Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Menyadari


__ADS_3

Seorang gadis menarik nafas begitu dalam, dari wajahnya ia begitu lelah dan tak bersemangat menjalani aktivitas. Beberapa saat ia kembali kecewa, saat ia berusaha untuk berbicara secara baik-baik dengan sahabatnya yang beberapa hari ini telah mengabaikan nya.


Dan hari ini ia merasa keberuntungan sedang ada padanya sebab ia melihat Dewi akhirnya datang ke kampus. Namun sayang, saat Delia mengahapiri Dewi dengan wajah yang ceria, gadis itu malah berbelok ke arah lain seolah sengaja menghindari dirinya.


" Dewii... Dewi" panggil Delia, namun sang empunya nama tidak menggubris nya dan terus melajukan langkahnya.


" Dewi,, padahal aku ingin bicara serius " gumamnya,, ia sudah ingin menangis, namun ia berusaha menahannya agar orang-orang tak curiga.


" Delia,,, sabar yah, mungkin Dewi masih butuh waktu " ujar Devi.


Kebetulan Dinda dan Devi beru saja tiba di kampus dan mereka melihat bagaimana Delia berusaha mengejar Dewi namun dan Dewi mengabaikannya. Jujur saja Devi dan Dinda merasa sangat kasihan melihat Delia, rasa bersalah di wajah sahabatnya itu begitu nampak. Ingin rasanya Devi dam Dinda membantu, tapi mereka juga tak punya kuasa, sebab Dewi masih terus membatu dan menuruti egonya.


" Kamu oke kan Del? " tanya Dinda


Delia mengangguk lemah


" Yah,, aku nggak apa apa kok " katanya


" Sabar yah Delia,, kita disini ada buat kamu " Devi merangkul Delia dengan sayang, menyalurkan kekuatan agar Delia tak terlalu bersedih


" Iya,, makasih yah... Tapi kalian berdua jangan bersama ku untuk saat ini " kata Delia.


Devi dan Dinda saling pandang, seolah tak mengerti dengan ucapan Delia barusan.


" Kenapa? " tanya Dinda


" Kami juga mau menjauhi kami, seperti Dewi? " saut Devi


" Bukan begitu,, untuk sekarang yang lebih membutuh kan kalian itu Dewi bukan aku,, aku akan selalu baik baik saja,, lagi pula Dewi lebih dulu bersama kalian di banding aku,, jadi aku harap kalian akan selalu menemani Dewi,, kalian benar bahwa Dewi masih butuh waktu untuk bicara denganku,, jadi ada baiknya kalian menemani nya, jangan sampai Dewi salah paham karena kalian lebih memilih bersimpati kepadaku,, itu akan lebih memperburuk keadaan,, aku hanya tidak ingin kehilangan sahabat-sahabatku " jelas Delia, saat ini air matanya sudah lolos dan berhasil membasahi pipi mulusnuya.


" Tapi Del... "


" Sudah,,, aku baik baik saja,, kalau ada apa apa pasti aku akan mengabari kalian,,, yang pasti aku tidak mau kalau sampai Dewi merasa sendirian, itu akan semakin melukai hatinya nanti "


Devi dan Dinda paham, bahkan mereka berdua sangat salut dengan kebaikan dan ketegaran Delia. Mereka berdua merasa beruntung sebab memiliki sahabat sebaik Delia.


Mereka berjanji akan menyatukan Dewi dan Delia lagi bagaimanapun caranya.


*


Sore hari selepas pulang bekerja, Dika sengaja mampir ke sebuah pusat perbelanjaan. Selain ada kebutuhan pribadinya yang ia ingin beli, Ia juga ingin membelikan Misha alat melukis tentunya sesuai dengan permintaan gadis kecilnya yang cantik itu.

__ADS_1


Saat tiba di toko yang menyediakan berbagai kebutuhan untuk tulis menulis dan melukis, Dika tak sengaja melihat sosok wanita yang ia kenal sedang asik memilih sepatu di toko seberang. Dika dapat melihat dengan jelas jika gadis itu sedang sibuk memilih sepatu yang cocok di kakinya.


Dika akhirnya buru-buru memilih perlengkapan melukis yang paling bagus untuk Misha, dan setelah itu ia bergegas ke toko seberang.


Gadis itu sendiri tak menyadari jika sejak lima menit berlalu ia sedang di perhatikan oleh seseorang.


