Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Cemas


__ADS_3

Akhirnya setelah beberapa hari berlibur di kota kelahiran nya Delia memutuskan untuk pulang pagi ini. Meski masih ada tersisa tiga hari lagi masa senggang sebelum ia kembali beraktivitas sebagai seorang mahasiswi. Namun rasa rindunya kepada para sahabat sahabatnya sudah tak tertahan, ia ingin segera bertemu dengan mereka dan melakukan hal hal yang menarik dan menyenangkan. Terkhusus rindu itu ia curahkan kepada Misha dan Bunda, ia ingin segera kembali mendengar bagaimana anak itu meminta dibuatkan makanan kesukaannya. Ia rindu dimana saat ia dan Bunda sedang menyiapkan makanan untuk keluarga. Dan yang paling spesial adalah ia rindu dengan sosok pria yang selalu membuat jantung nya berdebar, ia rindu dengan tatapan hangat itu, ia rindu saat Dika berbuat jahil padanya. Pokoknya ia sedang manahan rindu saat ini.


Ryo pun sama ia juga akan kembali ke kota seberang, untuk melanjutkan aktivitas nya sebagai seorang Mahasiswa. Meski sebenarnya ia masih ingin tinggal beberapa hari. Namun ia tak mau membiarkan Delia untuk kembali seorang diri. Padahal Delia bisa jika memang harus kembali sendirian. Toh, ia akan menggunakan bus atau amgkutan umum antar kota, ia merasa tidak akan merepotkan Ryo. Namun Ryo bersihkuku untuk ikut kembali bersama Delia.


" Ibu kira kalian akan kembali lusa,, ternyata kalian mau balik hari ini, mana mendadak lagi,, Ibu belum sempat buatin apa apa untuk kalian " kata Bu Nani yang mereasa heran kenapa tiba-tiba anak anak nya mendadak ingin kembali.


" Maaf Tante,, sebenarnya tadi cuma Delia yg mau pulang,, Delia baru ingat kalau ada tugas kelompok yang harus saya kerjakan " Delia merasa tak enak lalu ia kepikiran untuk sedikit berbohong agar Bu Nani mau mengerti.


" Hem,, mau bagaimana lagi,, padahal Ibu masih rindu loh sama kalian " ujar Bu Nani tulus


" Kalau libur lagi kami pasti akan pulang Bu " kata Ryo


" Iya,, liburan lagi pasti kami kesini lagi,, atau Tante bisa ke sana untuk menemui kami jika Om dan tante ada waktu senggang " ujar Delia


" Nanti Ibu bicara sama Ayahnya Ryo. Kalau begitu kalian berangkat lah,, jangan tunggu siang,, nanti kemalaman di jalan " kata Bu Nani


Ryo dan Delia pun pamit setelah menicum punggung tangan wanita paruh baya itu.


Di perjalanan mereka saling diam, seperti tidak ada pembahasan yang ingin mereka bahas. Hanya deru mesin mobil dan klakson mobil pengendara lain yang saling bersaut-sautan.


Delia merasa bosan, ia lalu teringat bahwa seharusnya ia mengabari orang orang di rumah bahwa hari ini ia akan pulang.


Delia lalu sibuk mencari nama Dika yg terdatar pada list pesan masuknya.


Hon,, hari ini aku pulang,, sekarang sedang dalam perjalanan... (Terkirim - My Hon Hon)


Begitu isi pesan Delia yang ditujukan pada Dika. Delia tersenyum sendiri saat melihat nama yang baru saja ia ganti di kontaknya, yang dulu nama kontak itu adalah Om Dika, hingga semalam ia memutuskan untuk mengubah nama kontak itu menjadi 'My Hon Hon'. Nama itu baru Delia dapatkan kemarin malam, dan ia rasa panggilan itu cocok untuk Om Dika.


Hingga hanya hitungan detik, pesan yang Delia kirim mendapatkan balasan dari Dika.


Hon?


Hanya satu kata singkat yang Dika kirim, senyum Delia makin melengkung, karena sepertinya Dika tak mengerti apa maksud dari kata itu. Dan pastinya pria itu sudah sangat penasaran.

__ADS_1


Itu panggilan aku ke kamu , Hon....!


 lalu, artinya apa ?


 Seperti nya Dika sedang tidak sibuk, sehingga pria itu bisa dengan cepat membalas chat dari Delia.


Nanti ketika di rumah aku jelaskan...


Delia semakin ingin membuat penasaran Dika, sepertinya hal itu cukup menyenangkan dan mampu mengusir rasa bosan nya.


Oke,, tidak masalah,, terus sekarang kamu sudah dimana? kenapa baru mengabari jika ingin pulang?


Tanya Om Dika di pesannya.


