
Misha terlihat murung sejak semalam. Anak gadis itu bahkan tidak mau berbicara dengan siapapun sejak ia tahu bahwa Delia akan kembali ke kota halamannya besok pagi. Padahal gadis kecil itu sudah memiliki rencana yang banyak di kepalanya pada liburan sekolah nanti.
Hingga pagi ini, Bunda kewalahan membujuk Misha untuk sekedar sarapan atau minum susu. Anak itu kekeh menolak, meski sudah dijanjikan akan di belikan mainan baru atau atau alat melukis baru tetap saja Misha tak mau membuka mulutnya. Padahal Misha adalah gadis yang sangat penurut, tidak biasanya anak itu seperti ini.
" Gimana Bund,, Misha sudah mau makan? " tanya Dika
Bunda menggeleng lemah " Belum Dik,, Bunda sudah bersusah paya untuk membujuk, tapi Misha tetap tidak mau makan, bahkan semalam dia tidak menghabiskan makanya "
Dika berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan putri kecilnya. Ia meletakka telapak tangannya di kepala Misha dan mengelus nya dengan perlahan.
" Sayang,, kamu makan yah,, nanti kamu sakit " bujuk Dika, namun tak ada respon dari anak itu.
Delia yang baru saja keluar dari kamar dengan koper di tangannya. Merasa tak enak hati. Semalam juga Misha telah mendiamkan nya, bahkan anak itu menolak untuk di temani tidur olehnya.
Delia tahu, bahwa sikap anak itu adalah bentuk penolakan, ia tak ingin Delia pergi dari rumah.
Delia ikut menghampiri nya, dan mengambil piring makan di tangan Bunda, lalu duduk di samping Misha.
" Sayang,,, Kamu mau kan kalau Misha Ayah Mama dan Eyang bisa tinggal bersama selamanya? " tanya Delia
Dan Misha menjawab dengan anggukan pelan.
" Kalau kamu mau kita tinggal bersama,, artinya kamu harus rela melepas Mama untuk pergi sementara waktu, tidak lama kok, hanya beberapa hari " Delia menjelaskan sepelan dan selembut mungkin agar anak itu mau mengerti
Akhirnya Misha berani menatap gadis yang akan menjadi Ibu nya nanti.
" Kenapa Mama harus pergi? kenapa tidak disini saja? " tanya Misha polos
Delia berpikir sejenak, ia harus merangkai kata yang paling sederhana agar bisa di mengerti anak seusia Misha.
" Emmm,, begini... Misha tahu kan kalau Ayah sama Mama akan menikah? " tanya Delia dan mendapat anggukan dari anak itu
"Nah, orang Dewasa jika ingin menikah, harus melaksanakan lamaran dulu,, dan lamaran itu harus di adakan di rumah kakak,, nanti setelah Kakak ada di sana,, Ayah Misha dan Eyang akan menyusul kesana " jelas Misha, ia menyebut dirinya Kakak, agar supaya Misha mengerti bahwa sekarang ia belum sah menjadi Mama nya.
Misha sendiri mendengarkan penjelasan itu dengan seksama " Oh, jadi nanti kita semua akan kesana? " tanya nya
__ADS_1
" Iya dong sayang " jawab Delia
" Kenapa acara Ramalan itu tidak dilakukan disini saja? "
Pertanyaan Misha sontak membuat semuanya tertawa.
" Lamaran sayang " Delia meralat ucapan Misha
" Iya,, itu maksud Misha " saut gadis kecil itu.
" Sebab, keluarga Kakak ada disana Sayang,, Ayah kamu akan meminta Kakak untuk jadi Istrinya nanti disana,, sebenarnya Misha belum boleh memanggil Kakak dengan sebutan Mama, karena Ayah Dika belum menikahi Kakak " jelas Delia, ia harap anak gadis itu bisa mengerti penjelasan nya.
Dika dan Eyang sendiri menjadi pendengar setia antara Delia dan Misha.
" Tapi kemarin kemarin Aku selalu memanggil Kakak dengan sebutan Mama, dan itu tidak apa apa " ujar Misha
" Itu karena kita sedang pura-pura sayang,, memang nya Misha mau kalau kakak akan menjadi Mama pura pura Misha selamanya? Emmm bagaimana jika Kakak dapat jodoh orang lain? Apa Misha rela Jika Kakak menikah dengan orang lain, sebab tak kunjung di nikahi oleh Ayah Dika? "
Pertanyaan Delia sontak membuat Misha menggeleng cepat " Nggak mau Kak " katanya
Bukan hanya Misha, bahkan Dika pun ikut melotot garang kepada Delia sebab sudah mengatakan jika ia akan berjodoh dengan orang lain jika tak segera menikahinya. Enak saja, bahkan ia sudah merencanakan dengan matang.
" Maka dari itu, jika Misha mau agar Kakak menajdi Mama Misha, maka Misha harus mendukung Kakak dong, biarkan Kakak pulang dulu yah " bujuk Misha
Dan akhirnya anak itu mengangguk setuju. Delia merasa sangat legah sebab ia bisa membujuk Misha meski dengan cara memutuar otak.
