Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Kewajiban


__ADS_3

Dika masih terjaga dalam tidurnya, padahal pagi sudah menyapa bahkan saat ini bisa di bilang ia telat bangun. Bagaimana tidak, semalam ia gelisah di tempat tidur, matanya sama sekali tak bisa di ajak berkompromi, padahal dua perempuan yang beda usia itu sudah tidur sangat lelap dan saling merangkul. Sementara dirinya, ia sibuk memikirkan bagaimana bisa menghabiskan malam indah berasama istrinya. Ingin sekali ia membangunkan Delia untuk berpindah kamar, namun ia takut nanti Misha terbangun dan menangis ketika tak siapapun di sampingnya.


Dan pada akhirnya Dika memilih pasrah, dan menahan gejolak yang sedari tadi ingin ia salurkan. Dika baru tertidur pukul tiga dini hari, dan sekarang ia benar-benar pulas menjelang pagi.


Delia sendiri tak tega membangunkan suaminya. Ia begitu kasihan melihat Dika yang terlelap dalam tidurnya yang damai. Ia sudah beberapa kali masuk ke kamar untuk mengecek apakah suaminya itu sudah bangun atau tidak, namun ternyata suaminya masih sangat lelap di pembaringan. Bahkan putri mereka sudah berangkat ke sekolah sejak lima belas menit yang lalu.


Delia kembali ke meja makan, dimana ada Bunda yang masih sarapan disana.


" Dika belum bangun juga? " tanya Bunda


" Belum Bund,, dia kayaknya nyenyak banget tidurnya " jawab Delia


" Kenapa nggak kamu bangunin ? "


" Nggak lah Bund,, Sepertinya semalam Dika begadang, makanya ketiduran begitu " kata Delia


" Begadang? Begadang sama kamu? " Bunda menyelidik. Padahal ia tahu bahwa semalam tak terjadi apa-apa di antara pengantin baru itu. Sebab Misha ada bersama pasangan itu tadi malam.


" Aku tidur duluan sama Misha Bund " jawab Delia


" Tumben, anak itu tertidur seperti sekrang " Bunda bergumam.


Tak lama setelah itu, Dika datang dengan wajah yang sudah terlihat segar. Jika di lihat dari penampilannya, sepertinya pria itu baru saja selesai mandi.


" Begadang Dik? " tanya Bunda, saat Dika sudah duduk nyaman di kursi kebesaran nya.


" Kok tahu? " Dika bertanya balik


" Jadi berapa ronde? " akhirnya Ibu dan anak itu saling melemparkan pertanyaan


" Apanya yang berapa ronde Bunda? " tanya Dika yang memang tak mengerti


" Lah, bukannya kamu begadang semalam, tentunya terjadi sesuatu kan? " kata Bunda


Akhirnya Dika mengerti, bahwa arah pembicaraan Bunda menjurus ke arah yang lebih dewasa.


" Ck, nggak ada yang terjadi Bunda " kata Dika


" Terus? "


" Misha semalam tidur di kamar Dika Bund, ya kali aku sama Delia mau ngapa-ngapain, bisa-bisa anak aku terkontaminasi dengan hal yang buruk "umar Dika


Delia yang sedari tadi sibuk memberi isi pada roti untuk Dika, dan membuat teh hijau untuk suaminya itu sontak terbatuk. Ia tak menyangka bahwa Ibu dan Anak yang tak lain adalah suami dan mertuanya itu mau membahas hal seperti itu di meja makan.


Dika dengan sigap memberikan segelas air putih kepada istrinya.


" Hati-hati makanya sayang " ucap Dika

__ADS_1


Siapa yang makan, dari tadi aku siapin sarapan buat kamu, tapi obrolan dewasa antara kamu dan Bunda membuatku terbatuk seperti ini.


Tentu kalimat itu hanya Delia ucapkan dalam hati saja.


" Makasih Yah " kata Delia setelah ia meminum setengah air dari gelas itu.


" Oh, jadi semalam gagal nih ceritanya? " Bunda sepertinya sedang mengejek Dika.


Dan Dika memilih tak menjawab, ia hanya berdecak malas, dan setelah itu ia memilih untuk sarapan dengan roti dan teh hijau yang sudah Delia siapkan untuknya.


Malampun tiba.


Delia kembali was-was di dalam kamarnya. Siang tadi Dika sempat berbicara kepadanya bahwa malam ini mereka akan tidur di kamar Delia. Dan Dika berharap semoga tidak ada Misha lagi di antara mereka.


Delia tak memiliki cara apa lagi untuk menghindar dari kewajiban, mengajak Misha tidur bersama lagi? tidak mungkin, bisa-bisa Dika curiga bahwa kemarin malam adalah rencananya.


" Hufttt, tenang Delia, kamu pasti bisa melaksanakan kewajiban kamu sebagai seorang istri " Delia memberi semangat pada dirinya sendiri.


Tak lama Dika datang. Pria itu sudah siap dengan pakaian tidurnya. seperti biasa, celananya kolor di atas lutut dan singlet berwarna putih.


