
...Happy reading...
Ceklek.
"Bagaimana kondisi anak saya dok?"
"Mohon maaf kondisi anak ibu sangat lemah saat ini, karena kehilangan banyak darah dan harus dilakukan tindakan transfusi darah."
"Untuk golongan darahnya AB, dirumah sakit ini hanya tinggal 3 kantong kami membutuhkan 5 kantong."
"Saya Ab dong, ambil darah saya."
"Baik, mari ikut saya kita lakukan pengecekan dahulu."
"Gimana yah?"
"Maaf bu, ayah nggak bisa."
"Kenapa ini?"
"Sam, Dewi butuh transfusi darah, stok darah AB di rumah sakit ini kurang."
"Kebetulan saya AB dok, ambil darah saya."
"Nak."
"Iya tan?"
"Makasih ya."
Irsyam mengulas senyum.
...----------------...
“Alhamdulilah, semuanya berjalan dengan lancar. Tinggal menunggu Dewi sadar.”
"Alhamdulillah, Terimakasih dok."
Sekar pov.
Hampir satu jam kami menunggu, akhirnya keadaan dewi sudah stabil, tinggal menunggu sadarkan diri. Diruangan ini hanya ada aku, tante linda, om risky, Irsyam dan tino. Nathan dan Rico sudah pamit pulang saat tau kondisi dewi sudah stabil. Aku masih tidak habis pikir dengan perbuataan Alsya, kenapa dia tega melukai perasaan sahabatnya sendiri. Apakah dia tidak ingat janji persahabatan kami bertiga, bahwa tidak akan saling menyakiti satu sama lain. Tak terasa air mataku menetes begitu saja. Dengan cepat ku seka air mata tersebut, sungguh aku berjanji ini terakhir kalinya aku menangisi dia. Dia bukan sahabatku lagi, dan aku tidak pantas untuk menangisinya.
Keesokan harinya.
Gadis cantik yang semalam memejamkan matanya kini sudah kembali membuka matanya, dia mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan. Dia kembali tersadar kejadian kemarin yang membuat hatinya terluka dan tak sadar air matanya jatuh begitu saja.
“Nak kamu udah sadar? Loh kok nangis? Ada yang sakit ya? Ibu panggilin dokter sebentar ya."
“Dewi nggak papa bu, pengen minum haus.”
“Nih minum dulu.”
“Makasih Bu.”
“Sama-sama.”
Sekar yang tadinya tertidur mendengar suara orang mengobrol pun membuka matanya, alangkah terkejutnya sahabat yang dinantinya sudah sadarkan diri.
“Dewi.” ucapnya berlari kecil menghampirinya
Dewi pun tersenyum manis kearahnya.
“Jangan tinggalin aku.” ucap Sekar sambil memeluk Dewi
“Enggak, lepasin kamu berat nih.”
“Is nyebelin.”
Dewi dan tante Linda pun terkekeh kecil.
“Oh iya dari kemarin ibu kok nggak liat Alsya ya, dia kemana?”
Aku dan sekar hanya saling pandang.
Belum sempat kami menjawab pertanyaan tersebut tiba-tiba.
Ceklek.
Pintu ruangan terbuka, menampakan Ayah dan juga Tino.
“Kakak!” teriak anak kecil tersebut lalu berlari kearahku
“Nak alhamdulilah kamu udah sadar.”
“Kamu kenapa bisa kayak gini?”
"Kecapekan yah."
"Lain kali jangan gitu, kamu tau kan kalo kamu nggak boleh kecapekan."
"Iya maafin Dewi."
"Oh iya kabarin Irsyam yah, Dewi udah siuman."
"Iya."
Mendengar nama Irsyam hatiku kembali sakit. Entahlah kenapa kejadian kemarin sangat terekam jelas di memori ku.
"Irsyam nanti kesini."
“Udah jam segini nih, berangkat yuk nak.”
__ADS_1
“Kakak jaga diri baik-baik ya, aku mau ke sekolah dulu. Cepet sembuh.”
Cupp.
Tino mengucup singkat pipiku.
“Iyaa, jangan nakal ya.”
Dia pun membalas dengan anggukan kepala lalu tersenyum.
“Bu, Ayah berangkat dulu ya.”
“Hati-hati.”
“Nak ayah berangkat ya.” ucap Ayah lalu mencium keningku
“Sekar, Om duluan ya.”
“Iya Om ”
“Dada kak Sekar.”
“Dahhh.”
“Oiya nak kamu nggak berangkat ke kampus?”
“Enggak tan, saya disini nungguin dewi aja. Kebetulan nanti kuliahnya juga satu mapel.”
“Jangan gitu dong nak.”
“Nggak papa tan.”
“Kalo gitu tante izin in kamu sama dewi aja ya.”
“Makasih tan.”
“Sama-sama, tante titip Dewi ya nak.”
Di balas anggukan oleh Sekar.
“Nak maafin ibu nggak bisa jagain kamu, ibu harus kekantor.”
“Nggak papa bu, Dewi juga udah baik-baik aja. Ibu semangat ya kerjanya.”
“Iya sayang. Ibu pamit ya.”
“Iya bu hati-hati.”
“Titip dewi ya nak, maaf juga jadi ngrepotin kamu.”
