
Veto dan Tari pun ngobrol banyak sekali. Sehingga tanpa terasa sudah menjelang sore waktu setempat.
Dering ponsel Tari pun berbunyi.
"Tar, loe dimana?? kembali lah ke apartemen ada yang mau kita bicarakan terkait agenda besok," ucap Yesa pada Tari.
"Oke gue kesana yaa," ucap Tari.
Tari pun pamitan tapi Veto belum mau berpisah dengan Tari. Karena kerinduan nya sudah sangat lama.
"Kak Tari, bisa nanti nggak balik ke apartemennya aku masih rindu sama kakak," ucap Veto dengan nada manjanya.
"Heheh, boleh tapi jika sudah halal ya," ucap Tari sambil tertawa.
" Kak tunggu sebentar, jika kakak butuh bantuan bilang saja yaa, aku calon suamimu pasti akan membantu," ucap Veto dengan muka memerah.
"Yaa nanti kakak hubungi kalau membutuhkan bantuanmu Veto," ucap Tari sambil melambaikan tangan ke pacarnya.
Veto sangat bahagia atas kehadiran Tari di apartemennya hari ini. Hal yang tidak pernah di duganya bahkan diluar ekspektasi nya.
"Mama ku sungguh luar biasa deh," ucap Veto memuji mama nya secara terus menerus.
Veto pun menelpon mamanya dan mengucapkan terimakasih atas berita tersebut. Karena hal tersebut membuat Veto jadi bersemangat melanjutkan studinya. meskipun sebelumnya sudah semangat sih.
"Ehm bahagia banget bisa bertemu Veto padahal jarak kami 3 tahun, tapi justru kenyamanan berasal darinya. Apakah benar dia takdirku?" gumam Tari dalam hati sambil tersenyum sendiri.
Sepanjang perjalanan menuju apartemennya Tari terus saja tersenyum. Dia tidak menyadari ada seseorang dibalik kaca jendela melihatnya siapa lagi kalau bukan Veto.
"Semoga saja Kak Tari adalah takdirku, aku tidak ingin banyak mengenal wanita manapun lagi," ucap Veto.
Tari pun sampai di apartemennya, mereka pun berdiskusi dengan baik.
"Jadi, tugas ku tersulit nie, kok gitu sih nggak adil tahu," ucap Tari pada teman-temannya.
"Tar, loe kan punya calon suami yang cukup lama tinggal disini, kan bisa minta bantuannya," ucap Yesa.
"Tapi, kami belum resmi," ucap Tari.
"Kami semua percaya, ingat kita memiliki pekerjaan masing-masing untuk menyelesaikan laporan ini, waktu kita tidak banyak lagi," ucap Yesa menjelaskan.
"Baik aku akan berusaha," ucap Tari.
Mereka pun masuk ke kamar masing-masing. Dering ponsel Tari pun berbunyi.
"Yaa Hallo," ucap Tari acuh.
"Kak bisa nggak video call, aku kangen sama kakak," ucap Veto manja.
__ADS_1
Mereka berdua pun video call, membicarakan banyak hal. Tari masih menyimpan hal-hal yang dibutuhkan untuk penugasan. Setelah selesai keduanya pun kembali beristirahat.
Di tempat berbeda.
"Dwifa kok kamu mau sih bekerja tanpa dibayar gaji," ucap Athar bertanya.
"Tugas ku ringan kok, hanya membantu mama mu di rumah, lagian aku tidak keberatan melakukannya dan juga tidak menganggu koas ku juga," ucap Dwifa.
"Apaa?? sekarang kamu koas, dimana?? bukankah setahu aku kamu sudah kerja di sebuah Rumah Sakit," ucap Athar.
"Koas ku emang sudah sih, dan bener juga sih aku kerja di Rumah Sakit tapi aku sekarang jadi dokter pribadi makanya jadwalku di Rumah Sakit Sejahtera dikurangi," ucap Dwifa.
"Emang kamu jadi dokter pribadi siapa?" ucap Athar tertunduk lesu.
"Yang dihadapanku sekarang," ucap Dwifa tersenyum melihat Athar pada dirinya sendiri.
"Apaa? sejak kapan aku sakit-sakitan, iih papa buat aku kesal," ucap Athar dengan wajah kesalnya.
"Emang kamu sedang sakit apa Athar? jangan memarahi papa mu dong, itu tandanya dia sayang," ucap Dwifa sambil izin mengangkat ponselnya yang dering dari tadi.
"Yaa Hallo, baiklah aku segera kesana," ucap Dwifa.