" Warna hitam atau warna tan yah? bagus yang mana sih? " gadis itu bergumam sendiri


" Semuanya cantik,, sebab berada di kaki yang tepat dan indah " ucap Dika.


Dewi yang merasa sangat familiar dengan suara itu, langsung berbalik. Ia merasa terkejut dengan mulut yang sedikit menganga.


" O,, Om Dika " ucap Dewi terbata


Dika tersenyum, lalu duduk di kursi yang disediakan untuk para pengunjung toko.


" Apapun itu, jika kita pantas memilikinya, maka akan terlihat bagus,, tentunya sesuai dengan ukuran juga kan,, apapun warnanya jika ukurannya pas dan merasa cocok serta nyaman, maka itu pantas buat kita " sambung Dika,, seolah ucapannya itu seperti mengandung makna yang sangat serius.


Dewi sendiri belum mengumpulkan semua kesadarannya. Ia bahkan ia merasa seperti semua ini hanya sebuah khayalan belaka.


Bagaimana tidak, Om Dika yang ia tahu adalah seorang pria yang sangat kamu, dingin dan cuek itu, seketika datang dengan tiba-tiba menyapanya.


" Melamun Nona? " Dika mengibaskan tangannya ke hadapan Dewi


Dika hanya tersenyum, sikap gadis ini memang sangat terlihat jelas jika ia memiliki minat terhadapnya.


" Kamu punya waktu,, Om mau mengobrol " kata Om Dika


Dewi membulatkan matanya,, ia begitu sangat sangat sangat terkejut.


" Tentu saja ada Om" jawabnya cepat


" Baiklah,, kita minum kopi di foodcourt saja, bagaimana? " tawar Om Dika


" Okee,, ayo " Dewi mengiyakan dengan semangat.


Setibanya di foodcourt, Dika dan Dewi memesan minuman dan makanan ringan yang sama.


Dewi sedari tadi tersenyum dengan bahagia, ia bahkan merasa bahwa ini seperti mimpi. Dan jika ini memang hanya mimpi,, ia rela tak bangun selamanya. Namun, segala khayalan konyolnya seketika buyar ketika Om Dika mengeluarkan suaranya.


" Kamu pasti sudah tahu kan, tentang rencana pernikahan Delia dan Om? " tanya Om Dika

__ADS_1


Seketika senyum Dewi sirna, rupanya pria yang sejak dulu menarik perhatiannya itu sedang ingin membahas masalah pernikahan nya dan Delia. Ah, seharusnya Dewi sudah tahu sejak tadi.


" Iya,, Delia sudah memberitahu ku Om,, dan selamat yah, " kata Dewi terdengar sangat lemas dan terpaksa


" Hemm,, sayangnya Delia tidak mau " kata Om Dik, pria itu memperhatikan gerak gerik Dewi. Apakah gadis itu akan senang jika ia mengatakan hal itu.


" Apa... Deliat tidak mau,, kenapa? " Dewi kelihatan kaget, jujur saja meski ia tak bisa menerima kabar itu, tapi mendengar bahwa Delia benar-benar menolak pernikahan itu, ia pun terkejut.


" Yah,, dia tidak mau melihat orang lain terluka katanya... Padahal Misha sudah sangat bahagia dengan kabar pernikahan kamu, tapi Delia malah membatalkannya,, Om sih tidak akan memaksa,, tapi Misha sudah menaruh harapan pada Delia, dan Om akan sangat sulit memberi pengertian kepada anak gadis Om itu " jelas Om Dika


Dewi bungkam,, ia tak tahu harus memberi respon seperti apa. Di satu sisi ia begitu sakit sekarang,, di sisi lain dia juga tak ingin membuat ada gadis kecil yang kecewa dan terluka nantinya. Mau bagaimanapun dia juga manusia yang punya hati,, ia juga tak mau jika Delia berkorban hanya untuk dirinya.


" Kamu tahu,, jika Delia membatalkan pernikahan kami, maka sampai kapanpun Om tidak akan menikah,, sebab Om ini tipikal orang yang sangat susah dekat dan percaya dengan orang lain, apa lagi pada wanita " sambung Om Dika lagi.


Dewi keberanian diri untuk menatap manik mata pria tampan dihadapannya. Ia menyelami tatapan itu. Dan ia menemukan bahwa memang tatapan itu tak pernah berbinar ketika sedang menatapnya.


