
Suasana malam begitu dingin, angin berhembus menusuk hingga ke paru-paru. Kota ini masih sama tidak ada yang berubah, meski Delia sudah meninggalkan kota kelahirannya selama dua tahun lebih.
Tiba-tiba saja Delia merasakan rindu yang teramat sangat. Bukan, bukan kepada Dika yang berada di seberang sana, rindu itu hadir untuk kedua orang tuanya yang sudah bahagia diatas sana. Tanpa Delia sadari air matanya sudah jatuh membasahi pipi mulusnya. Entah mengapa saat ini ia benar-benar begitu rapuh, hatinya begitu ingin memeluk Ayah dan Ibunya. Ingin rasanya ia berteriak dan menyalahkan takdir, namun Delia tersadar bahwa semua yang terjadi adalah kehendak yang Maha Kuasa.
Deliah luruh dalam isak tangis. Kesendiriannya kini semakin membuatnya kesepian dalam memendam rindu. Oh, andai waktu dapat di ulang kembali, Delia ingin mengukir banyak kisah indah disini bersama Ayah dan Ibunya.
" Ayah,, Ibu... Semoga kalian tenang di alam sana,, Demi Tuhan aku ikhlas,, namun biarkan aku sesekali meratapi kesendirianku ini,, bagaimanapun juga aku adalah manusia yang memiliki kelemahan,, dan kelemahanku adalah ketika rindu itu datang untuk kalian... "
Delia terduduk terisak, entah kenapa rindu yang hadir kepada orang tuanya membuatnya lemah dan tak berdaya. Padahal waktu pertama merasakan kehilangan, ia mampu berdiri di kakinya meski begitu sulit.
Delia tesadar saat ada sentuhan lembut di pundaknya. Sosok itu langsung mendekat dan langsung menenggelamkan tubuh mungil Delia dalam dekapan nya.
" Menangislah jika itu yang kamu perlukan sekarang,, sebab ada saat dimana kita harus terlihat benar benar rapuh di hadapan Sang pemberi takdir " pemilik suara bariton itu adalah Ryo.
Sejak tadi pria itu berkeliling mencari keberadaan Delia, dan ia menemukan Delia berada di rumah gadis itu sendiri, sedang menangis terseduh di dalam kamarnya.
" Kak,, aku rindu Ayah Ibu " Delia berucap lirih dalam tangis
Ryo semakin mempererat pelukannya, Ia paham apa yang dirasakan Delia saat ini, kehilangan orang orang yang kita sayang akan membuat orang itu akan rapuh di saat saat tertentu. Apa lagi disaat seperti ini,, bisa di bilang saat ini adalah momen berharga bagi Delia, dan ia pasti menginginkan bahwa orang tuanya menyaksikan momen momen itu.
Ryo kembali tergugu, mengingat bahwa Delia berada di sini karena sesuatu hal. Sesungguhnya ia ingin menghentikan semua ini. Namun ia tak tahu harus melakukan apa, di sisi hatinya yang lain ia ingin Delia menyelesaikan pendidikan nya dulu, dan fokus pada impian gadis itu, di sisi lain ia tak mendapat dukungan dari siapapun untuk menghentikan semua ini. Bahkan orang tuanya sendiri memberi respon positif pada rencana pernikahan itu.
Ingin ia kembali berbicara kepada Delia mengenai keputusan itu. Namun ia bingung harus mengatakan apa dan alasan apa lagi yang harus ia buat.
Bagi Ryo pernikahan ini terlalu mendadak, dan ia merasa rencana itu terlalu di paksakan, setidaknya Delia punya pilihan lain nantinya, dan tidak menutup kemungkinan dia adalah salah satu pilihan Delia.
Tak dapat ia pungkiri bahwa Sejak dulu ia juga sudah menaruh hati pada Delia, gadis yang ia jaga sejak mereka masih kecil. Memang Ryo tak pernah jujur dengan perasaannya, ia juga tak pernah menunjukkan sikap berlebihan dan perasaannya. Itu dia lakukan semata-mata agar Delia tetap merasa nyaman di sekitarnya, ia ingin membuat Delia beranggapan bahwa dia adalah seorang Kakak.
Ryo berpikiran bahwa perjalanan mereka masih sangat panjang, itu sebab nya ia tak pernah gencar menunjukkan rasa suka nya pada Delia. Ryo beranggapan bahwa semua ada masanya, dimana saat ia sudah merasa pantas sebagai sorang pria, dan pantas untuk Delia. Dalam arti selama ini ia ingin memantaskan diri dulu sebelum mengutarakan perasaan nya kepada Delia.
