Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Rindu


__ADS_3

Setelah acara lamaran yang cukup meriah itu. Delia memutuskan untuk tinggal menghabiskan sisa liburan semesternya. Meski awalnya Misha memaksa agar Delia mau pulang bersamanya, tentunya dari perintah Dika sendiri. Namun Delia menolak meski ia harus berusaha untuk menjelaskan kepada Misha. Dan akhirnya anak itu pun mengerti, namun berbeda dengan Dika yang sudah terlihat sangat kecewa, sebab usahanya menghasut Misha ternyata gagal.


Bunda ingin sekali tertawa melihat raut wajah anak bujangnya yang murung, wanita paruh baya itu tahu jika saat ini jejaka yg sebentar lagi akan melepas masa lajangnya sedang dalam suasana hati yang kurang baik. Tentu alasannya juga adalah Delia yang menolak ikut bersama mereka.


" Sudah,,, biarkan Delia menikmati masa liburannya,, toh dia juga akan pulang ke rumah kita nanti " ujar Bunda. Dan hanya di respon dengan decakan malas.


Pagi ini mereka berpamitan untuk kembali ke kota asal mereka.


Dika mengajak Delia untuk berbicara sebentar, tentu hanya berdua. Jadi mereka memutuskan menjauh dari orang-orang. Dan disinilah mereka di belakang halaman rumah Om Rian.


" Kenapa kamu menolak pulang bersama? " tanya Dika tanpa basa basi


" Aku masih ingin di sini Om "


Dika melotot dengan garang, lagi-lagi Delia memanggilnya dengan sebutan Om, dan entah mengapa dan sejak kapan ia tak begitu menyukai jika Delia memanggilnya dengan panggilan itu.


" Om lagi "


" Eh,, maaf,, habisnya aku bingung harus panggil apa " kata Delia tak enak hati dan merasa canggung.


Sejak semalam ia sibuk memikirkan panggilan apa yang harusnya ia sematkan kepada calon suaminya itu. Pasalnya Om mudanya itu sudah menolak di sebut Om, dan juga menolak untuk di panggil Kakak, Mas,Abang atau Aa', dengan alasan yang tak jelas. Delia jadi bingung sendiri jadinya.


" Aku maunya panggil Kakak, Abang, Mas atau Aa',, tapi semuanya ditolak " lanjut Delia lagi.


Ingin memanggil dengan panggilan sayang,, dia nya lagi yang merasa malu dan canggung.


" Kan, Aku sudah bilang kalau aku sudah tak semuda itu untuk menerima pangglan itu " balas Dika


Kemudian Dika menatapa Delia yang terlihat bingung, ia tahu kini gadis cantik itu sedang berusaha mencari nama panggilan yang sesuai dengan dirinya.


" Emmmm,, kenapa kamu tidak coba panggil aku sayang? " tanya Dika kemudian


" Hah,,, Emmm itu... " Delia gugup, seperti yang di ketahui, ia belum bisa menyebut dengan lancar panggilan itu


" Aku merasa canggung " ucap Delia terdengar lirih dan malu-malu


" Biasakan saja " balas Dila enteng


" Aku akan mencoba " kata Delia


Dika meraih tubuh Delia dan membalikkan tubuh kecil itu agar berhadapan dengannya. Ia ingin menatap Delia dengan jelas dan lebih lama sebelum ia pergi.


" Selama disini,, jaga diri kamu baik baik yah,, terutama hati kamu,, aku pasti akan sangat merindukanmu " ujar Dika lembut

__ADS_1


Delia mengangguk dan tersipu, wajahnya kini berubah menjadi merah jingga karena sedikit malu.


" Om juga jaga diri baik baik yah,,, jaga Misha untukku,, akupun pasti sangat merindukan Om "


Dika berdecak malas, sebab Delia masih menyebut kata Om untuknya. Dan Delia tahu jika calon suaminya itu sedang kesal padanya.


" Aku akan berusaha untuk tidak menyebut Om Dika dengan sebutan itu, biarkan aku belajar untuk memanggil Om dengan panggilan sayang,, aku akan memikirkannya nanti " kata Delia.


Dika tersenyum, ia memang harus memberikan waktu kepada gadis cantiknya itu.


" Baiklah,, untuk saat ini aku terima,, tapi setelah kamu kembali ke rumah,, aku sudah tidak ingin mendengar kamu menyebut aku dengan sebutan Om lagi, Oke! " kata Dika


Delia mengangguk " Iya "


Keduanya saling diam,, dan entah siapa yang memulai keduanya langsung saling berpelukan dengan erat. Tidak ada yang berbicara saat itu, hanya debaran hati yang saling bersaut-sautan, saling memberi semangat, bahwa mungkin setelah ini akan ada rindu yang semakin hari semakin besar.


*


Beberapa haripun berlalu. Meski Dika menjalani hari-harinya seperti biasa dan tentunya dengan semangat, tetap saja ia merasa ada yang kurang. Terhitung sudah sepuluh hari ia tak merasakan kehadiran Delia setiap pagi, tak merasakan keceriaan gadis itu yang akan menyambutnya ketika ia pulang kerumah. Dan harus Dika akui ia sangat merindukan hal itu.


Dika melamun, bahkan ia belum menyentuh sedikitpun sarapan yang ada di hadapannya.


" Ayah, kok nggak makan? " tanya Misha.


