
"Kyira tunggu aku dong, ehm," ucap Dion kesal karena Kyira mempercepat jalannya.
"Apaa sih?? nanti dilihat orang kalau kita keluar di mobil yang sama," ucap Kyira mendengus kesal.
"Biarin, kamu memang pacar aku, siapa berani mengganggu kamu?" ucap Dion menaikan nada bicara.
"Oke-oke cukup, kita di kampus jadi fokus belajar oke," ucap Kyira.
"Ohw begitu, berarti kalau di luar kampus kita boleh pacaran gitu," ucap Dion bicara dengan penuh senyuman.
"Ehm, dasar pikiran kamu gi** , iih nyebelin," ucap Kyira pergi meninggalkan Dion.
Dion tersenyum melihat tingkah Kyira.
"Ya ampun sudah berapa kali aku jatuh cinta dengan semua tingkah Kyira," ucap Dion sambil berjalan menuju ruangannya.
Di tempat berbeda.
Nea dan Teo pun makan berdua, Nea dan Teo tidak banyak bicara keduanya bingung mau membicarakan apa? sehingga hanya terdengar kunyahan makanan dari mulut keduanya.
"Teo," ucap Nea.
"Nea," ucap Teo.
Keduanya tertawa dan tersenyum di saat bersamaan memanggil.
"Kamu mau bicara apa Nea?" ucap Teo sambil membereskan makanan yang dimakan.
"Ehm kalau sore ini kita selesai kerja bisa nggak jalan berdua ke mall, karena aku mau membeli gaun untuk ke pesta nanti," ucap Nea dengan malu-malu.
"Boleh sayang, aku pun ingin mengatakan hal yang sama bisa nggak nanti malam kita pergi ke bioskop, btw kamu suka genre film apa?" ucap Teo.
"Ehm genre apa saja sih?" ucap Nea.
"Bener ya sayang, terserah aku genre apa?" ucap Teo.
"Iyaa," ucap Nea.
Keduanya pun menyelesaikan sarapan mereka karena ponsel Nea berdering.
"Ehm baik Pak, saya akan segera kesana," ucap Nea.
"Teo, aku pergi kerja dulu ya, nanti kita saling berkabar saja yaa, gimana kelanjutannya nanti?" ucap Nea pergi begitu saja dan berbalik mengambil wadah makannya*.
__ADS_1
Teo pun memandangi pacarnya dari kejauhan sehingga punggung Nea sudah tidak terlihat lagi.
Dering ponsel Teo pun kembali berbunyi.
"Iya Ma ada apa? Teo segera kamu ke Rumah Sakit Sejahtera, papa kamu masuk rumah sakit dia ingin bertemu dengan kamu," ucap Mama nya.
"Kan ada Bang Sean di rumah yang bisa menjaga papa dan mama, bukankah papa sudah mengusirku dan tidak menganggap ku lagi anaknya," ucap Teo.
"Please Teo, tolong mama sekali ini, datanglah ke Rumah Sakit Sejahtera, mama sudah mengirim alamatnya," ucap mamanya.
Teo menghela nafas atas permintaan mama nya, Hanya mama dan Sean yang selalu memberinya uang di rekening namun sedikit pun tidak di sentuh oleh Teo. Teo sudah terlanjur sakit hati kepada papa nya.
Umpatan kasar, kata-kata kasar keluar dari mulutnya mengatai dirinya tidak becus memegang perusahaan hingga mengalami kerugian padahal semua itu kesalahan papanya namun papa nya malah melampiaskan kekesalan kepadanya. Sudah setahun Teo berkelana hidup mandiri di jalan, bersyukurnya ada Dion yang memperkerjakan dia sehingga hidup nya lebih baik dari sebelumnya.
Bahkan perlakuan Dion melebihi saudara kandungnya. Sehingga hanya Dion yang dianggap Abang bagi Teo, tiada Abang yang lebih baik dari Dion.
Meskipun demikian dia tetap menganggap Sean sebagai saudara kandung. Terlebih lagi papa nya sering membandingkan dirinya dengan Abang Sean sehingga membuat hati Teo meridih. Hingga keluar kata-kata pengusiran dari papanya, karena sudah sakit hati dengan perkataan papanya Teo lebih memilih pergi dari rumah itu. Hanya mama nya yang memohon agar Teo tetap di rumah, namun Teo tetap teguh pendirian untuk tetap meninggalkan rumah tersebut.
Teo pun menemui papa nya ke Rumah Sakit Sejahtera, dia pun meraih ponsel dan menelpon Nea.
