
Kemunculan Tari dalam kehidupan Dika seolah-olah menjadi bencana bagi pria itu. Bukan apa-apa, Dika merasa selalu diawasi oleh seseorang setiap ia bepergian. Ingin menghindar namun tidak mudah, sebab Dika harus bekerja. Sebenarnya bisa saja ia mengutus orang kepercayaan nya untuk melakukan semua kerjaannya, namun ada beberapa klien yang ingin bertemu dengan nya secara langsung.
Dika merasa selalu di hantui rasa takut jika ia sedang sendiri, takut jika wanita gila berparas cantik bernama Tari itu tiba-tiba muncul di hadapannya. Sebenarnya Dika bisa saja melaporkannya ke pihak yang berwajib atas apa yang ia alami, namun ia tak setega itu, sebab yang ia tahu, Tari saat ini adalah manusia yang hidup nya serba sendiri, dalam artian Tari sudah menjadi sebatang kara beberapa tahun lalu.
" Om kenapa melamun? kok belum berangkat kerja ? " Delia yang saat itu ingin sarapan, karena memang hari ini ia sedang libur, tak ada kuliah. Jadi ia sedikit bersantai di pagi hari.
" Ah, nggak apa apa Del" kata Dika
" Mikirin dia lagi? " tebak Delia, seperti nya gadis itu tahu apa yang ada dalam benak Om tampannya, sebab memang sejak kemunculan Tari, Om Dika sering terdiam sendirian dan kadang tidak fokus dalam melakukan sesuatu hal.
Dika menarik nafas panjang, ia akui bahwa Delia sudah sangat mengenalnya, bahkan sulit baginya untuk mengatakan bahwa ia baik-baik saja didepan gadis itu.
" Menurut kamu Om harus gimana? apakah Om harus menghadapi nya, tapi Om nggak sanggup, sedangkan Om juga nggak mau selalu menghindar dan merasa dihantui seperti ini, Tari itu orang yang sangat berbahaya, dan Om tidak mau lagi berurusan sama dia " jelas Dika
Delia memilih duduk dihadapan Om Dika.
" Setau aku, Tari itu butuh bicara dengan Om Dika, bagaimana kalau Om memberikan dia kesempatan untuk bicara, siapa tahu dengan begitu dia bisa tenang dan meninggalkan Om Dika " Delia memberi saran
" Bagaimana caranya Delia, Om masih takut, jangan kan untuk bicara, Om membayangkan wajahnya saja Om tidak bisa " Dika seakan tertekan
" Aku temani Om yah,, tenang saja dia nggak akan macam-macam kok " ujar Delia
Dika mengangguk pasrah, mau tak mau ia harus menerima usulan dari Delia, ia juga tak mau jika harus berada didalam ketakutan seperti ini.
Baginya masalah ini harus di selesaikan, dan dengan menemui wanita gila itu dan mendengarkan apa yang wanita itu ingin bicarakan adalah hal yang tepat.
*
Hari itupun tiba. Dimana Tari sedang menunggu Dika di sebuah cafe. Kemarin Delia sempat bertemu dengannya, sebab Tari memang selalu berada di sekitar tempat tinggal Dika, seakan ia tak ingin melepaskan pandangannya dari Dika.
Delia sengaja menemuinya, dan memberitahukan bahwa ia siap membawa Om Dika kepadanya, namun dengan syarat Delia harus ikut menemani Om Dika, awalnya Tari menolak, sebab wanita gila itu hanya ingin bicara berdua saja dengan Dika, Namun Delia juga tak mau kalah, ka kekeh dengan keputusannya bahwa ia akan selalu menemani Dika kemanapun. Dan pada akhirnya Tari pun pasrah dan mengiyakan.
Dan di sini lah wanita itu, ia sudah menunggu sejam lalu, terlalu cepat, namun ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Dika, jadi ia memutuskan untuk datang lebih awal.
__ADS_1
" Sudah lama? "
Tari berbalik mendengar suara gadis yang baru saja datang, dan gadis itu langsung duduk di kursi yg letaknya tepat dihadapan Tari.
" Lumayan,, sudah satu jam saya di menunggu " jawab Tari santai, wanita itu celingukan mencari sosok yang tak ia lihat.
Delia sendiri mengerutkan keningnya, tentu sangat heran sebab wanita itu begitu semangat ingin bertemu dengan Om Dika sehingga ia memilih datang lebih awal, bahkan rela menunggu.
