Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Kembali


__ADS_3

Pagi ini Delia terbangun dengan perasaan yang kurang nyaman, bagaimana tidak, ia bahkan tidak bisa memejamkan mata sejak semalam. Meski ia mencoba untuk berpikiran positif tetap saja rasa khawatir nya lebih mendominasi.


Semalam pun ia sama sekali belum mendapat kabar dari Misha Bunda atau pun Om Dika.


Delia memijat keningnya, Ia merasa sedikit pening karena kurangnya tidur.


Delia melirik ponsel yang ia letakkan begitu saja di atas meja rias. Ia bergegas mengambil benda pipih itu lalu mulai menghubungi rumah keluarga Om Dika.


Tut... tur... tur...


Delia bersyukur sebab telfon rumah tersambung.


" Halo ada yang bisa di bantu? '


Delia bersyukur akhirnya panggilannya terjawabkan.


" Halo Bi, ini Delia... Om Dika ada? dari kemarin aku coba telfon tapi tidak ada yang angkat'" tanya Delia langsung ke intinya


" Pak Dika Bunda dan Nak Misha kan dirumah sakit Neng'


'apa,, di rumah sakit? kapan Bi? siapa yang sakit? " seketika Delia merasa panik


" Kemarin Neng Misha demam, sebenarnya sudah dia hari, tapi baru kemarin Bunda dan Pak Dika membawa Neng Misha kerumah sakit"


" Ya Allah,, kok nggak ada yang kasi kabar ke Delia Bi " demi apapun saat ini Delia merasa ingin menangis saja.


" Mungkin tidak ada yang pegang HP Neng, Pak Dika juga beberapa hari di rumah sebab merawat Neng Misha " kata Bibi


" Tapi kenapa baru sekarang ada yang jawab telfon rumah Bi, dari kemarin lalu Delia telfon terus loh " rasanya ongin mengomel tapi tak sanggup


" Selama dua hari Bibi juga libur Neng, ini baru kembali pagi ini " kata Bibi


" Yasudah Bi, Delia mau telfon Om Dika dulu "


" Iya Neng "


Delia menarik nafasnya dalam-dalam. Rupanya ini pertanda perasaan gelisah nya sejak kemarin. Misha sedang sakit dan dia juga ikut resah di buatnya.


Delia mencoba menghubungi Om Dika namun seperti kemarin, nomor yang ia hubungi tersambung tapi tak mendapatkan respon.


Ingin kesal namun tak berdaya, di satu sisi ia sangat khawatir dengan keadaan Misha, di sisi lain pula ia begitu jengkel sebab tak ada satupun yang memberitahu nya tentang hal itu.


" Sebenarnya aku ini di anggap keluarga apa bukan sih,, ada yang sakit kok tidak ada yang kasi kabar "


Karena berulang kali tak mendapatkan respon dari nomor Om Dika, Delia memutuskan untuk mengakhiri saja usahanya. Ia akan mencoba lagi nanti setelah ia mandi dan sarapan.


Tapi sebelum itu. Delia terpikir untuk mengirim pesan terlebih dahulu.


π™Ύπš– π™³πš’πš”πšŠ πš”πš˜πš” 𝚝𝚎𝚐𝚊 πš‹πšŠπš—πšπšŽπš πšœπš’πš‘ πšœπšŠπš–πšŠ π™³πšŽπš•πš’πšŠ,, π™Όπš’πšœπš‘πšŠ πšœπšŠπš”πš’πš πš”πšŽπš—πšŠπš™πšŠ πšπš’πšπšŠπš” πš”πšŠπšœπš’ πš”πšŠπš‹πšŠπš› πšœπš’πš‘?


πš‚πšŽπš‹πšŽπš—πšŠπš›πš—πš’πšŠ πšŠπš”πšž πš’πš—πš’ πšπš’πšŠπš—πšπšπšŠπš™ πš”πšŽπš•πšžπšŠπš›πšπšŠ πšŠπš™πšŠ πš‹πšžπš”πšŠπš— πšœπš’πš‘?


π™°πš”πšž πš‹πšŽπš—πšŠπš›-πš‹πšŽπš—πšŠπš› πš”πš‘πšŠπš πšŠπšπš’πš› πšœπšŠπš–πšŠ π™Όπš’πšœπš‘πšŠ... 😒


Di tempat lain.


Dika sedang berada di rumah, pagi ini ia akan bergantian menjaga Misha sebab semalam Bunda lah yang menjaga Misha di rumah sakit.


