Dear Irsyam

Dear Irsyam
Masalalu Irsyam


__ADS_3

...Happy reading...


Dirumah sakit.


Setelah selesai memeriksa beberapa pasien aku melangkahkan kaki untuk beristirahat diruangan ku. Ku langkahkan kakiku menuju lantai atas, setelah menemukan ruangan dengan tag Dr. Reza putra pratama ku buka pintu ruangan tersebut dan mendudukan diri di sofa.


“Huft akhirnya selesai.."


"Kenapa tiba-tiba aku kangen dewi ya."


"Apa aku main kerumahnya."


“Oke deh mari kita berangkat”


......................


“Kenyang deh.” ucap Irsyam sambil tersenyum ke arahku


“Kamu kayak Tino aja."


Pasalnya waktu aku menyuapi Tino, dia juga mengatakan hal yang sama seperti Irsyam. Kulihat raut wajah Irsyam agak sedikit berbeda setelah aku mengatakan pasal Tino.


“Eh salah ngomong ya? maaf ya.”


“Enggak kok.”


”Emm, Dewi."


“Iya?”


“Aku mau cerita sesuatu."


“Cerita apa?”


“Emm besok aja deh, udah sore kamu nggak pulang?”


“Kenapa nggak sekarang?”


"Besok aja sayang.” ucapnya ngelantur


“Sayang, sayang apaan."


“Kan aku udah nyatain perasaanku ke kamu, tinggal kamunya mau apa enggak.” terangnya


Setelah Irsyam mengatakan itu, yang terlintas dipikiran ku saat malam itu dia menyatakan perasaan cintanya padaku. Aku pun tersenyum simpul mengingatnya.


“Anda sehat bu?”


“Ihh sialan lo sam.”


Hahah dia pun puas menertawakanku.


“Udah sore aku anter pulang ya, nanti Tino nyariin lagi”


“Tapi tangan kamu?”


“Plis ya yang sakit itu tangan sama dahi bukan kaki aku jadi aku masih bisa jalan."


“Lah kok ngamok.”


“His gemes.” ucapnya sambil menggacak gemas rambutku


“Jangan di acak-acak ih.”


Sesampainya di rumah aku melihat mobil di halaman rumah.


“Siapa ya yang dateng.”


“Masuk dulu aja yuk.”


Dia pun menurut dan masuk ke dalam bersamaku, kulihat Ayah dan Ibu sedang berada di ruang tamu sedang mengobrol dan ada seseorang yang menurutku tidak asing.


“Itu bukannya dokter yang kemarin ngajak kamu ngobrol kan.” bisik irsyam padaku


“Kak reza.” ucapku


"Eh nak udah pulang to.” kaget ibuku


“Baru aja sampai bu.”


“Hai dewi.” ucap kak reza


“Modus.” cibir Irsyam


"Hai kak."


“Nak Irsyam!! Ya ampun itu tangan sama dahinya kenapa sampai kayak gitu?” tanya ibu


“Lepas kendali tan.” hehe


Ibu hanya bisa geleng-geleng kepala.


“Sini duduk kalian.”


Aku dan Irsyam melangkahkan kaki mendudukan diri di sofa yang kosong.


"Dari mana dewi?"


“Modus” cibir Irsyam


Plak.


“Ih sakit tau.”


“Bisa diem nggak.”


“Tan dewi KDRT nih.” adunya pada ibu


“KDRT apaan kalian masih kecil ya.” sergah ayah


“Ehe bercanda om.”


Reza menatap malas ke arah Irsyam.


“Ngapain lo liat-liat!!”


“Punya mata.”


“Dewi ke atas ya, lupa kalo tadi ada tugas.” alasanku


“Tugas apa, biar kakak bantu.” tawar kak reza


“Statistika kak.”


“Sini aja biar kakak bantu.”


“Modus banget.”


“Diem lo gue nggak ngomong sama lo.”


“Em aku mau nyoba ngerjain sendiri dulu aja kak, maaf ya."


Hahah Irsyam pun tertawa.


“Gitu dong baru calon istri aku.” ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya ke arahku dan bugh. Bantal di sofa pun mendarat tepat di wajahnya.


“Auwh."


“Yah, dahinya irsyam luka loh.”


“Sembarangan kalo ngomong, kalo serius ya nikahin.”


“Sekarang boleh nggak om?” tanyanya polos


Brush.


Reza yang sedang minum pun menyemburkan minumnya karena kaget atas ucapan Irsyam barusan.


“Baru bocah aja udah mikirin nikah, sekolah dulu yang bener.” cibir Reza

__ADS_1


“Saya serius sama Dewi Om.” ucap Reza


“Ya tanya ke Dewi, kartu hijaunya ada di dia.” jawab ayah santai


"Dewi sama aku aja ya nikahnya.” tawar Irsyam


“Sama aku aja dewi, nanti kita couple goals sama-sama dokter.” ucap kak Reza


Aku pun tak mau ambil pusing ku tinggalkan mereka yang yang sedang berdebat mengenai hal yang tidak penting, ku langkahkan kakiku ke atas menuju kamarku.


