
...Happy reading....
“Hei sayang bangun.” Ucap Anis sambil menggoyah-goyahkan tubuh Dewi
“Enghhh.” Lenguhnya lalu membuka mata
“Eh Mah?”
“Ini Ibu kamu video call sayang.”
“Eh iya.”
“Kakak Dewi!!” pekik anak kecil disebrang sana
“Tinoo!”
“Kangen kak Dewi sama kak Irsyam, kalian kapan pulangnya sih?”
“Tiga hari lagi sayang, sabar ya.” Ucapku
“Tiga hari itu lama tauu.”
“Ya habis disini enak enggak ada yang gangguin.” Godaku
“Ishh Bu kak Dewi nih.”
“Kenapasih sayang hmm?”
“Masak dia nggak mau pulang ke Bandung.” Adunya pada ibu
“Dihh kakak nggak bilang gitu ya.”
“Tapi kan sama aja.”
“Kamu gimana sayang di sana?”
“Seneng kok Bu.”
“Syukur deh kalo gitu, Anis mana?”
“Lagi dikamar mandi.”
“Oh iya soal kuliah kamu enggak ngeganggu kan?”
“Enggak Bu, alhamdulilah Dewi paham semuanya kok.”
“Nih Mamah Anis Bu.”
“Gimana jeng?”
“Nggak papa jeng, nitip anakku disana ya.”
“Hais siap dong, menantu aku auto aku jagain 24 jam.”
Ibu tertawa disebrang sana.
“Kamu bisa aja, makasih ya jeng.”
“Harusnya aku yang makasih jeng, kamu udah percayain Dewi ke kita.”
“Makasih juga jeng udah lahirin anak secantik Dewi buat jadi menantu aku.”
“Mamah bisa aja.” Ucapku
“Beneran loh sayang.”
“Anis mah suka gitu ya Nak, itu terlalu berlebihan tau.”
“Fakta jeng.”
Ting tong.
Terdengar bunyi panggilan rumah.
“Aku aja yang buka Mah.”
“Iya sayang.”
Aku melangkahkan kaki kebawah untuk membuka pintu.
Ceklek.
“Nyari siapa?” tanyaku
__ADS_1
“Irsyam. Dia ada kan?” tanyanya lalu nyelonong masuk begitu saja
“Siapa Dewi?”
“Tante Anis!” pekik wanita tersebut
“Eh Klara?” ucap Anis terkejut lalu melihat ke arahku
“Iya Tante ini aku, Tante apa kabar?”
“Baik.”
“Oh iya Irsyam nya ada Tante?”
“Lagi keluar.”
“Kalo gitu aku tunggu disini ya Tante?”
“Iya.”
“Dewi, sini Nak ayo ikut Mamah.”
“Eh iya Mah.”
Aku dan Mamah Anis melangkahkan kaki kebelakang.
“Kamu jangan cemburu dulu ya Nak, Mamah bisa jelasin.”
“Dia siapa Mah?”
“Dia Klara mantan pacarnya Irsyam, dari dulu Mamah nggak pernah suka sama dia.“
“Anaknya nggak tahu sopan santun, suka minta Irsyam buat beliin ini itu.”
“Tapi yang Mamah pikirin sekarang kok dia bisa sampai kesini.”
“Kita tanya Irsyam aja ya Nak?”
“Mamah mohon kamu jangan mikir yang enggak-enggak ya.”
“Iya.”
Jujur perasaanku saat ini sangat campur aduk, bagaimana aku tidak tahu jika Irsyam mempunyai mantan kekasih? Bagaimana jika nanti dia masih mencintai mantan kekasihnya itu. Apakah aku salah? Dari awal tidak pernah bertanya padanya? Atau ini jawaban atas pertanyaan yang belum sempat aku tanyakan? Cobaan apalagi ini Tuhan.
“Yang sabar ya Nak, semoga semuanya cepet selesai.”
Aku menumpahkan air mataku kepelukan Mamah Anis.
“Mah kalo Irsyam masih suka sama dia gimana?”
“Ssttt jangan ngomong gitu, mamah yakin Isyam cuma cinta sama kamu.”
“Mah!!” teriak seseorang dari arah depan
“Itu kayaknya Irsyam sayang, ayo kita samperin.”
