
Sulit bagi seseorang untuk mengerti keadaan yang sebenarnya. Yang ia tahu berbeda dengan apa yang ia lihat sebenarnya, ingin rasanya ia menggali informasi lebih besar dari rasa penasarannya, namun rasa tidak enak hati juga lebih kuat, lebih tepatnya menjaga perasaan seseorang. Yah, seperti itulah gambaran 💘hp Delia saat ini.
Sudah jam sembilan lewat 26 menit, namun matanya masih belum bisa terpejam. Delia sibuk memikirkan yang ia alami tadi siang.
Sejak Misha dinyatakan sembuh, anak itu langsung meminta ingin berjalan-jalan disebuah taman bermain, dan lebih mengesankan lagi, gadis kecil itu ingin pergi bersama Delia dan juga Ayah Dika. Sehingga mau tak mau, kedua orang dewasa beda usia itu dengan suka rela mengindahkan keinginan sang putri kecil.
Dan yang membuat Delia tak bisa memejamkan mata hingga saat ini adalah, ketika ia mengingat bagaimana perlakuan Om Dika yang rupanya jauh di luar ekspektasi.
Di taman tadi, mereka bertiga tak sengaja bertemu dengan salah satu teman Misha di sekolah, dan teman Misha itu juga datang bersama kedua orang tuanya. Yang, awalnya Misha Delia dan Dika tak berniat melakukan drama keluarga, namun dengan terpaksa ketiganya harus kompak melakukan hal itu.
Beruntung saat itu penampilan Delia tidak seperti gadis pelajar, ia terlihat sedikit dewasa. Jadi siapa saja tidak akan menyangka jika sebenarnya mereka bukan seorang keluarga sungguhan.
Delia pikir saat itu Om Dika akan lebih diam atau lebih memilih menjauh dari pada harus melakukan drama keluarga. Namun faktanya Om Dika seolah tak perduli. Bahkan Om Dika beberapa kali memanggil Delia dengan sebutan Sayang ketika memanggilnya dia hadapan keluarga teman Misha.
Hal yang paling membuat Delia semakin kaget ketika, keluarga teman Misha meminta mereka untuk makan siang bersama.
" Kalau saya ikut saja apa istri saya, iya kan Sayang? "
Kata-kata Om Dika itu masih saja terngiang-ngiang di telinganya, bahkan sentuhan Om Dika di pinggangnya tadi siang saat mereka hendak kesebuah restoran dimana Om Dika dengan sigap menggandeng tangan Misha dan di sisi lainnya ia merangkul pinggang Delia.
Dimana, Delia merasa bahwa Om Dika telah melakukan drama kelurga yang sangat totalitas saat itu.
Karena masih tak juga bisa memejamkan mata, Delia memutuskan untuk keluar dari kamar. Dipikirannya, mungkin ia butuh segelas susu hangat untuk membuatnya kenyang dan setelah itu ia kan merasa mengantuk.
Di dapur, ternyata Bunda juga sedang mengisi tekonya untuk dibawa ke kamar.
" Bunda belum tidur? " tanya Delia
" Ini mau tidur, tapi teko Bunda kosong jadi keluar dulu buat isi " jawab Bunda
Delia ber Oh, dan langsung melakukan yang ada di otaknya, yaitu membuat susu hangat.
" Kamu sendiri kenapa belum tidur? " tanya Bunda
" Delia nggak bisa tidur Bund, makannya Delia kesini buat susu " jawab Delia
" Ada yang kamu pikirkan? " tanya Bunda lagi
Delia berbalik, ia menatap Bunda, harus kah ia mengutarakan apa yang ia rasa saat ini, bukan saat ini, tapi perasaan sejak lama, perasaan yang membuatnya bertanya-tanya, tentang kenyataan dari Om Dika.
__ADS_1
" Bunda,, emmm Bunda udah mau tidur belum? " Delia balik bertanya
" Kalau Bunda ke kamar, pasti Bunda tidur, tapi Bunda belum ngantuk sih " kata Bunda
Delia memilih untuk duduk di meja makan, dan meletakkan segelas susu yang masih mengeluarkan asap tipis.
" Ada yang mau Delia omongin Bunda, itu juga kalau nggak ganggu waktu istrahat Bunda " kata Delia
Bunda ikut duduk bersama Delia
" Ngomong apa,, Bunda juga ada waktu kok "
" Tapi, tolong Bunda jangan tersinggung atau marah yah " Delia merasa tak enak hati
" Iya,, memangnya ada apa sih Del? " Bunda terlihat penasaran
" Emmm,, ini mengenai Om Dika Bund" kata Delia
" Dika? kenapa sama anak Bunda? "
" Seperti yang Delia tahu, Om Dika itu kan tidak suka perempuan Bund, tapi kok selama ini aku nggak yakin kalau Om Dika itu belok? soalnya, aku nggak pernah sekalipun liat Om Dika keluar dengan cowok, atau mencerminkan gelagat aneh " Delia mengutarakan isi kepalanya
Bunda menarik nafas dalam-dalam
" Percayalah Delia, bahwa Dika itu sebenarnya pria tulen, hanya saja .... " Bunda mulai menagis
Delia mengenggam tangan Bunda
" Bunda,, apa ada yang terjadi sama Om Dika dulu? " tebak Delia
Bunda mengangguk lesu.
