Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Fakta 2


__ADS_3

𝓣𝓲𝓭𝓪𝓴 𝓶𝓾𝓭𝓪𝓱 𝓫𝓪𝓰𝓲 𝓼𝓮𝓼𝓮𝓸𝓻𝓪𝓷𝓰 𝓾𝓷𝓽𝓾𝓴 𝓼𝓪𝓶𝓹𝓪𝓲 𝓹𝓪𝓭𝓪 𝓽𝓲𝓽𝓲𝓴 𝓭𝓲𝓶𝓪𝓷𝓪 𝓲𝓪 𝓫𝓪𝓷𝓰𝓴𝓲𝓽 𝓼𝓮𝓽𝓮𝓵𝓪𝓱 𝓳𝓪𝓽𝓾𝓱 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓶𝓮𝓶𝓫𝓾𝓪𝓽𝓷𝔂𝓪 𝓼𝓪𝓴𝓲𝓽 𝓭𝓪𝓷 𝓽𝓮𝓻𝓵𝓾𝓴𝓪.


𝓐𝓴𝓾 𝓼𝓾𝓭𝓪𝓱 𝓶𝓮𝓶𝓪𝓴𝓼𝓪 𝓭𝓲𝓻𝓲𝓴𝓾 𝓾𝓷𝓽𝓾𝓴 𝓵𝓾𝓹𝓪 𝓭𝓪 𝓶𝓮𝓷𝓪𝓽𝓪 𝓶𝓪𝓼𝓪 𝓭𝓮𝓹𝓪𝓷, 𝓝𝓪𝓶𝓾𝓷 𝓼𝓮𝓶𝓮𝓼𝓽𝓪 𝓼𝓮𝓵𝓪𝓵𝓾 𝓹𝓾𝓷𝔂𝓪 𝓬𝓪𝓻𝓪 𝓾𝓷𝓽𝓾𝓴 𝓶𝓮𝓶𝓫𝓾𝓪𝓽 𝓴𝓾 𝓲𝓷𝓰𝓪𝓽 𝓪𝓴𝓪𝓷 𝓶𝓪𝓼𝓪𝓵𝓪𝓵𝓾 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓶𝓮𝓶𝓫𝓾𝓪𝓽 𝓫𝓪𝓽𝓲𝓷𝓴𝓾 𝓴𝓮𝓶𝓫𝓪𝓵𝓲 𝓶𝓮𝓻𝓪𝓼𝓪 𝓹𝓮𝓻𝓲𝓱.....


(Wulan'Jadhoo)


Seorang wanita cantik sedang berlari dengan tergesa-gesa, wanita itu dengan segera menghamburkan diri dalam dekapan seorang pria.


Wanita itu terlihat begitu terpukul dalam balutan tangis yang terdengar begitu menyayat hati.


Si pria sendiri tak begitu bereaksi, ia bahkan kebingungan, Dan tak bisa mengerti akan situasi sekarang.


" Maafkan aku... " lirih wanita itu terdengar begitu pilu


Dika masih tak bereaksi apa-apa. Sulit baginya untuk bisa menetralkan perasaannya.


" Maafkan Aku... " sekali lagi wanita itu berucap lirih


Dan akhirnya Dika mampu menguasai separuh akalnya. Ia menggerakkan tangannya untuk menggeser wanita itu dari dekapannya.


" Maaf,, Anda siapa? " tanya Dika.


Wanita itu menunduk, semenit yang lalu ia begitu berani memeluk Dika, namun sekarang wanita itu terlihat ketakutan dan gugup.


" Apakah kita saling mengenal? " Dika sekali lagi bertanya


Bukannya menjawab wanita itu malah semakin menangis, bahkan tangisannya sempat membuat orang-orang berlalu lalang memperhatikan mereka.


Dika menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba saja gatal, ia bingung harus menenangkan wanita yang tidak ia kenal saat ini.


" Nona, maaf Anda ini siapa? mohon jangan seperti ini " Dika sedikit menekan suaranya untuk memohon


Dan perlahan wanita itu mulai berhenti menangis dan sedikit bisa menguasai emosinya.


" Maaf " lirihnya, meski dalam sesegukan


" Oke,, sekarang tenang,, kita bisa duduk untuk bicara " Dika membawa wanita itu untuk suduk, memang mereka saat ini berada di pusat perbelanjaan dan Dika sedang menunggu Delia dan Misha berbelanja.


Dika memandang dengan seksama wanita itu. Dia begitu cantik, rambutnya hitam dan sedikit bergelombang dengan panjang sebahu. Dalam pandangan Dika, wanita ini mendekati kata sempurna untuk di jadikan kekasih, itu untuk ukuran lelaki yang normal, sebab dimata Dika secantik apapun wanita, tidak akan bisa menggetarkan hatinya.


" Bisa tolong jelaskan Anda siapa? " tanya Dika


Perlahan wanita itu memberanikan diri untuk menatap Dika.


" Saya,, Tari " wanita itu menyebut namanya


" Tari? " Dika bergumam, bahkan alisnya sudah bengkok menandakan ia berusaha mengingat orang yang ia kenal dulu.


" Iya,, Saya Tari teman kamu di SMP dulu " Tari mendadak ragu-ragu mengungkapkan siapa dirinya lebih jauh.

__ADS_1


" Tari ! " sekali lagi Dika menyebut nama wanita itu. Ia mencoba mengumpulkan beberapa kepingan ingatan mengenai wanita yang mengaku sebagai teman sekolah nya dulu.


" Dika, apa kamu sungguh tidak mengenalku? " tanya wanita itu pilu


Dika terdiam, ia mulai bisa sedikit mengumpulkan beberapa ingatan tentang Tari.


