
"Ehm Dwifa, sudah sampai rumah kamu nie, bangun dong" ucap Athar membangunkan Dwifa yang tengah tertidur.
"Ohw iyaa kah hehe, baik, terima kasih Athar, ohya Athar apakah serius dengan ucapanmu di Rumah Sakit sebutan sayang, hehe aku juga menyukainya," ucap Dwifa berlalu begitu saja.
Athar terheran dengan ucapan Dwifa.
"Untung saja aku rekam, nanti minta pertanggungjawaban dari pernyataannya ini," ucap Athar.
Athar pun menikmati perjalanannya, sehingga dia pun terlelap dalam tidurnya.
"Apakah benar Dwifa menyukai? bagaimana aku minta pertanggungjawaban dia yaa,harus cari trik dulu nie," ucap Athar berpikir.
Setelah sampai di rumah papa dan mama nya langsung mengintrogasinya.
"Athar apakah kamu menyukai Dwifa?" ucap papa bertanya.
"Papa kepo iih, aku mau istirahat ke kamar," ucap Athar acuh.
"Athar, kamu tahu kan sifat papa gimana?" ucap papa Athar.
"Iya pa, baik Athar akan jujur, iya benar Athar menyukai Dwifa, tapi perbedaan usia kami jauh pa 4-5 tahun, dwifa sudah kerja sebagai seorang dokter sedangkan aku baru tahun ini kuliah, Dwifa juga wanita cerdas, bagaimana bisa sebanding dengannya?" ucap Athar.
"Kalau begitu kenapa nggak kamu coba, papa sengaja memperkejakan dia dirumah dengan alasan membuat hutangnya yang papa pinjamkan hanya melihat kepribadian Dwifa saja jadi calon menantu papa dan mama," ucap papa menjelaskan.
"Apaa??? papa serius tentang semua ini, bagaimana bisa papa menguji dia sedangkan papa nggak tahu tentang Athar," ucap Athar penasaran dan duduk berhadapan dengan papanya karena penasaran dengan ucapan papanya.
"Papa sudah mengamati kamu sejauh ini. Athar papa menyayangi semua kalian bertiga. Arfan yang sekarang sedang duduk di SMA dan si bungku Arka masih di SD, tidak ada satupun yang jauh dari pantauan papa, meskipun papa sibuk sekalipun, jadi untuk memilih kan calon istri mu harus cocok dulu dengan mama dan mama mu berpikir kalau Dwifa gadis yang tepat dijadikan menantu," ucap papa menjelaskan panjang lebar.
Athar pun memeluk papanya dengan sangat erat. sungguh dia tidak percaya papa nya sungguh peduli semua tentangnya.
Athar pun kembali ke kamar dengan hati bahagia, jika dia ingin mengejar Dwifa dengan caranya orangtua hanya perlu merestui dan mendoakan saja begitulah gumam Athar dalam hati.
"Uh lega juga ternyata, bisa ungkapin semua sama papa dan mama," gumam Athar dalam hati sambil rebahan dan sesaat kemudian dia pun lelap dalam tidurnya.
Pagi pun tiba.
"Kak Dwifa baaangunn, tahu nggak kemarin sore yang mengantarmu pulang kekosan siapa?" ucap Gita teman satu kosannya.
Dwifa pun mencuci mukanya terlebih dahulu, baru menghadap muka ke arah Gita dengan kepo nya.
"Emang siapa sih?" ucap Dwifa penasaran.
"Brondong ganteng dan manis, sejak kapan loe pacaran dengan brondong itu," ucap Gita menggoda Dwifa.
__ADS_1
"Lah siapa bilang pacar," ucap Dwifa sambil mengingat kembali
"Yaa laki-laki itu lah namanya nggak salah Athar," ucap Gita sambil mengeja nama laki-laki tersebut.
"Aduuh, baru ingat, gimana nie Gita??? mana dia kirim video saat aku menggigau kalau aku suka Athar," ucap Dwifa gelisah dan salah tingkah.
"Yaa udah jawab aja lah kalau ditanya," ucap Gita.
"Aku takutnya dia berpikir bahwa aku menyukainya karena dia baik sama aku, gimana nie Gita?" ucap Dwifa gusar dengan tingkanya di video tersebut.
Saat Dwifa kesal dengan tingkahnya kemarin. Dering ponsel nya pun berbunyi.
"Aaaargh!! Giiitaa, gimana dia nelpon aku? aku harus gimana dong?" ucap Dwifa bolak balik lihat ponselnya.