Bahkan wanita tua itu tak ingin mengulang atauatau mengingat kembali momen menyedihkan itu.
" Bunda sungguh tidak menyangka, jika kejadian itu mampu merubah masa depan Dika "
Mau tak mau Bunda harus terpaksa mengupas kembali kisah kelam beberapa tahun silam.
Tepatnya saat usia Dika delapan tahun, saat itu Dika duduk di bangku sekolah Dasar (SD). Awalnya Dika adalah anak yang sangat periang baik, dan mudah bergaul, Dika kecil mempunyai banyak teman.
__ADS_1
Hingga suatu hari semuanya berubah, Dika bertemu dengan beberapa gadis-gadis kecil di sekolahnya. Gadis-gadis itu adalah Kakak kelas Dika, mereka adalah anak-anak yang terbilang bandel dan tak mendapat dukungan materi dari orang tua. Gadis-gadis itu tahu jika Dika adalah anak orang yang cukup mampu, sehingga gadis-gadis itu selalu saja mengganggu Dika, bahkan mereka sering mengambil uang jajan d
Dika dengan paksa.
Untuk awal-awal Dika masih tak memberi tahu orang tuanya, sebab ia pikir kakak kelasnya itu hanya menganggu nya sekali saja, Namun ternyata Dika salah, hampir setiap hari Dika di ganggu dan uang jajannya juga di rampas.
Dika saat itu tak bisa melawan, sebab ada 4 anak gadis dan dua di antaranya lebih besar dari Dika. Dan jika Dika melawan, maka Dika akan di tindas bahkan akan di pukuli.
Hingga pada suatu ketika, Dika lupa membawa uang jajan kesekolah, Dan anak anak gadis itu datang kembali menganggu Dika.
Dika bukan anak yang penakut, saat itu ia menjelaskan dengan baik jika sedang lupa membawa uang jajan, jadi tidak ada yang bisa ia berikan kepada anak-anak gadis itu.
Namun naas, Anak-anak gadis itu tak Terima dengan alasan Dika, hingga mereka dengan kejam menyeret Dika ke toilet dan mungunci Dika di sana, namun sebelum itu mereka terlebih dahulu memandikan Dika, membuka baju dan celananya dan tanpa rasa kasihan meninggalkan Dika di dalam toilet.
Beruntung ada bujang sekolah yang bertugas memeriksa lingkungan sekolah, hingga Dika bisa di temukan di dalam toilet meski dalam keadaan menggigil.
Bujang sekolah itu lalu dengan sigap membawa Dika pulang ke rumahnya.
Bunda menghapus jejak basah di wajahnya. Rasanya sungguh sesak jika harus mengulang kisah pilu putranya dimasa kecilnya.
" Saat itu, Bunda baru tahu jika ternyata Dika mengalami kekerasan mental di sekolah, Dika juga tidak pernah menceritakan kejadian itu. Dika benar-benar menanggungnya sendiri " kata Bunda
" Lalu, apa yang Bunda lalukan? Apakah Bunda menghukum para pelaku kecil itu? " Delia merasa geram dengan kejadian masala lalu yang menimpa Dika
" Seharusnya Bunda menghukum mereka, Tapi Ayah Dika menolak, Sebab Ayah Dika cenderung tak ingin memperpanjang masalah Dan Almarhum Ayah Dika memilih meninggal kan kota itu dan kami pun pindah kesini "
" Lalu bagaimana dengan Om Dika Bund? apakah dia tak keberatan jika pelakunya tidak diberikan sanksi? " tanya Delia
" Sayangnya, Dika dan Ayahnya mempunyai sifat yang sama, Dika juga tidak ingin memperpanjang masalah, Bunda ingat betul saat Bunda ingin mendatangi anak-anak nakal itu, Dika menahan Bunda dan berkata ' Jangan mencari masalah Bunda, mereka itu bahaya, mereka seperti monster perempuan' Bahkan Dika masih merasa takut saat itu " Bunda kembali mengingat bagaimana wajah takut Dika kecil di masa lalu.
" Jadi, kota ini bukan tempat kelahiran Om Dika? " tanya Delia
" Iya, kami berasal dari kota kelahiran kamu Delia " Sebuah fakta baru yang baru saja Delia ketahui, bahwa keluarga Om Dika berasal dari kota yang sama dengannya.
" Jadi, selama ini Bunda meninggal kan kota kelahrian hanya untuk menjauh dari masa lalu buruk Om Dika? "
Bunda mengangguk lesu
" Harapan kami, agar Dika bisa melupakan kejadian buruk itu. kami pikir Dika bisa bergaul dengan baik lagi, tapi sayang ternyata Dika hanya mau berteman dengan anak laki-laki saja, jika ia bertemu dengan anak perempuan, Dika akan lari ketakutan "
__ADS_1
Delia tak henti-hentinya mengelus dadanya yang bergemuruh hebat. Ada rasa marah, sedih dan kecewa bercampur jadi satu.
Ya Allah,, sungguh tragis masa kecil mu Om Dika...