Aku pulang nya mendadak Hon, rasanya aku sudah cukup liburan, aku juga sangat kangen sama Misha


Balas Delia.


Gadis yang sibuk berbalas pesan sambil tersenyum malu malu itu tak luput dari pandangan Ryo. Lelaki muda itu merasakan panas di hatinya sebab ia harus akui bahwa ia sedikit cemburu melihat Delia yang begitu bahagia bersama orang lain. Dan pastinya Ryo tahu jika gadis itu sedang sibuk berbalas pesan dengan Dika yang tak lain adalah calon suami dari Delia.


Delia langsung mengalihkan pandangan nya dari ponselnya dan langsung melirik Ryo di samping nya.


" Eh,, kenapa? "


" Kamu,, makin hari makin bahagia,, " ulang Ryo


Delia tersenyum " Biasa saja " sangkalnya, padahal faktanya ia memang sedang bahagia.


" Melihat kamu yang bahagia begini, sepertinya aku tidak perlu khawatir dengan keadaan kamu nanti " sambung Ryo


" Memangnya kenapa harus khawatir padaku? " tanya Delia


" Aku pikir pernikahan kamu ini terbilang mendadak,, aku takut kamu mengambil keputusan terlalu terburu-buru, sehingga akan membuat kamu menyesal nanti, tapi semakin hari aku perhatikan, sepertinya kamu memang menginginkan pernikahan itu, jadi aku rasa ,, aku saja yang terlalu berlebihan mengkhawatirkan kamu "

__ADS_1


Entah mengapa Delia merasa tak enak mendengar penjelasan Ryo yang begitu panjang lebar. Di satu sisi ia bersyukur sebab Ryo begitu perduli padanya, di satu sisi ia merasa tak enak, sebab dulu ia pun pernah menaruh hati pada lelaki muda itu.


" Emmm,, Kak Ryo tidak perlu khawatir,, InsyaAllah ini adalah pilihan yang tepat buat aku " kata Delia


" Yah,, aku berharap begitu "


Ryo sepertinya sudah pasrah. Kali ini ia harus mengalah dan mundur. Beruntung nya ia sebab Delia tak pernah tahu isi hatinya yang sebenarnya. Sehingga ia tak perlu memperlihatkan sisinya yang begitu sakit sejak kemarin bahkan masih membekas sekarang.


Perjalanan begitu panjang, hingga sore hari Delia dan Ryo masih di perjalanan. Mereka memang tidak terlalu terburu-buru, Ryo memilih untuk mengendarai mobil dengan santai, bahkan mereka menepi di beberapa tempat jika sedang merasa lelah. Hingga perjalanan yang harusnya di tempuh hanya 11 atau 12 jam, menjadi lebih lama.


Tapi, Delia sudah mengabari Dika jika mungkin ia akan sampai lumayan lama dan tidak tepat waktu. Sebab Ryo dan dirinya lebih memilih untuk lebih santai menikmati perjalanan.


Malam pun tiba, Dika terlihat begitu mencemaskan sesuatu. Siapa lagi jika bukan Delia.


Berulang kali Dika melirik jam di pergelangan tangannya. Seharusnya Delia sudah tiba meski Ryo membawa mobil dengan santai, bahkan mereka sudah tiba sejam lalu seharusnya. Bahkan Misha yang ingin menunggu kepulangan calon Mamanya terpaksa tertidur di sofa karena tak tahan kantuk.


Akhirnya Dika memutuskan untuk memindahkan anak itu ke kamarnya.


Kecemasan Dika semakin menjadi jadi, saat nomor Delia tak bisa di hubungi. Begitupun dengan Ryo yang rupanya sama sama tidak bisa di hubungi.


Meski Dika memaksakan untuk berpikir positif, tetap saja hatinya menolak dan merasa was was. Takut sesuatu terjadi kepada mereka terutama Delia..


Dika kembali membuka isi pesan terakhir yang Delia kirim padanya. Ponsel gadis itu aktif sekitar dua jam lalu, dan setelah itu sudah tidak bisa di hubungi.


Dika ingin menyusul, di saat seperti ini ia ingin sekali mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Delia. Namun ia juga kehilangan arah, ia tak tahu dimana Delia sekarang.


Dika semakin merasa bodoh saat ia lupa menyuruh Delia utnuk mengirimkannya lokasi yang Delia lalui, setidaknya itu bisa jadi titik tanda tanda dimana Delia berada.


Ah, kenapa dia rasanya ingin gila. Baru kali ini ia merasa benar-benar takut.


" Sayang,, kamu dimana? Semoga kamu baik baik saja "


Dika terduduk lemas di kursi, pikiran nya saat ini buntu dan hanya di penuhi oleh Delia saja. Saat ini ia benar-benar merasa cemas.

__ADS_1


_


__ADS_2