Dika sudah terlihat segar karena sehabis mandi, namun lingkaran hitam di mata nya masih bisa terlihat. Hal itu menandakan bahwa meski ia dalam keadaan beristirahat, namun otaknya tetap bekerja, pikirannya masih sibuk memikirkan kesehatan sang gadis kecilnya.


Dika mengecek ponsel nya. Mana tahu ada hal penting dari orang-orang kepercayaan nya di pabrik.

__ADS_1


Namun fokusnya berada pada satu nama pada daftar chat.


Delia menelfon yang entah berapa kali dan beberapa chat dari gadis itu yang belum sempat ia baca.


"Astaga... bagaimana bisa aku lupa mengabari Delia,, pasti sekarang dia khawatir "


Dika mendial nomor Delia melakukan panggilan suara.


Dan satu kali dering ternyata gadis itu sudah menjawab panggilan nya.


" Halo Om, Bagaimana keadaan Misha? Om dimana sekarang? " gadis itu langsung menyerang Dika dengan beberapa pertanyaan yang terdengar begitu panik


" Delia, tenang... Om sekarang masih di rumah, Misha masih di rumah sakit " kata Dika


" Loh, kok Om Dika di rumah? lalu siapa yang menemani Misha di rumah sakit? " Delia terdengar protes


" Ada Bunda, dan sekarang Om mau berangkat ke rumah sakit, Om sama Bunda gantian menjaga Misha "


" Oh, aku pikir Misha sendirian di rumah sakit "


" Yah, mana mungkin lah Delia,, yah sudah Om mau berangkat dulu Yah "


" Eh tunggu dulu Om,, " Delia sedikit menekan suaranya


" Kenapa? " tanya Dika


" Kenapa selama beberapa hari kalian susah di hubungi? Om tau nggak, aku tuh khawatir " kata Misha mengomel


" Yah Maaf Del, awal Misha sakit Om jadi tidak pegang handphone sama sekali, Bunda juga bebgitu apa lagi Misha "


Delia terdiam untuk beberapa saat.


" Jadi bagaimana keadaan Misha Om? " Suara Delia melemah


" Aku pulang yah Om, aku mau ngerawat Misha "


" Nggak usah Del, kan ada Om dan Bunda, di rumah sakit juga ada perawat kok, jadi kamu nggak usah khawatir, nikmati saja saat libur kamu di sana yah " Om Dika membujuk Delia


" Gimana aku mau menikmati Om, sementara di sana Misha lagi sakit " balas Misha kesal


" Iya Om ngerti kok, tapi kan ada Om dan Bunda, nanti Om kabari deh mengenai keadaan Misha, oke? "


" Hem, yaudah deh, tapi Om janji yah, harus kabari aku... Dan tolong vc aku kalau Om sudah tiba di rumah sakit, Aku mau liat keadaan Misha "


" Iya,, Om tutup dulu telfonnya yah " pamit Dika, dan di ujung sana Delia juga mengiyakan.


Beberapa jam kemudian.


Di saat Dika telah selesai menyuapi Misha makan siangnya. Dika segera memberikan obat untuk gadis kecil itu. Selama dua hari di rumah sakit, Misha mengalami perubahan yang pastinya ia sudah bisa makan tanpa harus merasa mual lagi. Kepalanyapun sudah tidak terlalu pening.


" Ayah,, kapan Kakak pulang? " Tiba-tiba saja Misha menanyakan hal itu. Padahal ia sendiri tahu bahwa Delia selama seminggu akan berada di kampung halamannya. Dan mungkin akan kembali dua atau tiga hari lagi.


" Kak Delia akan pulang sayang, nggak lama lagi kok, makanya kamu cepat sembuh yah? " bujuk Dika. Ia tahu bahwa mungkin saat ini putri kecil nya sedang merindukan Delia


" Hem,, Misha udah sehat kok, lihat deh Ayah Misha udah nggak pucat lagi kan? " kata Misha sambil menggoyang kan kepalanya.


" Iya, anak Ayah memang hebat,, sudah sehat dan kembali ceria " puji Dika


Setelah itu Ayah dan anak itu saling bersenda gurau. Bahkan Dika sudah menceritakan beberapa kisah negeri dongeng, dan Misha sangat antusias mendengarkannya. Biasanya Misha setelah makan dan minum obat ia akan tertidur dan akan bangun menjelang sore nanti.


Tapi kali ini ia begitu semangat bermain dengan Ayahnya.

__ADS_1


Saat ia merasa sudah lelah dan merasa ingin tidur, Dika menghentikan cerita dongeng nya.