Tapi sekarang, semuanya sudah terlambat, bahkan ia tak punya lagi keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya, sebab Delia sendiri yang sudah memutuskan untuk menerima pernikahan itu.
Tiga hari kemudian.
Akhirnya waktu yang dinantikan tiba. Hari ini adalah hari dimana keluarga dari Dika akan berkunjung ke kediaman keluarga Delia, yang tentunya keluarga Om Rian yang menjadi tuan rumah.
Rumah keluarga Rian hanya ramai dengan tetangga tetangga dekat saja. Sebab Memang Delia sendiri tak memiliki siapapun kecuali Om Rian sebagai keluarganya.
Tapi meskipun begitu, banyak yang menyambut antusias acara lamaran ini. Tak jarang juga ada beberapa orang yang terheran sebab Delia akan di lamar di usia yang terbilang masih dini. Adapun yang mengira bahwa acara itu di peruntukan untuk Ryo, sebab mereka pikir selama ini Delia paling dekat dengan Ryo.
" Namanya juga jodoh Ibu ibu,, kita tidak tahu kepada siapa Tuhan akan mempertemukan anak anak kita nanti " begitulah tanggapan bijak dari Bu Nani jika mendapat pernyataan kenapa bukan Ryo yang akan mempersunting Delia.
Yah, meskipun Bu Nani memiliki harapan itu, Namun ia yakin bahwa apa yang sudah menjadi rencana Tuhan, maka itu yang terbaik bagi Delia. Ia selalu orang tua pengganti bagi Delia hanya bisa berdo'a kepada Tuhan semoga anak gadisnya itu selalu mendapatkan kebahagiaan di manapun dan siapapun yang menjadi suaminya nanti.
Didalam kamar Delia sudah menunggu dengan harap-harap cemas. Beberapa menit yang lalu seseorang telah mengabarinya bahwa pihak pria yang akan melamarnya sudah tiba, dan sekarang telah menerima penyambutan yang meriah dari pihak keluarga perempuan.
Hingga setengah jam berlalu, acara lamaran yang di peruntukan untuk Delia sudah di terima dengan baik oleh pihak keluarga wanita. Dan sekarang waktunya Delia di bawa keluar dari kamarnya. Delia akan di bawa kepada calon mempelai pria untuk di pasangkan cincin. Yah, bisa di bilang ini juga merupakan acara lamaran sekaligus pertunangan.
__ADS_1
Semua mata tertuju pada Delia. Gadis itu terlihat begitu menawan dalam balutan kebaya berwarna biru muda dengan riasan wajah yang flawless serta rambut yang di sanggul indah.
Semua mata yang memandangnya akan setuju bahwa Delia memang sangat cantik.
Begitupun pandangan Dika terhadap Delia. Ia begitu terpaku melihat penampilan gadis belia yang sudah beberapa bulan itu menarik perhatiannya.
Dika semakin yakin bahwa menikahi Delia merupakan hal yang tepat bagi hidupnya.
Dika berdecak kagum dalam hati,, meski ia juga begitu tampan dan menawan dalam balutan jas abu muda. Ia merasa sangat cemburu dengan pandangan semua orang ketika menatap Delia.
Ah, kenapa ia merasa ingin mengucapkan ijab kabul sekarang saja.
Dika tersentak kaget saat Delia sudah berada di hadapannya dan ia malah sibuk dengan pikirannya.
" Dik,, Ayo pasangkan cincin nya " kata Bunda
" Eh,, i.. iya Bund " jawab Dika terbata.
Semua orang tertawa melihat ekspresi Dika yang terlihat konyol dan lucu. Padahal pria itu sudah sangat dewasa, tapi kenapa disaat seperti ini pria itu malah seperti baru terkena pubertas saja.
" Wah,, calon prianya grogi " goda Ibu ibu yang ada di belakang
" Maklum,, calon pengantin wanitanya sangat cantik " saut Ibu ibu yang lain.
" Ah,, calon prianya juga tampan sekali, mereka ini terlihat sangat serasi " Ibu ibu yang lain ikut bersuara.
Ah, kenapa Delia jadi tak rela jika Om Dika di lirik oleh gadis- gadis yang lain? Belum lagi sesaat yang lalu sebelum acara pasang cincin di lakukan, tak jarang Delia mendengar banyak gadis gadis yang secara terang-terangan mengagumi Dika. Bahkan ada yang ingin menjadi yang ke dua jika suaminya setampan Om Dika. Uh,, benar-benar membuat Delia merasa gerah.
"Sangat cantik " puji Om Dika saat semua para tamu tengah menikmati hidangan yang telah di siapkan dan mereka di biarkan berdua .