"Tarik nafas dalam-dalam hebuskan, nah coba angkat saja, semangat," ucap Gita memberikan semangat kepada temannya.
"Hai Athar, ada apa nie?" ucap Dwifa.
"Bisakah nemuiku sejenak, hanya sebentar saja," ucap Athar.
"Ehm baiklah, aku akan menemuimu sekarang," ucap Dwifa.
Dwifa pun keluar dari pintu kos nya. Dering ponselnya kembali berbunyi.
"Baik aku melihat kadonya dan akan aku buka," ucap Dwifa.
Saat Dwifa membuka kado tersebut bertuliskan "mau kah menjadi calon istri ku" tulisan itu terpampang pada papan tipis sederhana dan dibelakangnya terdapat petunjuk.
Dwifa pun menelpon Athar.
"Athar kita bicarakan sore nanti saja setelah selesai kamu kuliah," ucap Dwifa.
"Oke, tentukan tempatnya saya akan datang dan menerima apapun keputusan mu," ucap Athar bicara tegas.
"Baiklah, selamat beraktifitas," ucap Dwifa.
"Uuuh akhirnya lega juga," ucap Dwifa minum sambil duduk dan ekspresinya dilihat oleh Gita.
"Rencananya kamu mau menerima nya apa nggak thu?" ucap Gita.
"Aku hanya ragu jika Athar hanya main-main dengan saya," ucap Dwifa.
"Coba tanyakan pada dirimu, karakter Athar yang selama ini kamu kenal kayak mana itulah jawabanny" ucap Gita.
__ADS_1
"Ehm baiklah, terima kasih Gita atas solusinya, loe mau kemana jam 7 pagi nie," ucap Dwifa melihat Gita sudah rapi saja penampilannya.
"Gue gantian shift dengan Piko, jadi nanti dia yang shift malam," ucap Gita menjelaskan kepada Dwifa agar tidak salah paham.
"Sejak kapan temanku yang cuek ini peduli dengan si Piko cowok jahil itu," ucap Dwifa mengamati perubahan Gita.
"Iih apaan sih Dwifa mandangin gitu, aku sama Piko nggak ada hubungan apa-apa kok?" ucap Gita mengklarifikasi.
"Oke, tapi kalau loe beneran jadian dengan Piko kabarin gue yaa," ucap Dwifa.
Gita pun pergi meninggalkan Dwifa yang masih gelisah dengan apa yang akan dijawabnya nanti sore.
Di Sore hari.
Keduanya pun bertemu ditempat yang sudah disepakati. Dan Dwifa mantap dengan jawabannya, meskipun ada kegelisahan ketika dia mengatakannya. Dwifa gemetar dan gelisah menanti kedatangan Athar.
Setengah jam kemudian Athar pun tiba ditempat yang sudah disepakati.
"Kak Dwifa maafin aku, " ucap Athar sambil terengah-engah dan akhirnya dia ambruk.
Dwifa khawatir dengan kondisi tersebut, namun beruntung nya Dwifa mengambil tempat khusus jadi tidak ada yang melihat kalau Athar pingsan. Dwifa pun mencari obat yang biasa dipakai oleh Athar, dia pun meminum ke mulut athar dan memberikannya secangkir air putih.
Athar pun terbangun dari tidurnya. Dan bingung dia sudah berada dipelukan Dwifa. Athar pun kembali ke posisi duduk.
"Sekali lagi aku meminta maaf, jika kak Dwifa tidak menerimaku aku sudah tahu karena kondisi ku yang lemah ini, apalagi pertemuan pertama direncanakan malah aku yang berulah," ucap Athar.
"Cukup Athar!! aku akan menjawabnya, tapi sebelum menjawabnya, kita makan saja yaa," ucap Dwifa berusaha mencairkan suasana.
"Maaf kak, aku tidak memiliki waktu untuk bermain-main, tapi jika itu permintaan kakak maka aku akan makan sekarang," ucap Athar.
Athar dan Dwifa pun makan bersama. Dwifa senang bisa memaksa Athar buat makan, bahkan dia makan dengan sangat lahap.
Beberapa jam setelah makan.
"Athar aku menyukai mu juga dan menerima jadi calon istri kamu," ucap Dwifa.
"Apaa?? beneran seriuuus??? " ucap Athar kesenangan.
Dwifa yang melihat wajah bahagia Athar bingung atas kebahagiaan itu. Dia pun hanya melihat dengan seksama wajah ganteng di depannya..
ππππππ
Penasaran nggak nie?? hihi
__ADS_1
like and comment yaβΊοΈ