Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )

Dari Kakak Menjadi Mama ( Om Dik )
Curiga


__ADS_3

Delia berinisiatif untuk membawakan secangkir kopi susu dan cake buatan Dewi ke ruangan kerja Om Dika. Sudah pukul 10 malam pria itu tak juga keluar dari ruang kerjanya, biasanya jika Om Dika sudah berlama-lama di ruangan itu, maka bisa dipastikan saat ini Om Dika sedang mengerjakan proyek besar dan cukup serius.


Tok,,tok,,tok,,..


Delia mengetuk pintu ruang kerja Om Dika, dan gadis itu baru akan masuk ketika ia sudah mendapat izin dari sang empunya ruangan.


" Kamu belum tidur Del ? " tanya Am Dika


" Setelah antar ini, baru Delia akan tidur bersama Misha,, dan ini kopi susu untuk Om dan kue buatan Dewi tadi, aku taruh di sini yah Om " kata Delia


" Oh, terimakasih Delia " ucap Dika tulus


" Emmm, Om aku ada yang mau di sampaikan sama Om " kata Delia ragu


" Apa itu? "


Delia bingung harus bicara bagaimana, sungguh apa yang ia ingin sampaikan pada Om Dika, menurut nya sangatlah tak penting. Ini tentang Dewi, gadis bar bar itu memohon kepada Delia tadi sore, agar supaya Delia mau menyampaikan salam dan perasaan khusus gadis itu ke Om Dika.


" Sebenarnya ini nggak penting sih Om,, tapi aku sudah janji sama orangnya kalau pesan ini harus aku sampaikan malam ini juga "


Om Dika melepas kaca mata putihnya, ia sepertinya tertarik dengan apa yang akan disampaikan Delia nanti.


" Kamu duduk dulu Del, Om punya banyak waktu kok untuk mendengarkan nya "


Delia Duduk di kursi sofa yang ada di ruangan itu.


" Om mau mendengarkan meski itu nggak penting ? " tanya Delia memastikan


" Iya,, mungkin menurut kamu itu nggak penting, tapi ada pesan orang lain kan yang ingin kamu sampai kan ?" jawab Om Dik.


Inilah yang membuat Delia memberi nilai plus pada pria seperti Om Dika, pembawaan nya yang tenang, dan ia selalu perduli dengan hal sekecil apapun.


" Emmm,, ini tentang Dewi Om,, teman Delia yang tadi sore itu " kata Delia


" Oh, ada apa dengan teman kamu itu ?"


" Dia titip salam sama Om " jawab Delia terlihat begitu ragu dan takut


Dika tertawa kecil. Sudah ia duga, gadis itu memang punya maksud padanya. Di awal pertemuan mereka, Dika sudah merasa bahwa gadis itu memiliki rasa ketertarikan padanya, dan seperti biasa Dika akan mengabaikan hal yang seperti itu.


" Gimana Om ? " tanya Delia, jujur ia bingung tepatnya ia menunggu respon Om Dika, meski ia sendiri tahu jika Om Dika sudah pasti tidak merespon hal semacam itu.


" Apanya yang gimana Del ? " tanya Om Dika


" Yah,, tentang salam dari Dewi,, minimal kan aku harus menyampaikan respon dan jawaban Om Dika ke dia nanti " jawab Delia


Dika kembali tertawa, kali ini tawanya lebih pecah. Terkadang Delia memang sepolos itu.

__ADS_1


" Yaudah, kamu bilang aja ke Dewi, Om makasih karena sudah suka sama Om, dan salam balik aja " kata Dika


" Cuma itu doang Om,, nggak ada pesan yang lain,, Dewi cantik loh Om " Delia mulai memancing, berharap hali ini Om Dika bisa menerima kehadiran wanita lain.


" Nggak ah Del, dia masih kecil " kata Om Dika spontan, tentu itu hanya alasan saja


" Oh, jadi kalau Dewi udah dewasa, berarti Om Dika mau ? " tanya Delia


" Delia ! " Dika sudah memberi ultimatum, bahwa pembahasan kali ini sudah cukup sampai di sini.


" Hehehe,, Emm mak_ "


" Maa,, Misha ngantuk nih, tidur yuk "


ucapan Delia terhenti saat Misha tiba-tiba datang dengan muka yang sudah tidak bisa dikondisikan.


" Eh,, yaudah kita bobo yuk Sha "


Delia pamit kepada Om Dika untuk kembali ke kamar dan tidur bersama Misha. Gadis itu seperti nya tidak menyadari jika Misha tadi sudah salah menyebut panggilan untuk nya.


Tapi tidak untuk Dika, telinga Dika mampu mendengar dengan jelas setiap kata yang di ucapkan Putri kecil nya tadi.


