Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Permainan


__ADS_3

Bunda sedang kehausan, saat ingin minum ternyata persediaan air putihnya sudah habis. Akhirnya Bunda memutuskan untuk ke dapur untuk mengisi teko nya.


Saat melewati kamar Delia, sepintas Bunda melihat ada seseorang yang masuk dan langsung mengetuk pintu kamar. Bunda mulai curiga dan mengingat-ingat siapa sosok yang berada didalam kamar Delia saat ini.


" Sepertinya tadi itu Dika deh " gumamnya, dan tanpa pikir panjang Bunda langsung menghampiri kamar yang sudah tertutup rapat itu.


Bunda memutar gagang pintu dan ternyata tidak bisa dibuka sebab terkunci dari dalam. Bunda pun semakin curiga, sedang apa Dika didalam kamar anak gadis dijaman seperti ini.


Akhirnya tak butuh kata nanti, Bunda langsung menggedor-gedor pintu kamar itu dengan kencang.


" Delia, Dika.. Buka pintunya " teriak wanita paruh baya itu.


Karena tidak ada jawaban dari dalam, akhirnya Bunda kembali menggedor-gedor pintu kamar, dan kali ini lebih kencang.


" Dika, Delia.. Bunda tahu kalian didalam yah, Buka pintunya " kata Bunda, terdengar begitu murka.


Akhirnya pintu kamar terbuka dengan pelan, menampakkan dua orang wanita dan pria yang keluar dari kamar itu. Si pria berjalan didepan dengan senyum tanpa dosa, sementara si wanita bersembunyi di balik punggung si pria dengan penuh rasa takut.


Bunda menatap nyalang kepada dua manusia yang ada di hadapannya itu. Bunda langsung berjalan ke ruang kelurga dan duduk di sana. Sepertinya ia akan membahas masalah yang serius.


" Om,, kayaknya Bunda marah besar deh,, aku takut nih " pekik Delia, ia masih bersembunyi dibalik punggung Om Dika


" Nggak apa-apa Delia, kita hadapi Bunda sama-sama " Dika masih berusaha untuk tetap tenang


" Tapi Om, Delia beneran takut " kata Delia, ia sudah hampir menangis


" Jangan takut,, ada Om Dika disini, Oke... Sekarang kita duduk sama Bunda, Ayo " Dika menarik tangan Delia, Namun Delia tetap berjalan dibelakang, sebab tak kuasa menatap sang Bunda


Dika dan Delia sudah duduk di sofa tepat di hadapan Bunda, sementara Bunda masih dengan ekspresi yang sama.


Untuk beberapa saat tidak ada yang mengeluarkan suara sedikitpun, bahkan Delia lebih tertarik melihat lantai kramik dibanding apa yang ada di hadapannya.


" Jelaskan! " kata Bunda tegas


" Jelasin apa Bund? " tanya Dika, meski ia sudah tahu arah kemana pembahasan ini nanti, ia masih saja bertanya


" Yah, jelaskan kenapa kalian bisa dalam satu kamar yang sama, dan kenapa pintu kamarnya dikunci " ucap Bunda


" Kita belum ngapa-ngapain Bunda " balas Dika terdengar konyol. Delia yang tadinya hanya menunduk, akhirnya terpaksa menatap Om Dika karena jawaban Om Dika yang terdengar sangat mengada-ada, yah, meski itu jujur sih.


" Apa,, belum ngapa-ngapain? artinya kalau Bunda nggak ketuk pintu nya kalian pasty sudah ngapa-ngapain, begitu kan " tuduh Bunda


" Eh, nggak kok Bunda, Om Dika ini asal ngomong saja " Delia meralat


" Terus kenapa samapai kalian harus mengunci pintu kamar, hah " kata Bunda


" Itu,,,, emmmm " Delia bingung harus menjawab apa, faktanya bukan dirinya yang mengunci kamar itu, tapi Om Dika


" Sejak kapan? " tanya Bunda akhirnya


" Maksudnya? " Delia bertanya tak mengerti

__ADS_1


" Sejak kapan kalian mulai nakal seperti ini? Bunda yakin ini bukan pertama kalinya seperti ini kan? "


" Yah, sejak kami di haruskan tidur sekamar Bund " Dika langsung menjawab dengan enteng.


" Apa,,,, jadi kalian sudah sering melakukan selama tiga hari ini? " Bunda terlihat syok


Delia geleng-geleng iya ingin meralat tuduhan itu.


" Nggak kok Bunda,, memang aku sama Om Dika sekamar selama itu, tapi kita nggak pernah macam-macam kok " kata Delia


" Ah, Bunda nggak yakin, pasti kalian sudah melakukan hal hal yang nggak bener kan ? " Bunda semakin memojokkan mereka


" Nggak Bunda,, Delia berani sumpah " kata Delia masih kekeh dengan keyakinan nya, faktanya mereka memang belum berbuat sejauh itu.


" Om, ayo dong ngomong sesuatu, bilang sama Bunda kalau kita nggak pernah berbuat yang aneh-aneh " Delia meminta kepada Dika bahwa pria itu juga harus membenarkan ucapannya.


Namun sayangnya, Dika hanya terdiam dan tersenyum tipis, Delia ingin sekali mencakar wajar pria itu rasanya.


