Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Sepi


__ADS_3

Waktu bergulir begitu cepat, tak terasa dua bulan berlalu begitu saja. Dan semua berjalan dengan rutinitasnya sendiri. Delia yang sibuk dengan kuliahnya, Misha dengan sekolahnya dan Dika dengan kerjaan nya yang semakin hari semakin banyak. Bahkan bulan lalu Dika membuka cabang pabrik baru yang letaknya di kota kelahiran calon istrinya yaitu Delia.


Dika berpikir, ide untuk membuka cabang pabrik minuman kemasan di kota Delia adalah hal yang menarik, selain nanti setelah lulus dari Universitas Delia akan mengambil alih restoran milik mendiang Ayahnya, yang artinya Delia akan lebih sering disana, dan Dika ingin mencoba peruntungan di kota kelahiran Delia itu. Tentunya hal itu sudah ia bahas jauh sebelumnya dengan calon istrinya. Dan Delia mendukung penuh rencana calon suaminya itu.


Akhir-akhir ini Dika memang sibuk memantau perkembangan pabrik baru yang ia dirikan di kota Delia itu. Hingga dalam satu minggu Dika kadang mengunjungi lokasi pembangunan pabrik itu selama tiga kali.


Delia merasa kasihan melihat calon suaminya itu yang terlalu giat dalam beekerja. Padahal jika Dika tak membangun pabrik baru pun mereka pasti bisa terjamin dengan kelayakan hidup yang bisa di bilang wah. Bukan apa-apa, selain mengelola perkebunan teh yang ada di puncak yang merupakan warisan turun temurun kuarganya. Dika sudah berhasil membangun tiga pabrik minuman kemasan di tiga kota yang berbeda-beda, dan pabrik ke empat sedang dalam proses pembangunan yang rencana nya akan rampung tahun depan di kota kelahiran Delia.


Dan dengan banyak nya aset seperti itu, bahkan jika Dika hanya termenung di rumah maka uang akan mengalir dengan sendirinya.


Dika sedang sibuk memasukkan beberapa pakaian yang akan dia bawa ke dalam koper. Pria itu akan pergi keluar kota dalam seminggu. Sebenarnya ia enggan untuk pergi, namun Delia yang memberikan usul, agar ia memantau pembangunan pabrik itu tidak perlu pulang pergi seperti kemarin-kemarin. Delia takut Dika terlalu lelah dan akan jatuh sakit nanti nya. Bukan apa-apa, memang ada beberapa perkerjaan yang harus membutuhkan kehadiran Dika, dan mau tak mau Dika harus pergi meski kadang ia baru tiba sehari di rumah.


" Hon, Ayo makan dulu, beres pakaiannya biar aku saja "


Itu adalah suara Delia, gadis itu baru saja selesai memasak dan kini ia datang untuk memanggil Dika untuk makan siang bersama.


" Iya,, ini juga sudah selesai " kata Dika, pria itu lalu menghampiri Delia dan melingkarkan tanganya di pinggang ramping milik calon istrinya.


Delia menatap Dika yang rupanya juga menatap dirinya dengan intens.


" Kenapa? " tanya Delia


Dika tidak menjawab, pria tinggi besar itu malah menunduk dan mensejajarkan dirinya, lalu merebahkan kepalanya di bahu kecil Delia. Sesaat Delia mendengarkan helaan nafas panjang yang keluar dari mulut pria itu. Delia paham bahwa pria tampan yang tengah bersandar ini sedang kelelahan.


" Lelah yah? " tanya Delia lagi


Dika bergumam dan mengangguk pelan " Hem,, lelah sekali,, tapi mau bagaimana lagi, semua harus dikerjakan " katanya


Delia menepuk-nepuk punggung besar itu dengan sayang " Semangat yah ,, pejuang nafkah ku " ujarnya

__ADS_1


Dika bangun dari sandarannya dan kembali menatap calon istrinya.


" Sebenarnya bukan lelah saja,, aku hanya tidak ingin jauh dari kamu Bi " kata Dika


Delia merangkulkan kedua tangan nya di leher tinggi Dika. Lalu ikut menatap pria tampan di hadapannya itu " Aku juga tidak ingin berpisah dengan mu terlalu lama Hon,, tapi aku tidak mau kamu kelelahan karena pulang balik seperti kemarin, aku tidak mau kamu jatuh sakit,, maka dari itu aku menyuruhmu untuk tinggal saja di sana selama seminggu atau bahkan sampai pekerjaan itu tidak membutuhkan kehadiran kamu lagi,, aku harap kamu betah di rumah ku "


Yah, Delia mengusulkan kepada Dika untuk menempati rumahnya selama bekerja di sana. Dan Dika mengiyakan saja. Bagi pria itu, apapun yang akan ia lakukan sekarang harus dengan persetujuan dan diskusi dari calon istrinya, sebab bagaimana pun nantinya, gadis itu yang akan mengurusnya nanti ketika mereka sudah sah menjadi suami istri.


" Terimakasih karena sudah sangat perhatian padaku " ujar Dika tulus


" Itu sudah kewajibanku Hon " balas Delia


Kedekatan mereka seperti sekarang tidak di sia siakan oleh Dika. Pria itu malah memajukan wajahnya. Delia sendiri tidak menolak, gadis itu bahkan menutup matanya, sebab ia tahu apa yang ingin Dika lakukan padanya. Dan ia dengan senang hati menginginkan nya juga.


