
"Benar-benar sahabat yang baik, Albert memberi sarapan hampir setiap pagi, jadi aku ngga perlu repot deh, kalau begini sangat menyenangkan punya sahabat seperti Albert," gumam Kyira dalam hati.
Dering ponsel Kyira pun bersuara.
drrtt....drrrtt....drrtt...
"Ya Hallo, ini siapa?" ucap Kyira jawabnya datar sambil makan.
"Ini aku Tuan no name, kamu ngga kasih nama yaa no handphone ku di ponsel kamu Nona Ira," ucap Albert yang menyamarkan suaranya.
"Ehm maaf, lupa nggak sempat kamu jangan marah ya, lagian kan ini pertama kali kamu yang menelpon dan berinisiatif," ucap Kyira seperti memohon.
"Yaa sudah, met aktivitas dan semangat ya Nona Ira, saya hanya menyapa saja," ucap Albert sambil menutup panggilan tersebut.
Panggilan pun terputus, satu sama lain merasa keheranan bahwa mereka mengenal satu sama lain, mereka pun mengubrisnya.
"Kok suara tadi kayak mirip siapa ya, ehm tapi nggak mungkin lah gue kenal orangnya, duuh segera ganti nama deh jadi pacar, biar merasa punya pacar heheh," ucap Kyira sambil tersenyum.
Kyira pun siap-siap untuk ke kampus.
Tari dan Veto sudah tinggal satu atap cukup lama. Namun, satu sama lain tidak mengungkapkan perasaan mereka sehingga ketika bersama di meja makan semua terasa biasa saja.
Hingga suatu ketika Veto menyatakan perasaannya kepada Tari.
" Kak, bisakah Veto berbicara sebentar saja dengan kakak, hanya sebentar saja kok Kaka," ucap Veto bertanya dengan wajah memelas.
"Silahkan bicara saja, tapi jangan lama ya, karena saya ada urusan," ucap Tari sambil mengerjakan tugasnya.
"Kak Tari saya sudah cukup lama tinggal disini selama 6 bulan, nah 6 bulan berikutnya saya janji akan pindah rumah, apakah Kak Tari akan mempertahankan aku atau aku menetap disini?" ucap Veto menunggu jawaban.
"Ehm menurutmu yang baik yaa lakukan saja, aku tidak pernah memaksamu tetap stay disini atau nggak kan kamu punya hak tentang hal itu," ucap Tari masih bergelut dengan tugasnya.
"Ehm aku pikir mau nyatain cinta ternyata hal lain, duuh dasar aku ngarap banget, lagian sama bocah juga mana bisa dia inisiatif," gumam Tari dalam hati.
"Kok kayak gitu sih Kak, beneran nggak ngarapin aku lagi yaa untuk tetap disini, jadi terserah aku ya," ucap Veto sambil cemberut.
__ADS_1
"Tunggu sebentar yaa Kakak selesaikan tugas ini bentar lagi, nanti kita bisa lanjut bicara lagi," ucap Tari menyelesaikan tugasnya dan mematikan leptopnya.
"Iyaa aku tunggu, dan aku berharap kakak menahan aku," ucap Veto bicara lirih.
Tari hanya memandang Veto, tanpa tahu yang dibilang Veto dalam lirihny.
Setengah jam kemudian.
"Lah kok ngilang, padahal kan aku bilang sebentar lagi, ehm mungkin dia juga sibuk seperti nya," ucap Tari.
Dering ponsel pun berdering.
"Hallo Kak, aku ada di taman belakang, bisa kah kamu kesini sebentar," ucap Veto dengan suara lembut.
Tari pun menuju ke area tersebut.
Saat dia ke area tersebut betapa terkejut dia, Veto menyatakan perasaanya.
"Apa maksud semuanya ini Veto?" ucap Tari berpikir.
"Emang Veto mau kemana?" ucap Tari mengalihkan pembicaraannya.
"Kak please jangan mengalihkan pembicaraan, kakak terima nggak pernyataan cintaku, lalu jawaban kakak itu apa? jangan menggantung aku gitu dong," ucap Veto berbicara lantang.
