
Dion kesal dengan sikap Kyira, tapi yang membuat nya Kyira cemburu dengan para fans nya.
"Apakah Kyira sudah membuka hatinya untuk ku," ucap Dion dengan tersenyum.
Dion pun mengirim pesan ke Kyira.
✉️"Maaf Kyira aku kesal saja, kamu jangan marah ya, boleh nggak kita video call sebelum aku tidur."
✉️"Ehm yaa boleh, tunggu sebentar," ucap Kyira dalam pesan tersebut.
"Hy... Kyira, kamu udah ngantuk yaa, seluruh tubuh kamu di selimuti begitu," ucap Dion.
"Aku lelah Dion, jadi mau tidur, udah yaa aku ngantuk banget," ucap Kyira.
"Oke Kyira, sampai ketemu besok ya," ucap Dion sambil tersenyum.
"Iyaa, semoga aku sehat, terima kasih Dion," ucap Kyira.
Kyira pun langsung mematikan ponselnya.
Di sebuah penginapan Nea risau tanpa kabar dari Teo. Ketika dia hendak tidur dering ponselnya pun berdering.
"Hay sayang, maaf yaa seharian aku nggak ada kabar, aku sibuk di cabang perusahaan papa' ucap Teo beralih jadi panggilan video.
"Bukan dengan wanita lain kan," ucap Nea merengut.
"Nggak lah Nea sayang, aku hanya untukmu, justru aku mengabulkan permintaan papa memimpin cabang perusahaan karena ada tujuan yang harus aku capai untuk masa depan," ucap Teo panjang lebar dengan riang dia mengatakan pada wanita yang sangat dicintai.
"Baik Teo, aku menantikan tentang masa depan kita," ucap Nea tersenyum dengan cantiknya dengan rambutnya tergerai.
"Sungguh manis dan cantik wanita ku, ingin segera memelukmu dan menjadikan mu istriku," ucap Teo dalam lirihnya.
"Bilang apa sih Teo?" ucap Nea penasaran.
"Kamu cantik dan manis Nea, ingin aku memelukmu dan menjadikan mu istri ku," ucap Teo dengan senyum malu-malu.
"Kamu juga lucu Teo (sambil senyum malu-malu)," ucap Nea salah tingkah.
Keduanya tidak berkesudahan dengan senyum malu-malu, bahkan bercandaan satu sama lain. Hingga Nea tiba-tiba lelap dalam tidurnya.
"Nice dream sayang," ucap Teo menyebutkan tanpa di dengar oleh Nea yang sedang tertidur pulas.
Teo pun mematikan panggilan tersebut. Keduanya pun larut dalam tidurnya masing-masing.
Pagi hari pun tiba menyapa insan-insan yang terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Meisya dan Leta pun bersiap-siap memantau kampus tempat Dion berkuliah. Saat mereka lihat idol mereka turun dengan mobil namun dengan sosok yang mereka kenal. Keduanya pun terbelalak mengingat sosok tersebut.
Leta dan Meisya pun saling memandang satu sama lain dengan pikiran yang sama.
"Kyira.... " ucap keduanya kompak.
Keduanya pun mulai beraksi pura-pura menjadi mahasiswa di sana. Namun, mereka terhenti karena sesuatu hal.
"Kapan kamu pulang atau papa potong belanja kamu," ucap papa Meisya.
"Iya pa, nanti kita pesan tiketnya," ucap Meisya.
"Tidak ada, sore ini kamu berangkat dari Austria, papa juga sudah pesan dengan temanmu Leta agar kalian pulang bersamaan," ucap papa Meisya langsung mematikan ponsel dengan marah.
Meisya pun menarik tangan Leta.
"Ayoo kita pulang ke Indonesia, papa ku sudah membelikan kita tiket, jadi kita harus pulang sore ini," ucap Meisya.
"Baiklah kalau begitu, pengintaian kita hanya sampai disini yaa, uuuh penasaran deh," ucap Leta mendengus kesal.
"Hayoo pulang, aku juga kesal karena penasaran," ucap Meisya kesal dan menarik tangan Leta.
Meisya dan Leta pun kesal karena mereka malah penasaran hubungan Dion dengan Kyira. Keduanya memiliki pemikiran yang sama.
" Heran deh dengan Kyir,. dia wanita seperti apa sih hingga laki-laki banyak yang menempel padanya," ucap Leta.
Keduanya pun kembali terdiam dengan pemikiran masing-masing.