" Satu jam? saya kan sudah memberitahukan kalau kita akan bertemu setelah jam makan siang " kata Delia
" Iya,, saya tahu, saya memang datang lebih awal, karena saya tak ingin membuat Dika menunggu " balas Tari begitu riang, terlihat jelas jika ia begitu bersemangat dan bahagia ingin bertemu dengan Dika
" Anyway,, dimana Dika? " tanya Tari kemudian
" Dia sedang memarkirkan mobil, tunggu saja sebentar lagi Om,,, Eh suami saya akan datang " hampir saja Delia keceplosan tentang nama panggilan nya untuk Om Dika.
Tapi rupanya Tari memiliki pendengaran yang cukup Peka, sehingga ia sedikit menaruh curiga kepada Delia.
Baru saja ia ingin menanyakan sesuatu kepada Delia, Dika datang dan langsung duduk bergabung dengan dua wanita yang beda generasi itu.
" Ah, tidak masalah Dika, aku tidak apa apa kok " balas Tari dengan begitu manisnya
Dika terlihat sudah bisa menguasai dirinya, wajah nya tak lagi menunjukkan ketegangan. Mungkin karena Delia sudah meyakinkan nya bahwa semua akan baik-baik saja jika ia menghadapinya dengan santai.
" Baiklah,, karena kami sudah ada disini,, langsung saja ke intinya,, kamu mau bicara apa? " kata Delia
Tari melihat Dika, sebenarnya ia enggan ingin berbicara jika ada Delia diantara mereka. Sebab menurut nya apa yang ia ingin sampaikan kepada Dika, adalah hal yang begitu penting yang berasal dari hatinya.
" Maaf,, mungkin apa yang ingin ku sampai kan ini akan membuat hati kamu sakit " ucapan Tari itu ditujukan untuk Delia
" Kenapa saya harus merasa sakit? " tanya Delia
Tari terdiam sejenak.
__ADS_1
" Apa kamu bisa mendengar jika ada seorang wanita yang mencintai suami mu? "
Delia dan Dika sama sama tercengang mendengar ucapan Tari, pasangan suami istri pura-pura itu mendadak tak bisa mengucapkan satu katapun.
" Maaf,,, " Tari berucap lirih
untuk beberapa menit tidak ada yang mengeluarkan suara satu sama lain.
" Aku tahu ini salah,, tapi aku benar dengan perasaan ku ini Dika,, awalnya rasa bersalah ku padamu dimasalalu telah membuatku selalu mengingat dirimu, kemudian aku terus menacrimu, dan akhirnya aku menemukanmu disini... Saat melihatmu rasa bersalah ku semakin besar, aku sangat menyesal, lalu rasa bersalah itu membawaku terus kehadapan mu, hingga rasa itu perlahan berubah jadi rindu, kemudian aku sadar rasa bersalah ku ini mulai berubah menjadi cinta,, mungkin karena aku terlalu memikirkan mu "
Tak ada yang bisa menyela saat Tari mengutarakan semua isi hatinya. Baik Dika ataupun Delia keduanya sama-sama berusaha memahami kondisi saat ini.
" Awalnya,, aku hanya ingin meminta maaf dengan tulus padamu Dika, dan setelah kamu memberikan maaf padaku, aku akan pergi dari kota ini dengan tenang,, itu lah rencanaku,, Namun saat aku melihatmu,, jujur aku tak bisa berpaling, bahkan aku tak bisa menahan gejolak ingin memiliki kamu Dika,, aku... aku... bingung harus bagaimana " Tari mulai terisak, ini adalah isi hatinya yang sudah lama ia ingin utarakan
" Dika... tolong beri aku maaf dan satu kesempatan " Tari menggenggam tangan Dika, membuat Dika tegang dan mendadak ketakutan. Kejadian bertahun-tahun lamanya kembali terngiang di otaknya, sehingga ia kembali ketakutan.
Dika ingin melepaskan genggaman tanga Tari, namun pergerakannya seakan terkunci.
" Dika,, aku mohon " Tari mengiba
Delia menyadari ada perubahan di wajah Om Dika.
" Cukup,,, saya rasa kamu sudah mengutarakan semua isi hati mu,, soal maaf yang kau inginkan, saya yakin suami saya sudah memaafkanmu, iya kan Sayang?" Delia berucap tegas
" Tapi,, bagaimana dengan perasaan cintaku? " kata Tari
" Untuk itu maaf,, saya rasa Suami ku tidak akan pernah membalasnya, sebab kamu tahu sendiri kan,, aku adalah istrinya,, dan aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu suamiku " kata Delia.
" Sayang,, Ayo kita pergi,,, Anak kita sudah menunggu di rumah "
Delia langsung menarik tangan Dika, dan membawa pria itu pergi menjauh dari Tari tanpa memperdulikan teriakan wanita itu yang terus memanggil nama Dika.
" Dikaaa,,, aku mencintaimu "
__ADS_1
_