
...Happy reading....
Sesampainya kami dirumah sakit, kami langsung menuju ruang 5 dimana kak Reza dirawat.
Ceklek.
Sekar membuka pintu ruangan tersebut.
Disana menampakan Alsya yang sedang memandang kearah kami. Kaget itulah ekspresinya sekarang.
“Sya.” Sapa Arin lalu memeluknya.
“Hiks hiks kamu kenapa nggak pernah cerita sih?”
Alsya pun menangis dipelukan Arin.
“Maafin gue Rin, maafin gue selama ini gue udah jahat sama lo.”
“Gue udah maafin lo kok.”
Aku memandangi seorang lelaki yang sedang terbaring lemah di atas ranjang. Dia adalah Reza, seseorang yang pernah mengutarakan cintanya, namun aku menolaknya. Entah mengapa hatiku terasa teriris melihat dirinya yang lemah tak berdaya itu. Aku pun mendekatinya, ku genggam tangannya dan membisikan beberapa kata ditelinganya.
“Bangun.”
“Aku kangen sama Kak Reza.”
Merasa tak ada pergerakan darinya aku mulai meneteskan air mata.
“Puas lo?”
“Puas udah bikin Kakak gue menderita?” Tanya seseorang yang sangat aku kenali
“Sya jangan gitu, Dewi yang paling sedih denger kabar ini.” Ucap Arin
“Jangan salahin dia.” Ucap Sekar
“Terus-terus an aja lo belain sahabat lo itu.”
“Sampai kapan lo kayak gini ke gue Sya?” tanyaku
“Gue salah apa? Sampai-sampai lo kayak gini ke gue?”
“Salah apa lo bilang?”
“Lo sadar nggak sih? Selama ini lo tu racun buat gue!!”
Lagi dan lagi aku harus merasakan sakit dihatiku, dan apa tadi? Alsya menyebutku racun? Apakah pantas seorang sahabat berbicara seperti itu? Apa benar aku sejahat itu?
Aku pun tersenyum pedih mendengar ucapan Alsya barusan.
__ADS_1
“Makasih lo Sya.” Ucapku
“Kalo gitu gue pamit dulu ya, gue kan racun.” Ucapku lalu berlari keluar ruangan begitu saja.
“DEWI!!”
“Lo kelewatan kali ini Sya.” Ucap Nathan lalu berlari keluar menyusul Dewi
Sekar dan Rico pun keluar begitu saja untuk mengejar Dewi. Kini diruangan hanya tersisa Arin dan Alsya. Keduanya sama-sama larut dalam fikirannya masing-masing. Hingga tiba suara pendeteksi jantung yang semulanya normal kini menjadi tidak normal.
“Tittttttt.”
“DOKTER!”
“DOK!”
“Rin panggil dokter rin!”
Belum sempat Arin memanggil dokter, Anin sudah lebih dulu datang bersama beberapa perawat.
“Dek kamu tunggu diluar ruangan ya sama, kakak mau nanganin Reza.”
“Kak selamatin Bang Reza.”
“Pasti!”
“Satu dua ….”
“Za bangun.” Ucap Anin sambil menempelkan defribrilator di jantung Reza
“REZA!”
Setelah keadaan yang menegangkan itu akhirnya detak jantung Reza kini kembali normal.
“Huft syukur Ya Allah.”
“Kalian boleh keluar, saya mau memeriksa pasien dulu.”
“Baik Dok.” Ucap perawat tersebut lalu pergi meninggalkan ruangan
“Syukur kamu baik-baik aja Za.”
“Kamu kapan bangun hm?”
“Aku kangen sama kamu.” Lirih Anin
“D-ewi.” Ucap Reza lemah
Dengan cepat Anin memeriksa keadaan Reza.
__ADS_1
“Za? Ka-mu ngomong apa tadi?”
“De-wi.”
“Ha-h, kamu..”
“Dewi.”
“Ini aku Anin Za.”
Setelah itu hening tidak ada suara dari Reza. Anin menghela nafas.
“Kamu buruan bangun ya.”
Cup.
Anin mencium kening Reza lalu meninggalkannya sendiri diruangan.
“Gima keadaan Bang Reza Kak?”
“Dia baik-baik aja kan?”
“Kakak kok nangis?”
“Bang Reza nggak papa kan!?”
“Dia nggak papa.”
“Alhamdulilah keadaannya kembali normal.”
Alsya mengulas senyum.
“Tapi tadi dia manggil-manggil nama Dewi.
“Siapa Dewi?”
“Pacarnya Reza ya?”
“Eh bukan Kak.”
“Em cuma temen.” Ucap Alsya
“Oh kirain.” Ucap Anin lalu tersenyum manis kearah Alsya dan Arin
“Yaudah kalo gitu Kakak mau meriksa pasien lain ya.”
“Jangan berisik ya, Reza masih butuh istirahat yang cukup.”
“Iya Kak.”
__ADS_1