
...Happy reading...
Kringgggggg.
Suara alarm pagi mengganggu tidur seorang wanita cantik, ya dia adalah Dewi.
“Enghh jam berapa sih.” lenguhnya sambil mematikan alarm yang ada di handponenya
“Jam enam”
Aku beranjak dari tidurku merapikan tempat tidur dan membuka jendela, sambil menikmati segarnya suasana di pagi hari, setelah itu ku langkahkan kaki ku ke kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai aku memutuskan untuk turun ke bawah.
“Pagi semua.”
“Pagi putri ayah."
“Pagi nak.”
“Tino mana?” ucapku sambil celingukan mencarinya
“Baru mandi.”
Hanya ku balas dengan anggukan kepala.
“Dewi bantu ya bu.”
“Ini nak tolong sayurnya dipindahin ke wadah ya, ibu ke atas dulu liat Tino."
“Iya bu.”
Aku memindahkan sayur bayam tersebut ke wadah lalu menaruhnya di meja. Sambil menata makanan Ayah pun bertanya.
“Kamu sama Irsyam pacaran nak?”
“Enggak yah.”
“Masak?”
“Kalo cinta?”
“Apasih kok Ayah tanyanya kayak gitu.” ucapku sambil menahan malu
Dia pun hanya tersenyum. “Anak ayah udah gede ya.”
“Nak sini.”
Aku menghampirinya.
“Kalo kamu mau pacaran sama Irsyam boleh kok, asal enggak mempengaruhi kuliah kamu.”
“Toh kamu juga udah dewasa."
“Tapi yah..”
“Ayah tau kan kalo kak Reza juga deketin Dewi.”
“Dewi nggak mau nyakitin perasaan kak Reza kalo Dewi pacaran sama Irsyam.”
“Kamu sukanya sama siapa? Irsyam kan?”
Aku mengangguk samar.
“Nah kalo gitu kamu harus ngasih tau ke Reza. Nak kadang cowo sama cewe kalo kalau cuma temenan kadang ngga bisa, pasti salah satunya ada perasaan lebih, jadi kamu harus berani bilang yang sebenernya, Sebelum semuanya terlambat."
“Tapi Dewi takut.”
“Nggak usah takut, yang penting kamu ngomongnya baik-baik. Reza pasti bakal ngertiin kok nak.”
“Iya deh, Dewi coba yah.”
“Kakak, nanti anterin aku ke sekolah ya.” celetuk tiba-tiba anak kecil
“Lah enggak bareng ayah?”
“Enggak, aku pengen dianterin kakak.”
“Boleh kan bu, yah?”
“Iya boleh.”
“Nak kamu bisa nganterin adik kamu?”
“Bisa bu.”
“Yaudah yuk sarapan dulu.”
Kami menikmati sarapan pagi ini dengan sayur bayam dan ikan kakap merah sebagai lauknya.
“Bu ayah berangkat dulu ya."
“Iya hati-hati yah.” ucapnya lalu mencium punggung tangan ayah diikuti aku dan juga Tino
“Berangkat dulu ya nak.”
“Iya yah.” jawabku dan Tino bersamaan
“Bu Dewi pamit anterin Tino dulu ya."
“Iya nak jangan ngebut ya."
Ku balas dengan anggukan kepala, lalu menuju ke garasi menggambil motor.
“Tino sini nak.”
“Nanti disekolah nggak boleh nakal ya.”
“Iya bu.” balasnya lalu mencium punggung tangan ibu
“Yaudah sana, kakak udah nunggu di luar.”
“Dadah bu!!!”
“Dahhh jangan lari!!”
“Sini pakek helm dulu.”
“Ih kepalaku jadi berat kak.”
Aku terkekeh kecil. “Bentar doang lagian nggak ada helm kecil.”
“Hm iya.”
Aku tertawa melihat wajahnya setelah memakai helm, sungguh sangat lucu bagiku. Badannya kecil tapi menggunakan helm besar.
__ADS_1
“Kenapa ketawa.”
“Enggak.”
“Yuk buruan naik.”
Ku lajukan motorku dengan kecepatan standar, membelah kota bandung. Dua puluh menit kami telah sampai di depan sekolah Tino.
“Kak minta tolong bukain susah nih.”
Klik.
Ku buka pengunci di helm tersebut.
“Udah dikasih uang jajan sama ibu?”
“Udah, ini juga bawa bekal.”
“Yaudah masuk gih.”
“Salimm.” ucapnya sambil menyodorkan tangannya
“Nggak boleh nakal ya.”
“Siap."
“TINO!!” seru seorang anak kecil
“Rafi!!” pekik Tino
“Kak, Tino duluan yah dadah!!”
"Dahh!!"
Aku melajukan motor menuju kerumah, setelah sampai kerumah aku untuk bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.
Tringgg.
Satu pesan masuk tertera di layar ponselku.
“Bestie"
Sekar : Udah berangkat?
Dewi : Belum nih, lagi mau siap-siap
Sekar : Aku kesitu ya, nanti berangkatnya bareng
Dewi : Oke
“Oke ini udah, ini juga udah.”
“Tinggal pakek almameter sama sepatu.”
“Oke udah siap.”
Ku langkahkan kakiku ke bawah. Sambil menunggu sekar datang. Setelah menunggu lumayan lama akhirnya diapun datang.
“Sorry macet.”
“Nggak papa."
“Bentar aku kunci pintu.”
“Hai ciwi-ciwi.” sapa nathan
“Fakboy nih senggol dong.”
“Eh paan sih bocan."
