
...Enjoyyy and Happy reading......
Setelah selesai makan malam kami mengobrol sambil sesekali bercerita tentang masa kecil ku dan irsyam. Hingga tiba ucapan om Indra menjeda obrolan kami.
“Kalo suka ya izin sama orang tuanya dong, jangan dilihatin mulu,” sindir om Indra.
Irsyam yang merasa ketahuan pun langsung mengalihkan perhatiannya ke arah lain.
“Halah... udah ketahuan aja buang muka,” ledek om Indra lagi dan kini disusul tawa darinya.
“Pahhh” ucap tante Anis.
Irsyam pun hanya diam tak menjawab.
Apa maksud om Indra?
Apa Irsyam ngeliatin aku?
Aku sebenarnya tidak mau kepedean, tapi perkataan om Indra mampu membuat pipiku memanas –blushing.
“Pipi Kakak kok ada merah-merahnya?” tanya Tino polos. Dan pandangan mereka semua mengarah padaku.
“Eh-” aku pun terkesiap.
“Kayaknya kita bakal besanan deh, Jeng,” ujar mamanya Irsyam.
“Aku nurut anakku aja, Jeng, dan aku juga gamau memaksakan kehendak,” balas ibu.
“Sekolah dulu aja, soal nikah belakangan. Aku belum siap sih kalo Dewi nikah secepat itu,” timpal ayahku.
“Tuh, udah dispoiler Sam.”
“Apasih Yah!” balas Irsyam datar.
“Jeng, udah malam nih! Sebaiknya kita segera balik, yuk!”
“Iya Jeng, yaudah yuk kita pulang! Kasihan Tino juga.”
...⌂⌂⌂...
__ADS_1
Di parkiran
“Om Risky,” panggil Irsyam.
“Ya, Nak?”
“Irsyam minta izin mau bawa Dewi ke alun-alun sebentar boleh?”
“Ada perlu apa?”
“Cuma jalan-jalan sebentar, Om.”
Ayah lalu menoleh kearahku.
“Oke, Om izinin. Tapi jam sebelas harus sudah sampai rumah!”
“Baik Om! Irsyam janji jam sebelas sudah sampai rumah.”
Ayah pun menganggukan kepalanya.
“Dewi, mau nggak jalan-jalan sebentar?”
Rupanya Irsyam membawa mobil sendiri. Kedua orang tuanya sudah melaju dengan Mercedes Benz putih beberapa menit yang lalu. Dan kini, aku berada di dalam Jaguar hitam milik Irsyam setelah dia membukakan pintu untukku. Manis sekali perlakuannya.
Hening antara aku dan Irsyam. Hanya ada suara deru mobil dan ramainya jalanan. Hingga akhirnya Irsyam pun membuka suara.
“Kamu malam ini cantik.”
Seketika pipiku pun memanas karena ucapannya barusan. Simpel tapi bisa membuatku melayang.
“Makasih,” jawabku sembari tersenyum.
“Sebenarnya cuma pengen keliling kota aja sih. Aku juga gatau sampai kapan lagi aku bisa ngeliat wajah cantikmu itu,” terangnya padaku.
Apa maksudnya barusan? Arggh Irsyam... aku sangat malu. Aku yakin pipiku pasti memerah karena ucapanya barusan.
“Kamu bisa aja gombalnya.”
“Aku serius, engga gombal.”
__ADS_1
Aku pun menoleh kearahnya, benar sih dia nampak serius saat mengatakan itu.
“Hehe, iya... iya...” balasku sambil tersenyum canggung ke arahnya.
Tak terasa kami sampai di alun-alun kota. Irsyam pun keluar dan membukakan pintu untukku lagi.
“Makasih Sam,” dia pun hanya membalas dengan senyum manisnya.
“Kamu tau ngga kenapa kamu aku ajak kesini.”
“Engga,” singkatku.
Irsyam menarik napas dan mengatakan,
“Karena aku ingin di malam ini, di kota ini, di hari ini. Mereka menjadi saksi bahwa kamu orang pertama yang mampu membuatku jatuh cinta hanya dengan bertemu di waktu sesingkat ini. Kamu berbeda dari banyaknya perempuan di luar sana, pola pikirmu, tutur kata dan cara bicaramu, mampu membuatku jatuh cinta.”
Apa ini sungguhan? Bagaimana bisa Irsyam jatuh cinta padaku hanya dengan waktu sesingkat ini? Memang sih, Irsyam ini menurutku juga berbeda dari yang lain. Baru kali ini juga aku menemukan lelaki se-berani dia. Dan sepertinya perkataannya tadi jujur. Aku tak melihat kebohongan di matanya. Aku tak mampu berkata sepatah kata pun, karna jujur perkataan Irsyam mampu membuatku terharu. Dan kini aku hanya bisa mengeluarkan air mata bahagiaku. Irsyam pun mendekat ke arahku dan dengan cepat menghapus air mataku.
“Hei, apa aku melukai perasaanmu?” tanyanya dengan lembut dan lagi-lagi aku bungkam. Hanya bisa menggelengkan kepalaku atas pertanyaan Irsyam.
“Kenapa nangis, hm?” tanyanya lagi.
Kini aku tak mampu untuk berbicara dan aku semakin terisak. Kupeluk tubuhnya sambil menangis dalam pelukannya, jujur perkataan Irsyam ini membuat hatiku tersentuh sekaligus terharu. Kuusap kasar air mataku dengan tangan dan aku pun melihat kearahnya.
Aku pun mengucapkan, “Aku terharu. Baru kali ini ada cowok yang bilang langsung mengenai perasaanya,” ucapku sambil menahan air mata agar tak menangis lagi dan ia pun hanya tersenyum padaku.
“Yaudah yuk pulang, tapi jangan nangis lagi, ya! Nanti om Risky salah paham lagi.”
Aku pun mengusap air mataku dan tersenyum ke arahnya.
“Yuk, pulang!”
...⌂⌂⌂...
...Jangan lupa vote dan juga follow author....
...tetap stay disini ya, dan tungguin Dear Irsyamm update nantinyaa....
...see you next part guyss!...
__ADS_1