Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Menikmati


__ADS_3

Delia pulang dengan hati yang gembira, bahkan saat ia memasuki rumah, gadis cantik itu bersenandung riang seolah baru saja mendapatkan mainan baru.


Misha yang baru saja keluar dari kamarnya dengan membawa beberapa boneka untuk ia ajak main di ruang tengah mendadak bingung melihat kedatangan calon Mamanya yang tak seperti hari kemarin.


Misha merasa bahwa saat ini mungkin baik baginya untuk mengajak sang calon Mama bermain seperti biasanya. Namun, belum sempat ia bicara Delia sudah menghampirinya dan memberikan ciuman di kepalanya.


" Hai gadis kecilku yang cantik,, mau main bonek yah? " tanya Delia


Misha mengangguk dengan maata berbinar


" Oke,, kamu main duluan yah,, Mama mau mandi dulu, setelah itu baru Mama temenin kamu, Oke! "


Setelah mendapat anggukan dari Misha, Delia pun memasuki kamarnya dengan senandung Na na na,, yang tak lepas dari bibirnya.


Tak lama setelah itu, Delia benar-benar menepati janji nya untuk menemani Misha bermain boneka. Misha pun merasa sangat bahagia sebab Delia sudah kembali ceria seperti dulu.


Tapi Misha tak tahan ingin mengetahui kenapa beberapa hari kemarin calon mamanya itu sangat tak bersemangat. Setidaknya Misha tahu apa yang membuat calon mamanya sedih dan apa yang bisa membuatnya juga bahagia.


" Kemari Mama kenapa? Kok kelihata tidak bersemangat? Misha sampai kepikiran " ujar nya kemudian.


Delia tak langsung menjawab, hatinya mendadak tak enak, ia baru saja menyadari jika sikap nya yang kemari telah membuat anak sekecil Misha kepikiran, seharus nya ia lebih bisa berpikir dewasa kan? Dan tidak seharusnya masalahnya dengan Dewi ia bawa ke rumah sampai mengabaikan Misha.


Delia tersenyum kecil ia mengusap rambut panjang gadis kecil itu.


" Maafkan Mama yang sayan,, kemarin memang Mama ada sedikit masalah di kampus, dan tidak sempat meluangkan waktu untuk kamu, Mama sangat menyesal " ujar Delia


" Tidak apa apa Ma,, Misha mengerti kok, Ayah dan Eyang juga sudah bilang kalau Mama sedang sibuk kuliah, makanya tidak bisa di ganggu dulu " kata Misha, anak itu rupanya pintar sekali, ia cepat sekali mengerti di usianya yang masih sangat muda itu.


" Uuhhh, pintar nya anak Ayah Dika " kata Delia gemas sambil mencubit hidung anak gadis itu.


" Eyang kemana? " tanya Delia


" Tadi pagi Eyang pulang ke rumahnya, katanya Eyang mau menghadiri acara pengajian tetangga,, tadi nya Misha mau ikut Eyang, tapi karena besok Misha ada ulangan harian, nggak jadi deh " kata Misha sedih


" Hem,,, lain kali yah sayang " balas Delia dan di balas anggukan oleh Misha


" Ayah kol belum pulang? ini kan sudah waktunya " Delia bergumam, sebenarnya ia tak bertanya tapi Misha bisa mendengar nya dengan jelas.


" Memang nya Mama nggak tahu kalau Ayah sedang pergi keluar kota tadi siang? " tanya Misha

__ADS_1


" Hah,, Ayah keluar kota? " Delia memastikan


Misha mengangguk mantap


" Kok Mama nggak di kasi tahu? " tanya Delia lagi


" Mungkin Ayah nggak mau ganggu kesibukan Mamah" tebak Misha


Delia jadi kepikiran, biasanya Om Dika akan mengabari nya jika ingin keluar kota, waktu dulu pun sebelum dekat seperti sekarang, Om Dika akan selalu berpesan kepadanya agara selalu menjaga diri dan juga Misha. Tapi kenapa hari ini Om Dika sama sekali tidak mengabari nya? Apakah pria itu marah karena Delia mengabaikannya juga selama beberapa hari kemarin?


Tak lama setelah itu seseorang datang. Delia dan Misha saling pandang, mereka tak mengenalk suara yang memberi salam di balik pintu itu.


" Mungkin Om kurir Mah " tebak Mihsa


" Memangnya Misha habis belanja online? " tanya Delia dan Misha menggeleng


" Mamah juga nggak ngerasa punya paket,, Emm lebih baik di cek saja siapa tahu orang penting "


Delia bangkit dari duduknya, dari pada menduga-duga lebih baik ia memastikan sendiri. Misha tak ingin di tinggal, ia juga menyusul di belakang Delia.


Delia melihat dengan seksama dia orang tamu wanita yang mengenakan hijab itu. Delia sama sekali tak mengenalinya, mungkin dia wanita itu peminta sumbangan, pikirinya.


" Maaf cari siapa yah?"tanya Delia akhirnya


" Apakah benar ini rumah Pak Dika Ariawan? kami ingin bertemu dengan Ibu Delia " tanya salah satu wanita itu.


" Oh iya benar, ini rumah Pak Dika, dan saya sendiri adalah Delia, ada perlu apa yah? Eh,, silahkan masuk, maaf "


Delia membuka pintu dengan lebar dan menpersilahkan dua wanita itu masuk dan duduk di ruang tamu.


" Kedatangan kami kesini untuk menunjukkan ini kepada Bu Delia, Pak Dika menyuruh kami untuk memperlihatkan ini kepada Bu Delia " salah satu wanita itu memberika sebuah tablet yang di dalamnya sudah terdapat foto foto yang menarik, seperti sebuah foto acara pernikahan atau lainnya.


