berganti dan memaksa mereka untuk tetap terpejam dalam dekapan.


Salah satu dari mereka mulai tersadar. Gerakan gerakan kecil menandakan dirinya sudah sadar dan harus menyambut hari.


Perlahan kelopak matanya terbuka. Samar-samar Delia melihat sosok tampan yang lembut di hadapannya. Meski sedikit terkejut, namun Delia tak menimbulkan suara agar makhluk tampan yang masih merangkulnya tak terbangun.


Perlahan Delia melepaskan tangan kekar yang masih berada diatas tubuhnya.


Setelah sadar sepenuhnya, Delia berusaha mengumpulkan kepingan-kepingan kejadian semalam.


Sentuhan hangat itu, perlakuan manis itu bahkan masih terasa di setiap inci kulitnya.


Apa yang terjadi semalam itu adalah salah, namun entah mengapa Delia tak menyesalinya sedikitpun. Ia bahkan merasa bahagia menjadi wanita terpilih untuk merasakan sentuhan pria yang tak pernah terjamah oleh wanita mana pun. Dan yang paling membuat Delia senangi adalah perlakuan Dika yang seolah menjaga keutuhan nya. Memang benar bahwa malam tadi mereka menikmati malam panas di atas tempat tidur, Namun sayang, Mereka tak melakukan hal yang lebih dari sekedar sentuhan.


Bahkan Dika sempat meminta izin sebelum melakukan hal yang lebih jauh.


" Om tidak akan melakukan yang lebih, jika kamu tidak mengizinkan " kata Om Dika malam itu


" Delia tidak keberatan Om " balas Delia


Meski diberi kebebasan untuk berbuat lebih, Dika malah bergeser dari tubuh Delia, dan memilih untuk memeluk gadis itu dan menyandarkan kepala gadis itu didada bidangnya.


" Om tidak mau merusak masa depan kamu,, maaf sudah kurang ajar sama kamu,, tidur lah "


Bahkan di saat seperti ini, pria itu masih menjaga keutuhan nya, padahal Delia sendiri sudah menyerahkan segalanya, namun Om Dika tetap menjaganya. Bahkan Delia tahu, pria itu sedang menahan sesuatu dan berusaha untuk meredam perasaan yang membutuhkan pelepasan. Delia kagum dengan sosok Dika yang mampu mengntrol segala hasratnya.


" Astaga,, Misha "


Akhirnya Delia tersadar bahwa ia sudah sangat telat. Delia berlari dan langsung melesat kekamar mandi.


Dika menyadari ada sesuatu yang menganggu tidur lelapnya. Perlahan ia mengumpulkan kesadaran dan memperbaiki posisinya. Ia sadar bahwa malam tadi ia tak sendiri, ia pun menyadari ada hal yang yang terjadi semalam.


Sama seperti Delia Dika juga sedang mengumpulkan puing-puing kejadian malam tadi. Ia tersenyum, jika Delia tidak menyesali apa yang terjadi semalam, Dika malah sedikit menyesalinya, Bukan menyesali tindakan agresifnya pada Delia, tapi ia menyesali telah menolak bertindak lebih jauh padahal Delia sendiri sudah memberikan akses masuk pada dirinya. Ah, seandainya semalam ia kehilangan kewarasan, mungkin gadis itu masih terkungkung dalam pelukannya sekarang.


Dan Dika menyadari bahwa per hari ini, otak kotornya mulai bekerja.


Pintu kamar mandi terbuka, Delia sudah menyelesaikan ritual mandinya, gadis itu juga sudah mengenakan pakaian lengkap.


Untuk sesaat Dika dan Delia saling pandang. Jika Delia terpesona pada makhluk yang bertelanjang dada diatas tempat tidur, sehingga membuatnya merinding, Dika sendiri terpesona dengan rambut basa yang terurai panjang serta perpaduan kulit putih yang terlihat licin di balik dres yang sedikit ketat di tubuh gadis itu.


Delia memilih untuk segera keluar kamar dari pada berlama-lama menatap Dika dengan menahan napas, bisa -bisa ia mati karena lupa pernapas.

__ADS_1


" Ck, ampun ah "


Dika berdecak kesal. Kesal sebab ia tak mampu mengutarakan apa-apa saat melihat Delia. Kesal sebab tak bisa berbuat apa-apa pada gadis itu, seharusnya tadi ia harus mengisi sedikit energi dengan menarik gadis itu ke tempat tidur. Namun apalah daya, ia bahkan kehilangan kata-kata saat berhadapan dengan gadis kecil yang sudah mulai membuatnya mabuk kepayang sejak semalam.


