
Hari hari berlalu, seperti biasa para Mahasiswa KKN akan selalu di sibukkan dengan program kerja yang akan mereka kenalkan kepada masayarakat setempat. Program kerja yang paling penting adalah tentang listrik yang harus ada di desa itu. Dengan adanya listrik, setidaknya warga desa tidak perlu menunggu malam untuk bisa menonton televisi. Anak-anak desa akan menikmati hari libur di pagi dan siang hari dengan menonton hiburan di televisi. Para orang tua terutama yang bapak-bapak akan bisa lebih mengetahui tentang berita yang terjadi di luar desa mereka. Meski mereka menolak jaringan internet yang masuk, namun setidaknya mereka bisa mengetahui perkembangan dunia luar melalui jendela dunia yaitu TV.
" Susah banget meyakinkan warga desa mengenai betapa pentingnya jaringan internet, padahal desa ini akan lebih maju pesat jika saja mereka menerima jaringan internet masuk " keluh Bimo, dia adalah ketua anggota KKN
" Yah, mau bagaimana lagi,, susah mengubah sudut pandang org, apa. lagi orang tua " balas Dewi
" Beruntung mereka masih mau menerima listrik masuk ke desa mereka " ini komentar Delia
Saat ini mereka sedang menyusun laporan dan rencana-rencana apa saja yang mereka lakukan nanti, program kerja mereka di terima dengan baik oleh warga setempat dan saat nya mulai menyusun apa-apa saja yang harus mereka lakukan dan butuhkan, termasuk membuat laporan ke pemerintah daerah setempat tentunya di bantu oleh kepala desa dan staf nya.
Disaat sibuknya mereka Bambang yang entah dari mana bersama yang lain tiba-tiba duduk di samping Delia. Delia yang merasa terkejut karena Bambang langsung mepet ke samping nya membuatnya sedikit risih.
" Nggak usah modus Deh Bang,, tuh tempat duduk masih banyak " ini Dona yang datang bersama bambang dari fakultas yang sama.
" Iya,, keliatan banget pula modusnya " Tarjo ikut menanggapi
" Panas gini enak nya cari yang adem adem, contohnya duduk di samping gadis cantik nan ayu,, uhh adem rasanya hati ini " ujar Bambang yang mengeluarkan jurus gombalan mautnya. Semua gadis-gadis yang ada disana memberi respon ingin muntah.
" Uhhhh,, basi basi,, awas Del dia raja nya biaya rawa " ujar Dona
" Abang udah insap Neng, semenjak kenal sama Neng Delia " kata Bambang, pria itu memang terkenal jago merayu dan membuat baper para wanita di Fakultas nya, Dona salah satu target nya, namun Dona tak pernah mengindahkan. Bambang ini memang tipikal yang asik, sering melawak jadi wajar jika teman temannya sering menyebutnya buaya rawa, sebab yang di pepet Bambang selalu gadis gadis cantik.
" Delia jangan di pepet Bang,, dia udah punya pawang alias calon suami " Dewi akhirnya ikut berkomentar. Dan ucapannya itu sontak membuat semua yang ada di sana melihat ke arah Delia yang nampak biasa saja.
__ADS_1
" Bener Del? " Bambang yang paling pertama ingin mengetahui kebenarannya.
" Serius Delia udah punya calon? " Dona ikut bertanya
" Heemm,,, seribu rius malah " Dewi yang menjawab
" Hoax ah " Bambang masih tak percaya
Dewi memutar bola matanya malas.
" Yaudah kalau nggak percaya, cuma aku kasi tau aja,, mending dari sekarang anda mundur alon alon, lagipun meski Delia belum punya calon dia juga nggak bakalan melirik kamu, , jadi lebih baik lupakan perasaan anda " Dewi menjelaskan dengan panjang lebar, bahkan ia tak perduli jika semua melihat ke arahnya,, terlihat jelas sekali bahwa saat ini Dewi begitu menjaga Delia dari pria pria jelalatan.
" Bener Del? " Bambang masih ingin meyakinkan hatinya bahwa apa yang di katakan Dewi itu tidak benar, pasalnya ia sudah begitu tertarik pada Delia.