" Dan sekarang, Misha harus makan yah,,, Misha harus makan yang banyak, Misha harus kuat dan sehat biar bisa menyusul Kakak nanti,, Oke! " kata Delia
" Iya Kak,, Misha janji akan rajin makan dan jaga kesehatan " kata Misha
" Uhhhh,, pintar calon Anak Mama " Delia mengacak rambut Misha dengan gemas.
Akhirnya drama membjuk Misha sudah selesai. Jemputan Delia juga sudah tiba di depan rumah. Ternyata Ryo sudah tiba dengan mobil Brio miliknya sejak lima belas menit yang lalu.
Delia pamit kepada Bunda dan Misha, dan Dika lah yang mengantar Delia sampai ke mobil Ryo.
__ADS_1
Saat mengantar Delia, entah mengapa Dika merasa bahwa tatapan Ryo begitu berbeda kepadanya. Dika merasa bahwa Ryo takenyukainya. Anak lelaki yang lebih tua dari Delia itu seperti sedang menaruh dendam padanya, terlihat jelas dari cara dia menatap Dika.
Meski Dika tak mengerti, namun Ia mencoba bersikap biasa saja.
"Hai Ryo,, apa kabar? " tanya Dika basa basi
" Baik,, Om sendiri apa kabar? "
" Om juga baik " jawab Dika
" Tentu baik,, aku bisa melihat nya,, sebab Delia adalah alasan di balik kata baik yang terjadi selama ini kan? " tanya Ryo terdengar begitu dingin.
Dika hanya tersenyum masam, rasanya ia sudah mengerti bahwa lelaki dihadapanya ini mungkin sedang manaruh rasa cemburu terhadapnya. Dan alasan kecemburuan itu adalah Delia.
" Yah,, Delia memang spesial,, dia membawa banyak pengaruh positif selama dia bersamaku,, Om harap kamu membawanya dengan sangat hati-hati,, sebab banyak harapan dan kebahagiaan yang bergantung padanya, termasuk kebahagiaan Om sendiri " jelas Dika, ia rasa tak perlu menyembunyikan rasa sukanya lagi terhadap gadis yang sebentar lagi ia pinang, baik itu dihadapan Delia sendiri ataupun dihadapan orang lain.
" Tentu Om,, aku akan sangat hati hati membawa Delia bersamaku, Toh, dia juga adalah hal yang sangat penting bagi hidupku,, toh aku adalah kerabatnya dalam artian sebagai Kakak laki-laki bagi Delia,, jadi tak perlu terlalu khawatir, pasti aku akan menjaga adik perempuan ku ini " ujar Ryo. Ia juga ingin memperlihatkan bahwa ia juga adalah orang yang akan berada di sisi Delia.
" Yah, Aku percaya padamu " balas Dika
Delia merasa obrolan kedua pria beda usia ini semakin dingin saja. Ia sudah merasakan ada aura aura perang batin di sana. Delia juga tahu bahwa Ryo tidak menyukai Om Dika, entah apa alasannya yang pasti itu terlihat dari cara pandang Ryo dan dari cara ia berbicara kepada Om Dika.
Delia tak mau perang dingin ini berlanjut. Bukankah kepergiaannya kali ini adalah ingin menyambut kehidupan baru? Maka untuk itu Delia berharap sesuatunya berjalan dengan lancar dan baik.
" Om, sudah jam 9 aku berangkat dulu yah " pamit Delia akhirnya, gadis itu meminta tangan Dika untuk di jabat dan di ciumnya tangan itu dengan takzim.
Ryo mengepalkan tangannya melihat interaksi keduanya yang memang sudah sangat dekat itu. Ryo sedikit tak Terima jika akhirnya Delia memilih untuk menikah dengan pria yang lebih dewasa itu.
" Iya,, hati hati di jalan yah,, kabari Om jika ada sesuatu " kata Dika sambil mengusap kepala Delia dengan lembut.
" Baiklah, kami berangkat dulu Om "kata Ryo, ia juga menjabat tangan Dika, meski ia terlihat tak menyukai pria itu, ia tetap pamit dan menunjukkan bahwa ia adalah pria yang baik.
" Oke,, hati hati" balas Dika.
Dika menatap mobil Brio berwarna biru tua yang semakin menjauh. Entah mengapa ia merasa sangat berat melepas kepergian Delia. Ia sudah beberapa kali berpisah dari gadis itu, namun kali ini ia seperti tak rela. Mungkin karena Delia sudah sangat mengisi hatinya.
__ADS_1
Dika berharap semua niat baiknya nanti akan berjalan lancar dan baik tanpa hambatan. Meski ada sedikit firasat yang akan terjadi di kemudian hari. Namun Dika terus meyakinkan dirinya bahwa semua niat baiknya akan terlaksana dengan baik.
_