
Dering ponsel Veto bersuara.
π"Hai Veto, kamu apa kabarnya?'" ucap Tari.
π"Kak Tari ? Hai, kakak sekarang sudah berubah yaa tambah cantik aja suaranya, wajahnya pasti tambah cantik," ucap Veto.
π"Heheh, cantik darimana masih kayak gini saja deh," ucap Tari senyum-senyum.
π"Aku baik kok kak, tapi aku rindu sama kakak gimana dong?" ucap Veto menggoda Tari.
π"Ehm gimana yaa? kan kita jauh gimana bisa ketemu?" ucap Tari dengan wajah malu-malu.
π"Kakak serius mau ketemu dengan aku, kalau aku ada di Indonesia," ucap Veto berbicara serius.
π"Iyaa lah.. kakak juga rindu hehe," ucap Tari ketawa terkekeh-kekeh.
π"Coba kakak lihat ke gerbang dibuka aku ada disana," ucap Veto memberi isyarat.
"Ehm masa' sih, tapi baiklah aku akan turun," ucap Tari.
Tari pun keluar dari kamar menuju gerbang rumah. Saat dibukanya benaran ada Veto di depan matanya. Saat Tari ingin memeluk dia ingat bahwa mereka tidak ada hubungan apapun.
"Kak, please terima bunga ini sebelum kita bicara" ucap Veto memohon.
Tari pun sedikit lama menerima bucket bunga tersebut. Saat dia ingin mengambil dari arah belakang bunga tersebut terlempar.
"Cukup Veto, kamu hanya milikku, berhenti main-mainnya, ingat perjanjian mu dengan ku," ucap Leta.
"Kita sudah tidak ada hubungan apapun Leta, jadi, saya mohon sama kamu jangan deketi aku lagi," ucap Veto.
"Hey kak Tari, sadar dong usiamu dengan Veto terpaut 3 tahun please jangan dekati laki-laki yang sudah dimiliki orang lain," ucap Leta mengancam.
Veto pun menarik tangan Leta, ingin menyingkirkan tangannya dari wajah Tari.
Saat keduanya berdebat.
Datanglah Meisya saudara tiri Veto.
"Loe apaan Leta mau dekati Veto, sudah lupakan Veto nanti gue Carikan laki-laki lebih ganteng dari saudara tiri gue," ucap Meisya menarik tangan Leta.
"Nggak bisa, gue cuma suka dengan Veto bukan dengan laki-laki lain Mei," ucap Leta memberontak.
Meisya pun menotok punggung Leta agar dia pingsan sementara.
"Kita impas yaa Veto, gue lakukan semua ini demi mama, dan perasaan gue terhadap loe sudah pudar, satu lagi jaga wanita yang di depan loe, dia dari keluarga baik-baik," ucap Meisya meninggalkan Veto dan Tari.
Meisya pun membawa Leta ke dalam mobilnya dengan dibantu Veto membopongnya.
__ADS_1
Veto pun segera menemui Tari dan menjelaskan semua yang terjadi.
"Jadi maksudmu Leta itu tergila-gila sama kamu hingga mau dijadikan kedua," ucap Tari terkejut.
"Iyaaa, bahkan saudara tiri gue juga sempat sama gue, saat Kak Tari menolongku aku lagi di fase kaca," ucap Veto menceritakan panjang lebar.
"Jadi mau kamu apa dariku Veto," ucap Tari.
"Aku mau kakak menjadi tunangan atau calon dengan begitu aku tidak butuh perhatian dari siapapun hanya dari kakak seorang, dan emang dari dulu aku suka sama kakak, tapi jika kakak butuh waktu, maka aku akan menunggu jawabannya," ucap Veto.
"Yups Veto, aku butuh waktu untuk mencerna semuanya, jadi hari ini cukup sampai disini yaa, aku mau istirahat," ucap Tari dengan wajah lesu.
"Apakah kak Tari kecewa dengan saya?" ucap Veto.
"Nggak kecewa hanya kesal saja, aku pamit masuk yaa Veto," ucap Tari berjalan pelan.
"Kak, izinkan aku menyukai kakak dan memiliki kakak sejak sekarang meskipun belum ada jawabannya, saya pamit pulang ke Austria," ucap Veto benar-benar pergi meninggalkan Tari.
Saat Tari berlari dan melihat ke belakang benar saja bahwa Veto sudah tidak ada disana.
Tari kesal dengan dirinya. Padahal Veto ke Indonesia pertama keluar dari bandara malah menemui dirinya, tapi disia-siakan oleh Tari. Tari hanya menyesal dengan sikapnya.
Veto pun tidak menghubungi Tari karena dia di sibukan masuk ke perguruan tinggi. Begitupun Tari yang sibuk dengan tugas kuliahnya.