“Ish tante nggak repot sama sekali kok.” balas sekar sambil tersenyum manis
Ibu pergi meninggalkan kami, kini hanya ada aku dan Sekar diruangan ini.
“Dewi.”
“Soal irsyam..” ucapku sengaja ku gantung
“Jangan bahas itu.”
“Tapi kamu harus dengerin aku dulu.”
Flashback on
"Kar, ikut gue sebentar."
"Tan aku keluar sebentar ya."
Hanya dibalas anggukan kepala.
Sekar dan Irsyam melangkahkan kaki pergi meninggalkan ruangan UGD. Mereka memutuskan untuk pergi ke taman.
"Gue masuk perangkapnya Alsya."
"Maksudnya?"
"Bangsat!!!! kenapa gue nggak sadar kalo itu jebakan."
"Lo kenapa?"
"Cerita."
"Tadi dia ngirim foto Dewi sama Reza pelukan, terus katanya dia juga mau ngejelasin sesuatu. Akhirnya gue bilang ke dia buat kerumah gue."
"Dan dia cerita semuanya tentang Dewi sama Reza."
"Gila ya tuh anak, punya otak nggak sih? Dewi kan sahabatnya, bisa-bisa dia kayak gitu sama sahabatnya sendiri?"
"Ini semua cuma salah paham."
"Oke gue udah denger cerita dari sisi lo, dan gue bakal dengerin cerita dari sisi Dewi."
"Oke."
Flashback off.
"Aku pengen denger cerita dari versi kamu."
“Padahal kemarin Alsya sendiri yang nyuruh aku kerumahnya, katanya kak reza mabuk, terus dia juga minta aku buat jagain kak Reza dia mau pergi ke supermarket. Eh tau-taunya dia malah dirumah Irsyam ya aku kaget dong, dan parahnya Alsya meluk Irsyam ”
“Wait, kak reza mabuk? Kok bisa?”
__ADS_1
“Panjang ceritanya.”
“Intinya aja.”
“Dia udah tau kalo aku sama Irsyam pacaran, terus mungkin dia frustasi makaya ngelakuin hal-hal kek gitu.”
Sekar meringis mendengar ceritaku.
“Bisa-bisanya ya adeknya malah ngambil kesempatan dalam kesempitan.”
Ceklek
Pintu ruangan terbuka, menampakan sosok lelaki tampan dengan kaos hitam dan celana pendeknya.
“Ganteng banget anjir” ucap sekar refleks
Dia melangkahkan kakinya menuju brankar Dewi.
“Dewi pun menutup matanya.”
“Syukur kamu udah sadar.”
“Maafin aku ya, ini semua cuma salah paham.”
"Harus ya pakek peluk-pelukan segala?
“Maaf, terserah kamu mau gimana ke aku."
Dewi yang mendengar ucapan Irsyam barusan lalu membuka matanya.
"Udah nggak ada yang perlu diomongin lagi."
"Yaudah kalo gitu, aku bawain bubur dimakan ya sa-yang."
"Aku pamit dulu."
"Kar tolong jagain Dewi ya."
"Eh iya sam."
"Gue pamit."
"Iya."
Setelah kepergian Irsyam, Dewi menumpahkan semua air matanya.
“Kenapa dia jahat banget sih, padahal kemarin dia sendiri yang minta aku buat nemuin kak Reza hiks.”
"Hiks aku salah apa sih sampai dia kayak gitu."
"Udah,,, udahh Dewi. Mendingan makan dulu yuk habis itu minum obat."
"Nggak laper."
"Eitsss sekar nggak suka penolakan ya."
"Ck."
"Aaaa buka mulutnya."
Dengan terpaksa Dewi pun menerima suapan bubur dari Sekar.
...----------------...
"Dasar cewe licik."
"Oke let's play the game."
“Duh nggak sabar pengen liat mereka, Irsyam mana ya tumben belum berangkat.”
“Hai sya.” sapa Arin
“Tumben mukanya bahagia banget”
“Iya dong”
“Coba cerita kenapa bisa se bahagia ini”
“Aku kemarin meluk Irsyam, dan Dewi liat. Aku yakin pasti mereka berantem deh kali ini. Dan semoga aja dewi nggak masuk."
Arin hanya diam mematung mendengar cerita alsya barusan.
“Kamu kenapa diem aja?” tanya Alsya heran
“Kamu kok jahat banget sih sya, Dewi itu sahabat kamu! Kamu kenapa mau ngehancurin dia!?”
“Karena dia udah ngambil semuanya dari aku!”
“Kalo kamu nggak mau temenan lagi sama aku, sana pergi atau sana gabung sama Dewi”
“Segampang itu kamu ngebuang aku?”
“Oke kalo itu mau kamu, mulai sekarang kita bukan sahabat lagi!!!!”
“Aku kecewa sama kamu sya!!!”
Arin pergi meninggalkan Alsya begitu saja, dia masih diam mematung mencerna ucapan Arin barusan.
“Cih dasar, awas aja nanti kalo butuh juga bakal ke aku” ucap Alsya remeh
__ADS_1
...Jangan lupa vote dan juga follow author....
...tetap stay disini ya, dan tungguin Dear Irsyamm update nantinya....