" Eh " Delia gagu mendadak tak bisa berkata apa apa. Pasalnya di tinggal berdua seperti ini membuatnya berdebar-debar tak karuan. Tadi ia sengaja memanggil Misha dan meminta anak itu untuk di sisi nya saja, namun anak itu menolak dengan alasan ingin makan kue bersama Eyang.
" Bagaimana perasaanmu? " tanya Om Dika
" Aku,,, emmmmm... Akuu sangat senang " jawab Delia
" Hanya itu? " tanya Dika lagi
" Lalu apa lagi? memang Om sendiri merasakan apa? " Delia balik bertanya
" Banyak, ada bahagia, legah, dan mendebarkan " jawab Dika
" Mendebarkan? " Delia bingung, ia pikir hanya dirinya saja yang merasakan debaran yang tak karuan. Rupanya Dika juga sama
" Yah, Aku senang sebab acara lamaran ini berjalan dengan lancar, dan mungkin mulai sekarang, Aku akan merasa berdebar setiap hari karena aku harus menahan diri untuk waktu yang lama " jawab Dika
Yah, kedua keluarga sepakat untuk mengadakan ijab kabul sekaligus acara pernikahan setelah Delia selesai dengan tugas KKNnya, yang artinya enam bulan lagi. Sebenarnya ini bukan permintaan dari pihak wanita, Dika sendiri yang mengusulkan, sebab ia tak mau mengganggu tugas Delia sebagai Mahasiswa semester akhir terganggu dengan kesibukannya menjadi seorang istri nanti. Meski Dika tahu bahwa dia akan mendukung penuh Delia, namun ia lebih ingin memberikan kebebasan pada gadis itu untuk menikmati masa lajangnya. Bahkan Dia bisa berkorban akan menunggu lebih lama jika Delia meminta..
__ADS_1
" Kenapa Om tidak minta acara pernikahan nya bulan depan saja? " pertanyaan Delia sontak membuat Dika tersenyum jahil. Dia tahu Delia akan setuju saja dengan apapun keputusannya. Namun seperti yang ia pikirkan, dia tidak ingin egois dengan merenggut kebebasan Delia terlalu cepat.
" Kamu tak tahan menunggu lama? "
Delia menunduk malu. Ia menggigit bibir bawahnya. Merasa kesal pada dirinya sebab bertanya tanpa memikirkan tanggapan Dika. Dia jadi seperti orang yang paling ingin di nikahi.
Dika gemas sekali melihat wajah Delia yang sudah merah karena malu. Dika lalu meraih tangan Delia dan menggenggamnya lebih erat
" Jika menuruti keinginanku,, maka hari ini aku akan menikahimu,, tapi aku tidak boleh egois,, kamu juga butuh waktu kan, dan aku tidak mau menggangu tugas tugas kuliah mu "lanjut Dika
Delia menatap manik mata hitam pekat milik Dika, mata yang selalu menatapnya dengan hangat. Ia merasa kagum dengan kepribadian pria dewasa ini. Membuatnya semakin yakin bahwa memilihnya untuk menjadi sandaran terakhir merupakan hal yang sudah tepat.
" Om,, kamu begitu baik " puji Delia
" Etsss,, bisakah mulai sekarang kamu jangan memanggilku Om? Aku sekarang calon suamimu " kata Dika
" Lalu, aku harus panggil apa? " tanya Delia
" Emmm,, terserah kamu saja,, yang jelas jangan Om, aku merasa tua saja mendengarnya " kata Dika
" Ish, kemarin juga seperti itu kok panggil nya " ujar Delia
" Itu kan sebelum kamu akan menjadi calon Mama nya Misha " kata Dika dengan mencubit pipi chubby Delia dengan gemas
" Jangan,, cubit cubit Om,, malu di lihat orang " kata Delia, sambil melirik orang-orang yang memang sedang memperhatikan mereka
" Eh, Om lagi " Dika protes
" Aku panggil apa jadinya? " tanya Delia bingung
" Terserah, asal jangan Om "
" Kakak? "
" Aku tidak semuda untuk menerima panggilan itu " Dika protes lagi
" Mas "
" Aku bukan orang Jawa " lagi lagi di protes
" Abang, Aa' "
" Ck, sama saja,, itu artinya Kakak juga Sayang " kata Dika
Namun Delia tersadar dengan ujung kalimat Dika barusan, kata Sayang itu membuatnya berdebar.
Apa sebaiknya ia memanggil Dika dengan panggilan 'Sayang' mulai sekarang?
__ADS_1
_