" Om kok diam aja sih " Delia akhirnya kesal


" Nggak ada yang perlu dijelaskan lagi,, apa yang Bunda lihat malam ini adalah salah, kalian harus dihukum " kata Bunda


" Tapi Bunda, aku sama Om Dika beneran nggak berbuat apa-apa " Delia masih tetap yakin untuk membuat Bunda percaya


" Hukumannya apa Bund? " tanya Dika


" Karena ini masalah serius, maka kalian harus dinikahkan " kata Bunda


" Tidak ada bantahan, keputusan Bunda sudah final " kata Bunda tegas


" Tapi Bund,, aku kan_ "


" Kenapa? kamu tidak suka sama Dika? " tanya Bunda yang langsung memotong ucapan Delia


" Bukan begitu Bunda,, tapi Delia masih sangat Muda dan lagi masih kuliah, bagaimana mungkin ? " ujar Delia


" Sangat mungkin, bahkan Bunda melihat kamu cukup dewasa untuk menjadi seorang istri juga menjadi Mama untuk Misha, jadi Bunda yakin kamu adalah yang terbaik untuk Dika, lagian Bunda nggak bisa tanggung resiko kalau hal seperti tadi bakal kalian lakukan lagi,, Bisa-bisa kalian khilaf,, dosa tau " Bunda sekalian berceramah.


Delia akhirnya menunduk, ia tak dapat membantah kata-kata Bunda lagi. Tapi bukan berarti ia sedih, hanya saja ia cukup terkejut sebab kejadian ini berlangsung begitu cepat dan semua serba dadakan, sehingga ia tak bisa mencerna apa yang sebenarnya ia rasakan. Namun disisi hatinya, ia merasa sangat bahagia.


" Bagaimana dengan kamu Dika,, apa kamu juga ingi mengucapkan sesuatu mengenai keputusan Bunda? " tanya Bunda pada Dika


" Aku nggak ada apa-apa yang mau dibicarakan Bunda,, Aku Terima semua keputusan Bunda " ujar Dika


" Baguslah,, Bunda memang tidak akan menerima penolakan,, " kata Bunda


" Om kok, mau sih,, bilang apa kek gitu,, kita kan perlu pikir-pikir dulu " Delia sedikit berbisik disamping Om Dika


" Untuk apa dipikir lagi,, buat Om keputusan Bunda ada baiknya " kata Dika ikut berbisik


" Baik apanya? " Delia masih berbisik

__ADS_1


" Yah, baik karena kita bisa sekamar selamanya kan " kata Dika, dan Delia diam-diam mencubit pinggang Dika, dan membuat pria itu sedikit meringis.


" dasar Om Om mesum "


" Sudah, sudah.. kalian sekarang kembali ke kamar masing-masing, besok kita bicara lagi " ucap Bunda


" Kok kekamar masing-masing sih " Dika keberatan


" Kenapa? kan kalian punya kamar sendiri sendiri,, memang nya kalian mau sekamar lagi? " tanya Bunda


" emang boleh Bunda ? " wajah Dika berbinar


" Boleh " jawab Bunda


Dika kegirangan


" Yukk Del kita ke kamar Om "


Delia hanya bisa menahan malu melihat tingkah Om Dika yang kekanak-kanakan


" Tapi setelah kalian menikah baru boleh sekamar, sekarang tidur dikamar masing-masing" lanjut Bunda.


Dika mendadak lemas, di sangka nya Bunda mengizinkan nya untuk tidur bersama Delia lagi.


" Yah,, padahal kan sudah mau nikah,, masa nggak boleh sekamar " omel Dika


" Nggak boleh Dika "


Akhirnya Delia memilih untuk kembali ke kamar lebih dulu setelah pamit kepada Bunda. Delia terlalu malu untuk berlama-lama diantara Dika dan Bunda.


Didalam kamar Delia meraba jantungnya yang berdegub kencang, ia tak menyangka akan menjadi istri di usia yang terbilang muda. Hal yang tak pernah ia bayangkan adalah, Om Dika, pria yang acuh dan dingin selama ini, yang entah berawal dari mana sampai ia bisa sebegitu dekat dengan pria itu, dan kini ia resmi menjadi calo istri dari Dika.


Sementara dikamar lain, Dika dan Bunda melomoat kegirangan, Ibu dan anak itu sedang bahagia sekarang, bahkan mereka saling adu tos seolah mereka sedang memenangkan sesuatu.


" Misi kita lancar Dika, akhirnya Delia jadi menantu Bunda, uhhh senang nya hati Bunda " kata Bunda kegirangan


" Ssstttt,, pelan-pelan ngomong nya Bunda, jangan sampai Delia dengar kalau semua ini adalah permainan kita hihihi " ujar Dika


Dan faktanya adalah, semua yang terjadi adalah permainan dari Bunda dan Dika. mulai dari Bunda yang tiba-tiba tahu tentang adanya Dika di kamar Delia sampai memutuskan sendiri untuk menikahkam Delia dan Dika. Semua itu adalah rencana Dika untuk membawa Delia dalam pelukannya.


Cerita sebenarnya adalah Dika sengaja mendatangi Bunda di kamarnya setelah selesai makan malam. Dika meminta Bunda nya untuk bekerja sama dalam permainan untuk menjebak Delia dalam sebuah pernikahan.


Awalnya Bunda kaget, tapi setelah Dika menceritakan segalanya bahwa ia hanya tertarik pada Delia, maka Bunda harus mendukung putranya sepenuhnya. Yah, meski mengorbankan gadis belia itu.


Tapi bukannya Delia juga sangat merespon setiap perlakuan Dika kepada nya.


Intinya permainan ini Dika buat untuk melamar Delia, dan ia tak ingin mendapat penolakan dari Delia. Maka dari itu permainan ini dibilang sedikit memaksa Delia.


Tapi apapun itu, Dika sangat bahagia sebab menemukan sosok yang tepat didalam rumah nya sendiri.


_

__ADS_1


__ADS_2