Pupus sudah harapan bambang untuk menjadikan Delia kekasih setelah pulang dari KKN ini. Padahal dia sudah berusaha sebaik mungkin ketika dihadapan Delia.
Selain Bambang ternyata ada sepasang mata yang menatap Delia dengan tatapan sendu, meski ia tak berbicara sejak tadi dan terlihat fokus pada kerjaannya, namun percayalah seseorang itu sejak tadi menelinga obrolan teman-temannya.
Dia adalah Bimo sang ketua regu dalam KKN ini. Entah sejak kapan, namun Bimo selalu diam-diam memperhatikan Delia, maka dari itu dalam program kerja ini, ia selalu melibatkan Delia dan Dewi dalam banyak hal, termasuk iseng iseng sekedar meminta pendapat Delia hanya agar bisa dekat dengan gadis itu. Bahkan ia berencan akan menjadikan Delia pacar jika gadis itu meresponnya dengan baik, dan menjadikan Desa ini sebagai saksi terjalinnya kisah cintanya dan Delia nanti.
Tapi sekali lagi ia harus merasa perih dan kalah sebelum berjuang, rupanya gadis incarannya sudah ada yang memiliki, dan parahnya bukan lagi pacar, tapi seorang calo suami. Rupanya beberapa saat Dewi kembali menjelaskan tentang status Delia yang sudah melakukan rangkaian acara pelamaran bulan lalu dan acara pertunangan. Dan sekali lagi sahabat Delia itu menegaskan bahwa Delia memang tidak bisa di ganggu gugat.
" Selamat yah Del,, kira -kira kapan acara pernikahan nya? " tanya Bimo terdengar sedikit pelan, ia berusaha memaksakan senyuman meski terasa getir
__ADS_1
" Belum pasti kapan Bim,, tapi rencananya setelah KKN ini selesai sih " jawab Delia
" Wah,, enak yah Delia masih muda sudah ada yang lamar,, nah aku masih di gantungin aja kayak handuk basah " keluh Agnes gadis melayu berasal dari fakultas sama dengan Delia.
" Sama aku aja Mala,, aku udah siap jadi imam kamu " Ini Tarjo yang langsung menyodorkan diri, membuat semua yang ada di sana bersorak.
" Uuuu,,, belajar dulu nyari duit halal Jo " Bambang berkomentar.
Dan semua candaan para Mahasiswa KKN saat itu mengalir begitu saja.
Delia yang memang tidak terlalu banyak komentar atau menanggapi memilih menjadi pendengar setia, kadang juga bicara jika hanya di tanya saja. Namun Dewi, sahabatnya itu beda, gadis itu lebih senang ikut bersuara dan kadang ikut mengolok-olok Bambang jika pria itu sedang mengeluarkan jurus gombalannya pada anak gadis lainnya.
Delia sesaat menatap Bimo, ia sadar bahwa sedari tadi pria itu memperhatikannya. Namun saat mata mereka saling beradu, Delia memilih tersenyum kecil lalu membuang pandangannya ke arah Dewi dan ia sengaja mengajak sahabatnya itu berbicara.
Di saat seperti ini mungkin seseorang akan sulit untuk setia jika dihadapakan pada jarak sejauh ini. di tambah lagi tidak adanya akses komunikasi, sehingga membuat hubungan seseorang akan renggang.
Jarak ini begitu menyiksa bagi Delia, jika boleh jujur, ia ingin rasanya pulang untuk menemui Dika sebentar saja. Namun apalah Daya, jaraka ini telalu jauh bahkan sangat jauh untuk di kikis, sehingga Delia hanya mampu pasrah saja sampai tiba giliran dirinya untuk kembali berbelanja di pasar. Sebab hanya di pasar besar itu Delia bisa mendapat jaringan seluler.
Harapan Delia hanya satu,, semoga Dika tidak di pertemuan dengan wanita seperti Tari.
Seperti dirinya yang selalu menjaga hati disini, Delia juga manaruh harapan itu kepada Dika, semoga saja calon suaminya itu mampu menjaga hati, sampai jarak terkikis sendiri oleh waktu.
_
__ADS_1