“Kalian kenapa nggak pacaran aja sih kan cocok.” lerai Rico
“Enggak lah kita kan cuma temen, ya nggak nath.”
“Yoi men.” balasnya sambil mengacak acak rambutku
“Ck sialan, jadi berantakan nih.”
Hehe “Tuh ada spion di benerin dulu sana."
.
......................
“Sam keluar yuk, sambil liat-liat kampus.” ajak alsya
"Emm boleh deh."
Mereka berdua melangkahkan kaki untuk menelusuri kampus.
“Kamu lihat bagunan yang disebelah sana? Itu fakultas kedokteran.”
“Nah kalo sampingnya itu, fakultas hukum.”
“Huft capek juga ya ngeliling in kampus.”
“Mau ke kantin nggak?”
"Yang deket sini aja ya."
“Oke yuk.”
......................
“Kantin yuk, laper nih.”
“Kebiasaan kalo pagi udah laper aja.”
Hehe “Tadi cuma sarapan roti bestie."
“Yaudah lah skuyy."
“Kalian mau pesen apa?”
“Aku nanti pesen sendiri aja nath, ini juga masih kenyang.”
“Nasi goreng sama teh anget.”
“Ah ide bagus aku juga nath.”
“Oke tunggu ya, aku pesenin dulu."
Aku yang bosan pun memutuskan untuk membuka handponeku, ku buka aplikasi tikt*k lalu aku mengscrollnya.
__ADS_1
“Eh ada Alsya tuh.”
“Buset main nempel-nempel aja apa udah jadian ya” gumam sekar kecil yang masih bisa kudengar
Aku masih belum memperhatikan mereka, hingga lengan Sekar menyenggol ku. Ku dongakkan kepalaku menatapnya.
“Apa.”
“Hai guys.” sapa seseorang yang aku kenali suaranya
Aku beralih menengok ke sumber suara tersebut. Menampakan seorang wanita dan pria yang sedang BERGANDENGAN TANGAN? Menatap ke arah kami.
Deg.
Jantungku berhenti sesaat melihat pemandangan yang ada di depanku. Kenapa hatiku merasa sesak melihat Irsyam dan Alsya bergandengan tangan, bahkan Irsyam saja bukan siapa-siapa dalam hidupku. Kenapa hatiku merasa sakit? Apakah aku sudah jatuh cinta padanya? tapi apakah tidak terlambat? Apakah Alsya punya hubungan dengan Irsyam? ya lelaki tersebut adalah Irsyam
“Dewi.”
Semua yang berada disana pun terkejut menatap aku dan Irsyam.. Mungkin yang difikiran mereka kenapa bisa kenal?
Ku balas panggilannya dengan senyum paksa. Lalu ku lanjutkan aktifitas mengsecroll ku.
“Kalian kok kenal?”
“Dia ce..”
"Kita temenan." sergahku cepat
"Kok bisa?"
"Ayahnya Irsyam temennya bokap, jadi ya gitu deh."
Irsyam hanya menatapku dingin.
"Owalah, kirain pacaran."
“Buset kenapa nih.” tanya Nathan yang baru saja datang.
“Eh lu anak baru kemarin kan, minggir lo aelah biasanya gue duduk disamping Dewi.”
“Sekarang gue yang disini.”
“Enak aja.”
"Udahlah nath, masih banyak tempat duduk lain, nggak usah pakek ribut segala."
"Ck hm."
"Sam kamu mau pesen apa?" tawar Alsya
"Es teh aja."
"Tunggu ya."
"Iya."
“Psst Dewi, kamu utang penjelasan sama aku.”
“Aku mau jelasin yang tadi.” celetuk Irsyam tiba-tiba
"Hm."
Flashback on.
“Huft capek juga ya ngeliling in kampus”
“Mau ke kantin nggak?”
“Yang deket sini aja ya.”
“Oke yuk.”
Ditengah perjalan tiba-tiba ada seseorang yang berjalan menghampiri kami.
“Kenapa?”
“Sam aku takut, dia dulu mantan aku.”
“Sya, tapi jangan gini."
“Bentar aja sam, sampe dia pergi.”
Lelaki yang disebut mantan oleh Alsya tadi pun masih mengikuti kami hingga menuju kantin, entahlah kenapa. Jujur aku merasa risih seperti ini. Aku tidak suka di pegang oleh wanita kecuali orang yang melahirkanku dan Dewi.
Flashback off.
“Mantan?”
Irsyam pun hanya mengganggukan kepala.
Aku dan sekar saling pandang. Pasalnya Alsya tidak pernah bercerita soal mantan kekasihnya yang kuliah disini.
“Maaf ya, tadi aku udah nolak tapi dia nggak mau. Kalo mau marah nggak papa. Tapi jangan cuek gini."
“Iya.”
"Wait wait, kenapa harus minta maaf, atau jangan-jangan kalian emang pacaran ya?"
Krik krik.
"Yeh sialan dikacangin."
“Dimaafin enggak.”
“Iya dimaafin.”
“Makasih sayang.” ucap irsyam sambil tersenyum manis kearahku
Aku pun terkejut mendengar ucapannya barusan.
“Aduh srepettt!!!”
“Kiww, sayang dongg!!!”
“Woah mas kulkas aww."
Aku membuang mukaku ke sembarang arah, pipiku saat ini pasti sudah memerah.
“Aww neng dewi pipinya kek tomat.”
Mereka semua pun tertawa mendengar ucapan Nathan barusan.
...Jangan lupa vote dan juga follow author....
__ADS_1
...tetap stay disini ya, dan tungguin Dear Irsyamm update nantinya....