
Cinta itu memang unik, manusia tidak akan pernah tahu kepada siapa hatinya tertambat. Kepada siapa ia akan menentukan pilihan. Seperti halnya pria yang selalu meyakini bahwa dirinya akan bertahan sendiri seumur hidup. Namun siapa yang sangka, bahwa cinta membawanya pada sebuah hati yang memang mungkin di takdirkan untuknya. Hati yang menyambutnya dengan terbuka meski tanpa sadar entah sejak kapan.
Dika Ariawan adalah pria dewasa yang cukup umur untuk menikah, ia pernah percaya bahwa ia tak pernah punya sedikit pun hasrat kepada wanita. Bahkan ia pernah menerima bahwa dirinya adalah seorang homo, namun ia menegaskan bahwa perilaku menyimpang itu tidak mesti ia lakukan. Beruntungnya ia adalah pria yang bermoral meski tak merasa normal. Sifatnya yang tetap teguh memegang norma asusila dan sosialnya patut di acungi jempol. Meski ia terkadang mengagumi seorang pria tampan disekeliling nya, namun tak sekalipun dia ingin mencoba menjalin hubungan dengan sesama pria.
Lalu hari ini, ia mengakui dengan bangga bahwa dirinya bukanlah seorang gay, dia adalah seorang pria yang sedang jatuh cinta kepada seorang gadis belia. Gadis yang dulu nya ia anggap sebagai tanggung jawabnya, dan ia tidak pernah berpikir akan bisa memiliki rasa spesial terhadap gadis itu.
Dika berjalan menyusuri jalan dengan gagahnya. Jika dulu ia begitu enggan berbaur dan begitu tertutup dengan dunia luar, maka sekarang berbeda, ia menikmati segala hal yang ada di dunia ini. Perasaan canggung nya terhadap wanita sudah lenyap sejak ia memutuskan untuk sembuh dari rasa trauma. Dan anggaplah ia terlahir kembali dengan hati, jiwa, kehidupan serta harapan yang baru.
Pertemuannya dengan Dewi kemarin yang tanpa di sengaja itu membuat Dika semakin bersemangat. Ia yakin bahwa Dewi adalah gadis yang baik, dan gadis itu pasti sedang memikirkan semua ucapannya. Dika tak akan memaksa, namun Dika tahu bahwa Dewi bukanlah gadis yang egois, Dewi pasti akan mementingkan persahabatan nya di banding rasa sukanya terhadap Dika.
" Ayah,, kok dari tadi senyum sendiri? ada apa sih? " tanya Misha penasaran.
Saat ini Dika sedang menemani Misha melukis di taman kompleks, gadis kecil itu yang meminta ingin melukis pemandangan disana, dan Dika dengan senang hati menemaninya.
" Ah, Ayah sedang senang saja,, memang nya tidak boleh? " jawab Dika
" Boleh aja sih,, tapi Misha merasa Ayah beda " kata gadis kecil itu yang masih sibuk mencampurkan warna yang ia ingin gunakan untuk melukis.
" Bedanya apa coba? " tanya Dika
" Yah,, beda saja Ayah,, Ayah kan jarang sekali tersenyum jika di luar rumah " ujar Misha, ia sudah tahu betul bagaimana Ayahnya, maka dari itu jika ada yang berbeda dari Ayahnya itu, maka ia akan segera bertanya langsung.
" Hemmm,, kamu memang Anak Ayah " balas Dika yang mengacak rambut anak gadisnya dengan gemas.
" Ih, Ayah rambut aku jadi berantakan nih " omel Misha, namun Dika menanggapinya dengan kekehan geli. Memang jika memiliki anak perempuan itu sangat menyenangkan. pikirnya.
" Ayah,, Emmm Mama kok akhir-akhir ini juga beda yah? " kata Misha, rupanya anak gadis itu juga sangat memperhatikan Kakak yang sebentar lagi jadi Mama nya itu.
Dika tersenyum lembut, Ia paham jika Misha adalah yang paling dengan dengan Delia, mungkin saat ini gadis kecil itu merasa kehilangan sosok ceria Delia, sebab sudah beberapa hari ini Delia sering menyendiri.
" Mama sedang banyak tugas kuliah sayang,, jadi kita harus memaklumi, dan Ayah yakin jika Mama kamu sudah menyelesaikan tugas kuliahnya, maka Mama akan kembali bermain bersama kamu,, jadi kamu yang sabar yah... " jelas Dika.
Beruntung Misha adalah gadis yang sangat penurut, sehingga tidak susah untuk membuat nya mengerti.
Di tempat lain. Delia sudah bergegas ingin pulang, hari ini begitu melelahkan sebab kuliahnya dari pagi hingga sore hari.
Delia juga tak sempat berbicara banyak dengan para sahabatnya. Dan masih seperti kemarin Dewi masih mengabaikannya, meskipun Delia sudah berusaha menyapanya lebih dulu.
__ADS_1
Tapi, sebuah keajaiban terjadi. Saat Delia ingin menaiki motornya dan sudah memakai helm. Dewi berlari dan sambil memanggil namanya.
Delia pikir itu hanyalah halusinasi nya saja. Namun ketika Dewi sudah berada tepat di hadapannya Delia merasa bahwa ini adalah sebuah keberuntungan.
" Dewi,,, kamu kok lari-lari? " tanya Delia
Dewi berusaha mengatur nafasnya
" Hufttttt,,, kamu ada waktu? aku mau ngomong " ujar Dewi dengan nafas yang masih tersenggal
" Tentu saja ada,, kita mau ngomong dimana? " tanya Delia, dia sudah melepas helm nya.
" Disana saja" tunjuk Dewi pada bangku kayu yang berada tepat di halaman parkir kampus.