" Sepertinya anak Ayah ngantuk, yaudah kamu istrahat dulu yah, ceritanya nanti saja " kata Dika


" Tapi Misha penasaran sama ceritanya Yah, akhirnya nanti sang putri akan menikah dengan pangeran yang mana? "


Misha rupanya begitu penasaran hingga memaksakan matanya untuk tetap terbuka.


" Akhirnya Putrinya tertidur karena harus istrahat "


Belum sempat Dika menjawab, seseorang yang membuka pintu ruang rawat langsung bersuara.


Dima dan Misha kompak menoleh ke arah pintu. Disana ada seorang gadis yang sedang tersenyum namun wajahnya terlihat begitu cemas.


" Mama,, eh Kakak Delia " meski sempat keceplosan, Misha tetap bahagia melihat kedatangan Delia yang secara tiba-tiba.


" Misha sayang.... " Delia bergegas menghampiri Misha dan langsung memeluk tubuh mungil itu


" Yeee, Kakak kembali,,, Misha senang banget " kata Misha


" Kakak juga seneng banget Dek, Kakak kangen banget sama kamu " Delia memberikan banyak ciuman di puncak kepala Misha


Dika yang menyaksikan hal itu tidak bisa berkata apa-apa. Memang sempat ia menelfon Delia saat tiba di rumah sakit, Namun gadis itu tak menjawabnua. Malah gadis itu membuat nya terkejut dengan kepulangannya secara mendadak seperti ini.


" Kok kamu sudah kembali? bukan nya dua atau tiga hari lagi? kan Om sudah bilang Misha sudah baikan " kata Dika


" Aku nggak bisa nunggu sampai tiga hari Om, mendengar Misha sakit aku selalu gelisah, lebih baik aku balik kan, liburan juga bisa kapan saja kok " balas Delia


" Lalu, kamu kesini naik apa, sama siapa, kon cepat sampainya? " tanya Dika. Ia heran kenapa Delia bisa tiba secepat ini. padahal jarak antara kotanya dan kota kelahiran Delia lumayan jauh, butuh waktu 12 jam untuk sampai kesana jika menggunakan roda empat.


' Delia naik kereta cepat Om, untung masih kebagian tiket nya. Itu juga berkat teman Kak Ryo yang bantu "


" Jadi kamu kesini sama siapa? " tanya Dika


" Aku sama Kak Ryo Om, tuh dia di depan " Delia menunjuk ke arah pintu dan disana berdiri seorang pria gagah dengan senyum ramahnya.


Dika yang memang baru pertama kali melihat Ryo dengan jelas sesaat terpesona. Untuk sesaat ia menganggap bahwa Ryo sangat menarik perhatian nya.


Delia menyadari tatapan mata Dika ke Ryo begitu berbeda. Hal itu langsung membuatnya refleks untuk segera membuyarkan tatapan memuja Om Dika untuk Ryo. Sebab jika dibiarkan maka akan fatal akibatnya nanti.


' Ehem.... Ryo ayo masuk sini "


Dika lalu mengembalikan sikap acuhnya sebagai seorang pria tulen. Beruntung Delia bisa menyadarkan nya dari rasa ketertarikan kepada pria manis itu.


" Hai Om,, gimana keadaan Misha " sapa Ryo ramah


" Oh, emmm Misha sudah baikan, jika keadaan nya seperti itu terus kemungkinan besok dia sudah bisa pulang " jawab Dika di buat sesantai mungkin, bahkan tidak ada yang tahu bahwa saat ini ia mati-matian menjaga dan menahan segala gejolak terlarang di dalam dadanya.


" Oh, syukurlah "


Kemudian Ryo berkenalan dengan Misha, Ryo memberikan hadiah boneka kucing yang lumayan besar untuk Misha. Dan Misha sangat senang menerimanya.


Dika sendiri tidak akan bisa ber lama-lama berada di ruangan ini. Melihat makhluk tampan di hadapannya akan semakin menyiksa jiwanya.


" Ehem, mumpung ada kalian, Om mau keluar sebentar, jadi tolong temani Misha yah " kata Dika.


Lebih baik ia keluar mencari udara segar yang bisa menetralkan perasaan terlarang nya.


" Iya Om, Misha biar sama aku dan Ryo saja, Om Dika kalau mau pulang istirahat nggak apa-apa kok " kata Delia


Dika hanya mengangguk dan setelah itu pergi dengan segera, tentunya setelah pamit dan memberikan ciuman kepada putri kecil nya.

__ADS_1


-


Kasi semangat dong... minimal komen atau like setelah baca...


__ADS_2