“Gara-gara lo tuh dewi jadi ngambek.” ucap Reza


“Dih, lo kali.”


“Lo."


“Udah-udah kalian nggak balik? Ini udah mau malem loh.” lerai ibu


“Eh iya, yaudah kalo gitu saya pamit.” ucap Reza sambil menyalimi tangan Anis dan Risky


“Sana pergi syuh syuh." usir Irsyam


“Dia nggak disuruh pulang tan?” tanya Reza sambil menunjuk kearah Irsyam


“Nak mau pulang atau disini?” tanya ibu pada Irsyam


“Disini dulu boleh kan tan?”


“Iya boleh."


“Loh tan ngg...”


“Shut, udah sana pulang lo.” ucapnya Irsyam lalu tersenyum meledek


Reza menghembuskan nafasnya kasar.


“Huft, yaudah Reza pulang dulu Om, Tan."


“Hati-hati ya nak” ucap ayah dan ibu bersamaan


"Kamu hutang penjelasan sama tante sam."


“Jelasin sekarang.”


“Nggak tau tan semuanya tiba-tiba.”


"Irsyam cuma kangen sama Tino.”


“Andai dulu Irsyam bisa nyelamatin dia.”


ucapnya bergetar sambil menahan tangis dimatanya.


"Udah nggak usah dilanjutin, maafin tante.”


Irsyam pun menumpahkan air matanya.


“Nak udah nanti diliat Dewi.” ucap ayah sambil mengelus punggung Irsyam


“Iya nak udah ya, kamu kalo kangen sama adek kamu kesini aja nggak papa main sama Tino. Anggep aja Tino itu juga adek kamu yang dulu.” ucap ibu


“Adek? Siapa maksudnya?” tanya seorang wanita yang baru saja keluar dari kamarnya


Dengan cepat Irsyam pun menghapus air matanya.


“Nak?”


“Siapa bu?”


“E-Eh itu anu."


“Adek kamu si Tino, besok kalo kamu udah nikah sama irsyam ya berarti Tino juga adiknya Irsyam ya kan bu”


“Hih apasih yah, Dewi masih pengen belajar.”


“Iya iya Ayah kan juga cuma bilang.”


“Ibu!!” teriak anak kecil dari atas


“Kakak.”


Kami pun saling berpandangan satu sama lain, lalu dengan cepat berlari ke atas untuk mengecek keadaan di atas.


Brakk.


“Nak!” teriak ibu


"Ibu Tino mimpi buruk."


"Hustt udah ya, pasti tadi kamu belum berdoa."


"Tidur lagi nak."


“Kakak baik!?” ucapnya antusias


“Iya dek”


Ku lihat matanya agak sedikit berkaca kaca, lalu dia pun melongos pergi begitu saja.


“Kejar nak!” ucap ayah


“Sam! Tunggu.”


Dia berhenti di taman dekat komplek rumah kami.


“Sam” ucapku lalu menghampirinya


“Hei kenapa nangis?”


"Ada apa?"


“Aku kangen Tino.”


“Kan tadi udah ketemu sama Tino.”


“Bukan Tino itu.”


“Maksudnya?”


Dia pun hanya terdiam, sambil memandang lurus kedepan.


"Baru kali ini aku nangis di hadapan cewe.” ucapnya lalu terkekeh kecil sambil melihat ke arahku


"Kenapa? Cerita aja.”


“Aku dulu punya adek dew, tapi...”


“Tapi apa."


“Tapi dia ninggalin aku.”


“Dia jahat ninggalin aku sendirian.”


“Kok bisa, ceritanya gimana?”


"Jadi gini..."


Flashback on


“Dek jangan lari-lari nanti jatuh loh” ucap seorang anak lelaki berusia 13 tahun


“Ayo kak, tangkep aku kalo bisa wlek wlek” ucapnya sambil meledek


“Awas ya kalo udah ketangkep nggak bakal kakak lepasin.”


“Coba aja kalo bisa."


Saat asyik bermain kejar-kejaran. Tiba-tiba ada seseorang yang tidak dikenali datang kerumah.


“Mana Indra, keluar kamu ndra!!” teriak pria tersebut

__ADS_1


"Om siapa sih ganggu aja, kita lagi main kejar-kejaran. Mendingan om pulang” ucap anak kecil berusia 5 tahun tersebut.


“Alah banyak omong!!”


Dor dor.


Tanpa aba-aba anak kecil tersebut ditembak di bagian kepala dua sekaligus. Darah pun mengucur deras di lantai dan anak kecil tersebut tewas seketika.


"Hahah rasakan itu Indra!!!"


“Adekkkk!!!” teriak anak berusia 13 tahun berusaha untuk menghampirinya namun langsung dicekal oleh orang tuanya.


“Sam jangan kesana nak!!” ucap Anis sambil menangis histeris


“Tino mah, Tino berdarah!”