Aku mengangguk patuh.
Sesampainya kami di ruang tamu, kami dikejutkan oleh pemandangan yang tidak terduga. Yaitu klara memeluk Irsyam. Aku menahan rasa sakit didadaku, aku berusaha untuk tidak menangis, dan aku tidak ingin terlihat lemah dihadapan Klara.
“IRSYAM!!” Pekik Anis
“Mah!” pekik Irsyam terkejut
“Kamu ngapain peluk-peluk anak saya!?”
“Nggak tahu diri ya kamu?”
“Aku kan cuma kangen sama Irsyam Tante.”
Irsyam pun menghampiriku.
“Sayang hei.” Panggilnya lalu menarikku dipelukannya
“Maafin aku sayang, aku bisa jelasin semuanya.”
Aku hanya diam saja.
“Kamu bisa lihat kan!?”
“Irsyam udah nikah! Jadi saya mohon, tolong kamu jangan ganggu anak saya dan keluarga saya lagi!”
“APA!”
__ADS_1
“Sam ja-di kamu..”
“Iya aku udah nikah, dan ini istri aku.”
Klara pun pergi begitu saja.
“Sayang aku bisa jelasin.” Ucap Irsyam padaku
“Nak kalian selesain ini baik-baik ya, Mamah ke kamar dulu.”
Aku hanya menganggukan kepala.
“Hei kamu jangan diem aja gini, marahin aku kalo kamu perlu. Tapi jangan diem gini.”
“Dia siapa?”
“Oke aku jelasin kita duduk dulu.”
Aku dan Irsyam mendudukan diri di sofa ruang tamu.
“Oke jadi gini….”
......................
Bima pov.
Sudah hampir empat hari ini aku tidak melihat seseorang yang aku cintai, ya dia adalah Dewi. Wanita satu-satunya yang mampu mengambil hatiku secepat itu. Sebenarnya aku ingin menghubunginya namun aku urungkan. Aku hanya takut jika dirinya kenapa-kenapa. Dan aku mengetahuinya paling terlambat. Karena sejujurnya aku ingin yang pertama mengetahui bagaimana keadaan Dewi. Atau ku tanyakan teman sekelasnya saja ya? Fikirku. Dan tanpa fikir panjang aku melangkahkan kaki menuju kelas kedokteran. Disana aku melihat beberapa pria dan wanita sedang mengobrol di kelas. Aku memutuskan untuk menghampirinya.
“Permisi.” Sapaku
“Eh iya.”
“Gue mau cari Dewi, dia kenapa ya? Kok udah empat hari ini nggak masuk ke kampus.”
“Atau dia sakit?”
Mereka hanya menatap satu sama lain. Apakah ucapanku barusan salah? Oh sial ternyata aku lupa menyebutkan nama dan alasanku untuk menemui Dewi.
“Btw gue Bima."
“Oh Kak bima?”
“Emm itu Kak Dewi lagi di Jakarta sama keluarganya.”
“Katanya sih ada urusan keluarga gitu.”
“Emm gitu ya, btw pulang kapan?”
“Katanya sih tiga hari lagi Kak.”
“Oh oke, kalo gitu Thanks ya.”
“Sama-sama Kak.”
Aku melangkahkan kaki keluar kelas kedokteran. Syukur Dewi tidak kenapa-kenapa. Dan akhirnya aku memutuskan untuk mengirim pesan padanya.
Bima: Asik banget di Jakarta ya? Sampai belum balik ke Bandung.
End.
......................
“Kamu yakin setelah itu dia nggak bakal gangguin kamu lagi?”
“Yakin lah, orang tadi Mamah juga udah bilang kalau kita udah nikah.”
“Tapi kamu enggak kontak sama dia kan?”
“Enggak sayang, coba bukak aja hp aku.”
“Enggak ah aku percaya sama kamu.”
“Makasih sayang.”
“Aku janji nggak bakal ngecewain kamu.”
“Janji?”
“Janji!!”
Lalu Irsyam dan Dewi pun berpelukan.
“Alhamdulilah syukur mereka bisa ngatasin masalah ini.” Ucap Anis sambil tersenyum bahagia kearah mereka.
__ADS_1