
" Oh,, jadi Om Dika sedang berada di luar kota, pantas saja selama tiga hari ini kalau kamu keluar atau nongkrong sama kita, Om Dika nggak pernah nelfon lagi dan menyuruh kamu agar cepat pulang,, ternyata pawangnya nggak ada hihi "
Devi berkomentar panjang setelah Delia menjawab pertanyaan nya tadi, mengenai di mana calon suaminya, tumben pria itu tidak meneror Delia dengan berbagai pesan dan panggilan telepon. Maklumlah, selama memutuskan dan menetapkan rencana pernikahan, Dika sekarang lebih intens dan secara Terang-terangan menunjukkan kepemilikan nya terhadap Delia, bukan hanya di depan orang lain atau pria yang mencoba mendekati Delia seperti Ryo misalnya. Dika juga menunjukkan itu di hadapan para sahabat Delia.
Terkadanga Delia merasa bahwa Dika sekarang berubah posesif, namun terkadang pria itu memberikan kebebasan kepada Delia dalam bergaul. Dika juga tak pernah mempermasalahkan dengan siapa Delia berteman, laki-laki atau perempuan calon suaminya itu tak pernah mempermasalahkan nya. Bagi Dika cukup Delia sadar diri dan tahu membatasi Diri, ia tak perlu memberikan pengekangan yang pasti ia percaya bahwa Delia bisa menjaga hati dan perasaan nya.
" Iya,, biasanya baru nongkrong sebentar sudah di chat, di telfon " Dinda ikut menimpali dan membenarkan ucapan Devi
" Itu namanya cinta,, artinya Om Dika itu tulus sayang banget sama Delia, yah nggak Del"
Dewi menyikut lengan Delia, dari tadi sahabatnya itu sedang asik menikmati burger spesial miliknya. Sehingga ia hanya sedikit menganggukkan kepala atau bergumam untuk merespon ucapan para sahabat nya.
" Dih,, yang di sayang banget ternyata lebih sayang sama burger nya,, dari tadi itu aja yang di tatap " kata Devi, sebab Delia memang sangat menikmati makanan di hadapannya. Meski mereka sebenarnya tahu, jika sedang makan Delia memang lebih fokus ke makanan untuk meneliti berbagai rasanya, itu adalah cara bagaimana ia menghargai dan menikmati makanan, dan dengan fokus memakan sesuatu, Delia bisa belajar secara otodidak tentang bahan-bahan apa saja dan bumbu apa saja yang ada dalam makanan itu. Yah, maklumlah, Delia punya jiwa koki yang sangat besar.
" Kalian coba makan deh burger nya,, enak tau,, dari rasa roti dan daging ayamnya kayak beda dari biasanya " kata Delia. Gadis itu lebih tertarik membahas makanan dari pada Om Dika.
Karena ketiganya penasaran, mereka lalu memakan burger bagian mereka dengan serius. Padahal mereka tadi sudah mengigitnya tapi tidak terlalu memperhatikan soal rasa. Burger itu mereka pesan lewat aplikasi online, dan toko kue yang menyediakan burger itu baru perdana buka pagi tadi, maka dari itu mereka ingin mencobanya.
Dan ternyata susuai dengan apa yang dikatakan Delia, burger itu memang lebih beda dari yang mereka malam biasanya.
Mereka lalu meninggal kan obrolan tentang Om Dika, mereka lebih tertarik mencari tahu dan sibuk menerka-nerka, kira kira bahan dan bumbu apa saja yang ada dalam isian ayam burger itu, cara membuatnya menggunakan metode apa, sebab mereka penasaran ingin membuatnya.
__ADS_1
Di tempat lain. Dika terlihat begitu sibuk memantau perkembangan pabrik barunya. Seharian ia di sibukkan bertemu beberapa kepala kontraktor untuk memastikan sudah berapa persen pembangunan yang sudah berlangsung. Dika legah sebab semua berjalan sesuai rencana dan bisa di pastikan awal tahun baru yang akan datang pabrik itu sudah bisa di resmikan.
Besar harapan Dika untuk menyelesaikan dan meresmikan pabrik minuman kemasan itu setelah ia dan Delia menikah. Ia sudah bertekad bahwa pabrik itu nantinya adalah hadiah untuk Delia. Maka dari itu ia membuat pabrik itu di tanah kelahiran Delia.
Seharian penuh ia berkutat dengan pekerjaan, samapai ia lupa mengabari sang calon istri. Dika berdecak kesal sendiri pada dirinya. Tiga hari ini ia terlalu sibuk dengan pekerjaan nya hingga komnunikasinya dengan sang calon istri beberapa hari ini tidak terlalu insentif.
Dika selalu merasa bersalah, sebab selalu lupa memeriksa ponselnya. Ia akan memegang benda pipih itu di malam hari jika ia sudah tak bekerja lagi, dan perasaan semakin bersalah itu semakin besar sebab Delia selalu mengabarinya lewat Chat dari pagi hingga petang, namun ia tak menggubris satu pun pesan itu.