Kali ini, Dika datang sedikit terlambat, ia harus memastikan dulu bahwa semua penghuni di rumah ini sudah tertidur, terutama putri kecilnya. Ia tak mau jika kejadian kemari malam terulang kembali, maka dari itu, tadi Dika sempat mengantar Misha untuk tidur di kamar Bunda .


" Menunggu ku? " tanya Dika, ia berdiri di belakang Delia, sambil membelai lembut rambut istrinya.


" Iya,, apakah Misha sudah tidur? " tanya Delia, lalu ia berbalik, hingga kini ia berhadapan dengan suaminya dengan jarak yang begitu dekat.


Wajah Delia langsung berubah merah padam mendengar jawaban Dika. Bagaimanapun ia tak sepolos itu, ia sangat tahu apa yang akan terjadi nanti.


" Kamu gugup? Apa kamu belum siap Bi? " tanya Dika akhirnya


Delia memberanikan diri untuk menatap kedua manik mata indah yang selalu membuat berdebar itu.


" Hem,, aku sedikit gugup Hon, tapi buka berarti aku tidak siap " kata Delia begitu pelan


" Jangan di paksakan kalau kamu masih ragu Bi, apapun itu aku bisa menunggu " kata Dika


" Aku sudah siap Hon, bahkan jika kamu memulainya sekrang " ujar Delia, kali ini tangan Delia sudah merayap dan meraba dasa bidang Dika.


" Baiklah, jika kamu sudah siap,, aku akan lebih senang melakukan hakku "


Perlahan Dika mendekatkan kepalanya, lalu tanpa aba-aba bibir itu sudah menempel pada bibir Delia. Awalnya ciuman itu lembut dan hangat. Namun, Lama-lama ciuman itu semakin menuntun dan bergairah.


Keduanya tak ingin melepaskan pangutan itu. Hingga mereka tak tahu, sejak kapan mereka sudah berada di atas ranjang dengan Dika yang berada di posisi atas.


Mereka masih menikmati pangutan mesra itu, di ikuti dengan tangan yang ikut sibuk melepaskan pakaian di badan. Hingga mereka tak tahu jika tak ada lagi sehelai benang yang menutupi tubunnya.


Mereka berhenti sejenak, saling menatap,dan mendamba satu sama lain. Saat Dika ingin memulai memasuki daerah inti. Ia tiba-tiba keringat dingin dan gugup, nafasnya terasa berat.

__ADS_1


" Hon, kamu kenapa? " tanya Delia panik


" Aku... aku... " Dika gugup


" Kamu kenapa Hon, kamu baik-baik saja? " tanya Delia semakin panik, ia lalu meraih gelas yang berisi air di atas nakas.


" Minum dulu sayang "


Dika meminum dan menghabiskan air dalam gelas itu.


" Terimakasih sayang " ucap Dika


" Sudah baikan? " tanya Delia, dan Dika mengangguk


" Kita tunda saja dulu,, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa" kata Delia khawatir


Dika meraih tangan Delia dan menciumnya. Bahkan saat ini mereka sudah bertelanjang, tidak mungkin menunda lagi.


" Sayang, aku hanya gugup di awal,, ini pertama kalinya buat aku,, kamu tahu kan kalau aku pernah tidak menyukai wanita. Dokter bilang, jika aku melakukan hubungan intim nanti, maka ada reaksi yang muncul, mungkin karena kondisi psikologis ku yang terlalu kaget menerima semua perbahan ini, makan nya aku tadi sempat sesak dan keringat dingin " jelas Dika.


" Tapi itu tidak berbahaya kan? " tanya Delia


" Tidak sayang,, kita hanya perlu relax melakukannya " ujar Dika.


Delia mengerti, mungkin saat ini ia yang harus lebih membuat Dika nyaman di sisinya.


" Jadi ingin melanjutkan sekrang? " tanya Delia, matanya sudah berbinar menggoda


" Of course " kata Dika


Delia dengan lembut menyentuh setiap inci kulit Dika, ia berusaha memberikan kesan bahwa saat ini pria itu sedang berada di dalam kenyamanan. Dan kali ini Delia yang memulai. Meski sebenarnya ia pun baru pertama kali melakukan hal ini, namun ia cukup dewasa untuk memulai hubungan intim ini.


Delia perlahan membaringkan tubuh Dika, dan ia berada di atasnya.


" Bagaimana sayang, apa kau sesak? " tanya Delia dengan nada sensualnya.


" Ini fantastis sayang,, aku suka " ujar Dika dengan suara parau


Saat mereka kembali melakukan pangutan yang menuntun. Kali ini Dika tak lagi merasa gugup. Bahkan ia sudah mengambil alih permainan itu. Dengan ia yang berada di atas Delia.


" Apa kamu siap? " tanya Dika sebelum ia menyatukan milik nya.


" Hem, aku sudah siap sejak tadi "


Dan malam itu menjadi malam panjang penuh sejarah antara Delia dan Dika. Dua insan yang suci, dan saling melengkapi, melaksanan kewajiban dalam ikatan yang suci.


_

__ADS_1


__ADS_2