Keduanya pun tidak berhubungan sama sekali selama sebulan. Sebenarnya Veto sangat merindukan Tari tapi dia lebih menghargai pilihan Tari yang memilih diam dan tidak menghubungi.
"Kak Tari aku sungguh merindukanmu, apakah rindu saja tidak boleh ku miliki padamu," gumam Veto dalam hati.
"Ehm rindu banget dengan Veto, tapi nggak boleh lah, study dia lebih penting dari aku," ucap Tari.
Begitulah hari-hari yang dilalui oleh keduanya. Selalu berkata demikian ke hati masing-masing untuk penenangan diri.
Satu Bulan Kemudian.
"Yes, aku lulus mendapatkan beasiswa penuh, aku harus telpon mama, nagih janji mama," ucap Veto kegirangan.
"Hallo Ma, ada berita gembira," ucap Veto.
"Apa sayang katakanlah?" ucap Mama Veto.
"Ma aku lulus, jadi mama harus menempati janji mama, aku mau minta sesuatu?" ucap Veto dengan suara girang.
"Emang kamu mau apa sayang?" ucap Mama Veto.
"Aku sudah mengirim pesan ke mama, beri aku waktu satu Minggu, jika wanita yang ku inginkan tidak menjawabnya maka mama yang bertindak," ucap Veto.
"Kamu serius sayang mau bertunangan, usia kamu masih muda loe sayang," ucap Mama Veto.
__ADS_1
"Hihi, mama lakukan nanti jika Veto sudah beri instruksi ya," ucap Veto.
"Baiklah sayang, mama menunggu instruksi kamu," ucap Mama Veto.
Veto pun merasa bahagia atas permintaannya. Setidaknya dia sudah bertindak serius sejauh ini untuk mendapatkan Tari.
Saat dia bahagia, dering ponselnya berbunyi.
"Yaa Hallo," ucap Veto bicara datar saja karena nomor yang tidak dikenal.
"Please open the door ," ucap Tari meskipun Veto tidak mengetahui bahwa itu adalah wanita yang dicintainya.
"Okey, tunggu sebentar," ucap Veto.
Saat Veto bukan pintu betapa terkejut dirinya, Taro berada dihadapannya. Dia pun hanya mematung dan mengucek matanya. Veto pun memastikan dirinya dan mencubit kulitnya sendiri.
"Awww sakit juga ternyata," ucap Veto teriak karena mencubit dirinya sendiri.
"Veto, apakah dari tadi kita hanya berdiri saja?" ucap Tari mencairkan suasana.
"Ohw maaf Kak Tari, hayoo masu, silahkan duduk, nanti aku buatkan minuman," ucap Veto meninggalkan Tari menuju ke dapur.
"Ya Tuhan, cepat banget Engkau mengabulkan seseorang yang ku rindukan," ucap Veto.
Setelah selesai Veto pun meletakkan minuman es serta roti yang ada buat dimakan.
"Kak maaf yaa makan seadanya, aku belum belanja soalnya," ucap Veto.
"Yaa nggak apa-apa, aku minum dan makan ya," ucap Tari.
"Ohya kak, kok bisa kakak berada disini," ucap Veto penasaran.
"Kakak dan beberapa teman-teman mendapatkan undian produk kecantikan, sebenarnya hari ini baru sampai sih, kebetulan apartemen ini tidak jauh dari tempat kita, jadi sekaligus saja kakak kesini," ucap Tari panjang lebar menceritakannya.
"Kak pertanyaan ku masih yang lama, bagaimana tanggapan kakak?" ucap Veto.
"Kakak mau Veto, kakak sudah membicarakan juga dengan orang tua kakak, mereka menyerahkan semua sama kakak, lebih kurang satu tahun lagi kakak akan menyelesaikan study, setelah selesai kita bisa menikah," ucap Tari.
"Apaaa menikah muda? jadi kakak serius mau menemani dari nol, jadi ketika aku kuliah ada istri yang nemani aku disini, berarti kita tunangan dulu," ucap Veto dengan senang hati.
"Ini cincin dari mama kamu, beliau semalam menemui orangtua kakak, orangtua kakak menerima lamaran mama kamu, karena orangtuaku ternyata teman dekat mama, jadi semua proses pernikahan dikembalikan ke kita, aku akan berusaha sebelum satu tahun selesai, jadi bisa menemanimu disini sekaligus aku bisa lanjut study," ucap Tari.
"Apaa mama melamar kakak untuk aku? ehm rasanya aku ingin memeluk kakak, tapi nggak boleh kakak belum halal bagiku," ucap Veto.
Keduanya pun bercanda gurau. Veto sangat bahagia atas tindakan mama nya. Padahal dia belum meminta namun mama nya sudah bertindak.
ππππππ
__ADS_1
Bagaimana kelanjutannya kisah Veto dan Tari??
Penasaran nggak heheπ