"Athar kamu tunda dulu marahnya yaa, aku mau ke Rumah Sakit dulu sekarang, awas janji nggak memarahi papa kamu," ucap Dwifa beres-beres dan mencari mamanya Athar.
"Tante, Dwifa izin ke Rumah Sakit Sejahtera dulu ya, karena ada pasien yang menunggu Dwifa disana," ucap Dwifa sambil mencium tangannya mama Athar.
"Baik Tante, laksanakan," ucap Dwifa sambil meninggalkan rumah tersebut.
Namun, Athar mengerjai Dwifa.
"Dwifa, mau ngga aku antar saja," ucap Athar menawarkan diri.
"Heheh, kamu lupa yaa aku kan ada motor dipinjami oleh papa mu," ucap Dwifa.
"Yaa udah ginie saja, aku saja memboncengmu karena setelah dari Rumah Sakit kan kamu harus ke rumah lagi," ucap Athar tidak kalah berdebat nya.
"Baiklah, aku menyerah kalau berdebat," ucap Dwifa smabil mengambil helm.
Begitupun dengan Athar yang memakai helm. Keduanya pun berkendaraan sekitar 20 menit dari rumah. Mereka pun sampai di Rumah Sakit Sejahtera.
"Akhirnya sampai juga," ucap Athar.
Dwifa pun berlari karena dari tadi dering ponselnya berbunyi kembali.
"Yaa baiklah, sekarang menuju ke ruang pasien," ucap Dwifa sambil melambaikan tangan dan memberi isyarat akan memberi tahu melalui ponsel.
Athar pun memarkir motor tersebut, dia pun mencari makanan ke mart di dalam Rumah Sakit tersebut.
__ADS_1
Setelah dirasa selesai Athar pun keluar dari mart tersebut. Dia pun tanpa sengaja mendengar sebuah percakapan.
" Dokter Dwifa banyak sekali yaa yang suka sama dia, sampai pasiennya saja mengungkap cinta berkali-kali tapi nggak diterimanya, uuh padahal yang menembaknya itu orang berkelas," ucap seseorang tersebut.
"Kak Dwifa, aku menjadi pasienmu sudah cukup lama dan aku sudah mengungkapkan perasaanku sudah berkali-kali, kenapa kakak tidak menerima cintaku juga," ucap Leon.
"Pasien bernama Leon semuanya dalam keadaan normal, sebenarnya ada urusan apa Leon kesini," ucap Dwifa berbicara.
"Karena aku rindu sama kakak, " ucap Leon.
"Maaf Leon, Kakak sudah memiliki kekasih," ucap Dwifa.
"Bohoong, kak Dwifa berbohong kata orang-orang di Rumah Sakit kakak tidak pernah pergi kencan,malah sibuk di Rumah Sakit jadi mana sempat mau kencan," ucap Leon.
"Heheh, yaa emang kakak harus kasih tahu jadwal keseharian kakak dengan kamu, kakak kencannya dengan siapa dan dimana?" ucap Dwifa.
"Iih kalau beneran buktikan sama aku, Bawak pacar kakak sekarang dihadapanku, maka aku tidak akan mengejar kakak lagi," ucap Leon penuh dengan kekesalan.
"Baiklah kakak akan buktikan sekarang," ucap Dwifa sambil mencari cara siapa yang mau dijadikan pacar bohonga.
Pas Dwifa lagi sibuk dari depan pintu ada seseorang yang mengentok pintu.
"Sayang kamu disini yaa, maaf tadi aku sudah berkali-kali chatt tapi nggak ada balasan," ucap Athar.
"Kok Athar, tiba-tiba bilang sayang sih," gumam Dwifa dalam hati.
Athar tahu Dwifa sekarang sedang bingung, dia pun berinisiatif memegang tangan Dwifa. Dwifa terkejut dan tersadar.
"Ohya yaa sayang maaf yaa,"ucap Dwifa.
"Hei Leon masih ingat sama aku nggak," ucap Athar membelalakkan matanya.
"Heheh ingat Abang Athar, jadi Kak Dwifa pacarnya Abang Athar yaa, hmm lalu gitu cepat langgeng yaa, karena Leon sudah baikkan, Kak Dwifa tak perlu repot lagi," ucap Leon sambil menchattnya mamanya.
Dwifa dan Athar pun meninggalkan ruangan tersebut beserta perawat yang menemani mereka.
"Permisi dokter Dwifa, Lala duluan," ucap Lala dengan santun.
Dwifa dan Athar pun tidak banyak bicara ketika keluar.
Namun masing-masing dihati mereka berdesir sesuatu yang tak terduga.
Penasaran.
kita tunggu episode selanjutnya nya😀
🍁💐💐💐🍁
__ADS_1