
...Happy reading...
“Gimana Nath, lo nemuin Dewi nggak?”
“Nggak.”
“Duh kemana ya.”
“Coba kamu telpon beb.”
“Oke wait.” Ucap Sekar sambil merogoh ponselnya di saku celananya
(Nomer yang anda tuju tidak aktif silahkan coba beberapa saat lagi.)
Tut.
“Nggak aktif.”
“Dewi lo dimana.” Batin Nathan
......................
Setelah menjenguk kak Reza dan melihat kondisinya yang seperti itu aku jadi merasa bersalah, apakah ia seperti itu karena ku? Tetapi jika itu salahku, namun apa? Aku mencoba berintropeksi diri. Dan juga apakah benar Alsya seperti itu juga karena kesalahanku? Namun jika aku salah, dimana letak kesalahanku? Aku sudah mencoba memahami namun nihil, sepertinya masalahnya di Alsya fikirku.
“Gue nggak ngerasa nyakitin dia.”
“Atau mungkin dia gini karena gue tunangan sama Irsyam?”
“Masak iya sih?”
“Kalo bener karena itu, masak gue harus ngerelain Irsyam?” ucap Dewi lalu tersenyum pedih.
Sekarang ini aku berada di danau yang selalu aku temui jika saat sedih maupun senang. Danau ini selalu menjadi saksi bisu kesedihan dan kebahagiaanku. Aku memandangi danau yang semakin lama semakin tenang itu.
__ADS_1
“Gue butuh Irsyam.”
“Disini ternyata?” ucap seseorang dari arah belakang. Aku pun menoleh.
“Sam!” Pekikku terkejut
Aku nyaris tidak percaya. Tidak ada hujan tidak ada angin dan tiba-tiba Irsyam bisa datang kesini? #Agak nggak masuk akal ya? Kenapa Irsyam bisa datang secara tiba-tiba? Karena Irsyam masang pelacak di ponsel Dewi dan itu tanpa sepengetahuan Dewi. Yang ngikuin novel Dear Irsyam pasti tau.
“Kenapa hmm?” Tanya Irsyam lalu mendudukan diri di sebelahku
“Lagi banyak problem hehe.”
“Sini cerita.”
“Alsya…”
“Kenapa sayang?”
“Tadi dia bilang aku racun buat dia, dan soal kak Reza koma itu juga salah aku.”
“Mungkin nggak, kalo hubungan kita penyebab masalahnya?” tanyaku sambil tersenyum kecut
Irsyam hanya diam saja mendengar ucapanku barusan.
“Apa kita batalin pernikahan kita aja?”
“Hei kamu ngomong apa sih!” sergah Irsyam
“Kamu nggak racun, dan Reza koma itu bukan kesalahan kamu.”
“Mereka bakal nge-judge kita apa aja karena mungkin semua yang kita lakuin itu salah. Padahal masalahnya ada di dia sendiri.”
“Jangan pernah kamu ngucapin kata itu lagi okay?!”
__ADS_1
“Hiks tapi aku nggak mau kehilangan sahabat aku apalagi kehilangan kamu.” Ucapku lalu memeluk Irsyam.
“Yang namanya sahabat nggak akan kayak gitu sayang.”
“Masak sahabatnya bahagia dia malah nggak seneng?”
“Udah ya nggak usah nangis lagi.”
“Sekali-kali kita harus kejam sama orang lain, kadang mereka udah dibaikin suka nggak tahu diri soalnya.”
“Nggak bisa.”
“Kamu jangan terlalu baik, nanti orang-orang pada seenaknya sama kamu.”
“Tapi kalau nanti Alsya sakit hati karena aku lagi gimana?”
“Kenapa kamu mikirin dia? Dia aja nggak pernah mikirin perasaan kamu loh.”
Dewi menghela nafas panjang. Lagi-lagi ucapan Irsyam benar.
“Aku coba deh.”
Irsyam tersenyum manis kearah Dewi.
“Good girls.”
Tanpa mereka sadari sedari tadi ada seseorang yang menyimak percakapan mereka hingga akhir. Hatinya merasa panas saat melihat kedekatan Dewi dan Irsyam.
“Arghhh lagi-lagi gue selalu kalah.”
“Untuk sekarang silahkan, gue kasih waktu buat lo untuk menikmati kesenangan dengan orang yang lo cintai.”
“Liat aja sebentar lagi gue bakal nyingkirin lo.” Ucap orang tersebut sambil tersenyum misterius.
__ADS_1
...Jangan lupa like, comen, and vote ya. Tetep tungguin novel dear irsyam terus nantinya baibaii....