" Om,, apa yang istimewa dari Delia yang tidak aku miliki? kenapa Om tidak tertarik padaku,, padahal aku sudah menunjukkan rasa suka itu sejak pertama kali,, apakah Delia lebih cantik dariku? " tanya z Dewi akhirnya


Dika tertawa tanpa suara. ia merasa begitu konyol dengan pertanyaan gadis di hadapan nya itu.


" Dewi,, jika cantik adalah tolak ukur agar bisa menyukai seseorang, maka dari dulu Om akan membalas perasaanmu,, sebab jujur Om katakan, bahwa di antara sahabat Delia, hanya kamu yang paling cantik,, Om tirak pandai menggoda tapi apa yang Om katakan ini adalah sebuah kejujuran " jelas Om Dika, dan sekali lagi membuat Dewi berbinar senang.


Perkataan Dika yang mengatakan Dewi paling cantik di antara semuanya memang benar. Jika di banding Delia, Dewi adalah perpaduan sempurna yang ada pada wanita. mata hidung dan bibirnya semua sempurna. Bahkan bisa dikatakan bahwa tipikal idaman pria secara fisik mungkin gambarannya adalah Dewi. Namun sayang, Dika sama sekali tak memiliki rasa untuk gadis cantik itu.


" Delia adalah gadis yang malang, tentunya kamu tahu kan dia berasal dari mana? Sejak hadirnya dia dalam hidup Om,, Om merasa punya tanggung jawab padanya. Apa yang ia lakukan selalu Om awasi, meski tanpa ia ketahui,, dan yang membuat Om salut, meski ia adalah gadis yatim piatu, ia tak pernah mengeluh pada Tuhan, bahkan ia menjadi teman yang baik bagi Misha bahkan sering berubah menjadi Mama bagi Misha " sambung Om Dika lagi.


Dewi dapat melihat bagaimana bahagianya Om Dika bercerita tentang Delia. Dan ia baru menyadari bahwa Delia sebenarnya adalah anak yatim piatu.


Memang selama ini Dewi dan yang lainnya tak pernah menanyakan pada Delia tentang orang tuanya. Yang ia tahu hanyalah Delia adalah gadis pindahan dari kota seberang dan sedang tinggal di rumah kerabat yaitu Om Dika.


Dan Delia sendiri tak pernah menceritakan tentang Ayah dan Ibunya. Namun, Delia tetap terlihat baik baik saja.


Haruskan sekarang Dewi merasa sangat menyesal telah mengabaikan Delia selama beberapa hari ini.


" Aku tidak tahu Om kalau Delia ternyata yatim piatu, Selama ini aku pikir dia baik baik saja " Dewi rasanya ingin menangis. Ia bahkan lebih beruntung dari Delia, dan masih kah ia mementingkan diri sendiri?


" Itulah salah satu yang membuat Om sayang sama Delia, sebab ia tak pernah merasa bahwa hidupnya adalah sebuah kesedihan,, mungkin dia sempat merasa terpuruk jika sedang sendiri, tapi di hadapan semua ia akan berusaha baik baik saja, dan yang pasti ia ingin bahwa orang di sekeliling nya bahagia,, termasuk dengan membatalkan pernikahan ini,, karena dia ingin kamu tetap bahagia dan menjadi sahabatnya "


Hati Dewi seakan bergetar mendengar kalimat Om Dika, bagai di tusuk ribuan jarum entah mengapa ia begitu sakit. Bahkan Delia sudah sebaik itu padanya, dan ia memilih mementingkan egonya di banding persahabatan yang sudah ia bangun sebegitu lamanya bersama. Meski Delia hadir dalam hidup nya belakangan, Namun ia menyadari bahwa apa yang dikatakan Om Dika semua benar, Delia adalah orang yang selalu baik kepada siapapun.


Dan sekrang sikapnya yang kekanak-kanakan ini tanpa sengaja melukai hati sahabatnya.

__ADS_1


Dan entah mengapa obrolannya hari ini dengan Om Dika membuatnya sadar bahwa apa yang ia lakukan ini adalah salah. Semua fakta tentang Delia yang di utara kan oleh Om Dika seolah menjadi tamparan yang membuatnya bangun dari egoisnya.


_.


__ADS_2