
...Happy reading....
“Jeng,” sapa tante Anis pada ibu.
“Iya, gimana Nis?”
“Keluar bentar yuk, aku pengen ngomong sesuatu.”
Ibu mengangguk, “bentar ya, semuanya.”
Ibu dan tante Anis pun pergi meninggalkan kami. Sebenarnya ada apa sih, memangnya ngomong di sini kenapa? Kenapa harus keluar. Mereka tadi juga membicarakan apa. Apakah benar yang dikatakan Tino? Suara bukaan pintu membuyarkan lamunanku.
“Keluarga pasien.” Suara dokter terdengar dibalik masker yang ia kenakan.
“Saya Ayahnya, Dok.”
“Alhamdulilah Pak, pasien tidak apa-apa. Sekarang boleh dijenguk.”
Kami pun melangkah kaki ke ruangan untuk melihat keadaan Tino. Bisa kulihat dari ekspresinya, kalau Tino sudah lebih baik.
“Gimana jagoan ayah?”
“Gapapa. Nggak sakit kok. Tadi kata dokternya kalo aku nggak nangis bakal dikasih hadiah. Yaudah aku nggak nangis deh,” terang Tino panjang lebar.
Aku hanya mengernyitkan dahi. Setelah itu, terdengar bunyi pintu dibuka menampakan ibu dan tante Anis.
“Tino!” panggil ibu sambil setengah berlari dan kemudian memeluk Tino. “Kamu gimana? Kakinya sakit nggak?”
“Nggak sakit kok Bu.”
Dan tak lama kemudian suara pintu pun terbuka menampakan sosok dokter muda yang tampan. Aku pun mengernyit seperti merasa tak asing dengan wajahnya.
“Permisi, maaf mengganggu. Saya ingin memberi hadiah untuk Tino,” terang dokter sambil tersenyum manis ke arah kami.
“Yeayyy, hadiahhh!!!” teriak Tino kegirangan.
“Tunggu,” cegah ibuku, “kamu... Nak Reza kan?!”
“Loh, Reza? Sudah selesai kuliahnya, Nak?” tanya ayah kemudian.
“Alhamdulilah udah Om, Tante, kebetulan ini ditugasin di kota sendiri jadi ga jauh-jauh juga dari Alsya.”
“Wah, Alhamdulilah ya, Nak. Sukses terus.”
“Aamiin. Terima kasih Tante,” jawabnya sambil tersenyum manis. “Nih, hadiahnya!”
Tino meraih hadiah pemberian dokter muda itu yang tak lain adalah kak Reza, kakaknya Alsya –sahabatku.
“Tino bilang apa?” ucapku.
“Hehe, makasih dokter,” seru Tino.
Kak Reza mengerling kepadaku lantas mengulas senyum dan berkata, “sama-sama.”
“Oh iya Nak, Tino udah boleh pulang sekarang kan?”
“Boleh tante.”
“Makasih ya Nak, kalau begitu kami permisi dulu.”
Kami yang berada di ruangan itu satu per satu keluar, namun suara kak Reza menginterupsi ayah, “emm... Om,” cegah kak Reza.
“Ya?”
“Saya izin ngobrol sebentar sama Dewi, boleh?” tanyanya sambil menoleh ke arahku. Aku yang ditatap seperti itu mengalihkan pandang dan tak sengaja aku menoleh ke arah Irsyam. Ekspresinya sulit untuk kupahami.
Ayah membuka suara, “boleh.”
“Nanti Dewi biar saya antar pulang aja Om. Kebetulan bersamaan dengan jam istirahat.”
“Yaudah Om titip Dewi, ya!”
“Baik Om.”
__ADS_1
Aku dan kak reza pun melangkahkan kaki ke taman belakang, dan kami pun duduk di kursi.
“Kak Reza mau ngobrol apa?” tanyaku.
“Emm, cuma pengen liat kamu sih. Aku kangen banget sama kamu.”
Harus kuakui, aku cukup terkejut mendengar pernyataan kak Reza. Pipiku sepertinya memerah karna ucapan kak reza barusan, dan sepertinya kak reza menyadari itu.
“Sejak kapan Dewi pipinya kek tomat gini, ya?”
“Ishh Kak Reza,” ucapku sambil menutup wajahku.