Saat pulang ke rumah, Dika ingin sekali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan merenggangkan semua otot-otot nya yang seharian terasa kamu karena bekerja. Dika tak lagi memikirkan untuk hal lain bahkan sekedar mengabari Delia. Dalam benaknya hanyalah ingin tidur pulas sepanjang malam.
Namun, niat itu terurungkan kala ia tak sengaja melihat ponselnya bergetar di atas meja. Dan saat itulah ia baru menyadari bahwa hari ini ia belum mengabari orang orang di rumah khususnya Delia.
Dika memijat keningnya yang terasa pening. Lagi-lagi ia merasa tak enak sebab mengabaikan orang yang selalu mengabarinya.
Dika segera meraih ponsel itu, dan menemukan puluhan chat yang masuk dan beberapa panggilan. Dan salah satu pengirim chat dan panggilan yang tak sempat ia jawab adalah dari Misha dan Delia.
Sesibuk apapun dirimu jangan lupa untuk memberi sedikit kabar terutama untuk Misha,, disaat tertentu mungkin kamu bisa melupakan semua orang lain tak terkecualipun aku,, tapi aku tidak bisa melihat jika pengabaianmu itu berimbas pada Misha,, dia masih kecil, dia tidak mengerti dengan orang dewasa, jadi sisihkan waktu mu sedikit untuk Misha.
Banyak pesan dari Delia, namun hanya satu pesan itu yang Dika fokuskan, sepertinya Delia saat ini sedang marah kepadanya sebab Dika memang mengabaikannya.
Dika kemudian memutuskan untuk melakukan panggilan vidio, namun sayang Delia tak menjawabnya, sekali dua kali dan ketiga kalinya ia mencoba melakukan panggilan ulang namun tetap saja Delia tak menjawabnya. Dika menyerngit terheran, padahal kontak Delia dalam keadaan aktif dan sedang online. Lalu kenapa Delia malah mengabaikan panggilan nya. Dika makin merasa was-was sebab ini baru pertama kali Delia terlihat sangat kesal kepadanya.
__ADS_1
Apakah kamu sudah tidur Bi? bagaimana keadaan Misha? Aku benar-benar minta maaf, disini waktuku tersita dengan banyak pekerjaan sehingga aku lupa untuk mengabari kalian... Maaf kan aku Bi. .
Dika mengirimkan pesan itu untuk Delia, berharap gadis itu bisa membacanya dan kemudian membalasnya. setelah beberapa saat Dika menatap chatnya yang akhir nya di baca juga oleh Delia. Namun yang terjadi setelah Dika menunggu untuk beberapa menit ternyata pesannya itu hanya di baca saja. Sepertinya Delia enggan untuk membalasnya.
Sesekali terdengar erangan kesal yang keluar begitu saja dari mulut Dika. Ia tak mau kalau sampai Delia marah padanya. Dan ia bingung harus melakukan apa. Pasalnya ia tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita selama hidupnya, dan ini pertama kalinya ia dengan Delia, itupun setelah proses dan penyembuhan yang ia lakukan dalam waktu yang sangat lama. Dan jujur saja ia bingung bagaimana jika harus membujuk wanita yang sedang marah.
Demia Tuhan saat ini Dika merasa frustasi, sebab tadi setelah pesannya tak berbalas kan, ia beberapa kali melakukan panggilan telfon dan Vidio, namun hasilnya tetap sama, Delia tak menjawabnya. Padahal info kontak Delia masih dalam keadaan online. Dika sudah memastikan bahwa saat ini calon istrinya itu sedang marah.
Dika memikirkan apa apa saja yang harus ia lakukan untuk meminta maaf pada Delia, ia harus membujuk gadisnya itu dengan apa? Dan jujur isi kepalanya saat ini sedang buntu. Yang ada didalam otaknya saat ini adalah bayangan Delia yang sedang memasang wajar yang garang. Dan entah mengapa Dika seketika bergidik ngeri membayangkan nya.
" Aku pernah dengar dari pria pria lain yang jika kekasihnya sedang marah, maka hal yang paling mengerikan adalah ketika wanita itu sedang diam,, lalu apakah saat ini Delia benar benar marah? Ya Tuhan,, apa yang harus aku lakukan "
Dika berbicara pada dirinya sendiri . Andai saja jaraknya hanya sekitar satu atau dua jam dari rumah, maka ia akan kmbali malam ini juga. Namun ia tak mau ambil resiko dengan keadaan lelah dan harus memaksakan berkendara di malam seperti ini. Bisa bisa sesuatu hal yang buruk terjadi padanya.
Sayang,,, Maaf kan aku...
Hanya itu pesan terakhir yang Dika kirimkan untuk Delia, dan ia menunggu bebeapa saat berharap pesan itu akan di baca oleh Delia, dan syukur-syukur jika di balas. Namun setelah lima belas menit berlalu pesan yang ia kirim masih dalam centang abu abu,sepertinya Delia tidak aktif untuk saat ini. Mungkin ia sudah tidur, karena memang waktu sidah menunjukkan pukul sebelas malam.
Akhirnya dengan hati nelangsa, Dika berbaring ia memilih untuk tidur saja, berharap jika ia bangun besok pagi Delia akan mengabarinya.
_
__ADS_1