" Aku Mentari, anak perempuan yang pernah kamu tolong,,,namun aku malah berbuat jahat kepadamu " Tari menunduk, wajahnya merah padam, seolah malu untuk menatap Dika lebih lama.


" Mentari, Kamu... " Air wajah Dika seketika berubah, bahkan ia berkeringat.


perubahan wajahnya yang menunjukkan suasana hatinya yang tidak baik-baik saja, seolah membuktikan bahwa ia sudah mengingat hal hal menyangkut wanita yang bernama Mentari itu.


" Dika,,, Aku.... "


" Ayah,,, " Misha dan Delia datang, dan terpaksa menghentikan ucapan wanita itu.


Dika merasa legah saat kedatangan Misha dan Delia.


" Sudah selesai belanjanya? " tanya Dika


" Sudah, Aku beli banyak bahan makanan, soalnya kita mau buat somay dan batagor kan? " kata Misha begitu riang


" Yasudah,, kalau begitu kita pulang yah... "


Misha mengangguk patuh.


" Sayang ayo kita pulang,,, " kalimat itu Dika tujukan untuk Delia.


Reaksi Delia begitu terkejut saat Dika memanggil sayang kepadanya.


Melihat tidak ada respon dari Delia, Dika malah menyuruh Misha untuk menarik Delia


" Misha, Ayo ajak Mama kamu pulang "


Gadis kecil itu menurut saja, meski ia juga bingung dengan perubahan Ayahnya. Sebab tadi saat pergi, semuanya normal saja, tidak ada drama diantara mereka.


" Mama, Ayo pulang " Misha menarik tangan Delia, dan gadis cantik itu menurut saja.


Bingung? pastinya. Sebab tak ada rencana drama keluarga hari ini. Lagi pula Mereka sama sekali tidak bertemu dengan teman-teman Delia di pusat perbelanjaan tadi, jadi tidak perlu ada drama kan ?


Lalu kepada siapa Om Dika menunjukkan bahwa meraka adalah keluarga ? kepada wanita cantik itu?


Batin Delia bertanya-tanya hingga dalam perjalanan pulang, ia tak mengeluarkan suara sedikit pun.


*


Dika tak bisa tidur, padahal sudah hampir tengah malam. padahal besok ia harus mengunjungi pembangunan pabrik baru yang ada di pinggiran kota. Sejak pertemuannya tadi siang dengan wanita yang bernama Tari seakan membuatnya tak bisa fokus dalam berpikir dan bekerja.


" Kenapa dia harus datang lagi " Dika mendesah lelah, sepertinya ia punya harapan untuk tidak bertemu dengan Tari bahkan seumur hidupnya.

__ADS_1


Karena tak bisa tidur, Dika memutuskan untuk keluar dari kamarnya, ia akan ke taman belakang untuk melihat ikan hias di dalam kolam. Barangkali dengan melihat ikan-ikan itu mampu membuatnya melupakan kejadian tadi siang.


Beberapa saat berlalu, Dika termenung di depan kolam ikan, bahkan segelas coklat panas yang ia buat sebelum duduk di sini pun sudah tak memiliki kepulan asap.


" Om Dika kok belum tidur, ini sudah tengah malam loh? " Tiba-tiba Delia datang. Entah mengapa di saat ia tak bisa tidur, gadis itu selalu saja datang entah secara sengaja atau kebetulan Dika pun tak tahu


" Kamu sendiri kenapa belum tidur, besok kan kamu ada kuliah? " tanya Dika


" Tadi aku kedapur ambil air untuk Misha Om, dan aku liat pintu belakang terbuka jadi aku putuskan untuk mengeceknya " jawab Delia


" Air untuk Misha sudah kamu antar ? " tanya Dika lagi


" Sudah Om "


" Lalu kenapa kamu tidak kembali tidur? "


Delia memilih untuk duduk di kursi tunggal. Sepertinya ia tak mengantuk lagi.


" Om sedang memikirkan sesuatu? " tanya Delia


" Kenapa kamu bisa berpikiran begitu? " Dika balik bertanya


" Hampir dua tahun Delia tinggal di rumah ini Om, aku tahu kebiasaan Om seperti apa, dan jika Om sedang berada di sini di tengah malam seperti ini, berarti Om sedang memikirkan sesuatu? " jelas Delia


Om Dika mengangguk, ia membenarkan ucapan Delia. Gadis itu memang sudah banyak tahu tentang dirinya dan keluarga nya.


" Kamu ingat wanita tadi siang? " tanya Om Dika


Dan tentu saja Delia tahu, bahkan ia juga ingin menanyakan tentang wanita itu kepada Om Dika.


" Ingat, memangnya dia siapa Om? "


" Dia Tari, pernah menjadi teman waktu Om masih duduk di bangku SMP dulu "


" Oh, Delia sempat melihat dia menangis Om, dian kenapa? " tanya Delia


Dika memdesah lagi, rasanya berat membahas wanita bernama Tari itu


" Dia teman Om, tapi dia juga orang yang tidak akan Om temui baik di kehidupan ini ataupun di kehidupan nanti " Dika menunduk, ia tak ingin mengungkit masa kelam puluhan tahun yang lalu, yang membuat dirinya menjadi pria pecundang seperti sekarang.


" Kenapa Om? "


" Delia,,, Tari itu perempuan iblis,, ia juga yang membuat Om trauma dan tidak ingin bersama wanita manapun "


Delia syok, terlebih ketika Om Dika menunduk dan mulai terisak dalam tangis.


" Apa? "


_

__ADS_1


__ADS_2