“Bercanda Dewi,” Balasnya sambil menyingkirkan tanganku di wajah, hingga tiba-tiba pandangan kami pun bertemu. Tatapan kak Reza sangat teduh dan menenangkan. Aku tak ingin jatuh terlalu dalam lagi.
“Ehh, sorry Dewi.”
Aku pun hanya menganggukan kepala.
“Oh iya, kakak mau tanya. Gimana Alsya selama kakak tinggal?”
“Nggak gimana-gimana sih kak, semuanya baik.”
“Syukur deh, kakak sebenernya juga nggak tega ninggalin dia. Tapi ya mau gimana lagi, kakak harus ngelanjutin kuliah. Tapi Alhamdulilah udah lulus dan untung boleh kerja di kota sendiri.”
“Iya, Alhamdulilah.”
Dia pun hanya tersenyum.
“Oh iya, kalian bentar lagi masuk kuliah lagi kan?”
“Iya.”
“Semangat ya, jangan lupa belajar yang rajin.”
“Iya. Siap pak dokter.”
“Oh iya, pengennya besok kamu mau jadi dokter apa?”
“Pengen jadi dokter spesialis anak sih kak.”
Tinggg
Notif hapeku pun berbunyi menandakan ada pesan WhatsApp dari Alsya sahabatku.
Alsya : Oh, pantes abang gue dichat nggak dibales. Rupanya lagi ngobrol sama bu Dewi, ya.
Aku pun mengernyit. Kok Alya bisa tahu?
“Kenapa Dewi?”
“Ini... Alsya..”
“Pacaran terosssss!!!” Teriak dua orang wanita di belakang kami, aku dan kak Reza pun menoleh bersamaan.
“Kaliannn?” tanyaku bingung.
“Apa Dewi... kalian udah ketangkep basah nggak boleh ngelak,” ucap Sekar.
“Di WhatsApp ga dibales, ditelfon ga diangkat, ternyata lagi pacaran sama Dewi, Bang?” tanya Alsya.
“Hp abang di ruangan. Tadi lagi nanganin pasien terus ga sengaja ketemu Dewi. Kita ngobrol bentar.”
“Iya, bener tu. Kalian nih sok tau mulu,” belaku.
“Hahaha... iya sayangku, cintongku, kita juga cuma bercanda kok. Ya kan Sa?!”
“Yoii bebb, jangan marah nanti cepet tua Dewi!” ledek Alsya.
“Ishhh... dasar ngeselin banget sih kalian.”
“Ngomong-ngomong abang ngapain ngajakin ngobrol Dewi? Jangan bilang kalian ngomongin aku?” tanya Alsya ingin tahu.
“Dih, kepedeaan banget!” seru kak Reza.
__ADS_1
“Ya terus apa dong?”
“Kepo. Ngapain kesini?”
“Mau minta uang. Kita ada rencana mau nginep di rumah dewi. Besok senin udah kuliah.”
“Boleh kan Dewi?” tanya Sekar.
“Boleh sih.”
“Gimana bang?”
“Iya, nanti abang kirim.”
“Makasih abangku sayang. Dewi, balik yuk!” ajak Alsya.
“Dewi biar abang antar ke rumah.”
“Eh-,” Alsya menaikan alis. Tatapannya menyelidik.
“Jangan mikir aneh-aneh. Tadi abang udah janji sama om Risky mau antar Dewi pulang dengan selamat.”
“Emm... sama kita sekalian aja gimana Dewi?” ajak Sekar.
“Nggak papa kok. Kak Reza lebih baik ngurus kerjaan dulu. Aku balik sama mereka aja.”
“Let’s go!”
“Yaudah kalau gitu. Hati-hati kalian di jalan. Kabarin kalau sudah sampai di rumah, ya Dewi.”
Aku pun hanya mengangguk singkat.
...⌂⌂⌂...
CHINTHIA DEWI CARLINA
ALSYA GRACIA PUTRI
SALSABILA SEKAR
IRSYAM MAHARDIKA HERMAWAN
FAIZAL REZA ANGGARA
TINO FERNANDO HERLANSYAH
INDRA HERMAWAN
ANIS MARIANA
RISKY HERLANSYAH
LINDA KAROLINA
__ADS_1
#mohon maaf apabila ada unsur nama tokoh yang sama dengan nama tokoh novel lain tapi ini murni pemikiran author sendiri. Oke segini dulu visualnya guys