Dear Irsyam

Dear Irsyam
Luka


__ADS_3

...Happy reading....


Pagi yang indah, Hari ini aku sengaja bangun agak terlambat karena jadwal kuliahku masih nanti jam 10. Aku merapikan tempat tidurku, tak sengaja aku melihat ponselku ada pesan chat masuk yang belum kubaca. Aku pun beralih mengambil handphone ku. Irsyam gumamku.


Irsyam: Lagi nggak baik hehe


Aku pun mengernyitkan dahi membaca pesan dari Irsyam. "apa maksudnya."


Dewi: Maksudnya?


Tak ada balasan dari Irsyam.


"Apa aku kerumahnya ya."


Dengan cepat aku berlari ke kamar mandi, lima belas menit aku telah selesai dan setelah itu aku menggunakan rutinitas skincare pagi ku.


......................


“Huft bosen, coba kalo Tino masih disini, rumah segede gini pun bakal keliatan rame."


“Dek kakak kangen sama kamu.” lirihnya


Tring.


Dering ponsel membuyarkan lamunannya.


Dewi: Maksudnya?


Read.


“Dek kamu pasti lagi lihatin kakak kan?”


“Kenapa kamu ninggalin kakak dek! Kenapa!?”


Isakan tangis pun pecah memenuhi ruangan kamarnya, seorang kakak yang kehilangan seorang adik membuat luka tersendiri baginya.


“Den?”


“Aden kenapa? Jangan bikin bibi takut.”


“Pergi bi, Irsyam pengen sendiri!!”


“Tapi...”


“Pergii!!”


......................


Aku melangkahkan kaki menuruni tangga di bawah sudah ada Ibu dan Ayah.


"Sarapan dulu nak."


"Nanti aja Bu."


"Yah Om Indra sama Tante Anis masih disini?"


"Udah ke Jakarta, kenapa?"


"Dewi mau ke rumah Irsyam bentar boleh?"


"Ngapain?"


"Ini Irsyam ngirim pesan 'lagi nggak baik' Dewi takut dia kenapa-kenapa."


"Dewi boleh kesana nggak?"


"Yaudah kalo gitu, coba kamu kesana."


"Dewi pamit ya."


"Iya nak."


......................


"Duh mana ya rumahnya."


"Ini bukan ya."


"Kayaknya ini deh."


"Cari siapa neng." tanya satpam di rumah tersebut


"Eh punten Pak saya mau nyari Irsyam."


"Ini rumahnya Irsyam kan?"


"Oh aden Irsyam, iya neng, mari silahkan masuk."


Sesampainya aku di rumah Irsyam, aku mendengar suara gaduh dari dalam, "Ada apa ini" jujur perasaanku saat ini sangat campur aduk.


"Itu suara apa ya pak?"


"Waduh kurang tau neng, saya juga lagi denger."

__ADS_1


"Kita coba cek kedalam aja neng."


Aku melangkahkan kaki memasuki rumah Irsyam, disana aku melihat ada seorang wanita paruh baya sedang menangis sambil menjerit ketakutan aku pun menghampirinya.


"Ibu kenapa nangis?"


"Irsyam nya dimana?"


"Neng tolong, den Irsyam ngamuk-ngamuk bibi takut kalo den Irsyam nyelakain dirinya sendiri."


Deg.


Mendengar penuturan bibi Irsyam jantungku sempat berhenti sejenak, sejujurnya aku juga takut jika Irsyam kenapa-kenapa.


"Irsyam dimana bi?"


"Dikamar situ neng, hati-hati."


Toktok.


Tidak ada sahutan dari Irsyam.


Ceklek.


Aku mencoba membuka pintu kamarnya, tidak dikunci ternyata. Saat pertama aku membuka pintu kamarnya pemandangan yang ku tangkap ialah kamar yang sangat berantakan dan keadaan Irsyam yang sangat kacau.


"Sam." panggilku lirih


Dia pun menoleh kearah ku.


"Dewi." ucapnya lalu berlari ke pelukanku.


Isakan tangis pun terdengar ditelinga ku,


"Hei kenapa hm?"