Delia dan Dewi berjalan bersama menuju bangku tadi. Dan setelah mereka duduk saling berdampingan, satu pun tak ada yang mengeluarkan suara untuk beberapa detik. Hingga tercipta keheningan di antara mereka.
" Emmmmm,,, Del "
" Dewi "
" Maafin aku yah Del, karena terlalu egois " ujar Dewi akhirnya
" Justru aku yang meminta maaf pada mu Wi, meski tanpa sengaja, aku sudah menyakiti perasaan kamu " kata Delia.
Dewi tersenyum tulus. Ia mengenggam tangan sahabatnya itu.
" Delia, aku sadar bahwa perasaan itu tak bisa di paksakan,, bahkan jika bukan kamu yang akan menjadi istri Om Dika, pasti ada wanita lain yang bisa membuatnya jatuh cinta,, Perasaanku pada Om Dika hanya sepihak, dan Om Dika sudah menaruh batasan yang sangat tinggi sebelum aku terlampau jauh,, yang artinya seberapa keras aku berusaha membuat Om Dika untuk tertarik padaku, tetap saja pada akhirnya aku akan di tolak, sebab pada dasarnya Om Dika memang tidak pernah menaruh minat padaku " jelas Dewi, meski terdengar begitu tenang, namun percayalah Dewi sedang berusaha menahan rasa perih di hatinya.
Tapi sekali lagi Dewi berusaha untuk bersikap dewasa dalam menerima segala kenyataan hidup. Bahwa apa yang kita inginkan belum tentu akan kita dapatkan.
" Kamu beruntung Delia, bisa dipilih dan di cintai Om Dika dengan cara yang tak terduga,,, dan mungkin kamu memang gadis yang tepat yang di pilih oleh Tuhan untuk menemani Om Dika sampai tua " lanjut Dewi lagi
" Bahkan pernikahan itu masih rencana Dewi,, semua masih bisa berubah, dan aku harap kamu mau berusaha lebih keras lagi,, sungguh aku tidak sedang ingin berkorban,, tapi aku ingin kamu memperjuangkan perasaan kamu,, mungkin saja suatu hari, Om Dika mau membuka hatinya untuk mu " kata Delia, ia sudah memikirkan ini sebelumnya, bahwa ia akan mendukung Dewi untuk berjuang mendapatkan hati Om Dika.
" Lalu bagaimana perasaanmu,, apakah kamu tidak memiliki perasaan sedikit pun pada Om Dika? " tanya Dewi, ia sedikit ragu dengan pernyataan Delia. Ia yakin jika Delia pasti memiliki rasa terhadap Om Dika, yah meski tidak sebesar perasaan nya barangkali.
Delia tertunduk, di beri pertanyaan seperti itu mendadak membuatnya bisu. Entah mengapa jika menyangkut perasaannya ia jadi tak memiliki jawaban.
__ADS_1
" Delia,, aku sudah menyerah dan ikhlas dengan perasaan ku,, dan kamu jangan memikirkan itu lagi,, kamu bisa melanjutkan rencana pernikahan itu,, maka aku akan menjadi orang yang paling sibuk nantinya " ujar Dewi, gadis itu sekarang lebih ceria. Seolah ia benar-benar sudah melepaskan segala perasaan dan egonya kemarin.
" Dewi,,, Aku minta maaf " Delia tak bisa lagi berkata-kata, kali ini air matanya berhasil lolos dan menganak sungai di pipinya .
Dewi dan Delia saling berpelukan. Saat ini mereka saling memaafkan dan saling menerima takdir. Dan tidak ada yang paling indah di dunia ini selain ikhlas menjalin persahabatan.
" Tolong jangan menolak Om Dika Delia,, aku yakin kamu tidak akan menemukan pria yang sama di kemudian hari " ujar Dewi setelah mereka sudah saling melepas pelukan.
" Iya aku tahu,, dan mungkin aku akan mempertimbangkan nya lagi " kata Delia
" Tidak usah ada pertimbangan lagi Del, memangnya kamu mau jika ada wanita gila seperti Tari itu? "Dewi mulai menggoda
Delia bergidik ngeri membayangkan bagaimana dulu ada wanita yang begitu agresif mendekati Om Dika.
" Ish,,, amit amit deh,, jangan lagi ada wanita seperti itu di sekitar Om Dika "
Dewi tertawa melihat reaksi Delia yang bergidik ngeri.
" Atau kamu mau, wanita waras seperti aku yang mendekati Om Dika? " Dewi mengedipkan matanya, rasanya ia begitu suka menggoda sahabatnya itu
" Dewi... "
" Makanya, jangan sok sok an menolak, Om Dika itu banyak yang incar, jadi saranku sebaiknya kalian secepatnya jadi halal biar kamu bisa menjaga Om Dika dari wanita wanita gila seperti Tari, atau wanita waras seperti ku, hahahahah " Dewi tertawa, memang rasanya menyenangkan menggoda sahabatnya itu.
" Baiklah,,, baiklah... Besok akan ku ajak Om Dika ke KUA sekalian " balas Delia yang membuat Dewi semakin tertawa.
Delia sangat bahagia, akhirnya ia bisa melihat keceriaan Dewi yang seperti dulu lagi. Beberapa hari tak bertegur sapa membuat Delia seolah tak punya semangat.
Tapi sore ini, seolah semua sudah kembali normal, keajaiban berpihak pada Delia. Dewi akhirnya kembali seperti dulu dan lebih memilih untuk mengikhlaskan perasaannya.
Sebenarnya, bukan itu yang membuat Delia legah, Dia sangat merindukan Dewi yang ceria, dan sekrang rindunya terobati dengan hadirnya kembali Dewi di sisinya.
" Dewi,, aku sayang banget sama kamu "
" Aku juga sayang sama kamu Delia.. "
_
__ADS_1