“*******n kamu, kenapa kamu bunuh anak yang tidak tahu apapun.” bentak Indra


Haha “Ini salah kamu, seharusnya kamu mau menandatangani perjanjian itu, maka kamu tidak akan kehilangan anak mu!!”


“Anggap saja ini sebagai pengorbanan.” lanjutnya


“*******n.”


Dor dor dor


Indra yang sudah tersulut emosi pun menembak secara babi buta ke arahnya pria tersebut.


“Kamu sudah membunuh anak saya yang tidak tahu apapun, maka kamu harus menanggung akibatnya!!!”


"Uhuk-uhuk *******n kamu indra!"


Ayah irsyam mengarahkan pistol tepat di jantung pria tersebut dan DOR! Pria itu tewas mengenaskan.


Flashback off.


“Sam”


“Nggak papa, udah jangan nangis.”


“Nggak bisa ngebayangin gimana hancurnya kamu, kehilangan seseorang yang sangat berarti di hidup kamu."


“Sakit banget.”


“Disini sakit.” sambungnya lagi sambil menunjuk ke dadanya


“Aku harap aku nggak kehilangan orang yang aku cintai, untuk kedua kalinya.”


Ku peluk tubuh Irsyam untuk menguatkan dirinya.


“Udah ya, adek kamu pasti juga nggak mau ngelihat kakaknya sedih.”


“Aku tau sam ikhlas enggak segampang itu, mungkin juga itu ngebuat luka tersendiri buat diri kamu. Tapi udah ya, nggak usah sedih-sedih lagi.”


“Iya.”


“Udah malem pulang sana.”


“Kamu juga pulang.”


“Mau disini bentar.”


“Pulang nggak!!”


Dia pun mengerucutkan bibirnya, menggemaskan sekali seperti anak kecil yang sedang ngambek.


"Yaudah iya, pulang nih.”


Duluan ya.”


"Loh ngapain ikut, rumah kamu didepan sana.”


"Emm kangen.”


"Pengen sama dewi terus."


“Nggak ya, udah sana pulang.”


"Hm." singkatnya lalu pergi meninggalkanku


“Dih.” aku menahan tawa melihat perlakuannya yang seperti anak kecil


Aku melangkahkan kaki pulang, irsyam pun demikian. Sesampainya dirumah aku langsung ditanyain beberapa pertanyaan pada ibu.


”Irsyam tadi udah cerita semuanya.”


Setelah mendengar ucapanku mereka pun hanya saling pandang tanpa mengucapkan kata apapun.


“Dewi ke atas ya, udah ngantuk.”


"Iya nak."


Ku langkahkan kakiku ke kamar untuk merebahkan tubuhku.


Ceklek.


Pintu sebelah kamarku terbuka menampakan sosok anak kecil yang sedang tersenyum kearahku.


"Hai kakak.” sapanya padaku dan langsung melongos begitu saja lalu membuka pintu kamarku


"Eh ngapain kamu."


"Mau tidur bareng kakak.”


"Dih tumben."


Hihii dia terkikik kecil


“Kak, tadi kak Irsyam kenapa keluar? Nggak suka liat aku ya?”


Aku jadi teringat ucapan Irsyam tadi, aku pun meringis mengingatnya.


“Nggak.”


"Nggak apa?”


"Tadi kak irsyam keluar nerima telpon."


“Ohh."


“Kak pinjem handphone dong.”


“Hmm?”


“Kakak pinjem handphone boleh nggak.” koreksinya


“Iya boleh.”


"Yess!!”


“Kak, aku download game boleh?”


“Iya.”


“Asikk makasih kak.”


Aku mengambil buku bersampul pink yang bertuliskan diary, dan menuliskan sesuatu di dalamnya.


Dear irsyam...


Hidup tak selamanya indah, kau harus tau itu. Terkadang kau mengira bahwa hidup akan baik baik saja bukan? Kau salah. Hidup itu adalah perjalanan, kau berjalan dan terus berjalan dan ya sampai akhirnya kau menemukan halangan yg sangat besar, dan kau tau itu bukan? Apakah kau akan masih mengira bahwa hidup itu indah? Jawabanku sekarang tidak. Karena hidup ini adalah pilihan, jika kau ingin berlarut dalam kesedihan, hanya akan memperburuk keadaan.


Ku tutup buku diaryku, setelah menuliskan tentang irsyam tersebut aku memutuskan untuk beristirahat, mengantuk sekali rasanya.


Ku lihat tino sudah terlelap sambil menggenggam handphoneku. Ku ambil handphone tersebut dan mengecassnya, kuselimuti tubuh munggilnya. Sebelum tidur aku memutuskan untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Setelah selesai aku memakai skincare rutinitas malamku. Dan aku pun menyusul tino ke alam mimpi.


...Jangan lupa vote dan juga follow author....


...tetap stay disini ya, dan tungguin Dear Irsyamm update nantinya....

__ADS_1


...See u....


__ADS_2