"Kangen." ucapnya lirih


"Kangen siapa hm?"


Dia pun tidak menjawab pertanyaan dariku tetapi malah menangis sejadi-jadinya.


"Sttt kok nangis sih."


"Udah ya nggak boleh sedih."


"Ada aku disini."


Irsyam pun melepaskan pelukannya.


"I'm fine."


"Bohong banget."


Dia pun tersenyum ke arahku lalu menunjuk sebuah bingkai, didalamnya ada foto dua orang anak lelaki yang sedang tertawa bahagia.


"Kenapa fotonya?"


"Sini duduk."


Aku pun melangkahkan kaki ke arahnya.


"Dia adek aku." ucapnya sambil menatap kosong kearah depan


"Adek? kamu punya adek?"


"Iya."


"Sebelum semuanya terjadi."


"Maksudnya?"


“Aden ya ampun!! Itu tangan sama dahinya kok berdarah.”


"Maaf bi hilang kendali" ucapnya cengengesan


“Bi maaf ada obat merah nggak?”


“Ada neng bibi ambilin dulu ya."


“Iya."


“Kenapa mukanya jadi jutek gitu."


Aku pun hanya diam saja, jujur aku kecewa sekaligus khawatir dengan Irsyam kenapa dia melukai dirinya sendiri.


“Ini neng obatnya."


“Makasih bi."


“Sama-sama, bibi tinggal ke dapur dulu ya mau ngelanjutin masak buat sarapan."


Aku menganggukkan kepala.

__ADS_1


“Agak sini.”


Dia pun menggeser duduknya lebih dekat denganku.


“Tahan.”


“Ashhhh perih.” ringisnya


“Gini doang sakit, tadi waktu nyakitin aja nggak sakit."


“Iya maaf, namanya juga lepas kendali."


Aku pun menghela nafas.


“Jangan di ulangin lagi.”


“Emang kenapa."


“Aku nggak mau kamu kayak gini lagi, emosi boleh tapi jangan nyakitin diri sendiri."


“Ciee perhatian."


“Apasih.”


“Ih sakit tau, jangan diteken."


“Makanya kamu diem.”


“Oke diem.”


Dengan telaten aku membersihkan luka ditangan dan dahi irsyam. Ku balut tangannya dengan perban karena lukanya agak parah, dan luka di dahinya ku tutup dengan hansaplast.


"Cantik banget."


Aku pun menoleh ke kanan dan kekiri.


“Siapa?”


“Kamu cantik banget.”


"Biasa aja."


"Serius kamu cantik, apalagi dilihat dari dekat gini."


“Dih gombal” ucapku sambil menahan panas di pipiku.


“Aku serius."


“Aden, neng sarapan dulu yuk bibi udah selesai masak nih” teriaknya dari arah dapur


“Ayo”


"Mau Dewi bantuin bi?"


"Nggak usah neng, ini udah selesai kok."


Dewi.”


“Hm?”


“Suapin."


“Dih makan sendiri, nggak usah modus."


“Nih” ucapnya sambil menunjukkan tangannya


Huft aku pun menghela nafas.


“Yaudah iya."


“Nasinya segini udah? Mau pakai sayur apa?”


“Udah, sayur sop aja sama dikasih tempe."


Ku ambil sayur sop dan tempe sebagai lauknya. Rasanya seperti menyuapi anak kecil sangat lucu.


“Waduh kayaknya bibi ngeganggu ya?”


“Eh enggak bi, bibi udah makan belum? Makan sekalian aja."


“Bibi mah nanti aja makannya neng, mau ke kamar den Irsyam bersih-bersih."


“Maaf ya bi Irsyam jadi nambahin pekerjaan bibi.”


“Nggak papa den, itukan tugas bibi. Yaudah bibi ke kamar aden dulu ya."


“Iya bi, hati-hati tadi ada pecahan kaca.”


"Iya den siap."


...Jangan lupa vote dan juga follow author....


...tetap stay disini ya, dan tungguin Dear Irsyamm update nantinya....

__ADS_1


__ADS_2