Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Keluarga


__ADS_3

Hari itu pun tiba, di mana Misha berdandan layaknya seorang putri yang cantik dengan gaun berwarna pink salem yang indah melekat di tubuh mungilnya. Sebentar lagi ia akan merayakan ulang tahun yang ke-7. Misha sudah duduk manis di ruang tamu. Karena pesta akan digelar di halaman rumah, Misha ingin keluar bersama ayahnya dan Delia, mengingat kedua orang tersebut masih bersiap-siap.


"Sayang, teman-teman kamu sudah datang. Yuk, keluar sama eyang," Bunda datang mengajak Misha agar ia bisa menyambut teman-temannya yang sudah datang.


"Misha, tunggu ayah sama kakak Delia. Mereka itu lama sekali," Misha malah mengomel.


"Kan kamu bisa tunggu mereka di depan, sayang," ujar eyang membujuk.


"Nggak Eyang, aku..."


"Misha, ayah sudah siap. Yuk, kita ke depan," kata ayahnya.


Akhirnya Dika datang dengan setelan kasual yang membuat pria itu semakin tampan dan menawan.


"Wah, ayah tampan," puji Misha.


"Iya dong..." Dika merasa bangga karena putrinya tengah memujinya.


"Tapi kakak Delia belum keluar, Yah," kata Misha.


"Misha, Mama juga sudah siap."


Semua mata dan pandangan mengarah pada suara itu. Dua wanita itu terpesona melihat penampilan Delia yang terlihat sangat berbeda. Dress yang senada dengan warna baju Misha serta rambut yang ia sanggul ke atas, tak lupa kacamata putih yang bertengger di hidung mungilnya, menambah keindahan penampilannya saat ini.


"Kakak."


"Etsss, hari ini tidak ada kakak, tapi mama."


"Eh, lupa. Mama," Misha berlari memeluk Delia.


Bunda yang memang sudah tahu rencana mereka, merasa lebih terharu. Ada secerca harapan dalam hati kecilnya bahwa suatu hari nanti Dika bisa memiliki keluarga kecil seperti yang ia lihat saat ini.


"Kamu cantik sekali, Delia. Bunda sampai tidak mengenali kalau kamu itu Delia," puji Bunda.


"Mama, aku memang cantik, Eyang. Persis seperti Misha."


Semua tertawa, kecuali Dika yang masih sibuk memperhatikan Delia.

__ADS_1


"Dika, kenapa kamu menatap Delia seperti itu," Bunda yang memang memperhatikan putranya yang tidak banyak bicara semenjak Delia keluar dari kamar.


"Eh, tidak apa-apa, apa Bunda," kata Dika.


"Gimana Delia, cantik kan. Sepertinya sangat cocok jadi istri kamu," ucap Bunda yang mendapat pelototan dari Dika.


"Bunda."


"Eh, maksud Bunda, penampilan Delia sudah pantas jadi ibu rumah tangga," Bunda meralat kembali ucapannya.


Delia merasa malu sendiri menjadi bahan perbincangan antara anak dan ibu itu.


"Ayah, mama, yuk keluar. Teman-teman Misha sudah datang," Misha menarik tangan mereka. Dan keduanya pasrah saja.


Acara pun dimulai, tampak raut bahagia dari Misha dan teman-temannya. Acara ulang tahun Misha ini bisa dibilang acara ulang tahun yang paling meriah. Bagaimana tidak, Dika sengaja membuat konsep acara di taman bermain, hingga tidak tanggung-tanggung ayah muda itu rela menyewa jasa penyedia permainan anak-anak.


Saat Delia sibuk mengajak bicara para orang tua dari teman-teman Misha, Dika juga sibuk menemani tamu pria yang kebetulan juga mengantar anak mereka untuk datang di acara ulang tahun Misha ini. Tidak banyak, tapi ada beberapa ayah yang menyempatkan menemani anak-anak mereka ke acara ulang tahun.


"Wah, saya tidak menyangka kalau ternyata Pak Dika punya istri. Soalnya, kita beberapa kali ketemu di sekolah Misha saat rapat orang tua dan beberapa kali bertemu saat mengantar dan menjemput Misha," kata pria yang berbaju biru.