Namun belum sempat melakukan nya, Misha tiba-tiba datang .


" Ayah,, Mama, aku sudah lapar, kenapa kalian lama sekali " gadis kecil itu mengomel.


Bunda yang rupanya ada di belakang Misha menatao mereka dengan garang. Bunda selalu mengingat kan mereka agar berhati-hati jika sedang ingin bermesraan, namun rupanya dua manusia yang sedang mabuk asmara ini tidak mengindahkan perkataan nya.


" Kalian ini,, selalu saja seperti itu " desis Bunda yang terlihat sedang menahan amarah.


Dika hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia tak merasa malu, hanya saja sedikit kecewa sebab ia gagal melakukan hal romantis dengan Delia. Ah, seharusnya tadi mereka mengunci pintu. Dika membatin dan menyesali kecerobohan nya.


Delia sendiri sudah mengajak Misha ke meja makan sejak tadi, ia tak mau kena omelan Bunda. Biarkan saja Dika yang menanggung murka sang Ibunda ratu.


Selesai makan siang, akhirnya Dika pamit untuk segera berangkat. Bukan cuma Delia yang merasa sedih, bahkan Misha tak mau jika sang Ayah pergi dalam waktu yang lama. Anak itu sejak tadi menahan diri untuk tidak menangis, sebab Delia senantiasa di sampingnya dan menguatkan anak itu agar tidak cengeng.


" Kamu baik baik dirumah yah sayang,, Ayah berangkat dulu " kata Dika, ia mencium gemas putirnya dalam gendongan nya. Misha hanya mengangguk.

__ADS_1


Dika kemudian beralih ke Delia dan memberika tangannya untuk di jabat dan Delia menerima tangan Dika dan mencium punggung tangan pria itu dengan takzim. Sebenarnya ia juga merasa sedih, namun mau bagaimana lagi, Dika harus bekerja dan itu adalah kewajiban nya. Ia hanya mampu dan mendukung selalu atas apa yang di lakukan Dika.


" Aku pasti akan sangat merindukan kamu Bi " kata Dika, Delia sudah berkaca kaca, seperti Misha ia juga sedang menahan diri untuk tidak menangis.


" Aku juga Hon, kamu jaga diri yah disana " kata Delia.


Namun berbeda dengan Bunda, Wanita paruh baya itu nampak santai saja, bahkan ia legah sebab Dika keluar kota dalam waktu yang lama. Bukan apa apa, Bunda sudah lelah menegur putranya dan calon menantunya itu. Mereka berdua selalu membuat kepalanya pusing sebab sering ketahuan olehnya sedang bermesraan, ingin rasanya Bunda menikahkan mereka secepatnya, agar mereka berdua tak berbuat khilaf nanti. Dan kepergian Dika ini membuat Bunda bisa bernafas legah, paling tidak dalam waktu seminggu ia tak mengomel dan mengeluhkan sikap romantis mereka berdua yang seenaknya saja di depan umum.


" Ada baiknya juga kamu kerja keluar kota, kalau bisa sering sering lah keluar kota sampai masa kalian akan menikah, setidaknya itu bisa mengurangi kemesuman kamu terhadap Delia "


Dika berdecak malas, akhir-akhir ini Bundanya itu berubah menjadi wanita yang cerewet sekali. Padahal ia tak pernah berbuat hal di luar batas kepada Delia, yah meski sempat kepikiran untuk mencoba. hehehehe..


" Bunda ini, apa tidak akan rindu dengan putra satu satu mu ini " kata Dika


" Hem,, pergilah,, dan hati hati di jalan,, ingatkan Anto untuk tidak mengebut saat berkendara " kata Bunda.


Dika pun berangkat, dengan ditemani salah satu karyawan yang bisa di sebut dengan asisten pribadi yang siap menemaninya kemanapun.


Malam hari begitu sepi, semua orang sudah terlelap dalam tidur. Delia tadi sudah menidurkan Misha, namun ia keluar kamar dan sekarang berdiri di di dekat jendela, menikmati hembusan angin malam yang entah mengapa sedikit membuat Delia merasakan sejuk.


Malam ini ia begitu sulit memejamkan mata, padahal besok ada tugas kuliah yang harus ia presentasikan di hadapan dosen pagi pagi sekali. Entah mengapa hatinya begitu resah tapi tak gelisah, namun bayangan Dika malam ini memenuhi isi kepalanya.


Delia melihat jam di layar ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat. Sejam tadi ia baru saja bertukar kabar dengan Dika. Delia legah sebab calon suaminya itu sudah tiba di rumahnya dengan selamat. Mereka tak banyak bicara sebab Delia mengerti jika calon suaminya itu butuh istrahat.


Tapi, malam ini Delia begitu memikirkan calon suaminya. Bahkan ia merasa begitu kesepian. Padahal ia sudah pernah bahkan beberapa kali di tinggal pergi oleh Dika. Namun, kali ini adalah kali pertama Delia merasa sepi tanpa Dika.


Hon,, apakah kamu sudah tidur???


Akhirnya Delia memutuskan untuk mengirimkan chat pada Dika, meski ia tahu pesannya itu tak akan terbalas, sebab chat yang ia kirim belum tersampaikan. Artinya Dika saat ini sedang menonaktifkan ponselnya..

__ADS_1


Delia bernafas dengan dalam. Ia berharap bisa mengantuk lalu tertidur agar sepinya itu berlalu.


_


__ADS_2