Dering ponsel Tari pun berbunyi.
"Ya Hello Ri, baik-baik gue menuju ke kampus ya," ucap Tari langsung berlari dan bilang nanti kita bahas lagi yaa Veto.
Tari pun pergi begitu saja meninggalkan Veto yang masih terbengong.
"Aargh, ternyata Kak Tari tidak menyukaiku, buktinya ketika di telpon oleh temannya dia langsung pergi tanpa tahu perasaan ku sekarang," ucap Veto kesal.
"Maaf Veto, ada hal yang lebih penting harus ku selesaikan," gumam Tari sambil menghidupkan mesin mobilnya dan melaju menuju ke kampus.
Tari pun pergi meninggalkan Veto, yang masih berdiri begitu saja.
"Ternyata, aku emang nggak penting buat Kak Tari, lebih baik aku pergi saja meninggalkan kakak, itu lebih baik lagian kontrak perjanjian rumah ini udah selesai, kakak juga bisa fokus dengan tugas kuliah tanpa gangguan dari aku," gumam Veto cemberut.
__ADS_1
Veto pun membersihkan tempat yang selama ini dijadikan berbagai keluh kesahnya. Bahkan, tempat ini lah yang pertama kali menampungnya di saat terpuruk.
"Kak Tari, aku nggak pernah lupa denganmu. Kebaikanmu tak akan bisa tergantikan, aku lulus jadi selama beberapa bulan kita tidak akan bertemu, karena kakak tidak menjawab jadi hari inilah pertemuan terakhir kita, terima kasih atas semuanya kebaikan kakak, Veto izin pamit semoga kakak sehat dan selalu bahagia," ucap Veto menulis pesan itu di ruangan bagian belakang terpisah dari rumah itu.
Setelah selesai Veto pun bergegas meninggalkan rumah tersebut, dia meletakkan kunci yang biasa mereka letakkan diwaktu saat bersama dalam hubungan pertemanan. Saat sekarang perasaan Veto sudah berubah menjadi cinta, akan lebih baik baginya meninggalkan Kak Tari.
Veto pun pergi dengan meninggalkan sepucuk surat di atas kasurnya.
Tari yang hanya 2 jam dikampus kembali ke rumah. Namun, yang di dapatinya terdapat dua kunci ditempat itu. Tari pun langsung berlari ke belakang, dia pun membuka kunci tersebut dan didapatinya tidak ada lagi barang apapun milik Veto.
Tari pun membaca secarik kertas beserta tulisan tersebut. Dia hanya terdiam membisu dan menangis atas kepergian Veto. Tari tak bisa berkata apa-apa hatinya penuh dengan kekalutan sehingga hanya air mata yang mengalir.
Veto pun meninggalkan rumah itu dengan linangan air mata meskipun tidak dia tampakkan karena takut akan dilihat Tari dari cctv. Veto pun mantap melakukan kakinya keluar dari rumah itu dikala diingatnya atas kepergiannya.
"Apakah Kak Tari sekarang bahagia ya tanpa aku?" ucap Veto.
Veto terus saja berbicara dengan dirinya tentang Tari. Bagaimana tidak Tari lah yang telah mengisi kekosongannya selama ini sehingga hanya nama itulah yang terngiang dibenaknya?.
"Kak jika nanti aku sudah selesai masuk kampus yang aku impikan, janjiku akan mengajakmu kesana," gumam Veto.
Tari pun hanya menyimpan tulisan kertas itu sebagai kenangan dia dan Veto.
"Kyi...ra... hey," teriak Dion dengan suara lantang.
Kyira pun berlari langsung menemui Dion dan menutup mulutnya.
"Dion, kamu bisa diam nggak sih, jangan teriak gitu, aku malu tahu dilihati orang," ucap Kyira mengomel.
Kyira pun terus mengomelin Dion sepanjang jalan. Dion hanya menatapnya dengan senyuman.
🍂🌷🌷🌷🍂
Bagaimana Kelanjutannya?
Like and comment ya😊
terima kasih😊
__ADS_1