Bunda yang memang selama beberapa hari ini lebih sering tinggal di rumah Dika merasa tahu dan paham apa yang dirasakan anak bujangnya. Diam-diam wanita paruh baya itu tersenyum. Ia tahu saat ini dan kemarin-kemarin anaknya itu sedang merindukan calon istrinya.


" Makan yang banyak Dik,,, rindu itu butuh tenaga " bunda berkomentar yang terdengar lebih kepada meledek


Lagi-lagi Dika berdecak malas, akhir-akhir ini Bundanya itu memang sangat sering menggodanya.


" Ah, Bunda ada ada saja " balas Dika, ia lalu menyantap sarapan pagi nya dengan cepat. Ia tak mau berlama-lama di meja makan, sebab ia tahu, Bunda nya pasti akan menjahili nya seperti hari hari kemarin.


" Aku sudah selesai,, Misha makan yang banyak yah sayang,, Ayah berangkat kerja dulu,, aku pamit yah Bun " ujar Dika, setelah menciun puncak kepala putrinya dan berganti mencium punggung tangan Bunda nya.


Bunda ingin tertawa melihat anaknya yang begitu tergesa-gesa, padahal anak itu itu tidak terlambat, ia hanya menghindari dirinya.


" Ingat,, makan siang tepat waktu Dika,, banyak minum air putih, kadang Rindu itu bukan hanya membuat orang lemas, tapi juga dehidrasi "


Tariak Bunda dengan cekikikan, dan Dika sama sekali tak meresponnya.


Di tempat yang berbeda.


Delia benar-benar menikmati masa liburnya, di rumahnya ia sedang di temani oleh teman-teman di masa SMA nya dulu sebelum ia pindah ke kota lain.

__ADS_1


Mereka sedang asik bercerita tentang masa masa sekolah dulu, sambil membuat pastry and cake serta makanan berat lainnya. Saat ini Delia ingin memanjakan teman-teman nya dengan berbagai masakan yang sudah ia pelajari. Tentu hal itu di sambut dengan antusias oleh para teman Delia.


" Yang jadi suami kamu nanti pasti bahagia banget Del " kata teman yang bernama Yuni


" Kenapa memangnga? "tanya Delia


" Soalnya kamu itu sudah cantik baik,, eh jago masak " jawab Yuni, yang di balas dengan senyuman tipis.


" Aku setuju,, pokoknya kamu itu sudah paket komplit deh " kata Rara gadis berkepang dua


" Aku juga pengen kayak kamu Del, meski aku nggak cantik paling nggak aku bisa masak lah, biar bisa mengimbangi kekuranganku " ujar gadis yang berkulit hitam manis bernama Lela.


" Terus kenapa nggak belajar masak? atau sekalian ambil jurusan tata boga sekalian?" tanya Delia


" Haaaaaahhh,,, boro boro belajar masak,, aku kedapur aja bawaannya malas mulu,, kayaknya antara aku dengan panci tidak akan pernah cocok " ujar Lela dengan penuh drama. Ia memang terkenal sangat tidak senang dengan urusan masak memasak.


" Iya,, kamu kan taunya makan saja " saut Rara


" Nggak makan, mati lah Ra " balas Lela


" Perempuan itu harus bisa masak lah minimal.. biar kalau punya laki,, laki nya nggak makan di luar mulu " Yuni memberi nasehat, padahal dirinya sendiri juga tidak begitu suka dengan memasak, yah meski di banding Lela, Yuni masih mending lah.


" Ish,, kayak kamu pintar masak aja Yun? " cibir Lela


" Kan aku bilang minimal bisa masak,, bukan pintar masak " balas Yuni


" Udah,,, bahas masaknya entar aja,, nihh silahkan di cicipi, trus kasi komentar apa yang kurang dari masakan ini " Delia meletakkan makanan yang baru saja ia buat, bentuknya seperti bakso tapi bukan bakso namanya, sebab ada beberapa sayuran dan juga beberapa seafood disana. Delia nenamakan masakan ciptaannya itu dengan nama Mie Rame.


" Wah,, ini sih masakan hotel bintang lima kalah Del " Lela yang pertama memberi pujian. Dan di angguki oleh ke tiga temannya, rasanya memang sangat enak.


" Ngomong-ngomong kenapa namanya Mie Rame? " tanya Rara


" Kamu nggak liat,, di dalam sini tuh rame banget,, ada udang, cumi, bakso, sosis , kerang, sayuran dll " udah kayak reuni akbar aja nih makanan " Yuni menyahut.


" Yups,, kamu benar Yun,, aku namain Mie Rame karena memang makanannya lumayan Rame " Delia membenarkan ucapan Yuni


Saat melihat teman-teman nya sangat semangat menikmati masakan nya,, Ia teringat kepada ketiga sahabatnya. Ia jadi merasa begitu rindu. Apa lagi jika seperti ini, pasti mereka akan sangat senang melakukan percobaan resep baru jika sedang ada waktu luang.


Disaat yang bersamaan pula Delia kembali teringat Dika Bunda dan juga Misha. Jika dulu ia sedang memasak hal yang baru maka Misha lah yang paling akan sangat memuji masakannya, Dika akan mendukung yang selalu ia lakukan, dan Bunda yang akan selalu memberi saran jika ada yang perlu di perbaiki.


Tiba tiba ia merasa begitu rindu dengan orang orang yang hadir di ingatan nya. Entah mengapa ia ingin pulang. Mungkin liburannya kali ini sudah cukup.


_

__ADS_1


__ADS_2