Keberangkatan mereka pun meninggalkan rasa penasaran luar biasa, hingga keduanya kembali berniat merebut kebahagiaan Kyira.
"Kita harus buat Kyira sadar bahwa dia tidak pantas buat Dion atau pun Veto," ucap keduanya bersamaan.
"Kok kita mikir sama lagi Mei," ucap Leta.
"Karena kita memiliki rival yang sama,makanya telepati kita," ucap Meisya*.
Meisya dan Leta pun kembali berpikir bagaimana caranya agar mereka bisa study di Austria satu kampus dengan Dion. Lama pikiran mereka lalu larut dalam tidurnya Masing-masing.
Dering ponsel Veto pun berbunyi.
"Yaa sayang, ada apa?" ucap Veto.
"Kamu ke mini market sini, aku udah kirim fotonya aku kurang uang," ucap Tari sambil menangis.
"Oke tunggu disana ya sayang," ucap Veto.
__ADS_1
Veto pun menuju mini market yang berada dekat dengan apartemen nya. Tari pun malu bukan main, Veto pun meletakkan jaketnya ke muka Tari.
"Udah jangan malu lagi, kan sudah dibayar," ucap Veto berbicara lembut.
"Ehm terima kasih Veto, ohya tadi aku nggak sengaja melihat mantan mu di kampus C saat kami penelitian di sana," ucap Tari.
"Tari ku sayang, aku dengan Kyira sudah tidak memiliki hubungan apapun, kami dulu pernah bertemu hanya menyelesaikan permasalahan itu dan selesai tidak ada dendam di antara kami, saya bahagia melihatnya bahagia, kamu hanya fokus ke aku bukan dengan masa lalu ku, karena yang dihadapan ku sekarang itu kamu bukan yang lain," ucap Veto menyentil hidung Tari yang mancung.
"Akhirnya sampai juga, teman-teman pasti menunggu, ohya Veto besok aku udah pulang kita LDR lagi gimana caranya bisa bersama seperti ini," ucap Tari masih dalam keadaan berpelukan.
"Nanti kita pikirkan ya sayang, sekarang masuklah ke dalam teman-temanmu pasti menunggu mu," ucap Veto mencium kening Tari.
Tari pun melambaikan tangannya ke Veto dengan muka yang malu-malu.
"Yaa ampun gemesin banget sih Tari," ucap Veto pulang kembali ke apartemen nya.
Tari pun memberikan makanan pesanan teman-temannya dan hanya mengambil bagiannya saja.
"Teman-teman aku ke kamar dulu ya, kalian dulu saja makannya," ucap Tari sambil senyum-senyum.
"Elo lihat nggak mukanya tari pipi nya merah seperti jatuh cinta berkali-kali," ucap Putra dengan polosnya.
Denah pun menjitak kepala Putra.
"Aww, gi** elo mukul kepala gue, sakit tahu," ucap Putra mendengus kesal.
"Elo juga, kayak gak pernah jatuh cinta," ucap Denah.
"lah emang iyaa, gue nggak pernah jatuh cinta..cinta apaan kalau zaman sekarang cewek-ceweknya lihat materi dan tampang, gue bukan kelluarga kaya kayak elo dan Tari," ucap Putra.
Denah pun mendekat dirinya kepada Putra.
"Elo sekalipun nggak pernah jatuh cinta sama gue kah," ucap Denah.
"Geser Denah, gue mau makan," ucap Putra.
Putra salah mendorong sehingga dia menghimpit tubuh denah, detak jantung denah tidak jelas, bahkan Putra pun seperti itu keduanya mabuk dalam asmara persahabatan. Putra pun bangun takut Denah akan marah pada dirinya.
"Sorry denah, gue tidak sengaja," ucap Putra kembali ke tempat duduk dan makan dengan serba salah.
"Iyaa dimaafin, tapi jangan begitu lagi," ucap Denah mulai melunak.
"Aduuh gawaat, kalau Denah tahu gue sudah lama jatuh cinta sama dia, bakal di bully, hal yang menakutkan dalam hidup gue," gumam Putra dalam hati.
"Nie jantung nggak bisa kondisiin Napa? masa' dia berdetak pada orang yang salah," ucap Denah mendengus kesal.
__ADS_1
Kedua insan itu meskipun duduk di atas sofa yang sama namun pikiran keduanya masih berkutat tentang perasaan.
🍁💐💐💐🍁