Dan Dika harus akui, bahwa mungkin nanti, Delia akan menjadi candu baginya.


Delia berjalan tergesa-gesa menuju meja makan, disana ada Bunda, Tari dan juga Misha yang mungkin sebentar lagi akan menyelesaikan sarapannya.


Bunda sendiri melihat adalah yang beda dari wajah anak gadisnya. Delia terlihat lebih segar dan bercahaya dengan sedikit semburat merah di pipinya.


Apa terjadi sesuatu semalam?


" Mamah kok telat? " tanya Misha


" hem,, maaf yah sayang,, Mamah nggak sempat bantuin kamu siap-siap " ucop Delia merasa tak enak


" Nggak apa apa kok Mah,, kan Misha sudah besar " kata Misha


" Uh, pintar anak Mamah,, nggak ada yang kelupaan kan? "


" Nggak ada dong Mah "


" Yasudah,, pagi ini kamu di antar sama supir dulu yah, Ayah juga telat soalnya " kata Delia


Delia mengantar Misha ke depan, setelah itu ia kembali kemeja makan dan menyiapkan sarapan untuk nya dan untuk Dika.


" Tumben kalian lambat bangun, biasanya paling cepat " Bunda bertanya


Delia bingung harus menjawab apa, Bunda memang tahu, jika mereka berdua terpaksa harus sekamar demi membuktikan kepada Tari bahwa mereka adalah suami istri, Tapi Bunda tidak tahu apa yang terjadi di kamar itu khususnya tadi malam.


Dan parahnya wajah Delia berubah menjadi merah padam, mungkin ia sedang menahan malu.


" Ada apa Delia? kamu sakit wajah mu merah " Tari yang belum beranjak dari meja makan ikut bersuara.


" Ah, tidak apa apa,, aku baik baik saja " Delia berucap dengan suara yang sedikit gugup.


Hal itu membuat Bunda semakin curiga.


Pasti ada sesuatu terjadi semalam, pikir Bunda


" Sepertinya kamu kurang tidur " kata Bunda

__ADS_1


" Engg... "


" Bahkan tidurnya sangat nyenyak Bunda, maksud ku, bahkan tidur kami sangat nyenyak semalam "


Dika datang dan ia langsung menjawab pertanyaan Bunda. Bahkan Dika juga terlihat berbeda hari ini. Bedanya Dika lebih ceria dan selalu tersenyum, dan untuk pertama kalinya Dika mau sarapan di meja makan meski ada Tari disana yang sibuk memperhatikan pasangan palsu itu.


Bunda memicingkan matanya, kali ini ia semakin yakin jika ada sesuatu yang terjadi antara putranya dengan gadis yang sudah ia anggap sebagai anak itu.


" Kalian berdua terlihat berbeda,, Bunda merasa ada hal yang spesial,, apa ada sesuatu yang Bunda tidak ketahui? " tanya Bunda


" Ah, Bunda ia seperti tidak tahu saja " kata Dika enteng, sambil menyuap nasi goreng yang sudah Delia siapkan untuknya.


" Tahu apa? " Bunda sendiri semakin penasaran.


Bunda ini tipikal orang yang jika ia sedang dalam keadaan penasaran, maka ia akan terus mencari tahu meski dengan cara memaksa.


" Ada deh,, " Dika semakin jahil


Delia dan Tari hanya sibuk menjadi penonton dia antara anak dan Ibu itu yang sibuk bertanya dan sibuk mencari jawaban.


" Delia, ada apa sih? " Karena tidak mendapat jawaban dari Dika, Bunda kembali memaksa Delia


" Apanya Bunda,, Delia juga nggak ngerti " kata Delia jujur, memang ia tak tahu apa maksud dari Dika, dan apa maksud dari senyum jahil yang tak pernah luntur dari wajah pria itu, Delia sendiri merasa aneh.


" Ada apa sih Dika,, Bunda penasaran nih " Bunda semakin memaksa


Dika selesai dengan sarapannya. Ia bahkan masih tersenyum melihat Bunda nya dengan wajah yang sangat penasaran.


" Dosa loh Dik bikin orang tua penasaran " kata Bunda lagi


" Iya Deh, Dika kasi tau " Dika akhirnya menyerah


" Apa? "


" Mungkin, Sebentar lagi adiknya Misha otw Bund "


" Uhukk... uhukk "


Ucapan Dika itu sontak membuat Delia tersedak makanan.


Taripun sama, ketika ia sedang minum, ia juga terpaksa tersedak air putih. Ucapan Dika kali ini bahkan membuat seluruh penghuni langit dan Bumi terbatuk-batuk.

__ADS_1


_


__ADS_2