Delia memicingkan matanya, untuk apa Dika menyuruh orang untuk memperlihatkan hal ini kepadanya?


" Ini apa yah? " tanya Delia


" Kami dari Weding Organizer, Pak Dika sudah memesan beberapa konsep acara pernikahan, dan beliau meminta kami untuk menunjukkan konsep itu, barangkali ada yang Ibu sukai " ujar wanita berkerudung biru yang di ketahui bernama Santi yang terdapat di papan nama wanita itu


" Wedding Organizer, Konsep pernikahan? " Delia bergumam,, ia bingung sendiri, apakah ini adalah konsep acara pernikahan nya,, tapi kenapa Om Dika tidak memberitahukan tentang hal ini kepadanya?

__ADS_1


" Emm,, begini sebenarnya saya sendiri bingung untuk memilih,, bisa perlihatkan contoh contoh apa saja yang sudah di pilih oleh Pak Dika? " tanya Delia , meski dalam kebingungan ia tetap saja menghargai kedatangan dua wanita itu.


Wanita yang bernama Santi kemudian memperlihatkan beberapa pilihan Dika sebelumnya, lima pilihan konsep Dua diantara konsep Outdoor denga nunsa serba putih dan satunya lagi dengan nuansa pelangi. Serta tiga konsep indoor dengan tema berbeda dan lebih mewah.


Delia takjub jika ini adalah konsep pernikahannya. Namun ia harus memastikan dulu kepada Dika untuk siapa konsep pernikahan ini.


Akhirnya Delia memilih dua konsep pernikahan yang akan ia bicarakan nanti dengan Om Dika ketika pria itu sudah tiba nanti. Satu konsep Outdoor dan satunya lagi dengan konsep Indoor.


Malampun tiba.


Delia sejak tadi menunggu kepulangan Om Dika, ia mendapat info dari Bunda bahwa Dika tidak akan menginap dan mungkin akan pulang meski akan tiba larut malam.


Saat Delia sudah menidurkan Misha di kamarnya, ia memutuskan untuk menunggu kepulangan Om Dika di ruang tengah sambil menonton TV saja.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11.45, Delia sudah merasakan kantuk yang luar biasa, berapa kali ia menguap dan mengucek matanya yang terasa begitu berat, namun ia memaksakan diri untuk tetap terjaga. Namun karena tak dapat ditahan lagi, akhirnya tanpa sadar Delia tertidur dalam posisi duduk dengan kepala yang bersandar pada pembatas kursi sofa.


Hingga beberapa menit berlalux akhirnya Dika pulang, ia masuk ke rumah dan mendapati TV yang masih dalam keadaan menyala. Ia melirik seseorang yang tertidur lelap di kursi sofa. Awalnya ia ingin membangunkannya, namun karena melihat wajah Delia begitu damai dalam tidur, ia jadi tak tega.


Akhirnya Dika memilih untuk menatap wajah cantik itu. Pandangan Dika tersapu pada semua sisi wajah Delia yang begitu menarik. Ia baru menyadari, ternyata ada wanita yanga bisa membuatnya sadar bahwa jatuh cinta itu sangat indah.


Meski Dika menyadari bahwa yang membuat dia tertarik pada gadis belia itu adalah kepribadian yang baik, dan sekarang ia menyadari bahwa rupa yang gadis itu miliki adalah bonus yang patut Dika syukuri. Dalam arti Tuhan telah menghadirkan sosok wanita dalam bentuk sempurna di matanya.


Rasanya tak afdol jika hanya menatap saja, Entah apa yang menarik pikiran kotor Dika saat ini. Ia seperti tersengat aliran listrik saat matanya terfokus pada bibir mungil berwana merah jambu itu. Seperti buah ceri yang begitu terlihat segar, Dika tak tahan jika tak mencobanya.


Dan akhirnya Dika memberanikan diri untuk mencicipi manisnya bibir ceri yang sedari tadi menggoda nya. Sekali hanya kecupan biasa, dua kalinya Dika membenamkan bibirnya untuk beberapa detik lalu menariknya kembali. Dan karena belum puas, Dika mencoba untuk ketiga kalinya, dan kali ini ia lebih berani untuk merasakan sensasi yang lebih lama.


Delia merasa terganggu, terutama ia begitu sulit bernafas, seolah ada sesuatu yang menghalangi udara untuk masuk ke hidungnya. Dengan mengumpulkan sedikit kesadaran, Delia membuka matanya yang begitu berat.


Ia bisa merasakan bahwa ada seseorang dihadapan nya. Meski samarsamar, namun Delia bisa mengetahui bahwa yang ada di hadapannya saat ini adalah Dika,Ia mengenal bagaimana wangi tubuh pria itu.


" Om Dika " gumamnya dalam setengah kesadaranmya.


Dika menatap Delia yang belum sadar sepenuhnya nya. Gadis itu seperti nya sangat berat untuk membuka mata.


" Aku merindukan mu gadis kecil "


Meski dalam keadaan ingin tertidur, Delia masih bisa mendengar perkataan Dika, ia lalu merangkul kan kedua tangan nya di leher Dika, dan dengan mata terpejam, Delia mendekatkan wajahnya dan kembali mengulang apa yang dilakukan Dika padanya.


Tentunya Dika tak melewatkan kesempatan ini, Ia bahkan semakin memperdalam ciuman itu. Dan Delia entah sadar atau tidak, ia ikut larut dan menikmatinya.

__ADS_1


_


__ADS_2