"Saya malah menyangka Pak Dika ini seperti saya, duda," kata pria berbaju kerah berwarna merah.


"Gadis yang baik."


"Pak, Dika."


Dika teralihkan dari rasa kagumnya terhadap Delia.


"Maaf Pak, saya kurang fokus," Dika salah tingkah, karena ketahuan tidak merespons ucapan lawan bicaranya.


"Tidak apa-apa Pak, saya paham. Pasti Pak Dika sangat mencintai istri Bapak, kelihatan kok Pak, dari cara Pak Dika memandang ibu," kata pria berbaju hitam.


"Ah, Bapak bisa saja... tapi memang istri saya adalah wanita yang sangat baik dan istimewa," puji Dika tanpa sadar.


Tiba-tiba Dika mendapat panggilan telepon penting dan harus meninggalkan obrolan.


Di sisi lain, Delia asik bermain bersama anak-anak setelah ia meladeni para ibu-ibu dari teman-teman Misha. Bahkan banyak orang tua yang ikut bermain bersama anak-anak mereka.

__ADS_1


"Mama, Misha senang banget hari ini," kata Misha saat ia memeluk Delia dengan sayang, tanpa beban. Tanpa memikirkan bahwa ia dan Delia hanya berpura-pura menjadi ibu dan anak. Namun, Misha sungguh merasa sangat bahagia.


"Mama, bersyukur karena kamu bahagia, sayang," kata Misha.


'Wah, sepertinya Misha sangat beruntung memiliki ibu seperti anda, jeng,' ujar ibu-ibu yang rupanya mendengar obrolan antara Misha dan Delia.


'Justru, saya yang beruntung memiliki anak seperti Misha, bu,' kata Delia. Entah ia sadar atau tidak, tapi ia sangat tulus mengucapkannya.


"Iya, bu. Kita memang adalah wanita yang beruntung yang memiliki malaikat kecil seperti mereka," ujar ibu yang lain.


Kembali Delia mengobrol asik dengan para ibu-ibu sambil menikmati hidangan spesial yang sudah disediakan oleh tuan rumah.


"Eh, bukan depan anak saya juga ulang tahun. Saya harap mamanya Misha bisa datang," kata ibu berhijab.


"Insya Allah, bu. Kalau tidak sibuk, pasti saya yang akan menemaninya jeng," kata Delia.


Di tengah serunya obrolan mereka, Dika datang menghampiri Delia.


"Sayang."


Delia berbalik, tapi mendadak bingung karena ia hapal suara itu, tapi ia tidak tahu suara itu sedang memanggil siapa.


Dika malah semakin mendekat.


"Sayang," panggilnya sekali lagi.


Delia berbalik menatap Dika dan ia menunjuk dirinya sendiri mencoba mengisyaratkan 'Apakah Dika memanggil dirinya?'


Dika mengangguk.


"I...iya...ada apa," Delia mendadak gugup.


"Ayo, ikut Ayah sebentar, ada hal penting yang ingin saya sampaikan. Maaf Ibu, saya pinjam istri saya sebentar," kata Dika meminta izin.


"Silakan Pak Dika, dipinjam lama juga tidak apa-apa kok. Kan ibu dari Misha hak miliknya Pak Dika," goda ibu yang lain.


Delia merasa tersipu, dan pasrah saja ketika Dika menarik tangannya untuk menjauh dari para ibu-ibu. Delia merasa ada yang aneh. Ia memang berharap bahwa sandiwara keluarga ini akan berjalan lancar, dengan ia sebagai ibu bagi Misha. Namun, ia tidak pernah berpikir bahwa Dika akan sangat totalitas memainkan perannya sebagai suaminya saat ini. Bahkan pria itu tidak sungkan memanggilnya sayang di hadapan semua orang.

__ADS_1


Wah, suatu kemajuan.. apakah om Dika sudah sembuh?


Jangan lupa like dan komen ya, guys...


__ADS_2