"Hallo Nea, jangan bicara dulu aku sekarang sedang mendesak ada urusan bertemu dengan papa jadi rencana kita hari ini di undur ya sayang, aku harap kamu mengerti," ucap Teo mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Iyaa, gak apa-apa, tapi please jangan ngebut Teo, aku tidak ingin kehilanganmu," ucap Nea khawatir.
Nea termenung berpikir tentang kondisi Teo. Saat dia melamun Dion datang menepuk pundaknya.
"Hei Nea, kamu melamuni tentang apa coba katakan?" ucap Dion bertanya.
"Abang Dion bisakah ceritakan tentang Teo," ucap Nea penasaran.
"Kenapa kamu bertanya tentang keluarga Teo, apakah terjadi sesuatu dengannya?" ucap Dion penasaran.
"Iyaa tadi Teo menelpon aku, rencana kami menonton malam ini ditunda karena dia harus ke Rumah Sakit menjenguk papa nya," ucap Nea berbicara datar.
"Nanti Abang cerita ya, tapi mau nelpon Teo dulu, Abang tinggal sebentar yaa" ucap Dion bergegas menelpon Teo.
Dering ponsel Teo pun berbunyi.
"Yaa Hallo. Bang Dion!" ucap Teo.
"Kamu dimana sekarang? semua baikkan!" ucap Dion
"Aku baik bang, sekarang di Rumah Sakit nemui Papa lagi sakit," ucap Teo.
__ADS_1
"Janji yaa kamu tahan emosi kamu, jangan buat orang tua mu tambah benci dengan sikapmu," ucap Dion menasehati.
"Siap Bang Dion, laksanakan terima kasih sudah mengingatkan ku," ucap Yeon mematikan panggilan tersebut.
Ketika Teo ingin memasuki Ruang pasien VIP ada yang menarik tangannya.
"Teo, Bang Sean mau bicara dengan kamu," ucap Sean sambil menarik tangan adiknya.
"Ada apa bang?" ucap Teo.
"Teo. Papa sekarang sudah sadar, ketika menemuinya Abang mohon sedikitpun jangan berdebat dengannya, dalam beberapa bulan ini kondisi papa terus menurun dan hanya meminum obat rutin di rumah, jadi please demi mama," ucap Bang Sean..
"Baik Bang. Apakah kita berdua bisa masuk bersamaan agar mama bahagia melihat kedua anaknya," ucap Teo
"Ucapan kamu benar juga," ucap Sean sambil memberikan keranjang buah yang dibawa nya.
"Maksud Abang keranjang buah apa?" ucap Teo bingung dengan abangnya yang memberikan keranjang itu padanya.
"Bawa saja ke dalam, anggap kamu yang membawanya, Abang yakin kamu lupa membawanya kebetulan kita bersamaan kan" ucap Sean.
"Baik, laksanakan, mari kita masuk bersama," ucap Teo.
Mama pun memeluk kedua nya dengan sangat erat.
"Hay Pa, gimana sudah sehatkah?" ucap Teo.
"Sudah lebih baik, kamu sendiri bagaimana hidup selama setahun tanpa fasilitas dari papa" ucap Papanya.
"Saya baik Pa. Papa tenang saja meskipun tidak ada fasilitas dari papa, saya masih bisa hidup kok," ucap Teo.
"Memangnya kamu kerja apa di luar sana, sedangkan ijazah kamu semuanya di rumah dan kamu tidak pernah pulang," ucap papanya.
"Di luar sana ada yang sangat baik dengan saya Pa, melebihi keluarga bahkan sekarang aku sudah memiliki pacar, dia bisa menerima keadaan ku," ucap Teo.
"Baik sudah cukup kamu bermain di luaran, papa minta kamu kelola cabang di kota C, karena Abang mu tidak akan mampu memimpin semuanya," ucap papanya.
"Apa?? tidak bisa, terus hidup ku yang bebas bagaimana?" ucap Teo kesal.
"Tuliskan saja keinginan mu selama kamu bisa menjalankan perusahaan dengan baik dan memberikan outcome yang baik kamu bisa menikmati hari mu seperti biasa, papa beri waktu kamu seminggu berpikir, dan papa berharap jawaban kamu sesuai dengan yang papa mau," ucap papa nya.
Setelah selesai berbicara dengan Keluarganya, Teo pun berpamitan karena cukup lama dia berbincang dengan keluarga tanpa terasa malam telah larut pukul 22.00.
🍁💐💐💐🍁
__ADS_1