" Mama? kenapa Misha sering kali manggil Delia dengan sebutan Mama? "


*


Dika bangun kesiangan kali ini. Ia tak sadar sudah berada di ruang kerjanya sampai jam dua dini hari. Sebenarnya, pekerjaan nya sudah selesai saat Delia meninggal kan ruangan nya sejam setelah itu. Namun entah mengapa ia dengan berlama-lama di sana sambil memikirkan sesuatu.


" Tumben kamu kesiangan Dik, Nggak kerja ? " tanya Bunda yang sibuk menyiapkan sarapan untuk putra satu-satunya


" Tiba-tiba kepala aku pening Bund, kayaknya hari ini aku nggak kerja dulu deh " keluh Dika


" Yaudah, kamu sarapan dulu habis itu istirahat, kamu sih kerjanya terlalu di paksa " kata Bunda


" Anak-anak mana Bund ? " tanya Dika di sela makannya


" Sudah berangkat, Delia yang antar Misha ke sekolah paket motor " jawab Bunda


" Loh, kok naik motor Bund ? memang Pak Sudir kemana ? " tanya Dika, tidak biasanya Misha mau di antar pake motor, karena ia tahu Misha akan takut naik motor


" Ada kok,, cuma ini keinginan Misha, Delia cuma mengikut aja,, lagian Misha sudah tak takut lagi tuh naik motor, sejak ada Delia " kata Buna


Tiba-tiba saja Dika teringat kembali dengan panggilan Misha ke Delia. Entah mengapa anak manjanya itu sudah jarang merengek padanya sejak kedatangan Delia. Misha seperti menemukan sosok Ibu untuk menyalurkan rasa manjanya.


" Bund,, aku pengen ngomong sesuatu "kata Dika serius


" Ngomong aja,, Bunda selalu siap mendengarkan"kata Bunda sambil mengupas kulit apel

__ADS_1


" Ini tentang Delia dan Misha Bund,, kok aku ngerasa anak anak itu aneh"


" Aneh gimana ? "


" Entah lah Bund,, tapi aku liat hubungan mereka beda, melebihi sodara Bund "


" Maksudnya kamu apa sih ? ". Bunda bingung


" Emm, Bunda pernah nggak dengar Misha panggil ' Mama' Ke Delia ? "


Bunda yang yang masih khusyuk mengupas buah tiba-tiba terhenti. Ia jadi memahami dan mengerti arah kemana pembahasan ini.


" Dika nggak tahu sejak kapan, tapi akhir-akhir ini, Misha sering sekali memanggil Delia Mama, dan aku perhatikan interaksi keduanya lebih dekat dari biasanya, bahkan Misha sudah tak mau tidur sendiri Bund, kalau dulu Misha selalu merengek sama aku ingin sesuatu, sekarang udah nggak pernah lagi Bund " Dika melanjutkan ucapannya


" Oh, jadi kamu cemburu nih sama Delia , karena sudah merebut perhatian Misha dari kamu ? " tanya Bunda


" Bukan gitu lah Bund " jawab Dika


" Eh, tapi Bunda juga pernah dengar loh Misha panggil Delia Mama beberapa kali, Bunda pikir salah dengar, tapi setelah kamu cerita, Bunda jadi yakin kalau memang Misha lebih dekat dengan Delia dari pada dengan kamu sekarang" jelas Bunda


" Jadi menurut Bunda gimana ? " tanya Dika


" Gimana apanya? yah bagus dong Dik, Misha bisa merasakan punya Mama " kata Bunda enteng


" Ini nggak baik lah Bund " kata Dika


" Nggak baiknya dimana ? " tanya Bunda


" Yah, aku takut Misha punya harapan lebih ke Delia Bund, lama-lama Misha pasti akan menganggap kalau Delia adalah Mamanya dan ia tak akan mau berpisah dari Delia,, sementara kita kan tahu, Delia itu punya masa depan sendiri "


Dika memberikan penjelasan yang lebih masuk akal. Apapun itu, ia tak mau jika putri kecilnya nanti kecewa, karena punya harapan yang terlalu tinggi.


" Iya juga yah.., tapi kan kamu bisa buat Delia memiliki masa depan di rumah ini, dengan begitu Delia tidak akan. kemana-mana kan ? " kata Bunda


" Maksudnya ? "


Dika bingung dan sulit mengartikan ucapan Bundanya.


" Yah, kamu jadikan Delia sebagai Mama Misha secara sah dong, masa gitu aja nggak tau sih "


jawab Bunda, wanita paruh baya itu tersenyum menggoda anak bujang yang sudah memiliki anak.


" Ah, Bunda jangan ngawur lah "


Dika lebih memilih menghabiskan sarapannya dengan segera, dan berlalu ke kamarnya.


Saran dari Bunda membuatnya tidak ingin keluar kamar rasanya.

__ADS_1


_


jangan lupa like and komen yah.....


__ADS_2