Dear Irsyam

Dear Irsyam
Berkunjung


__ADS_3

...Happy reading...


Pagi hari telah tiba dan sinar matahari sempurna mengganggu tidurku. Aku membuka mata dan beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah selesai turun ke bawah menuju dapur dan mendapati ibu sedang memasak sarapan.


“Pagi Bu.”


“Pagi sayang.”


“Ibu tumben masak banyak gini? Dewi bantu, ya?”


Ibu hanya tersenyum lalu berkata, “Iya, keluarganya om Indra mau main ke sini.”


Aku pun terkejut dibuatnya.


“Apa!? Kapan, Bu?”


“Nanti jam 8 sayang.”


Bagaimana ini... jujur saja aku belum siap bertemu Irsyam, mengingat kejadian kemarin dia mengungkapkan perasaannya padaku. Apakah mungkin akan sedikit canggung?


“Emm, mereka cuma main aja kan, Bu?”


Entah mengapa pertanyaan itu membuat ibuku jadi salah tingkah. Ada apa ya?


“Iya, main.”


...⌂⌂⌂...


Tiga puluh menit kami telah menyelesaikan menu masakan untuk hari ini. Ibuku pun menyuruhku untuk segera mandi. Aku melangkah ke kamar dan ponselku tiba-tiba berbunyi menandakan ada notifikasi masuk. Kubuka pesan tersebut. Ternyata dari kak Reza. Terjadilah sesi balas membalas pesan.


Kak Reza : Hai Dewi, apa kabar?


Dewi : Baik. Kakak sendiri gimana kabarnya?


Kak Reza : Baik juga. Ngomong-ngomong hari ini sibuk, nggak? Aku pengen ngobrol sama kamu


Dewi : Emm, maaf kak gabisa kalo sekarang. Katanya temennya ayah mau kesini. Gaenak kalo nanti Dewi tinggal


Kak Reza : Kalo besok gimana?


Dewi : Besok? Kayaknya bisa kak


Kak Reza : Oke besok ya, Dewi


Dewi : Iyaa


Tumben banget kak reza ngajakin ketemu. Tiba-tiba suara ibu membuyarkan lamunanku.


“Loh, belum mandi juga Kak?”

__ADS_1


“Eh, iya ini mau mandi.”


“Yaudah buruan mandi. Ibu mau bangunin Tino.”


...⌂⌂⌂...


Lima belas menit akhirnya aku telah selesai dengan ritual mandiku. Tak lupa setelah mandi aku menjalankan rutinitas skincare. Hari ini malas dandan sih, jadi aku hanya menggunakan liptint sedikit untuk menutupi bibirku agar tidak terlalu pucat. Kugerai rambutku dan menyesuaikannya dengan outfit simpelku dan ya, selesai.


“Nak, udah selesai belum? Turun yuk keluarganya om Indra udah on the way.” Teriak ibu dari lantai bawah.


“Iya Buuu, sebentar.”


Aku pun melangkahkan kaki ke bawah disana sudah ada ayah, ibu, dan Tino.


“Pagi semuaa...” sapaku pada mereka.


“Pagi putri ayah...”


“Pagi juga, Nak.” Ibu pun menimpali.


Tino asik menonton kartun di handphone ayah. Memang ya, kalau sudah pegang handphone asik sendiri dengan dunianya.


“Sini Dewi bantuin Bu.”


“Makasih sayang. Ini tolong sendok sama garpunya di kasih ke samping piring terus sekalian ambilin tissue di rak. Ibu lupa ambil tadi.”


“Oke.” Aku menuju rak yang dimaksud ibu, “Bu, ini tissuenya ditaruh di mana? Mejanya udah penuh.”


Ayahku pun hanya tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah ibu, memang ya ribet sekali wanita itu. Dan sepertinya semuanya harus perfect.


“Ibu, Tino laper.”


“Bentar ya Nak, Ibu lagi ngurusin ini nanti kalo udah selesai Ibu ambilin makan, ya.”


Tino pun hanya menganggukan kepalanya.


“Nih, handpone Ayah”


“Bilang apa hmm?”


“Makasih Ayah, udah dipinjemin.”


“Sama-sama. Anak pintar.”


“Kak, main kejar-kejaran yuk!”


“Gamau.”


“Bentar doang Kak.” ucapnya sambil memelas.

__ADS_1


Baru aku ingin menjawab sudah dibalas duluan oleh ibu, “Nanti ya sayang, kak Dewi lagi bantuin Ibu.”


“Yahh, iya dehh” ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya menggemaskan sekali bagiku.


Ting... tong...


Bel di rumahku pun berbunyi nampaknya keluarga om Indra sudah sampai ke sini. Ayahku pun melangkahkan kaki keluar untuk menemui mereka dan disusul oleh Tino di belakang. Tak sengaja aku pun melihat raut wajah ibu seperti berbeda. Ada apa sih sebenarnya? Atau aku tanyakan saja, ya?


“Ibu kenapa?”


Ibuku langsung tersenyum getir ke arahku “Enggak papa. Ibu cuma capek aja. Habisnya ngurusin ini itu. Yuk, kita temui mereka!”


Aku dan ibu melangkahkan kaki ke depan untuk menemui keluarga om Indra. Di sana tampak mereka sedang mengobrol dan tertawa.


“Eh, Jeng Linda dan Dewi. Sini-sini...” ajak tante Anis pada kami.


“Dewi duduknya sama Irsyam dong. Tante mau lihat kalian udah cocok belum ya, duduk di pelaminan.”


Aku pun melototkan mataku. Maksudnya apa ini.


“Wah, iya Jeng ide bagus. Ibu juga pengen lihat dong Dewi.”


Apasih mereka ini, aku yakin pipiku sudah merah karena menahan malu. Ya ampun rasanya pengen menghilang dari sini. Dengan terpaksa aku pun mendudukan diri di samping Irsyam.


“Tuh Jeng udah cocok tinggal nunggu waktunya yang tepat.” ucap tante Anis pada ibuku.


“Iya jeng, duh cocok banget. Ibu jadi nggak sabar liat kamu sama Irsyam duduk di pelaminan.”


“Doain ya, Tante.” Timpal Irsyam sambil tersenyum manis.


“Perasaan tadi ngga dandan deh, Nak Dewi. Kok pipinya merah?” ucap om Indra. Aku pun semakin malu dibuatnya.


Aku berlari ke pelukan ayah karna dari tadi dia yang tidak ikut mengejekku. Kusembunyikan wajahku di dalam dada bidangnya.


“Kok meluk ke Ayah sih, ya ke Irsyam dong.” Ejek ayahku lalu diselingi tertawaan dari mereka.


“Cieee kakak malu. Cie... cie...” ledek Tino.


Lalu mereka pun tertawa sejadinya.


“Duh, Dewi lucu banget kalo lagi salting,” ucap om Indra.


“Yaudah yuk kita makan dulu, pasti belum pada sarapan kan?” ajak ibu.


“Yeee... makan... less goo...” seru Tino.


Kami pun melangkahkan kaki ke meja makan dan setelah itu kami menyantap makanan bersama.


...Jangan lupa vote dan juga follow author....

__ADS_1


...tetap stay disini ya, dan tungguin Dear Irsyamm update nantinya....


...see you next part guyss!!...


__ADS_2